Wednesday, December 12, 2007

Sahabat

foto saat sma, di scan, saya lagi kurus.
Hari ini tepat tengah malam, adalah suatu anugrah yang besar bagi hidup saya, ini adalah pelajaran yang terbesar dimana proses kehidupan sejak lahir sampai saat ini yang lagi-lagi masih diberi kesempatan untuk bergerak dan melangkah.

Melihat ke depan atau menatap masa depan adalah sebuah energi besar yang tak dapat dihalangi, namun kali ini adalah suatu hal yang terlihat berubah semenjak saya lahir sampai sebesar ini. Sekitar beberapa hari yang lalu saya berkumpul dengan teman-teman lama dari SMA yang dimulai dari perkenalan sesama murid di kelas, yang sering nge-bokil bareng dan berbuat sesuka hati. Begitulah masa-masa lalu yang menjadi kenangan, “kenangan” ada beberapa orang yang memang tidak suka dengan kata ini, karena kenangan tak dapat membawa kesuksesan di masa depan nanti, namun bagi saya justru kenanganlah yang membawa semangat terbesar dalam hidup apalagi jika ada teman nge-bokil bareng saat SMA yang menyemangati hidup, atau ketika saya dengar suaranya saja, entah kenapa seperti ada darah baru yang mengalir di tubuh.

Saat saya tidak bisa mengejar cita-cita atau ketika saya tidak mendapatkan sesuatu keinginan dan mimpi yang besar, jiwa ini seperti anjing yang telanjang sedang kelaparan, pada saat itulah hati dan pikiran saya mencapai puncak kejenuhan, apalagi ditambah melihat orang-orang yang memamerkan kesuksesannya. Huh… memang tak ada habisnya. Namun sekali lagi pada saat itu selain Yang Maha Kuasa yang memberikan ketenangan, teman-teman saya pun tanpa mereka sadari telah membuat saya tersadar bahwa hidup tidak harus mendapatkan apa yang saya inginkan.

Ini telah terbukti pada saat saya bertemu dengan beberapa teman lama saya di salah satu rumah teman saya tersebut. Mungkin, tidak semua orang bisa merasakannya seperti yang saya rasakan tapi ini adalah suatu syukur yang sangat besar saya terhadap Allah bahwa masih ada orang-orang yang bersahabat tanpa berfikir “apa untung saya bermain dengan orang itu!”

foto di tempat duduk saya saat kelas 3 sma

“daydeh masih ingat gak dulu elu duduk di pojok deket jendela, jadi pas kita lagi main kartu elu yang ngasi tau klo ada guru, biasanya elu bilang terus aja main, gurunya belum naik” kata Enno. Trus si Wetty bilang dan cerita saat kami duduk di kelas 3 SMA “iya..eh inget gak, pas kita2 yg cewek lagi main kartu, trus si sarli dateng nyamperin kita & dia bilang “ente-ente tuh gangguin orang yg lg belajar aja, kasian tuh yg lagi belajar” eh.. si husma bilang dengan gaya betawi “yeh…terserah gw, lo belajar2 aja” lucu ya” terus saya dan teman-teman lain tertawa geli, sekali lagi si Enno bilang lucu ya saat SMA, di tambah pas lagi contek-contekan.

Betapa berharganya saya bagi teman-teman saya saat SMA, si Arga salah satu teman dekat saya sering bilang saat saya lagi tidak semangat “day…klo orang sudah tau siapa sebenernya elu, orang itu susah lepas sama elu”….”elu tuh dulu hebat, gak kaya sekarang yg sering ngebandingin diri lo dengan orang lain”. Tapi memang terkadang saya merasa apa yang saya lakukan selama saya sekolah adalah suatu kesalahan besar dimana saya sangat jarang sekali belajar, sampai kemarin si Enno yang saat kelas 3 SMA duduk di depan saya, bilang “dulu lu day, di Tanya ma wali kelas saat disuruh cukur rambut tp belum dicukur jg, emang kamu ngapain aja kok belum dipotong rambutnya, elu bilang main bola dan tidur”. Trus saya diingatin lagi sama wetty saat saya hampir digampar oleh guru saat baru masuk kelas 3, dan diusir gak boleh ikut pelajaran biologi saat kelas 2. Bagus gak ada yang tau saat saya SMP, kalau tahu, bisa gawat dah.

Sudah lah…

Tapi persahabatan itu yang akhirnya memutuskan kami pergi ke Jogja ber-enam setelah lulus SMA, dan sampai saat ini sering teringat, bukan karena Jogjanya, tapi…saya juga tak tahu kenapa sering ingat teman-teman saya tersebut, ketika saya Tanya mereka, mereka juga bilang begitu. Ayoe bangkit….. semangat….

foto saat kemarin bertemu
(maaf sedikit kontraversial)


Sahabat ku… saat tempat ku berpijak tak lagi bersahabat, aku butuh suara mu… terserah suara apa yang kau keluarkan, walau suara itu ditemani air mata…

Sahabat ku… ketahuilah, jika kau merasa keberadaan ku dapat membersihkan luka mu, panggilah aku… karena keberadaan mu lebih membuatku senang dibanding keberadaan ku dengan orang-orang yang pandai bicara menyenangkan ku…
Ketahuilah bahwa kebodohan yang kita lakukan lebih berharga dari sekedar gelar sarjana yang belum tentu dapat membawa perubahan bagi orang lain…

Ketahuilah bahwa suara tangis kita lebih indah dari tawanya orang-orang yang sukses di dunia ini….


Rata tengah

Karena cinta, harta dan tahta tak ada yang abadi………

Monday, December 3, 2007

langkah


Kemana langkahku?

Kemana tujuanku?

Sepertinya singa ingin bersuara

Sepertinya elang siap menerka mangsa

Hari-hari berlalu selama seminggu ini penuh dengan kesian-siaan, setiap aku berbelok ke kanan tiba-tiba angin meniupku terbang ke kiri, dan jika aku maju melangkah, ombak siap menghajar. Aku ke bawah, dihentak bumi ke luar, aku terbang melayang dan petir menghadang.

Bersyukurlah sahabat, karena dunia menyertai mu…

Alunan-alunan daun menuntun langkah mu…

Membuat aku iri akan cinta-Nya

Masa-masa awal kuliah saya memang diwarnai dengan coretan-coretan yang semestinya tak ada, semestinya itu bukan jalannya. Saat itu saya bangga dengan canda dan tawa, sampai-sampai kuliah banyak yang ketinggalan, ditambah dengan sesuatu yang memalukan sampai saya merasa bahwa nyontek itu hal yang biasa, namun kebiasaan itulah yang akhirnya membuat saya tak biasa bertarung dalam bidang ilmu kuliah yang saya gelimuti.

Di separuh jalan kampus ini saya menyadari akan ketinggalan pengetahuan kuliah dengan mahasiswa yang lain di angkatan saya, sampai-sampai motivasi saya akan ilmu geografi hampir hilang. Saya mencari-cari cara bagaimana saya bisa mengejar semua ketinggalan ini di luar dari bidang saya, walau akhirnya saya kembali ke bidang yang saya gelimuti ini.

Mungkin saya bahagia ketika saya membuka lembar catatan harian saya selama setahun terakhir ini, dalam catatan itu terlihat perjalanan-perjalan yang saya lakukan di luar jakarta-depok, yang saya jalani minimal sekali perjalanan dalam sebulan, ini adalah rekor hidup saya yang pertama dimana saya melakukan perjalan minimal sekali di luar Jakarta-depok dalam sebulan selsma setahun penuh. Mulai dari perjalanan survey PSEG ke batulayang, situ gunung dan parakan salak, perjalanan dengan mapala UI ke gunung gede, joglo, arung jeram dan baksos di ponorogo madiun, bersama GMC ke gunung gede, ciburial dan gunung salak 2, bersama dosen ke pulau rambut, pulau untung jawa dan pangalengan bandung, bersama organisasi2 lain ke dago atas bandung, ancol, dhufan dan villa-villa di puncak.

Apa saya menyesali hal ini? Tentu tidak, namun disisi lain jiwa ini sperti ingin menyerang ilmu yang ketinggalan ini atas dasar menebus dosa-dosa. Yup.. sudahlah jangan terlalu dipikirkan, yang terpenting saya harus siap menghadapi tantangan yang ada dan mengembalikan jalan ini di haluan yang semestinya, bukan begitu?

Ya Rabb, dari Mu segala kekuatan yang ada di bumi ini, dari Mu segala Ilmu, dengan segala kebodohan dan dosa aku menghadap-MU untuk berharap bahwa aku memerlukan bimbingan-MU walau rasanya seorang berdosa ini tak pantas memohon doa selain memohon ampunan dari-MU.

Saturday, December 1, 2007

aku dan penderitaan kecil ku



Awal kuliah semester ini adalah hari-hari yang mencekam buat saya, saat itu setiap benda yang saya pinjam dan benda yang saya punya, banyak sekali yang hilang diantaranya :

  • HP ketinggalan di angkot, karena jatuh tertidur.
  • Kalkulator, gak tahu kemana. (akhirnya ketemu setelah hilang selama lebih dari 3 bulan)
  • Sleeping bag, hilang di kostan gak tahu kemana.
  • Matras, punya teman. (akhirnya ketemu setelah sebulan mencari)
  • Flashdisk, gak tahu kemana.
  • Sarung tangan teman, saya yang makai tapi gak tahu kemana.
  • Kompas, rusak sama saya.
  • Jaket Kuning UI, gak tahu kemana.
  • Sandal Gunung, diambil orang malam-malam.

Itu semua adalah alat yang sering saya pakai, cukup menderita bagi orang seperti saya.

Namun sekitar sebulan yang lalu sampai sekarang, penderitaan semakin terasa, diawali dari rusaknya cpu yang baru saya beli, saat cpu ini rusak terpaksa saya mengalami beban mental dengan tugas-tugas kelompok terutama tugas Kuliah lapang, GRI dan SIG yang harus menggunakan komputer, saya benar-benar tidak enak jika saya tidak mengerjakan tugas tersebut terutama dengan teman-teman.

Setelah komputer itu baik dengan garansi, tak lama kemudian saya pergi ke Pangalengan untuk kuliah lapang, namun kini semua berbalik, ketika urusan saya dengan barang-barang yang hilang sudah terbayar, kini teman-teman dan orang yang dekat dengan saya yang menderita. Dari penderitaan itu pun, saya jadi ikut menderita, berikut penderitaan yang dialami orang-orang dekat saya :

  • Sukma, teman satu kosan yang sudah lebih dari 3 bulan harus menggantikan GPS yang rusak tak sengaja olehnya saat kuliah lapang di pangalengan.
  • Wetty, teman SMA yang sering menyemangati saya sampai sekarang, dia harus dirawat di rumah sakit selama satu minggu dan harus rawat jalan selama 6 bulan karena sakit paru-paru dan maag.
  • Ibu saya, harus dirawat seminggu untuk dioperasi karena ada tumor di gusinya, sehingga seminggu terakhir saya ini lebih sering di rumah sakit menemaninya.
  • Kabel, teman yang sudah saya anggap sebagai saudara ini harus masuk tahanan selama 3 hari karena tuduhan telah menganiaya seorang nenek, kasus ini tidak penting, kabel juga tak sengaja saat tangannya mengenai wajah si Nenek yang memang terkenal galak terhadap anak-anak kecil yang sedang main di jalanan dekat rumahnya. Tapi memang ini menjadi santapan polisi agar bisa mendapatkan uang padahal kasus ini sudah 3 bulan yang lalu.
  • Danu, teman kuliah yang sering balik bareng naik kereta, sepatu bagusnya, yang harganya di atas 400 ribu harus di relakannya karena hilang setelah sholat Jum’at di Mesjid UI.
  • Triyas, Adik saya yang terakhir sedang sakit gigi.

Halo-halo…. Ada apa dengan saya dan teman-teman saya?

Mungkinkah dosa ini terlalu banyak, Ya Allah…ampunilah

Saturday, November 24, 2007

survey ke kelurahan gudang, bogor. perjalanan yang menyeramkan

Rt 03/07 ialah daerah dari kelurahan gudang yang berada di tengah-tengah rw lain di sepanjang kali pangicatan yang bermuara ke sungai cisadane, rumah-rumah di sini berada sejajar dengan kali namun agak sedikit ke atas, sekitar satu meter dari permukaan air kali yang saya lihat pada siang itu, jalanan rumah-rumah di sana hampir semuanya miring sekitar 45°, rata-rata rt 03/07 menggunakan air pam untuk minum, namun ada juga yang mempunyai air pompa sumur yang digunakan hanya untuk keperluan mandi dan nyuci seperti pada rumah pak Supriatna yang kebetulan menjadi responden saya. namun kata Pak sidik yang bertetangga dari pak supriatna, air sumur sudah tak layak pakai karena airnya sudah bercampur dengan air sungai yang bau dan berwarna, dan hanya perlu menggali selitar 3 meter sudah terlihat air sumurnya. Di rt 03 ini terdapat wc umum yang digunakan untuk mandi dan nyuci serta minum, air di wc umum ini berasal dari mata air yang dibuat oleh warga sejak dulu, lalu saya di antar oleh pak sidik untuk melihat mata airnya, ternyata yang saya lihat adalah sebuah patahan yang besar, berbatasan langsung dengan sungai, patahan itu terdapat banyak celah untuk mengeluarkan air, patahan ini tingginya menurut saya sekitar 5-6 meter, airnya dialirkan dengan pipa ke wc umum oleh warga. Patahan ini dapat dilihat di foto, dan kata warga lain “yang mempunyai air sumur di daerahnya sudah tidak ada, paling kalau ada, paling hanya satu rumah.” Jarang warga yang mempunyai wc karena kotoran biasanya langsung ke kali, bahkan sampah pun buangnya ke kali pangicatan itu sehingga daerah ini sering mengalami banjir sampai masuk kerumahnya.

Di bagian hilir dari rt 03/07 ini terdapat rw 01 dan rw 06, di rw ini sebagian besar penduduk menggunakan air pam untuk minum, dan menggunakan wc umum untuk mandi. Banyak diantara mereka yang membuang air besar di sungai duduk saja, apalagi saat malam hari, kecuali warga yang sedikit mampu ekonominya, yang mempunyai wc walau akhirnya mengalir ke sungai juga. Sama seperti di rw 07, di rw 01 terdapat wc umum yang airnya berasal dari patahan mata air, namun sekarang sudah sedikit air yang mengalirnya, kata warga setempat. Pak putra dan ibu pipi, ialah seorang pedagang yang tinggal di sisi kali, mereka sangat berharap adanya pembangunan air bersih untuk rumah selain PAM namun harganya harus murah, dan mereka juga berharap adanya sepiteng bersama yang letaknya jauh dari sungai, karena jika dekat dengan sungai akan berbahaya pada saat musim hujan, yang menyebabkan penduduk dekat sungai selalu banjir. Namun banyak warga dari kelurahan yang mengatakan bahwa daerah kelurahan gudang lebih baik dibanding di sebrangnya (bogor selatan, yang disisi kali pangicatan itu juga), karena daerah bogor selatan lebih kebawah sehingga banjirnya sangat parah. Dapat dilihat di foto (termasuk wc umumnya)




Di bagian hulu dari rw 07 terdapat rw 09, rw 02 dan rw 11, daerah ini memang lebih tinggi dibanding rw 07, 06, dan 01. sehingga banyak warga yang rumahnya tidak terkena banjir, namun bagi warga yang tinggal di samping sungai, banjir pasti terjadi karena bentuk sungai yang berkelok-kelok (meander). Bahkan ada yang tiap musim hujan selalu banjir sampai ke pinggang atau sedada ibu-ibu, di rw 09, 02 dan 11, banyak warga yang peduli dengan kebersihan namun mereka putus asa karena banyak juga sampah yang dibuang ke sungai dari daerah bogor selatan yang merupakan sebrang sungainya. Di rw 11 terdapat mata air yang ditampung dengan kolam seperti kolam renang, luasnya sekitar 20 meter, airnya terlihat bening dan digunakan untuk mandi, kolamnya hanya buka pada hari minggu, di samping kolam itu terdapat patahan yang cukup besar (ada di foto). Kata seorang pendeta yang merupakan responden saya mengatakan “orang sini mah susah untuk diajak kerjasama dalam menjaga lingkungan, saya pernah mengajak namun yang terjadi malah keributan.”




Kesimpulan : sebagian besar masyarakat menggunakan air pam untuk minum, untuk mandi dan cuci selain minum, 50% dengan air pam dan 50% mata air, biasanya yang selain minum dengan pam juga, orang itu tergolong mampu, namun yang menggunakan mata air untuk mandi dan nyuci biasanya yang tidak mampu dan harus rela mengantri dari pagi jam 3 malam. Ekonominya kebanyakan pedagang kecil seperti warung kelontong, dan juga sebagai supir. Pendidikan di bawah sma, sepertinya di sana banyak sarang preman karena saya sering melihat orang pada ngumpul dengan badan bertato dan anting, bahkan didepan jalan umum mereka ada yang meminum minuman keras.

Saturday, November 10, 2007

di balik awan

Di balik awan


Ku tak selalu begini terkadang hidup memilukan

Jalan yang kulalui untuk sekedar bercerita

Pegang tanganku ini dan rasakan yang ku derita

Apa yang kuberikan tak pernah jadi kehidupan

semua yang ku inginkan menjauh dari kehidupan

Tempat ku melihat dibalik awan aku melihat dibalik hujan

Tempat ku terdiam tempat bertahan aku terdiam dibalik hujan

Pegang tanganku ini dan rasakan yang ku derita

Pegang tanganku ini genggam Perihnya kehidupan

Apa yang kuberikan tak pernah jadi kehidupan

semua yang ku inginkan menjauh dari kehidupan

Tempat ku melihat dibalik awan aku melihat dibalik hujan

Tempat ku terdiam tempat bertahan aku terdiam dibalik hujan

Peterpan

Ketika mata ini tak lagi bisa melihat ke depan, dan ketika akal tak bisa lagi berfikir. Kepedihan yang saya rasakan bisa sedikit terobati dengan awan-awan yang menutupi gunung atau dengan hujan yang menenangkan alam ini, kejadian ini persis apa yang saya alami beberapa hari yang lalu saat saya ada di Pangalengan, Bandung bagian selatan.

Hawa yang dingin diselimuti kabut serta rintikan hujan selama saya disana memaksa tubuh ini tunduk akan kuatnya alam ini, terlebih ketika saya pergi ke desa-desa kecil di sana dengan kehidupan yang sangat sederhana, atau ketika saya melihat hamparan hijau yang terdiri dari kebun teh, strawbery dan sayur-sayuran yang melimpah luas.

Di sana seperti surga yang ada dalam bayanganku, betapa syukurnya saya saat ini, terlebih beberapa tahun terakhir ini. Bagaimana tidak? Saat ini saya berada di lingkungan orang-orang yang baik, tidak seperti saat saya sekolah, terutama saat SMP yang kerjanya tauran dengan sekolah lain atau dengan warga, apalagi ketika mengingat pada saat itu saya sering berjudi, berkelahi dan melawan guru, ditambah teman-teman dan lingkungan yang sering mabuk pil, ganja atau suntik. Semua itu sudah saya lihat dengan mata telanjang, untungnya saya hanya sempat merasakan rokok saja (sekarang uda gak loh), jika ada yang menawarkan saya untuk mabuk pada saat itu, saya mencoba menjauh. Saya tidak tahu jika saat itu saya tidak melawan godaan karena ada beberapa teman saya yang over dosis karena itu semua, tapi walau saya tak ikut bermabuk-mabukkan, jika ada tauran saya selalu ikut, aneh memang, saya sendiri kurang mengerti mengapa masa kecil saya digunakan dengan yang negatif.


"hanya dengan bercerita, pikiran ini segar kembali"



Bintang

Tadi malam, saya sedang duduk tiba-tiba terdengar suara peawat kencang sekali, mata saya langsung tersentak melihat pesawat dilangit yang gelap pada saat itu, setelah pesawat itu menjauh saya duduk kembali. Tanpa disengaja saya melihat bintang-bintang berkumpul dan banyak sekali, saya amati dengan penuh kagum dan ternyata bintang itu membuat gambaran seperti dua telapak tangan yang besar saling bersentuhan seperti telapak tangan kaum perempuan berjilbab saat ingin bersalaman dengan orang yang bukan mukhrimnya.
Hatiku sedikit bingung, kenapa bintang seperti itu, tak lama kemudian bintang itu bergerak dan menyebar sehingga menyerupai banyak telapak tangan yang kecil-kecil selain itu telapak tangan itu tiba-tiba bertepuk tangan, saat itu saya semakin bingung dengan suasana malam dilangit, telapak tangan itu pun bergerak dan kini menyerupai kepala orang dengan tangannya terlihat dari atas, orang itu semakin banyak.
www.le.ac.uk
Tak lama kemudian bintang itu hilang sehingga langit menjadi gelap, tiba-tiba bintang-bintang itu muncul lagi, tetapi kali ini menyerupai sebuah buku yang sedang dibaca, berselang beberapa detik buku itu berubah menjadi seorang perempuan jilbab sedang membaca buku, yang terlihat saat itu tidak hanya satu orang yang sedang membaca buku. Bintang-bintang membuatku bertanya-tanya apa maksud semua ini, bintang yang tadinya menyerupai tangan kini barubah menjadi seorang wanita sedang membaca buku.

Akhirnya bintang-bintang itu kembali menghilang, tapi tak lama kemudian muncul sebuah lilin dengan apinya terlihat dilangit yang gelap itu sehingga langit menjadi terang kembali, setelah itu lilin itu terbang dengan sendirinya dan membuat cairan lelehan lillin baru yang membentuk garis lurus yang sangat rapih dan teratur, dari lelehan cairan lilin itu tiba-tiba muncul lilin baru diatasnya sepanjang garis itu, sehingga pada malam itu terasa romantis buat hidup saya karena malam menjadi terang dengan adanya lilin-lilin yang memanjang membentuk garis lurus, saat merenungi maksudnya teba-tiba terdengar suara laki-laki dari langit yang mengatakan bahwa “hendaknya manusia memperhatikan langkahnya agar berada dijalan yang lurus!” saya semakin kaget dan terkejut.

Mendengar suara itu saya akhirnya sadar bahwa saya sedang mimpi dan akhirnya setelah suara itu saya bangun dan kaki saya terasa gatal oleh gigitan nyamuk setelah bangun, pada saat itu waktu menujukan jam 1 malam tanggal 2 november 2007. saya akhirnya bangun dan shalat malam agar hati terasa tentram dan saya berharap mimpi ini dapat memotivasi semangat hidup saya agar di jalan yang lurus sebelum kembali kepada-Nya.

Friday, August 24, 2007

pasca 2 tahun di Geografi UI

Apa yang saya dapatkan setelah kuliah di geografi?
Sudah apa saja yang saya lakukan di geografi?
kemana tempat berlabuh saya pasca kuliah?
Apa pendapat saya dengan geografi?

setelah berjalan 2 tahun yang cukup panjang, mulai menjadi peserta ordik sampai menjadi panitia ordik telah membawa saya dalam belenggu keindahan yang belum terjawab, dalam kecemasan dan harapan yang banyak manusia bicarakan tentang falsafah hidup.

Kali ini berhubung umur saya genap 2 tahun di geografi dari target kelulusan rata-rata 4 tahun, saya ingin menjawab masalah-masalah dengan pengalaman dan cara berfikir anak geografi yang disebut-sebut berfikir spatial "namun saya sendiri belum mampu berfikir seperti itu" maka saya akan bicara apa adanya dengan pendekatan saya akan filsafat dan pengalaman saya.

Apa yang saya dapatkan di geografi?

Berhubung saya bukan orang statis, saya tidak berfikir banyak apa yang telah saya dapatkan dari geografi tetapi saya merasa bersyukur atas pemberian Allah kepada saya dalam bergelumut masalah-masalah sosial di antara lingkup saya sebagai warga Jakarta yang tinggal di daerah yang dapat dikatakan daerah kumuh dan lingkup saya sebagai mahasiswa kaum intelek dari Universitas Indonesia yang cukup terkemuka itu.
Beberapa hari yang lalu saat acara 17'an di daerah saya, saya teringat-ingat akan masa perjuangan sampai saya berada di geografi, mulai dari bermain bola, nongkrong gak jelas sampai begadang, semua itu saya lakukan bersama teman-teman dari saya pertama kali tinggal di Jakarta sampai saya ngekos di kukel depok.

Saya sempat terkejut ketika teman lama saya telah berubah dalam cara berfikir "ia tidak lagi bisa berfikir secara normal", teman saya itu mengalami gangguan jiwa...KENAPA BISA SEPERTI ITU? saya cukup kesal melihatnya, apa ini akibat gejala sosial di Jakarta? lalu saya sempat membereskan peralatan 17'an pada malam hari dengan orang yang terkena gangguan jiwa juga dan dia sudah sangat gila , di saat itu saya heran ternyata dia masih dapat berfikir waras saat saya dan ia mengangkat meja dengan rapih...

Yang saya dapatkan dari geografi bukan apa-apa, melainkan rasa syukur dibanding orang lain yang terjepit dari konflik sosial.
Sekarang siapa yang gila? geografi apakah dapat membantu mnyelesaikan masalah itu?
oke kita lanjut kapan-kapan

Untuk Adik Gaza

 Adik, kamu kuat di sana Rambutmu berdebu wangi surga Getaran jari tanganmu dan keringnya kulitmu adalah cinta dari Tuhan yang Maha Besar He...