Monday, February 16, 2009

You are geography…

You are not geologist, you are not biologist, you are not oceanography…

You are geography… (Pak Nuzul Anwar)

foto : mas Toto (wisuda lulus 3,5 tahun dan daydeh (pencarian skripsi)


Beliau adalah alumni geografi UI yang melanjutkan S2 studi geografi ekonomi di Amerika, namun beliau menjadi dosen di FE UI, bukan di Geografi tempat ia dibesarkan. Bapak yang juga alumni SMA 8 Jakarta ini mempunyai cara berfikir yang agak unik di kalangan anak geografi UI, beliau pernah menjadi dosen tamu saat saya mengikuti mata kuliah Analisis Perencanaan Wilayah. Dan sabtu sore kemarin saya berkunjung ke rumahnya yang tak jauh dari rumah saya untuk diskusi tentang skripsi sahabat saya dan skripsi saya sendiri sebagai percakapan tambahan.

Ternyata, bapak ini memang seorang pemikir baru geografi di Indonesia, sehingga pendapat beliau dianggap berlawanan dengan dosen geografi pada umumnya, pada masa beliau masih di Geografi UI. Termasuk dengan Pak Sandy yang banyak dikagumi oleh anak geografi UI, Pak Nuzul malah menentang cara berfikir Pak Sandy, yang akhirnya ia dijauhkan dari geografi UI oleh orang-orang Pro Pak Sandy. Ia hanya bilang kepada saya bahwa ia tidak suka dengan orang-orang yang mendewakan Pak Sandy. Memang… selama ini saya sering mendengar dosen-dosen yang begitu kagum dengan Pak Sandy, dan teori-teori Pak Sandy masih dipakai dalam pengajarannya.

Terlepas dari itu semua, bukanlah itu masalah yang penting. Saat ini yang penting adalah menjelaskan geografi kepada saya sendiri sebagai akademis dan juga kepada orang lain yang sangat buta pada geografi atau bahkan menduga yang bukan-bukan dengan geografi.

Melihat dari kacamata saya sendiri bahwa lulusan geografi bukanlah apa-apa, kecuali yang sudah mengambil S2 ilmunya akan semakin nyata dan jelas arahnya.

Kenapa bukan apa-apa? Karena geografi adalah ilmu terapan yang menghubungkan dan mengintegrasikan dari ilmu-ilmu lainnya, sehingga jika kita ingin melamar pekerjaan maka tidak ada lahan yang benar-benar pas bagi anak geografi. Kecuali jika ingin menjadi teknisi citra atau pemetaan, ini banyak lahan kerjanya, namun sangat membosankan bagi saya. Geografi UI memang jauh berbeda dengan geografi di kampus lain, karena geografi UI masuk ke fakultas MIPA. Sedangkan isi geografi yang sesungguhnya sangat luas, tidak hanya mengkaji tentang keadaan alam lingkungan, namun juga manusianya sendiri, karena prilaku manusialah yang merubah keadaan alam. Cara berfikir seperti inilah yang tidak dikaji di departemen lain yang ada di MIPA.

Setelah saya berkecimpung di laut, dan berdiskusi dengan beberapa orang ahli kelautan yang pada awalnya ingin saya jadikan sekripsi karena saya setuju dengan pendapat bahwa “segala sesuatu bisa dikaji oleh anak geografi”. Akhirnya saya mundur karena apa yang dibahas dalam ilmu kelautan sangatlah mikro, sehingga saya sangat kualahan dalam mengkajinya. Tidak sesuai dengan konsep geografi yang merupakan integrasi dari berbagai disiplin ilmu yang akhirnya di spatialkan.

Kembali ke diskusi awal, I’m geographer… sudah semestinya mulai berfikir kritis, sejak dulu memang diajarkan kritis… namun, hanya dari sudut pandang yang itu-itu saja saya berfikir geografi. Saya sadar, nilai kuliah saya tidak sebesar sahabat saya yang lainnya. Saya sadari bahwa banyak sahabat saya yang cara berfikirnya jauh berbeda dengan saya di bidang geografi ini. Sehingga saya sulit nyambung untuk berdiskusi geografi dengan mereka apalagi dengan yang IPnya bagus. Dan saya senang berdiskusi dengan orang yang berbeda sudut pandangnya terhadap geografi UI, seperti Pak Nuzul yang akhirnya mengatakan bahwa judul skripsi saya bagus dan segeralah diselesaikan. Judul yang muncul dari khayalan tentang menari di awan, yaitu “Pola Arus Masuk dan Keluar Penumpang Penerbangan Domestik di Bandar Udara Indonesia”, judul ini sudah diresmikan dan saya harus mempersiapkan presentasinya, secepatnya.