Monday, June 6, 2011

Bali setelah 2 tahun yang lalu



Foto : Pantai Kuta Bali, Mei 2011

Dua hari setelah saya turun dari pendakian Gunung Gede, saya ditugaskan kantor untuk ke Bali. Saya menginap di Hotel Inna Kuta Bali selama 2 malam, ini adalah perjalanan pertama saya di kantor baru yang belum 2minggu saya bergabung. Dan Ini adalah kedua kalinya saya pergi ke Bali sejak bulan agustus 2009, waktu itu saya baru saja turun dari pendakian Gunung Rinjani bersama anak GMC (Geography Mountaineering Club) UI.
Perjalanan ke Bali kali ini membuat saya lebih santai dan tenang, bahkan seperti terobati dari mental pekerja operator yang kerjanya hanya di depan Komputer dari pagi sampai sore bahkan malam sepanjang hari. Perjalanan ini juga mengingatkan saya pada masa-masa kejayaan saya saat di tingkat akhir kuliah. Setelah dinyatakan lulus dari geografi UI tanggal 9 Juli 2009, tak lama saya langsung memimpin perjalanan expedisi di Pulau Lombok bersama GMC UI. Saya dan peserta mendaki Gunung RInjani, bermalam 2 hari di Gili Trawangan dengan tenda, selesai dari Lombok kami jalan-jalan di Bali selama 3 hari 2 malam, dan terakhir ke Suramadu dan menginap di Surabaya. Perjalanan waktu itu dilakukan dengan susah payah dengan modal 900 rb melalui jalur darat.
Ke Bali kali ini sangat mudah, tiket pesawat dan penginapan hotel sudah diatur dengan baik. Makan pagi di hotel, sedangkan siang dan malam di luar hotel sehingga saya bisa melihat suasana Bali khususnya di kota Denpasar. Persis jalur-jalur yang dulu pernah saya lalui.

Foto : Pantai Dreamland Bali, Mei 2011

Setelah menyelesaikan tugas saya dan teman kantor menyempatkan Pantai Dreamland. Pantai yang indah ini dipenuhi oleh anak-anak muda dari seluruh Negara, tempatnya lebih privasi dibandingkan Pantai Kuta.

Gunung Gede setelah 4 tahun yg lalu


Foto : Surya Kencana Gunung Gede, mei 2011

Setelah 4 tahun berlalu akhirnya saya bisa kembal ke Gunung Gede, Bogor Jawa Barat. Terakhir tahun 2007 saya pertamakalinya mendaki gunung, saat itu musim hujan sehingga badai mengganggu peristirahatan kami saat membangun tenda di Surya Kencana. Saat itu, bulu-bulu yang terkena tetes air menjadi Kristal-kristal es, membeku seperti terkena salju. Beberapa bulan pada tahun yang sama saya kembali mendaki Gunung Gede, kali ini udara cerah dan saya bisa melihat panorama indah dari Puncak G.Gede.
Pendakian pertama itu ketika saya masih muda, dan dimulai dari sanalah akhirnya gunung-gunung yang lainnya telah saya daki termasuk Semeru dan Rinjani.
Tengah tahun bulan ini saya datang kembali dengan persiapan seadanya, tapi hanya sampai Surya Kencana dan tidak sampai puncak. Saya pertimbangkan ini semua karena dua hari setelah turun gunung saya ada tugas ke Bali.

Foto : Bersama Edlewis

Pendakian saya kali ini di Gunung Gede sangat santai, langkah demi langkah yang saya lewati tanpa pedulikan teman kelompok karena teman yang lainnya pun sudah berpengalaman. Dengan bawaan yang tidak begitu berat membuat saya enjoy sehingga saya bisa menikmati perjalanan kali ini.
Namun yang tidak biasa saya rasakan yaitu dinginnya di Surya Kencana saat hujan, beberapa kali saya sempat menggigil kedinginan. Walaupun sudah menggunakan sleeping bag, saya tetap merasa kedinginan sampai pagi cerah tiba dengan matahari yang sedikit menghangatkan tubuh.

Monday, April 18, 2011

Jangan sombong dalam bekerja...

Sore itu Jakarta cerah, pergerakan kendaran tidak pernah berhenti di setiap ruas jalan. Para pegawai dan pedagang bekerja mencari rezeki, ada yang penghasilannya besar dan ada yang kecil. Dalam dunia kerja kantoran, yang jabatannya lebih tinggi maka berpenghasilan tinggi, dan memang biasanya yang jabatannya lebih tinggi adalah mereka yang mempunyai pengetahuan dan pengalaman yang lebih. Sedangkan para pedagang atau pembisnis tergantung dari apa yang dijadikan transaksi, semakin besar nilai transaksi maka semakin besar pula pendapatannya. Selain pengalaman dan pengetahuan dalam berbisnis, dibutuhkan pula feeling atau keyakinan besar dalam berbisnis agar apa yang diperjualbelikan itu berhasil.

Biasanya, orang yang baru lulus sekolah, SMU atau kuliah, mereka akan terjun ke dunia kantoran awalnya. Kelak ketika jiwa bisnisnya muncul maka suatu saat mereka meninggalkan dunia kantoran lalu beralih ke dunia bisnis. Tidak sedikit orang yang berhasil, namun tidak jarang juga yang gagal. Semua tergantung bagaimana tindakan dan cara-cara melakukan usahanya.

Dunia kantoran sarat dengan jabatan dan kekuasaan, tidak heran orang berlomba-lomba mendapatkan kekuasaan itu, ada yang caranya benar sesuai atauran dan adapula yang tidak benar. Semakin pintar seseorang dalam dunia pekerjaannya maka semakin tahu pula celah-celah ruang kebenaran dan kesalahan untuk bisa meninggikan nilai pendapatan seseorang. Biasanya celah-celah ini banyak diketahui oleh orang yang menduduki jabatan sebagai manager dan diatasnya, dan sedikit diketahui oleh para staf dan bawahannya.

Dunia kantoran bekerja seperti pertandingan sepakbola, ada direktur pemilik club/kantor, manajer/pelatih, staf/pemain dan crew/pembantu. Di pertandingan, semua bergerak sesuai saran pelatih, bila ingin menang perlu displin, kerjasama yang baik dan yang lebih penting adalah semuanya ikut merasakan senasib dan ingin menang. Sama-sama mencari ruang kesempatan untuk mencetak goal, tanpa harus melakukan banyak pelanggaran tentunya. Karena, ribuan penontong ingin melihat permainan yang fair, jujur, menarik, bagus dan tentunya meraih juara.

Dengan adanya FIFA maka pertandingan sepakbola diorganisasi dan diawasi sesuai norma-norma yang mementingkan sebuah kebenaran dalam pertandingan, sehingga kebohongan atau siapa yang bermain curang akan dikenakan sanksi. Bagusnya, semua personil dalam tim mengikuti aturan tersebut dengan baik. Itu yang bisa kita saksikan untuk membandingkan dunia kerja, dan tentunya itupula yang menjadi sesuatu hal yang paling menarik sampai saat ini di dunia. Liga-liga eropa dan champion eropa menjadi sorotan paling tajam, lebih tajam dari dunia politik dan hiburan.

Aturan dunia kerja tidak jauh berbeda dengan sepakbola, rakyat sebagai penonton, perusahaan-perusahaan sebagai tim/club sepakbola, pemerintah sebagai FIFA. Penonton bisa senang bila tim bermain dengan baik dan meraih kemenangan, penonton puas, penonton tidak menyesal membeli tiket. bagaimana bila FIFA tidak bekerja dengan baik?

….

Ada sebuah negara dengan sumberdaya alam yang besar, sakin besarnya sumberdaya alam di negeri itu sampai perusahaan-perusahaan berebut mengambil kekayaan alam sebanyak-banyaknya demi keuntungan sebesar-besarnya. Pemerintahnya pun ikut sibuk membuat surat ini surat itu agar cara-cara yang salah yang dilakukan perusahaan tersebut menjadi sah dan benar, dengan surat ini surat itu maka pemerintah ikut mendapatkan hasil dari kekayaan sumberdaya alam itu. Sedangkan rakyat tidak tahu apa yang terjadi di negerinya, rakyat tidak tahu betapa besarnya sumberdaya alam di negerinya karena pemerintahnya pun tidak pernah memberitahu kepada rakyatnya. 

Akhirnya, pemerintah dan perusahaan tersebut mempunyai pendapatan yang besar. Tentu saja, dijabatan yang lebih tinggi di pemerintah dan perusahaan tersebut yang semakin tinggi pendapatannya. Rakyat yang tidak tahu menahu harus tunduk agar tanahnya diberikan ke pemerintah dengan bayaran yang cukup, cukup untuk makan beberapa hari ke depan, setelah waktunya duit untuk makan itu habis dan rakyat menjadi serba kekurangan. Setelah waktu yang agak lama barulah rakyat itu berkoar-koar meminta keadilan, itupun tidak semua warga, sebagian dari warga ada yang iklhas-iklhas saja menerima kenyataan hidup yang pahit, sambil terus mengaji agar di akhirat nanti mereka dapat hidup bahagia.

Ada juga suatu wilayah dalam suatu negara di subtropis sana, yang diceritakan dalam novel Ranah 3 Warna. Dimana wilayah tersebut tidak ada kejahatan dan kemiskinan, sampai-sampai setiap rumah tidak mengunci rumahnya kapanpun waktunya karena setiap warganya yakin tidak akan terjadi kehilangan secuil barang di rumahnya.

Bila menghitung hari, sambil memperhatikan orang-orang tua di sekitar kita, ataupun orang yang sepanjang karir hidupnya terlihat di media, diitambah  referensi kitab agama dan buku-buku research/penelitan, maka bisa diambil beberapa pelajaran. Pertama, hidup ini hanya sebentar rasanya, tahu-tahu uban tumbuh dan badan tidak sesegar dulu. Kedua, manusia bisa kaya dengan cara yang salah dan benar, berarti hidup ini bisa dilakukan dengan kebenaran dan kebohongan, biasanya yang berbohong akan kejar-kejaran dengan hukum sepanjang hidupnya. Ketiga, apalah artinya kesombongan, dengan memamerkan hartanya, ilmunya, jabatannya, kekasih hidupnya, dan apa-apa yang berhasil dimilikinya, padahal hidup cuma sebentar. Keempat, semua manusia memang pasti punya salah, tapi kesalahan yang merugikan orang lain itu yang berbahaya. Kelima, sepertinya saya harus banyak belajar supaya tahu setelah mati nanti, apa saya benar-benar akan mati selamanya? ketika jasad dan ruh berpisah.

Wednesday, April 13, 2011

Mengaku sajalah Indonesia kalah dari Malaysia….

Final Piala AFF beberapa bulan yang lalu antara tim kesebelasan Garuda melawan Malaysia telah dimenangkan Malaysia walaupun Indonesia sbagai tuan rumah. Dengan kalah 0-3 di kandang Malaysia yang disebut-sebut terdapat kontraversial karena serangan laser hijau kepada pemain Indonesia dari pendukung Malaysia. Indoneisa tidak mampu membalasnya di kandang sendiri, yang hanya mampu menang dengan skor 2-1. Selain laser hijau yang membuat hilangnya konsentrasi para pemain Indonesia, poster-poster besar pejabat Indonesia di lapangan saat pertandingan di Malaysia juga membuat beberapa pemain mengeluh, melihat dari status twitter salah seorang pemain.

Pemerintah RI juga kalah dalam menangani kasus perbatasan wilayah antara Indonesia dan Malaysia, yang akhirnya beberapa pulau menjadi milik Negara Malaysia setelah UNCLOS menetapkannya. Seperti Pulau Simpadan-Ligitan dan Ambalat, yang diketahu kaya akan sumber daya alam khususnya minyak.

Hampir saja Reog Ponorogo dan Batik hilang dari Indonesia jika tidak cepat-cepat menyelesaikan masalah dari klaim Malaysia. Beberapa lagu adat Indonesia juga pernah menjadi video klip untuk mempromosikan pariwisata Malaysia. Baru-baru ini bahkan Malaysia membangun Museum Kerinci di negaranya dengan melibatkan Kabupaten Kerinci di Indonesia.

Teman saya belum lama survey ke Kalimantan, beliau bercerita bahwa di wilayah perbatasan RI-Malaysia ada suatu desa yang tadinya milik Indonesia, kini menjadi milik Malaysia, sehingga patok garis perbatasan bergeser dan bertambah luas bagi Malaysia. Penduduk di desa tersebut senang dengan hal itu karena mereka lebih terjamin dan sejahtera hidupnya dibanding saat mereka masih bergabung dengan Indonesia.

Tingginya pendapatan per kapita Negara Malaysia dan rendahnya pendapatan per kapita Negara Indonesia mengindikasikan bahwa Malaysia memang lebih unggul dalam berbagai sektor. Tidak heran bila kini banyak orang Indonesia yang lebih senang belajar di Malaysia ketimbang di negaranya sendiri.

Korupsi yang semakin merajalela di negeri ini membuat orang-orang pintar dan jujur enggan mencari nafkan di negerinya sendiri, mereka rela belajar jauh-jauh sampai ke Cina tapi memilih tidak masuk dalam lingkaran kekuasaan pemerintah. Entah mengapa, pemerintah Indonesia seperti sebuah lingkaran api ganas yang siap memberikan kenikmatan bagi siapa saja yang bernafsu panas. Man Shabara Zhafirah, kalimat yang dituliskan berkali-kali dalam novel 3 Ranah Wara setidaknya bisa dijadikan pelajaran yang besar. Man Shabara Zhafirah, “siapa yang sabar maka dia akan beruntung” sebuah pepatah dari Timur Tengah.

Friday, April 8, 2011

Satu hari terkadang terasa berhari-hari...


Foto : Kantor di Harmoni, 8 April 2011

Terkadang, satu hari terasa seperti satu bulan, dan terkadang satu bulan terasa seperti satu hari. Terkadang, ingin satu hari itu tidak berakhir, dan terkadang ingin satu bulan cepat berlalu. Ini yang saya rasakan beberapa waktu yang telah saya lalui. Terkadang satu hari sangat berharga dan berarti, dan berfikir sebulan yang dilalui bahkan berbualan-bulan tidak ada maknanya.

Baru saja saya cuti kerja, lalu pergi ke kampus yang pernah saya jejaki. Tanpa sengaja bertemu teman-teman, bertemu muka-muka lama yang dahulu terbiasa bertemu. Lalu kami saling bercerita, saling berbagi pengalaman. Saat itu, terkadang saya bengong dalam percakapan kami masing-masing.

Melihat kemegahan kampus saya dulu, lalu sengaja nongkrong di tempat pavorit dan melewati tempat-tempat yang dahulu biasa dilewati. Semua sengaja saya lakukan untuk sekedar mengingat memori yang pecah. Hampir 1,5 tahun saya bekerja setelah lulus kuliah, memori-memori kecil bangunkan saraf ketika melihat tempat yang dahulu biasa saya lewati. Gamang….

Bekerja tidak lain sesuatu pilihan yang harus dilalui, begitupula belajar. Tanpa disadari waktu terus memakan usia, terkadang ada saja kesalahan dalam melalui hidup ini. Dari sekian orang yang banyak merasa salah langkah, saya salah satu didalamnya. Kini, saya tidak ingin kesalahan itu terjadi lagi.  

Thursday, March 24, 2011

tersiksa waktu yang sirna…


Foto : Gili Trawangan Feb 2011

Aku benar, tersiksa waktu yang sirna…
Bukan haus rindu di tengah samudera
Bukan dosa ku tanamkan

Aku benar, lelah seperti parit-parit
Bukan bintik benih di langit gelap
Lelah mengancam tubuhku yang semakin kuyup

Rasanya ku ingin bangkit
Menutup noda saat ini
Meletakan tangan ini di pundak
Pundak asmara yang kesat mata adanya
Itu bukan tangis Mu… bukan tawa Mu…

Masih seperti dulu, lagi-lagi aku tenggelam…
Lagi-lagi aku tak siap akan kenyataan
Tergores-gores senyum langit
Mengapa kau tertawa?

Monday, March 14, 2011

Toleransi VS Ketersengajaan... Sebuah pembodohan public...

Angin semerdu kicau burung yang tak ku kenal, temani sepi pagi yang dingin nan sejuk. Langit biru penuh kecerian terus memandangai ku yang semakin hari, semakin cemas akan garis-garis hidup yang sungguh sulit dijamah. Senandung musik klasik ingatkan ku pada ketakberdayaan saat masih duduk di sekolah, saat kebenaran dan kebohongan sama sekali tak bisa ku bedakan.

Musik yang ku dengar bukan klasik mellow, bukan klasik jazz, bukan pula country, hanya alternative tahun 90’an. Bunga band, dengan lagu-lagu kerasnya yang bercerita tentang kehidupan kontemporer di masanya yang mungkin masih berlaku sampai saat ini. Lirik-lirik tentang ketakberdayaan seseorang dalam menjalani hidup di dunia ini. Cinta, idealis,dan narkotika seolah-olah terus menghajar kaum muda metropolitan, terus menghias dari waktu ke waktu.

Namun saya sadar cerita tentang ini tidak akan pernah habis waktunya, tidak kan pernah berhenti. Godan tetap selalu ada, masalah tak kan berhenti, nafsupun begitu. Tinggal kita mau seperti apa…

Foto : Lombok feb 2011

Tiba-tiba ingat pelajaran kuliah waktu dulu, tentang tata kota antara teori dan kenyataan di Jakarta dalam mata kuliah Geografi Perkotaan. Kita semua tahu bahwa harga tanah semakin mendekat pusat kota akan semakin tinggi, tidak heran kalau saya sudah tak mampu membeli rumah di tengah kota Jakarta.

Rumah-rumah kecil tengah kota jelas masih ada, kebanyakan mereka bukan orang berpenghasilan besar. Bila mengikuti teori harga tanah seharusnya yang mengisi permukiman kota, ya hanya orang kaya, dan seharusnya pemda Jakarta menggusur rumah-rumah kumuh di Jakarta. Pemerintah selalu mengatakan bahwa rumah-rumah kecil dan kumuh tetap berdiri karena alasan toleransi.

Begitu baiknya pemerintah kota Jakarta, tetap membiarkan kekumuhan menghiasi tata ruang kota ini. Orang-orang kumuh pun terus bertahan hidup di tengah-tengah aktifitas pusat Negara ini, transaksi ekonomi yang begitu besar juga terus berjalan tiap detiknya. Akibat toleransi yang terus menerus dipertahankan, maka terus meneruslah lahir bayi yang serba kekurangan di tengah perkampungan kumuh yang bertahan di peredaran uang terbesar di negeri ini.

“TOLERANSI”, satu kata ini membuat saya tertawa, dan semakin tertawa ketika pemerintah ini terus berkata toleransi bila dikritik buruknya pembangunan kota Jakarta. Bagi saya, buruknya pembangunan, dan terus bertahannya kekumuhan di tengah kota ini bukan karena toleransi, tapi ketersengajaan agar para perusahaan negeri ataupun swasta bisa memperkecil pengeluarannya dalam urusan rumah tangga kantornya.

Bayangkan saja, apa jadinya bila tidak ada rumah kumuh di Jakarta. Tidak ada orang kecil, tidak ada orang miskin, tidak ada rumah petak-petak di tengah kota. Gedung-gedung tinggi itu, kanto-kantor itu, siapa yang akan membersihkannya? Siapa yang akan menyediakan minum bagi pejabat kantor? Siapa yang pagi-pagi sudah ada di kantor untuk ngepel lantai? Siapa yang pulang malam untuk mematikan lampu?

Jakarta kini sudah menjadi kota megapolitan dengan terbentuknya kota-kota baru di daerah pinggiran Jakarta seperti Bekasi, DepoK dan Tanggerang. Mungkin di kota pinggiran inilah yang masih mungkin tersedia tenaga kerja dengan upah minim, tapi ini berjarak cukup jauh. Maukah perusahaan membayar mahal untuk urusan rumah tangga mereka, untuk OB dan cleaning service? Hohoooo…. Pasti mereka diam membisu, kantor-kantor di Jakarta saya rasa sangat pelit. Padahal pendapatan mereka besar, sebesar perusahaan yang ada di luar negeri seperti Malaysia.

Sudahlah, bikin kesel bila membicarakan ini di negeri ini. Karena itu saya kurang setuju bila ada orang mengatakan toleransi bila permukiman kumuh tetap bertahan di Jakarta. Padahal, mereka aja sengaja untuk membiayai urusan rumah tangga di kantornya. Mereka butuh orang berupah kecil, mereka butuh tenaga kerja semurah-murahnya dengan kemampuan sebesar-besarnya. Dan mereka akan membuangnya bila sudah tak diperlukan lagi, dan mereka akan mengatakan “toleransi” agar dibilang baik.

Hahahaa…… negeri ini… seandainnya orang-orang berupah kecil itu tahu betapa besarnya negeri ini, dan betapa indahnya negeri ini. Seandainya mereka tahu bahwa hidup ini tak sesempit Jakarta. Dan seandainya saja para pejabat dan pengusaha di negeri ini tahu bahwa harta tidak akan dibawa mati. Mungkin narkotika, tidak mampu menembus ke dada kita…. mungkin

Untuk Adik Gaza

 Adik, kamu kuat di sana Rambutmu berdebu wangi surga Getaran jari tanganmu dan keringnya kulitmu adalah cinta dari Tuhan yang Maha Besar He...