Tuesday, June 8, 2010

Aku ingin telanjang di depan Mu...


Aku ingin telanjang di depan Mu…
Memeluk Mu tanpa sadar nikmatnya
Dunia yang katanya expreso
Campuran pahit dan manis

Aku ingin telanjang di depan Mu…
Tegukan panas hawa Mu
Menghisap racun-racun tubuh Mu
Di bawah sadar mata ku

Aku ingin memeluk Mu…
Menghempit Mu dalam dada ku
Bermain bibir Mu
Antara nafsu dan suka

Tutuplah dengan sutra putih Mu…
Ciptakanlah merah asmara
Hingga larut
Hingga kita tak pernah tahu
Bahwa aku adalah kamu…

Foto : Puncak Mahameru, mei 2010

Wednesday, June 2, 2010

Djogjakarta... I'm falling in love...

foto : Parangtritis, april 2010

Dengan Pesawat Terbang dari Bandara Soekarno-Hatta menuju Adi Sutjipto (Jogja), dapat ditempuh sekitar 45 menit. Di Bandara Adi Sutjipto sudah tersedia pelayanan umum taksi yang teratur sehingga kita tidak perlu takut dibohongi supir taksi, walau tetap banyak taksi yang liar menawarkan diri, biasanya taksi liar ini mencari mangsa orang-orang yang baru pertama kali ke Bandara ini.

Jogja termasuk salah satu tujuan pariwisata dan pendidikan. Sebenarnya ini bukan pertama kali saya ke Jogja, namun kali ini saya benar-benar menikmati suasana Jogja. Hari pertama 21 april 2010, saya menginap di kali urang, suasana di sini penuh dengan anak-anak Intelektual dari kampus UGM. Penuh dengan kos-kosan, dan kebutuhan mahasiswa seperti warnet dan took-toko primer maupun sekunder.

Di sini saya jarang melihat angkutan umum, sebagian besar penduduk menggunakan kendaraan pribadi. Para wanita ikut berkeliaran di jalanan, pasangan muda-mudi banyak yang berkumpul di warung-warung pinggiran. Boleh saya katakana bahwa makanan di Jogja cukup murah untuk standar makanan sebuah perkotaan. Nasi kucing dan minuman hangat tersebar hampir diseluruh ruas-ruas jalan.

Hari pertama dan kedua, jam kerjanya saya mendapat tugas ke Lab Geomatika UGM, di sini saya meng-Instal licience software ArcGis yang asli. Setelah selesai, malam dihari kedua saya menginap di Jl.Maliobor. Penginapan di sini beragam, mulai dari 80 rb sampai ratusan ribu, saya sendiri memilih sebuah losmen dekat stasiun Tugu dengan harga 80 rb untuk 3 orang, kini saya bertemu dengan 2 teman dari Jakarta.
foto : malioboro, april 2010

Malam itu saya berjalan kaki dari penginapan menuju alun-alun utara, melewati Jl.Malioboro dan mampir di alun-alun selatan. Hohooooo…. Pegalnya… padahal tukang Becak menawarkan 20 rb untuk kami bertiga, tapi kami tidak mau.

Alun-alun selatan cukup aneh, banyak sekali orang pacaran diatas motor, mereka semua membentuk pola tempat pacaran dengan jarak sekitar 5-10 meter. Jadi mereka tidak ada yang berdekatan antara motor dengan motorlainnya, melainkan mereka parkir motor dengan jarak 5 meteran sambil pacaran. Lucu ya…. Pacaran di tengah-tengah alun-alun itu mungkin menjadi biasa bagi warga setempat. Naifnya, di keramaian orang pacaran itu, saya melihat ada nenek-nenek tidur di tanah. Kasihan…

Alun-alun utara terdapat 2 pohon beringin besar yang dipagar putih. Kepercayaan di sana bahwa bila kita dapat melewati celah dua pohon tersebut dengan mata tertutup maka keinginan kita akan dikabulin. Maka tidak heran seluruh orang yang kesana mencobanya. Hehee… dan ini tidak disia-siakan oleh orang dengan menyewakan penutup mata dengan harga Rp 3000, gilee ye… kratif, justru penyewaan itu cukup laku karena menurut saya sebagian anak muda yang datang itu gengsi kali ya sama pacarnya, masa nyewa itu aja gak mau. Selain tutup mata, juga tersedia penyewaan sepeda dengan 2 sampai 3 jog tempat duduk, hanya sekedar muter-muter di jalan sisi alun-alun itu.
Saya sendiri mencoba melewati celah pohon yang jaraknya sekitar 10 meter itu, pertama saya gagal, kedua hampir, ketiga berhasil. Hahaaa….

Pulangnya saya berjalan kaki lagi ke penginapan, kaki pegel semua dan langsung nyos untuk tidur.
foto : Borobudur, april 2010

Esoknya saya ke Candi Borobudur di Magelang dengan naik Bus Trans Jogja lalu nyambung dengan Bus lagi (saya lupa, harganya sekitar Rp 6000). Borobudur, candi yang besar penuh sejarah ini tidak masuk dalam 7 keajaiban dunia. Sedih dah Indonesia… sejarah dan ceritanya bisa anda baca di Internet. Kebanyakan yang datang ke sini adalah anak-anak sekolah. Saya sendiri ini adalah pertamakalinya. Heheee….

Sorenya saya langsung ke Parangtritis dengan kembali naik Bus Trans Jogja dan melanjutkannya dengan Bus (lupa lagi, harganya sekitar Rp 8000). Sampai di Parangtritis sudah gelap pas Azan Magrib. Sempat kebingungan menginap dimana karena uang sudah tinggal sediki. Dan ternyata penginapan di sini cukup murah, rata-rata 40 rb. Paginya saya mengunjungi pantai, ramai sekali, namun mungkin karena saya pernah melihat pantai di Bali dan Lombok sehingga pantai Parangtritis ini menjadi biasa saja, pasirnya hitam dan ombaknya bisa menyeret orang, tak berbeda dengan pantai di Pacitan.

Satu hal yang saya sukai di Jogja yaitu kehidupan budayanya, sebuah kota yang masih menganut kerajaan ini sangat damai dan tenang. Penduduknya bersikap halus dan sopan, kegiatan ekonominya berjalan lancar, tata kota diatur baik dan bersih, jarang ada gedung dan hotel yang tinggi sehingga seperti mempunyai khas yang berbeda dibanding kota-kota lain. Makanannya pun mempunyai khas manis dan murah, orangnya pun manis-manis. Menurut saya di sini lah tempat tinggal yang seperti surga bagi orang-orang Jawa.




Tuesday, June 1, 2010

Dataran Tinggi Dieng... *terdapat kesalahpahaman...

Dieng cukup terkenal di negeri kita ini, sebuah dataran tinggi (Plateu) di tengah Pulau Jawa itu memiliki beberapa kawah dan Telaga yang menyedot para pengunjung. Dengan rata-rata ketinggian di atas 2000 mdpl, Dieng sangat subur untuk pertanian khususnya kentang. Kentang Dieng merupakan kentang terbaik di negeri kita ini, tak heran seluruh kota di Pulau Jawa ikut merasakan nikmatnya kentang tersebut, bahkan pontianak dan beberapa kota di Pulau Kalimantan ikut menikmatinya.

Kentang Dieng berciri kulit yang halus, berbuah besar dan tahan lama, membuat kentang ini paling dicari diseluruh pasar kota-kota besar. Tidak seperti kentang Pengalengan yang musim tanamnya tidak sepanjang tahun, karena dipengaruhi curah hujan dan jenis tanah yang berbeda dari Dieng. Tidak pula seperti kentang dari Bromo yang warnanya hitam. Kentang Dieng memang satu-satunya di Negeri ini.

Belum lama saya mendatangi Dieng dengan bermalam di Garung Wonosobo, kali ini saya pergi untuk membantu teman untuk survey penelitiannya tentang pemasaran Kentang Dieng, Wonosobo.

Untuk mengunjungi Dieng dari Wonosobo, kita akan selalu diikuti oleh Gunung Sindoro. Gunung dengan ketinggian sekitar 3000 mdpl itu terlihat halus dari jalanan yang menghubungkan kota Wonosobo dengan Dieng. Kata sebagian orang di Desa Garung Wonosobo, orang yang pernah mendaki Gunung Sindoro maka keinginannya akan terkabul. Hoooiii… saya sendiri pernah mendaki Sindoro pada tahun 2008, dari gunung tersebutlah saya melihat keindahan Wonosobo dan Dieng.

Sabtu sore saya sampai di Desa Dieng yang sedang hujan deras, maka kedinginanlah saya apalagi saya mencapai Dieng dengan motor tanpa jaket. Seperti apakah dinginnya? Hehe… beristirahalah saya di salah satu warung yang menyediakan minuman hangat. Di sinilah saya mulai kebingungan tentang survey kentang ini.

Dieng terbagi dalam dua wilayah administrasi yang berbeda kabupaten, Dieng wetan masuk dalam kabupaten Wonosobo sedangkan sebagiannya lagi masuk dalam kabupaten Banjarnegara. Sejak perjalanan menuju Dieng ini dari Garung Wonosobo, saya tidak melihat banyak tanaman kentang kecuali di Dieng. Di Dieng sendiri pun terlihat tidak terlalu banyak, maksudnya tidak mungkin kentang Di Dieng ini mampu memasok kebutuhan kentang di kota-kota.

Dari salah satu Bandar kentang di Pasar Induk di Jakarta, kami dapat bertemu salah seorang tengkulak di Bantur Banjarnegara, yang tak jauh dari Dieng. Sore itu kami melanjujkan perjalanan ke Bantur dengan terus menuju utara. Perjalanan ini adalah jalur yang jarang dilewati oleh para wisatawan. Bentuk landscape di sini berbukit-bukit, naik turun dan berkelok-kelok, namun tidak curam dalam turunnya tingkat ketinggian datarannya.

Jarang ada orang yang berbaju lengan pendek, di sini dingin dan berkabut. Rumah-rumah beratap seng agar tidak terlalu dingin, inilah Banjarnegara. Bukit-bukit seluruhnya bertanam sayur-sayuran, dan hamppir seluruhnya dipenuhi kentang. Sungguh inilah surga kentang yang sesungguhnya, luas sekali areal kentang.

Sampai di Bantur saya bertemu salah satu tengkulak kentang, dia tertawa ketika kami menyatakan bahwa Wonosobo tempat kentang. Dia berkata bahwa saya dibohongi bila ada yang mengatakan kentang berasal dari Wonosobo. Wonosobo di Dieng hanya 30% penghasil kentang, selebihnya milik Banjarnegara. Pemandangan kentang yang saya lihat dari Dieng sampai Bantur ini belum separuhnya areal kentang yang ada di Banjarnegara, kata Bapak tengkulak itu. Nah lu… kenapa yang terkenal justru kentang Wonosobo ? dan gara-gara inilah teman saya menjadi kebingungan dengan skripsinya. Teman saya tidak bisa melihat produktivitas kentang yang dibawa ke Jakarta karena teman saya mengira bahwa kentangnya berasal dari Wonosobo.

Sekitar jam 7 malam kami melintasi Dieng dari Bantur Banjarnegara sampai ke Kota Wonosobo. Satu kata untuk perjalanan ini “ M E N A K J U B K A N”, bintang terlihat jelas dari ketinggian 2000 mdpl di Dieng, asap tenaga Uap seperti bayangan para Dewa. Jalan yang berkelok-kelok dengan pemandangan gunung, pertanian dan permukiman, membuat saya tersihir dalam Genggaman Keindahan Sang Pencipta. Hayalan saya cuma satu, saya ingin ke sini dengan mengendarai mobil sedan bersama Isteri dan anak-anak saya. Kawan, sungguh ingin seperti itu. *susssstttt… sudahlah..

Sampailah saya di alun-alun kota Wonosobo sekitar jam 9 malam, duduk dan melamun menjadi hobi saya ketika berada di tempat yang jauh dari rumah, jauh dari keluarga dan orang-orang yang biasa dekat dengan saya. Baru sebulan yang lalu saya berkelana di Jogja, dan baru 2 minggu yang lalu saya mendaki Gunung Semeru. Kini harus terbawa romantis dengan alam lagi yang membuat pikiran saya semakin mellow… semakin santai dan tenang. Semakin tidak mengerti akan jalan yang harus saya lalui. Maka semakin autislah saya ini…

Kalau bukan karena terpaksa, saya tidak akan ke sini. Terpaksa karena teman saya butuh bantuan dalam surveinya. Dengan mendadak dia mengajak saya ke Wonosobo, dan baru kali ini saya jalan tanpa persiapan, bahkan baju dan celana untuk salinan saja saya tidak bawa. Tidak tahu dah baunya seperti apa saya itu… walau akhirnya saya beli kaos dan CD.

Hari kedua, kami ke Dieng lagi. Di sini kami mengunjungi beberapa objek wisata diantaranya Telaga Warna dan Kawah. Dengan harga tiket masuk diatas Rp 5.000, serta tukang parkir yang gila duit (masa parkir motor Rp 2.000 ) membuat kami seperti dirampok. Bayangin aja duit saya hanya sisa Rp 100 logam, gila kan? Dan jujur saja kawah dan telaganya biasa-biasa saja. Menurut saya, manajemen Pariwisata di Dieng sangat kacau dan berantakan. Itu membuat orang malas lagi kesana, darimana sumber pernghasilan mereka bila bukan dari pariwisata? Ditambah lagi masalah kesuburan tanah yang terus berkurang karena terlalu sering memakai pestisida ?
Dinas Pariwisata dan Pertanian tidak banyak berbuat di sana, saya lihat mereka berusaha sendiri untuk mendapatkan keuntungan tanpa berfikir masalah ke depan.

Ya sudahlah… keindahan Dieng dihancurkan oleh manusianya.

Sedangkan candi disana adalah candi pewayangan, nama-nama wayang, ceritanya tidak jelas… jadi sulit mengenal Dieng… Teman saya yang asli Wonosobo heran ternyata kentang yang terkenal itu bukan dari Wonosobo. Sekarang saya mengerti kenapa Dosen Pariwisata saya, Bpk Djamang Ludiro melarang kami untuk Kuliah Lapang di Dieng, dulu beliau berkata Dieng biasa-biasa saja dan biaya hidupnya mahal. Ternyata ini benar… maafkan saya ya Pak dulu saya kesa KL tidak jadi di Wonosobo, malah ke Pangalengan… tapi jujur saya tidak pernah menyesal ke Pengalengan, di sana pertanian dan perkebunannya sangat beragam…





Thursday, May 20, 2010

Mahameru... mei 2010

foto : Ranu Pane,13 mei 2010

13 Mei 2010, Kamis sore menjelang Azan Magrib, saya beserta 9 sahabat yang merupakan teman satu jurusan di kampus, kini berada di Rano Pane. Kami bermalam di sebuah camp Taman Nasional Bromo Tengger Semeru dengan ketinggian 2200 mdpl.

Rano dapat berarti danau, yup.. dari pandangan yang berbukit-bukit ini membentuk cekungan yang cukup luas hingga membentuk danau. Entah siapa yang mengajari para penduduk disini, mereka mampu menanam sayur-sayuran di sisi-sisi bukit yang curam. Tanah yang merupakan limpasan kandungan organik Gunung Vulkanis Semeru, serta suhu udara yang cukup dingin itu membentuk surga bagi para petani. Tiap beberapa jam saya melihat truk pengangkut sayuran melintasi jalan satu-satunya yang tersedia di sini, yang menghubungkan desa kecil ini dengan kota besar di sana, yang memerlukan waktu sekitar 3 jam.

Esoknya saya menuju Rano Kumbolo melalui jalur yang tak biasa orang-orang lalui. Karena harus mendaki melewati Gunung Ajek-Ajek (dibaca ayek-ayek), maka jalur ini dinamakan jalur ayek-ayek. Sekitar 3 jam kami berhasil melewati jalur ayek-ayek, dari sini kami sadar mengapa orang jarang melalui jalur ini. Yah, jalur ini mampu membuat betis terasa naik dan keram, karena rasanya seperti mendaki puncak gunung. Pemandangannya pun biasa saja, hanya hutan dan hutan.

Keluar dari ayek-ayek kami turun lagi untuk memasuki padang rumput yang sangat luas, sunyi dan datar. Sekitar 1,5 jam kami sampai di pos Ranu Kumbolo. Danau ini dikelilingi bukit-bukit hijau berkulit rumput, semak dan hutan. Di sinilah kami bertemu dengan para pendaki lain, namun karena Pendakian Semeru baru dibuka 2 hari yang lalu maka di Ranu Kumbolo ini tidak terlalu ramai, tak lebih dari 50 orang.
foto : Ranu Kumbolo, 14 mei 2010

Danau atau Ranu yang tenang ini memiliki air yang sangat jernih dengan ketinggian permukaan 2400 mdpl, beberapa pendaki terlihat mengambil air untuk dimasak. Tepat di belakang Pos Ranu Kumbolo terdapat tanjakan untuk menembus jalur menuju Puncak Semeru. Tanjakan ini menjadi track sensasional karena terdapat kepercayaan bahwa bila pendaki melewati tanjakan ini tanpa berhenti dan menengok ke belakang, maka orang yang kita bayangkan akan menjadi jodoh kita. Orang-orang mengenal ini dengan sebutan TANJAKAN CINTA.
foto : Tanjakan Cinta, 14 mei 2010

Tiba-tiba rasa pegal saat melalui jalur ayek-ayek hilang seketika dan menjadi semangat baru untuk melewati tanjakan cinta itu. Hohoooo…. Dengan emosi yang luar biasa, saya pun tak menoleh kebelakan sambil konsentrasi melewatinya. Hahaaa… sayapun berhasil… Horeeee… tapi karena seluruh energi terkuras pada tanjakan yang terlihat tidak terlalu jauh itu, maka setelah melewatinya, kaki rasanya keram… hahaa… saya sendiri merasakan keram di kedua paha. Lalu bagaimana teman saya yang lain?

Roti, susu dan minuman hangat lainnya menjadi teman kami di Ranu Kumbolo saat sejenak istirahat di sana, sebelum melewati tanjakan cinta. Setelah itu kami harus turun bukit lagi dan memalui padang rumput yang sangat luas dan datar. Rumput ini mampu menutupi seluruh badan saya, bahkan ada yang setinggi saya atau sekitar 176 cm. Padang rumput yang disebut Oro Rombo ini dapat ditempuh 30 menit, setelah itu kita akan berjumpa dengan Gunung Kelopo dengan ketinggian 2950 mdpl.

Mahameru atau puncak Gunung Semeru tepat dibelakang Gunung Kelopo saat kami keluar dari Oro Rombo, karena itu kami harus melipir dibagian kanan kaki Gunung Kelopo. Di sini butuh 2 jam untuk melewatinya, hingga mencapai Pos Kali Mati yang terletak di bagian utara kaki Mahameru.
foto : Kali Mati, 15 mei 2010

Kali Mati merupakan sebuah padang rumput yang sempit, yang diapit oleh Gunung Kelopo dan Mahameru. Di sinilah kami beristirahat dan ngecamp.
Tanpa kami sadari, kami sudah dipeluk oleh Mahameru, Dia memberikan sedikit rintik hujan saat kami terlelap.

Jam setengah dua malam kami bangun untuk menyiapkan summit attack, yup… malam buta ini tenda dan barang-barang yang berat kami tinggalkan di Kali Mati. Dengan senter dan backpack kecil kami siap menembus puncak Mahameru.

1 jam berlalu kami sampai di Pos Arcopodo, kami pun terus mendaki. Senter berbentuk headlamp saya pakai, sering sekali tanpa sengaja headlamp ini menyenter sebuah batu Nissan. Jantung ini pun bergetar tak karuan, yup banyak sekali dalam perjalanan ini saya menjumpai batu Nissan yang menandakan bahwa banyak pendaki yang tewas demi menjumpai Mahameru. Ada yang meninggal tahun 70an, 80an dan bahkan 90an dengan rata-rata usia meninggal 20-28 tahun. Lupakan sejenak tentang Nissan, jalur ini semakin mengerikan karena selain gelap, jalur ini sangat sempit, di sisi kanan dan kiri merupakan jurang yang siap meremukkan kepala.

Tapi apa kata dunia bila perjalanan yang jauh ini, yang bisa membuat saya dipecat karena bolos kerja, lalu saya kembali ke bawah karena takut akan kematian. Dengan suhu yang tipis dan kaki yang terus dihantui keram, saya terus berjalan sampai akhirnya menemui jalur berpasir. Yup… inilah Pelawangan Mahameru.

Sekitar jam 3.30 saya bertemu dengan jalur pasir ini, di ketinggian 3100 mdpl. Ini berarti saya harus mendaki pasir setinggi 500 meter. Pendakian yang sulit…

foto : Pelawangan Mahameru ,15 mei 2010

Awalnya, dua kaki melangkah, satu kaki merosot. Lama kelamaan tiga kaki melangkah, dua kaki merosot. Mataharipun muncul dan langit semakin terang saja, tapi saya belum sampai ke Puncak Mahameru itu. Satu persatu sebagian kecil orang mundur dan nyerah tak melanjutkan pendakian ke puncak. Yang Berbadan ideal lebih mudah untuk terus melangkah, ada beberapa Bapak-bapak, satu Ibu-ibu dan satu wanita yang terus dituntun oleh ayahnya.

Semakin tinggi, udara semakin tipis rasanya untuk dihirup, suhu semakin dingin, kaki semakin lemah. Pantaslah Dewa 19 membuat lirik Mahameru dengan kata “bertanya-tanya kapankah berakhir?”. Ada dimana saya merasa sangat kedinginan dan kehausan karena air 1,5 liter yang saya bawa telah habis diminum. Saat itu saya hampir kehilangan berfikir, jaket yang tebal tidak berguna, sangat dingin. Akhirnya air minum dari teman dan sebatang rokok pun menjadi sahabat yang sedikit menghangatkan tubuh. Dengan emosi saya terus melangkah ke Puncak.
foto : Puncak Mahameru, 15 mei 2010

Sebagian orang, bahkan kebanyakan orang menganggap apalah gunanya jalan-jalan naik gunung yang melelahkan itu. Sebagian orang lebih menyukai menghilangkan strees dengan memasuki hiburan malam. Sebagian orang lebih menyukai terus menerus bekerja dan mengumpulkan uang agar menjadi orang sukses. Sebagian orang terus saling menjatuhkan demi kekuasaan. Sebagian orang saling menghina dan mencaci demi harga diri. Sebagian orang saling mencuri materi dari yang bukan miliknya. Sebagian orang merasa dirinya adalah yang benar.

Dan di sini, saya adalah sebagian kecil orang atau mungkin saya sendiri yang merasa bahwa saya sangatlah bodoh, tidak mempunyai apa-apa, tidak bisa apa-apa. Sangat kecil diri ini… sungguh sangat kecil, di Jakarta sana saya seperti debu, di kantor tak bisa apa-apa, terlalu banyak orang pintar di sana. Di atas puncak Mahameru keriuhpikukan duniawi terasa terlempar dalam kawah yang panas, angin yang sangat dingin benar-benar menampar wajah ini, Mahameru menegur saya dengan atmosfirnya agar saya tunduk, agar tidak sombong, agar sadar bahwa hidup ini bukanlah apa-apa. Tidaklah terlalu penting kenimatan duniawi, yang penting bagaimana hubungan mu dengan sahabat-sahabat mu, dengan sudara mu, dengan orang disekitar mu. Pedulikah engakau dengan mereka?
foto : Puncak Mahameru in Memoriam of Gie, 15 mei 2010

Seandainya dari sini ada jembatan menuju akhirat, mungkin saya akan terus mendakinya. Ingin melihat seperti apakah Surga dan Neraka, yang menjadi perdebatan tiada akhir bagi penghuni muka bumi.
foto : Puncak Mahameru, 15 mei 2010

Sekitar jam 7 di puncak Mahameru itu, semua rasanya lenyap.



Wednesday, May 5, 2010

Benar sendiri…

Parangtritis, april 2010

Saya pernah, bahkan mungkin sering namun terkadang saya tak menyadarinya. Sebuah sifat yang terkadang membuat diri ini kesal dengan keadaan di luar. Merasa benar sendiri sampai apa-apa yang diucapkan orang lain tak pernah dipedulikan. Terkadang dengan ini ditambah emosi membuat perasaan cepat tersinggung bila ada orang lain yang tak sesuai dengan pendapat saya. Yah sekarang si saya mencoba mengurangi rasa ini saja.

Entah apa yang harus saya pelajari, sebuah sistem berabad-abad menjadi budaya dalam sebuah wilayah. Lalu membuat emosi naik turun, seperti lonceng diatas kuil. Entah apa yang saya tulis dalam blog ini, sebuah kata-kata tak jelas yang terurain dalam warna putih yang saya pilih sebagai lapisan dunia yang harus saya jalani.

Cerita demi cerita menjadi matador dalam stadium yang tak menentu, lalu berbalik arah karena semua memiliki kebahagian sendiri-sendiri. Ataupun sebuah pedoman yang dipegangnya dan dipeluknya sangat erat.

Awan-awan ku, langit ku, marahari ku, bulan dan bintang-bintang ku, dimana kah aku? Siapakah aku?
Hmmm… rasanya sulit sekali menjadi lebih baik seperti apa yang dikatakan mereka dan para kitab. Entahlah, sulit dimengerti…

Tuesday, May 4, 2010

Hati ini tidak nyaman.

Solo, februari 2010

Bolehkah aku bicara jujur Tuhan ? walau aku sudah bisa mencari nafkah sendiri, bahkan bisa sedikit member ke orang tua dengan rasa senangnya. Namun, pekerjaan ini sebuah pekerjaan yang membuat hati merasa tak nyaman.

Tuhan, apakah kau mendengar ? Aku tahu, aku tidak semulia orang-orang yang selalu menyebut nama-Mu. Bahkan aku menyadari bahwa diri ini sering melanggar perintah-Mu, bahkan terkadang aku tak percaya bahwa Kau benar-benar ada.

Aku merasa tak nyaman, aku ingin tidak ada kebohongan dan kepura-puraan dalam bekerja.
Berikanlah keyakinan… berikanlah keyakinan… agar suatu hari nanti kan terjadi, karena tidak ada yang abadi.

Monday, May 3, 2010

Love is ...

Jogja, april 2010

Let me love you…
I wanna feel love again

Terlalu jauh aku berjalan, terlalu lama aku berjalan tanpa arah, terlalu panjang aku menyaksikan drama, dan tertalu bodoh aku berdiri.
Manusia seperti saya bukanlah satu-satunya, bukan satu-satunya orang yang senang jalan-jalan, senang keindahan alam dan senang kebebasan. Semakin banyak berjalan semakin banyak yang disaksikan mata dan hati ini. Entah apakah ini yang disebt pengalaman yang bermanfaaf atau sia-sia, karena ketika saya ditanya untuk apa perjalanan saya ini, jujur saya tidak bisa menjawab, saya hanya merasa senang saja, tak lebih dari itu.
Lalu, apa yang harus saya lakukan. Di satu sisi saya tidak ingin banyak melakukan berjalan-jalan karena saya memikirkan keluarga kedepan, saya sadar suatu saat saya harus menikah, setidaknya mengumpulkan uang agar dalam berkeluarga akan menjadi lebih baik. Tapi, disisi lain saya ingin terus-terusan berjalan tanpa berujung, terus menyaksikan kehidupan dan lingkungan. Ini membuat dilema.
Saya ingin sekali menjadi manusia normal… biarkan jalan-jalan adalah bonus dari segala usaha. Saya ingin bertahan hidup… if you understand all abaut this word, so let me love you because I wanna feel love again…

Untuk Adik Gaza

 Adik, kamu kuat di sana Rambutmu berdebu wangi surga Getaran jari tanganmu dan keringnya kulitmu adalah cinta dari Tuhan yang Maha Besar He...