Monday, August 5, 2024

Untuk Adik Gaza

 Adik, kamu kuat di sana

Rambutmu berdebu wangi surga

Getaran jari tanganmu dan keringnya kulitmu

adalah cinta dari Tuhan yang Maha Besar


Hei Adik Gaza

Puing-puing yang kau injak

Tanah dan pasir yang kau tiduri

adalah bisikan kasih dari surga


Hei adik ku sayang di Gaza

kuatkan hatimu meski kamu sudah tidak kuat lagi

Tahan laparmu ya adik, hidangan makananu menanti di sana

di rumah mu yang sebenarnya


Maaf kakakmu ini hanya bisa berdoa

kelak surga ada untuk mu

Thursday, July 20, 2023

Melihat mereka (anak) pertama sekolah

Satu hal yang tidak terbayangkan, air mata tiba-tiba menetes ketika pertama kali mengantar anak sekolah. Raia, anak kedua yang kini berusia 4,5 tahun masuk kelas TK A dan Lintang anak pertama yang kini berusia 6,5 tahun masuk kelas 1 SD.

Gue gak ngerti kenapa tiba-tiba turun air mata ngeliat Raia masuk sekolah TK untuk pertama kalinya. Tapi setidaknya gue sadar betapa ini adalah kenangan indah yang mungkin tidak gue rasakan di saat kecil. Allhamdulillah anak-anak gue ini deket sama Bapaknya, bisa bercanda setiap hari & tentu bisa bermain bersama. Bisa dikatakan anak-anak saat ini seperti teman, gak ada jarak dan mereka gak takut sama Bapaknya, serta selalu ngomong dan bercerita apapun.

Karena ini juga gue jadi paham kenapa Rejeki itu tidak sekedar uang. Sebanyak-banyaknya uang yang kita miliki tetap saja yang bisa kita makan tidak bisa sebanyak-banyaknya, dia akan menyesuaikan dengan perut. Begitu juga dengan jalan-jalan/ travelling, gue yakin sehebat-hebatnya orang bisa sering jalan-jalan kesana kesini, keluar negeri atau keliling dunia, tetap saja itu tidak bisa membuat seseorang tersebut bahagia. 

Mungkin, ini salah satu bentuk Sang Maha Adil dari Allah SWT, supaya semua manusia bisa merasakan syukur yang mendalam. Rasa syukur ini berbentuk nikmat yang berbeda-beda. Termasuk saat gue mengantar anak sekolah dan tiba-tiba meneteskan air mata. Air mata ini perwujudan dari rasa bahagia sekali. Gak nyangka sekarang udah pada sekolah, tinggal si bayi anak ketiga aja yg masih di rumah. Allhamdulillah.

Tuesday, July 26, 2022

Tidak berharap/ bergantung kepada orang lain dan keadaan adalah hal yang paling bahagia dan beruntung

 Hai teman-teman

Sudah lama saya tidak menulis di blog ini, padahal banyak sekali yang ingin diceritakan tapi belum ada waktunya. Kali ini saya sempatkan disela-sela kesibukan kerjaan dan mengurusi/bermain dengan anak-anak yang kini sudah tiga, Allhamdulillah.

Beberapa bulan terakhir ada kata-kata atau kalimat yang ternyata membuat saya sangat tersentuh dan setidaknya mengubah cara pandang hidup saya padahal kalimat itu sering sekali saya dengar.

Pertama, tentang harapan.

Saya sering mendengar bahwa dalam hidup hendaklah berharap pada Allah SWT saja. Karena inilah saya dari kecil hanya berharap dan berdoa kepada Allah SWT. Tapi tanpa saya sadari ternyata banyak hal-hal dalam hidup dan pekerjaan justru saya masih bergantung kepada orang lain. Ya ternyata bergantung dengan berharap tidak ada bedanya.

Misalkan saat bekerja dan usaha, kadang kala kerjaan dan usaha kita bergantung kepada usaha lain atau orang lain atau kadang faktor lain yang ternyata itu wujudnya adalah bukan Allah SWT. Sebagai contoh para pengusaha membangun perusahaan, ternyata perusahaan tersebut maju pesat karena adanya faktor dari luar, seperti faktor investor, jika tidak ada investor maka tidak bisa jalan. Atau perusahaan dan bisnis akan berjalan jika ada faktor pemberi kerja seperti pemerintah, ada beberapa yang saya lihat perusahaan hidup dan bertahan justru tergantung pejabat-pejabat yang mereka kenal atau istilahnya “orang dalem”. Tanpa faktor luar tersebut, mereka berbisnis tidak ada apa-apanya. Hal inilah yang menyebabkan ketergantungan.

Kebayangkan, bagaimana rasanya bekerja dan hidup bergantung kepada orang lain itu?

Oleh karena itu saya sangat setuju bila ada ulama mengatakan: “orang yang paling beruntung adalah orang yang sedikit memiliki ketergantungan dengan orang lain, bahkan semakin beruntung bila sampai hanya berharap kepada Allah SWT.”

Yang paling terasa memang di dunia kerja, baik itu para pelaku usaha ataupun para pengambil kebijakan dan pemerintah. Misalkan kamu seorang PNS/ ASN, gaji kamu pas-pasan lalu kamu berharap mendapatkan keuntungan/pemberian dari para pihak ketiga atau dengan cara salah lainnya dengan alih-alih gaji PNS itu kecil, jadi harus seperti itu caranya. Dengan ini, maka kamu sudah menggantungkan sebagian rezeki kepada selain Allah SWT.

Begitu juga bila kamu seorang pengusaha seperti saya atau bukan PNS/ASN, jika kamu masih melakukan hal-hal yang sifatnya memanipulasi atau bohong maka itu juga bagian dari menggantungkan diri selain Allah SWT.

Di sini bukan soal sistem di negeri ini yang belum benar/ salah sehingga ada saja ketidakcukupan biaya hidup, sehingga terpaksa melakukan hal-hal yang tidak benar. Saya sendiri meyakini bisa saja kebohongan seseorang dalam sistem tidak dinilai dosa oleh Allah SWT. Yang menjadi masalah adalah ketika hal-hal seperti itu justru membuat kita bergantung dengan orang lain dan melupakan Allah SWT yang merupakan pemilik alam semesta dan mencukupi hiudp mahluknya.

Kebergantungan/ berharap selain Allah SWT ini kadang membuat manusia menjadi lemah, dan tidak percaya dengan dirinya. Padahal kalau orang mau mendapat pekerjaan tambahan, di zaman sekarang itu banyak sekali peluangnya asal mau mencari.

Jangan sampai, kamu bahagia jika masuk universitas ternama, atau bahagia bila dapet proyek, atau bahagia bila mendapatkan pasangan hidup yang keren. Jangan sampai kamu bahagia tetapi menunggu, karena menunggu bisa jadi bergantung. Masa iya kamu bahagia bila dapet duit banyak, tapi saat duit dikit kamu tidak bahagia. Masa iya kamu bahagia bila dapet kerja diperusahaan besar? apa tidak bisa kamu bahagia dengan apa yang kamu dapatkan saat ini?

Kedua, tentang keadilan.

Selain tentang harapan/kebergantungan ini, sebenarnya adalagi yang merubah pola pikir saya, yaitu tentang keadilan di dunia. Seumur hidup saya, saya belum pernah melihat sesuatu hal yang benar-benar adil, baik itu dalam bekerja, hukum pemerintah, kesenjangan sosial, atau yang paling dekat dengan kita, terkadang kita suka ada saja perselisihan antar sodara, suami istri atau dengan teman, yang bisa jadi ada yang merasa tidak adil.

Yup, ketidakadilan ini seringkali membuat orang kecewa dan malas menjalani hidup. Padahal setiap kita sholat selalu mengucapkan “Malikiau Middin”, dari situ sudah jelas hanya Allah SWT yang dapat melakukan keadilan sebenar-benarnya adil sempurna. Jadi wajar saja bila hidup di dunia terkadang merasa ada ketidakadilan, baik itu hidup maupun bekerja.

Harapan/Ketergantungan dan keadilan hanya kepada Allah SWT setidaknya membuat saya merasa lega, tenang dan santai dalam hidup, Allhamdulillah… Kita tidak perlu takut kehilangan apapun karena yang kita dapatkan sebenarnya pemberian/ amanah dari Allah SWT.

Sunday, July 5, 2020

Beruntungnya anak Geografi… Kunci 2 dan 3

Sebelumnya sudah saya beri tahu kunci pertama kekuatan ilmu geografi yang bisa dibaca di sini, selanjutnya tentang kunci lain bila kita ingin berkiprah lebih lanjut. 

Geografi di Indonesia menurut saya saat ini sudah lebih terkenal dibanding tahun-tahun sebelumnya, bahkan semua orang mulai mengakui betapa pentingnya peta atau data lokasi dalam melakukan kebijakan. Dan hampir seluruh di instansi pemerintah dan perusahaan swasta menggunakan ilmu geografi, sehingga anak geografi mulai tersebar di seluruh sektor dan pelosok Indonesia. Ini adalah kabar menggembirakan buat teman-teman lulusan geografi.

Tetapi, jangan senang dulu, kabar gembira ini belum sepadan dengan geografi yang sebenarnya. Mengapa? Karena data lokasi atau peta yang semakin populer ini dikenal masyarakat melalui SIG (Sistem Informasi Geografis), yang mampu menampilkan data lokasi dalam bentuk peta. Sehingga sebagian besar lowongan pekerjaan beberapa tahun terakhir ini kebanyakan hanya membuat peta, jarang sampai ada yang menggambarkan masalah dan menjawabnya secara logis dengan bantuan data spasial atau peta. Dengan kata lain, Indonesia saat ini baru bisa membangun data, belum sampai melakukan analisa dan otomatisasi, apalagi membicarakan BIG DATA maupun AI (artificial intelligence).

Sebenarnya hal ini sangat menyedihkan, disaat kita sibuk membangun data yang tidak selesai-selesai, dinegara lain sedang melakukan inovasi terhadap data analisa maupun otomatisasi sistem berbasis lokasi.

Satu-satunya cara untuk bisa bersaing dengan negara lain dan ikut berperan terhadap otomatisasi analisis spasial, adalah dengan mengembangkan sendiri sistem tersebut dan tidak berfokus kepada pengumpulan data semata.

Oleh karena itu, Geografi perlu dipadu dengan teknologi informasi, atau mungkin membangun sendiri sebuah jurusan baru geografi teknologi informasi atau teknologi geospasial. Teknologi geospasial yang saya maksud bukanlah sebagai pemakai software atau sistem, tetapi pembangun sistem itu sendiri, yang mana pemanfaatannya untuk berbagai hal termasuk mempercepat akuisisi data, analisis spasial dan otomatisasi pengambil kebijakan. Sehingga menciptakan sebuah sistem baru yang fungsinya untuk mempercepat proses.

Saya ingatkan kembali bahwa teknologi geospasial yang saya maksud adalah “memadukan ilmu geografi dengan teknologi informasi yang berfungsi untuk menciptakan sebuah sistem baru yang fungsinya untuk mempercepat proses, dalam menggambarkan masalah dan menyelesaikannya”.

Dengan demikian, tantangan selanjutnya adalah dunia geospasial teknologi itu sendiri yang perlu kita tahu. Teknologi apa yang ingin kita gunakan? Dan software apa yang ingin kita gunakan? Atau perlukah kita membangun software sendiri? Loh kenapa harus bicara software atau sistem?

Ya, penting sekali membicarakan software dan sistem, saya beri contoh, mengapa Indonesia yang negaranya besar ini tidak pernah terwujud simpul jaringannya data spasial dari Sabang sampai Merauke? Lalu mengapa smart city hanya mampu di beberapa kota saja? Tidak seluruh kota, apalagi kabupaten. 

Ini tidak lain dan tidak bukan karena kita, para geografi ataupun semua jurusan yang menggunakan pengolahan data spasial, mayoritas dari kita hanya sebagai pemakai software GIS, dan software yang kita gunakan adalah software berbayar. Sementara negara lain sudah tidak perdulikan sofware lagi, tetapi kebanyakan mengembangkan sistem. 

Loh apa hubungannya dengan software berbayar? 
Jika anda tahu betapa mahalnya membangun WebGIS dengan software berbayar, padahal webgis merupakan software yang mampu dikembangkan untuk melakukan otomatisasi, dan mampu melakukan berbagi data dan analisa, dan webgis adalah dasar pengembangan Smart City, dan dapat juga dikembangkan mempercepat akuisisi data spasial di lapangan. Kenyataannya, pemerintah daerah di Kabupaten/Kota banyak yang tidak mampu membeli software berbayar tersebut. 

Itu baru webgis, belum aplikasi GIS desktopnya juga sama mahalnya. Tapi kita diam saja, malah terus memakai software bajakannya. Loh memang kenapa?

Begini teman-teman, software GIS berbayar itu sengaja membuat kita terbiasa menggunakannya agar kita kecanduan, setelah kecanduan akhirnya kita terpaksa membeli lisensi-nya. Lalu bila itu sifatnya layanan tahunan, maka kita terus menerus membayarnya tiap tahun. Dan itulah yang terjadi di Negara yang kita cintai, Pemerintah Pusat beramai-ramai membeli software lisensi tersebut dan tiap tahunnya terus melakukan pembelian lisensi ataupun maintenance-nya. Sementara pemerintah daerah hanya berdetuk kagum dengan kecanggihan software tersebut tanpa bisa menggunakannya karena tidak memiliki anggaran yang cukup untuk membeli.

Gara-gara software tersebut akhirnya para pengguna data GIS atau spasial di Indonesia hanya mampu menggunakan software tanpa bisa membangun sistem sendiri. Akhirnya BIG DATA, AI dan OTOMATISASI dalam pemanfaatan data lokasi atau spasial tidak pernah terwujud di Indonesia. Pemerintah fokusnya hanya membeli lisensi software GIS dan maintenance tiap tahun, yang sudah jelas software tersebut dibangun oleh negara asing. 

Lalu harusnya bagaimana?
Pemerintah harus mengembangkan SDM nya untuk bisa menciptakan software GIS atau sistem untuk otomatisasi data lokasi tersebut, tanpa harus membeli lisensi. Karena, saat ini semua hal ini mungkin dilakukan bahkan saya bersama teman-teman sudah melakukannya, hanya belum sepopuler mereka yang berlisensi.

Jika teman-teman yang membaca tulisan saya ini, kenal dengan saya dan tahu apa yang saya lakukan bersama Dasmap, saya ingin kasih kunci kedua anda sebagai ahli geografi ataupun ahli lainnya yang berkaitan dengan teknologi geospasial. 

…. Kunci Kedua….

Saya lulus kuliah Geografi UI pertengahan tahun 2009, di akhir tahun 2009 sampai pertengahan 2011 saya bekerja di salah satu konsultan, dan saya masuk dibidang IT dan GIS. Di sana saya membangun WebGIS dengan software berbayar di berbagai instansi pemerintah, sekali membangun WebGIS tersebut biayanya bisa mencapai lebih dari 4 miliar, sementara pekerjaan tersebut dilakukan oleh sekitar 2 sampai 4 orang termasuk saya di dalamnya. Pekerjaannya sederhana, hanya melakukan instalasi, membangun geodatabase dengan oracle/SQL Server/PostgreSQL, membangun webGIS dan service map, membuat arsitektur program, kamus data, dan terkadang integerasi data. Meskipun sederhana namun sering begadang karena pada tahun itu data spasial di Indonesia sangat rusak atau berantakan koordinatnya.

Saat itu saya merasa hebat karena bisa mengembangkan WebGIS bahkan selama hampir 2 tahun bekerja tersebut, saya bisa mengerjakan semua hal dari instalasi sampai akhir. Tapi semua itu terpatahkan, semua kebanggaaan saya terhadap kemampuan saya itu lenyap dan justru saya malah merasa bodoh.

Ya saya merasa bodoh, kenapa saya merasa bodoh?
Ini gara-gara setelah keluar dari konsultan tahun 2011, saya sering ketemu dengan orang termasuk senior-senior dari satu almamater. Biasanya saat ketemu itu, kami berdiskusi dan bercerita tentang pekerjaan, seperti biasa saya selalu menunjukan betapa hebatnya webGIS dan teknologi geospasial yang saya pernah bangun. Dan di tahun 2012 saya terkejut dan kaget, karena ada salah satu WebGIS yang cukup canggih saat itu, dan ternyata dibuat oleh anak geografi yang juga merupakan senior saya. Setelah saya perhatikan dan teliti, ternyata yang dia bangun sudah cukup mirip dengan apa yang bisa dilakukan oleh webgis dari software berbayar, dan lebih mencengangkan lagi, harga jual pembangunan webgis tersebut murah sekali. Bisa seperlima atau bahkan sepersepuluh dari harga license.

Lalu saya berfikir bahwa webgis dengan harga murah ini bisa sekali membantu pemerintah di daerah yang tidak memiliki anggaran tinggi, dan dengan begitu maka simpul jaringan data spasial bisa terwujud, dan smart city juga bisa dilakukan oleh pemerintah daerah.

Subhannnallah… saat itu saya benar-benar terkejut. Betapa bodohnya saya, selama ini saya hanya menguntungkan perusahaan asing melalui webgis berbayar, dan uang yang sudah puluhan miliar keluar karena saya kerjakan tersebut bisa jadi hanya menguntungkan perusahaan dan negara asing, saya ulangi “hanya menguntungkan perusahaan dan negara asing, bukan menguntungkan Indonesia”. 
Akhirnya saya berjanji untuk tidak lagi mengembangkan webgis berbayar, tahun 2013 sampai 2017 saya sering bekerja mengerjakan proyek bersama senior saya tersebut, dan akhirnya awal tahun 2018 kami mendirikan perusahaan sendiri yang fokusnya untuk pengembangan sistem berbasis GIS dengan teknologi geospasial. Masih banyak hal-hal menarik yang bisa diceritakan selama saya bekerja, seperti bagaimana kami mendapatkan penghargaan “Kick Andy Hero tahun 2013”; lalu penghargaan dari Kementerian Kehutanan tahun 2012; pernah juga dipanggil dan diskusi langsung dengan Menteri BAPPENAS dan Kepala BIG untuk membantu menganalisa Selat Sunda dan Pelabuhan Cilamaya.

Loh kunci keduanya mana?
Kunci kedua agar kita merasa beruntung menjadi lulusan Geografi yaitu “mau belajar lagi”. Mau belajar disini artinya tidak harus melanjutkan S2, tapi belajar meningkatkan kemampuan dengan terus memahami masalah dan mencari cara penyelesainnya. Hal ini memang melelahkan, tapi bila kita iklhas mau belajar maka Insyallah nantinya akan mudah. 

Nah, kelemahan lulusan geografi dan bahkan juga lulusan dari jurusan lain adalah mereka menganggap setelah lulus S1 maka urusan hidup anda sudah selesai, hanya tinggal bekerja saja mengikuti sistem yang ada. “Ini salah besar”, jika anda berfikir seperti itu maka anda membiarkan otak anda tidak berkembang, akhirnya anda menjadi lulusan geografi sebagai pembuat peta saja selamanya.

Nah kunci ketiga jika anda benar-benar ingin berkembang di dunia geospasial teknologi adalah “jangan menggunakan software GIS berbayar”, baik software GIS desktop maupun map server, bahkan untuk dokumen saja usahakan jangan pakai office bajakan, dan jika tidak mampu bisan menggunakan WPS. Software GIS desktop seperti Quantum GIS itu sudah sangat bagus saat ini, baik pengolahan, 3D dan layouting, dari sana anda bisa belajar mengembangkan model-model yang cepat atau pulgin. Untuk GIS server anda bisa banyak belajar mulai dari konsep atau arsitektur program, sampai implementasi tools dan engine apa yang digunakannya untuk membangun webgis, sementara database anda bisa menggunakan postgreSQL dan PostGIS yang juga bisa dibuka di QGIS. Jika anda sudah mahir, teruslah belajar dan berkembang sampai bisa melakukan otomatisasi analisa GIS. 

Bersabarlah dalam pembelajaran ini, karena memang tidak mudah, perlu ketenangan hati dalam belajar, serta cobalah memahami segala sesuatu sebelum memulainya. Insyallah anda akan ketemu dengan feeling anda sendiri dan bisa cepat dalam mempelajarinya.

“Mau belajar lagi” dan “jangan menggunakan software GIS berbayar” adalah kunci yang sangat penting bila anda ingin mengembangkan geografi dari sisi teknologi geospasial.  

Tuesday, June 30, 2020

Beruntungnya anak Geografi… Kunci 1

Alhamdulillah… saya sebagai anak lulusan geografi, dan termasuk orang yang bimbang saat awal lulus dari geografi UI, kini merasa semangat sekali bahwa bekal ilmu yang dimiliki benar-benar bisa bermanfaat untuk orang banyak.

Jika anda sebagai mahasiswa geografi UI atau geografi lainnya, yang kampusnya tidak memiliki fakultas geografi atau ilmu kebumian, saya yakin anda kebingungan membaca karir masa depan anda. Kenapa bisa? Ya karena jumlah mahasiswanya tidak sebanyak yang memiliki fakultas, sehingga teman-teman akan merasa seperti sendirian atau sepi untuk berkarir di bidang geografi. Hal ini berbeda dengan geografi yang memiliki fakultas, mereka akan banyak melihat senior-seniornya atau alumninya yang sudah menjadi pejabat diberbagai instansi dan kementerian di negara kita, atau bahkan menjadi direktur dibeberapa perusahaan swasta.

Jika anda benar-benar merasakan apa yang saya rasakan yaitu kebimbangan tentang karir masa depan seperti yang pernah saya tulis dalam blog saya disini. Mari sini saya bisikan tentang betapa beruntungnya kita memiliki ilmu geografi dan saya akan beri tahu cara untuk meningkatkan keilmuan kita sehingga orang lain tidak memandang kita dengan sebelah mata, apalagi bertepuk sebelah tangan.

Sebenarnya, geografi itu adalah ilmu yang sangat sederhana, yang dapat mengetahui masalah-masalah kehidupan, dan hebatnya masalah tersebut dapat digambarkan dengan jelas dalam bentuk muka bumi yang biasa orang sebut “keruangan” atau “spasial” atau “geospasial” atau “informasi geospasial” atau orang awam menyebutnya “peta”.

Selanjutnya, masalah-masalah kehidupan yang kita temukan tersebut tentu ada jawabannya, dan siapapun dan apapun bidang ilmunya bisa menjawab permasalahan tersebut dari sudut pandang ilmunya masing-masing. Kebanyakan jawaban-jawaban tersebut dalam bentuk angka statistik atau grafik, dan sayangnya bentuk statistik dan grafik dianggap belum logis dalam melihat dan menyelesaikan masalah. Lalu bagaimana agar bisa logis? Ya, hampir semua orang yang saya temukan berpendapat bahwa peta bisa membuat masalah dan penyelesaiannya menjadi lebih logis dan dapat diterima oleh akal sehat. 

Jelas ya teman-teman dimana kekuatan anak geografi tersebut? 
Coba renungkan baik-baik yang saya tulis tadi, dimanakah letak kelebihan ilmu geografi?
Saya ulangi lagi, dan coba baca kembali 2 paragraf terakhir yang saya tulis tersebut.
Jika sudah, dimanakah peran ilmu geografi? 
Di petakah? Atau di cara melihat dan menyelesaikan masalahnya?

Nah, di sinilah banyak anak geografi terjebak dalam menafsirkan ilmu geografi itu sendiri.
Kebanyakan dari kita sebagai lulusan geografi berpendapat bahwa kekuatan anak geografi adalah peta, sehingga kita berbondong-bondong mempelajari cara membuat peta dan akhirnya menjadi ahli dalam membuat peta. Bahkan saya menjumpai banyak anak lulusan geografi yang sudah 10 tahun lulus ternyata kemampuannya hanya bisa membuat peta atau layouting. Ini menyedihkan sekali. 

Padahal yang benar, kekuatan geografi adalah bisa melihat masalah dan memecahkan masalah tersebut dalam sudut pandang yang lebih baik dibanding keilmuan lain, kenapa bisa lebih baik? Karena kita mampu melihatnya dari sudut keruangan atau spasial yang dianggap lebih logis dibanding hanya sekedar statistik.

Jadi, jika anda bekerja dalam bidang perencanaan wilayah dan kota, kasih taulah ke tenaga ahli lain tentang permasalahan wilayah secara spasial, dan kasih tau juga cara penyelesaian masalahnya agar perencanaan kedepan tidak salah dan menimbulkan kerusakan alam dan sosial.

Jika anda bekerja di dunia GIS teknologi atau IT, kasih taulah ke pengguna bahwa dengan teknologi geospasial tersebut maka permasalahan akan bisa dengan cepat tergambar dan langsung dapat memberikan solusinya.

Jika anda bekerja dibidang sumber daya alam maka kasi taulah cara melakukan eksploitasi dan eksplorasi yang baik secara spasial agar tidak merusak lingkungan sekitar, dan agar alam bisa tetap seimbang, lalu bantulah cara memantaunya dengan spasial.

Jika anda bekerja di pemasaran maka kasi taulah bahwa antara deman dan supply bisa tergambar secara spasial, dan gambarkanlah karakteristik penduduk yang dibutuhkan produk agar tidak salah dalam menentukan lokasi pemasaran, sehingga tidak terjadi kerugian akibat salahnya lokasi, lalu hitunglah biaya-biaya akibat pengiriman barang dan hitunglah proyeksi keuntungannya.

Banyak lagi contoh-contoh peran ilmu geografi dalam kehidupan dan bisnis, kita bisa tahu dengan cara membaca jurnal atau buku terkait, atau bahkan bisa dengan berdiskusi dengan orang-orang pelaku usaha tersebut. Tidak harus melulu kita menjadi PNS atau ASN seperti kata orang tua kita, teman-teman bisa bisikan ke orang tuanya bahwa bekerja dimanapun kita tetap bisa hidup selamanya dan tetap mencukupi kebutuhan hidup.

Tadi telah saya kasi tau kunci kekuatan geografi, yaitu dapat melihat masalah dan memecahkan masalah dalam sudut pandang yang lebih logis yaitu dengan cara memandang spasial. Spasial ini bisa berbentuk 2 dimensi, 3 dimensi atau 4 dimensi, entah apapun dimensinya, tapi yang namanya spasial sudah pasti memiliki ruang dan waktu. Janganlah berfokus dan menghabiskan waktu hanya untuk membuat peta, karena kita geografi. Dan juga jangan fokus dalam menguasai menggunakan software, apalagi software itu berbayar, dan anda menggunakan bajakannya yang sudah jelas itu tidak halal.

Jika anda sudah paham apa yang saya sebutkan tadi, selamat ya, anda sudah masuk dalam orang-orang yang beruntung dengan ilmu geografi. Ada satu kunci lagi yang bisa membuat anda naik level sebagai anak geografi. Mau taukah? baca lanjutannya.


Sunday, June 28, 2020

Pentingnya Agama dan Ilmunya

Dalam kehidupan sehari-hari dan bertambahnya usia maka kebutuhan hidup terus meningkat, bahkan semakin pintar dan cerdas, keinginan kita terus bertambah dari waktu ke waktu. Alhasil lambat laun posisi jabatan kerja kita pun terus meningkat dan orang-orang semakin mendengar apa yang kita ucapkan, lalu setiap kebijakan menjadi hal dinanti dan menjadi aturan yang perlu ditegakkan.

Masalahnya, apakah aturan benar-benar akan membuat orang berlaku adil dan bijak? Jika benar, harusnya tidak pernah ada orang yang ditangkap polisi karena menyalahi aturan.

Bagaimana dengan pernikahan? mengapa ada suami istri sampai bercerai padahal pada saat akad nikah, sang suami sudah berikrar janji bahkan atas nama Tuhan bahwa akan menjaga sang istri selamanya.

Manusia, selalu saja pandai beralasan saat ketangkap basah menyalahi aturan, dan selalu bisa mengelak tentang perceraian. Alasan umum kurangnya pendapatan dan ketidakcocokan, akhirnya menyalah-nyalahkan keadaan dan orang lain. 

Itulah kenapa penting sebuah wawasan dan ilmu dalam beragama.
Di agama yang saya anut yaitu Islam, masalah-masalah seperti itu adalah masalah klasik yang sering dijumpai, dan sebenarnya sudah ada jawaban-jawabannya semenjak turunnya Islam yang dibawakan oleh baginda Nabi Muhammad SAW. Kebanyakan kita hanya mengaku beragama tapi tidak tahu apa yang diajarkannya.

Tentang menyalahkan keadaan.
Manusia kebanyakan lupa bahwa rezekinya sudah diatur oleh Allah SWT, dan lupa bahwa setiap manusia akan diuji keimanan dan ketakwaannnya dengan berbagai cara, bisa dengan kelaparan, kekeringan, kebencanaan dan musibah lainnya. Sehingga takdirnya bisa terlihat susah jika hanya melihat kasat mata.

Manusia juga sering lupa bahwa kita dikasih nafsu yang dapat mencintai dunia secara berlebihan sehingga dapat melupakan Allah SWT, nafsu tersebut bisa terhadap harta, tahta dan wanita.

Yang lucunya lagi, manusia kebanyakan ingin menjadi dirinya sendiri, dengan cara pikirnya sendiri, dan pendapatnya sendiri. Sampai-sampai kebablasan dan lupa diri, lalu ujung-ujungnya pusing sendiri, akhirnya tidak menyalahkan diri sendiri, tapi tetap menyalahkan orang lain. Pejabat melakukan korupsi dengan menyalahkan kecilnya upah gaji. Suami melakukan selingkuh karena menyalahkan isteri yang sudah tidak cantik lagi. 

Kita perlu hati-hati dalam menyikapi hal seperti ini, dan hal-hal seperti ini tidak bisa dijawab dengan sesuka hati atau seenaknya. Kita butuh ilmu agama agar bisa memahami setiap permasalahan dasar seperti ini. Bahkan kata Ulama, “nanti di akhirat dan hari pembalasan, apa yang kita dapat adalah apa yang kita prasangka terhadap Tuhan”. Bila di dunia kita sering mengeluh dan menyalahkan keadaan, sama saja menyalahkan Allah SWT. Sebaliknya bila di dunia sering bersyukur maka Allah SWT senang dengan orang tersebut karena Allah SWT selalu dianggap baik olehnya.

Di dalam Islam, sudah jelas bahwa Allah SWT sungguh luas Rahmat dan Karunianya, serta manusia sudah diatur rezekinya, dan rezeki itu bukan hanya berbentuk uang atau harta yang dipakai, tetapi juga kenikmatan-kenikmatan lainnya yang tanpa disadari adalah hal yang sangat berharga. Seperti saat ini ada covid-19, ternyata ada beberapa orang justru menjadi lebih dekat dengan keluarga yang sebelumnya jarang bertemu. Apalagi bagi yang punya anak bayi seperti saya, bersyukur sekali melihat dia tumbuh setiap saat bersama kita.

Tentang rejeki mahluk hidup, Allah SWT sudah menjelaskan di dalam Surat Hud Ayat 6, yang berbunyi:
وَمَا مِن دَآبَّةٍ فِى ٱلْأَرْضِ إِلَّا عَلَى ٱللَّهِ رِزْقُهَا وَيَعْلَمُ مُسْتَقَرَّهَا وَمُسْتَوْدَعَهَا ۚ كُلٌّ فِى كِتَٰبٍ مُّبِينٍ

Terjemah Arti: Dan tidak ada suatu binatang bergerak di bumi melainkan Allah-lah yang memberi rezekinya, dan Dia mengetahui tempat berdiam binatang itu dan tempat penyimpanannya. Semuanya tertulis dalam Kitab yang nyata (Lauh Mahfuzh).

Menurut berbagai tafsir, dijelaskan bahwa manusia dan mahluk lainnya sudah memiliki rezekinya masing-masing, dan dikasih kata kunci yaitu “bergerak”, asalkan kita bergerak mencari rezekinya, maka kita mendapatkan rejeki itu.

Oleh karena itu, jika kita ingin mendapatkan rejeki yang lebih alangkah baiknya dengan merubah cara bergerak, atau menambahkan gerakannya atau menambahkan ilmu/ skill kita, bukan dengan cara yang salah seperti korupsi dan manipulasi. Dan jangan sampai kita merasa bahwa kita tidak akan mendapatkan rejeki bila bekerja di sana atau di sini. Kita perlu yakin secara Tauhid bahwa Allah SWT yang satu-satunya berhak memberi rejeki kepada mahluk hidup, termasuk kita sebagai manusia. Jika kita sudah yakin seperti ini maka kita tidak perlu pusing memikirkan bagaimana kebutuhan-kebutuhan hidup lainnya, dan kita juga tidak boleh sampai berlebihan dengan begadang-begadang untuk mendapatkan rezekinya. Bekerjalah dengan cara cerdas, bukan dengan otot dan ngotot.

Tentang Nafsu
Tidak ada manusia yang tidak memiliki nafsu, dan ini menjadi keberkahan tersendiri buat kita karena menjadikan kita tumbuh berkembang dan belajar, namun nafsu juga menjadi cobaan jika tidak bisa dikendalikan. Jika bicara jujur, apa benar orang-orang yang bercerai karena ketidakcocokan? 

Ada istri menggugat suami karena suami selingkuh, atau suami tidak memberi nafkah, atau suami rezekinya kurang. Jika alasannya ini, kira-kira apa masalahnya? Pasti karena nafsu yang tak dikendalikan, selingkuh karena nafsu, rejeki bisa jadi juga karena nafsu keinginan yang merasa selalu kurang.

Itu mengapa bang Iwan Fals berkata “keinginan, adalah sumber penderitaan”.
Lalu dari Hadis diriwayatkan dalam Musnad Ahmad, Sunan al-Tirmidzi, Sunan Abi dawud, dan Shahih Ibn Hibban:
“Mukmin yang paling utama keislamannya adalah umat Islam yang selamat dari keburukan lisan dan tangannya. Mukmin paling utama keimanannya adalah yang paling baik perilakunya. Muhajirin paling utama adalah orang yang meninggalkan larangan Allah. Jihad paling utama adalah jihad melawan nafsu sendiri karena Allah.”

Perkara nafsu memang bukan perkara gampang, ini memang rumit, tapi bisa terlihat sederhana jika kita tidak banyak memiliki keinginan terutama keinginan akan hidup di dunia, dan kunci utama untuk menjaga nafsu ini adalah ikhlas. Untuk mecapai ikhlas kita perlu wawasan dan pengetahuan khususnya tentang tujuan hidup dan Kebesaran Allah SWT.

Kebanyakan kita berlomba-lomba mencari rejeki agar bisa membeli rumah, nafsu kita menjadi bertambah seiring jabatan dan ilmu yang dimiliki, ingin beli rumah yang besar, lalu tambah besar. Setelah itu ingin punya mobil, lalu mobil yang bagus. Setelah itu ingin jalan-jalan, lalu keliling dunia. Keinginan-keinginan ini terus bertambah dan menular ke anak-anak dan istri kita.

Target-target dunia, dalam keluarga dan perusahaan juga terus meningkat, akhirnya waktu terasa padat dan cepat. Ingin Sholat Tahajud dan Duha ya malas, bahkan solat subuh aja klo bisa bangun, klo kerja begadang kadang subuhnya kelewatan. Apalagi mau menghapalkan Al Qur’an, juz 30 saja gak hapal-hapal. Kesibukan-kesibukan dunia akibat terget-target yang ditetapkan menjadikan manusia super sibuk. Hal ini bisa kita lihat di kantor-kantor, pejabat rapat sampai malam-malam, para menteri kabinet, staf khusus dan para ahli berdiskusi panjang mengurusi negeri dengan niat mengentaskan kemiskinan. Lalu si miskin santai ngerokok, ngopi sambil ngobrol dan ketawa-ketawa di pojokan sama teman-temannya.

Lah Aneh.
Negara Indonesia yang luas ini tidak akan bisa dibangun oleh satu atau dua orang, Jika kita bilang presiden yang bisa membuat Indonesia maju, anda harus banyak belajar. Infrastruktur dan tujuan ekonomi juga tidak akan bisa membuat bahagia orang bertambah. Lalu bagaimana kita hidup? Memang tidak bisa dijawab klo kita terus mencontoh kepada orang lain atau negara lain.

Jika kita terlalu sibuk setiap harinya sampai tidak punya waktu untuk beribadah dan dekat kepada Allah SWT. Merenunglah tentang tujuan hidup, dan carilah jawabannya, dan pasti tidak ada jawabannya selain kembali kepada ajaran yang dibawakan dan dicontohkan oleh Nabi Muhammad SAW.

Rosullullah, hidupnya sangat sederhana meskipun pedagang yang sudah pasti memiliki harta yang banyak. Jika anda berkata bahwa Nabi miskin, anda perlu belajar sejarah. Bahkan sahabat-sahabat Nabi seperti Abu Bakar As Sidik, Umar bin Khatab, Usman bin Affan dan Ali bin Abu Thalib, serta sahabat-sahabat lainnya yang berjuang bersama Rosullullah adalah orang-orang yang kaya yang memiliki banyak harta baik berupa onta-onta ataupun tempat berdagang. Tapi mereka hidup dan tinggal dalam keadaan sangat sederhana, bahkan tempat sholat Rosulullah di kamarnya adalah tempat tidurnya.

Kesederhanaan hidup adalah dasar yang dicontohkan oleh Rosul dan sahabat-sahabatnya, dan mereka selalu mengingatkan kita untuk menyiapkan diri dan bekal untuk akhirat, dengan cara berlomba-lomba dalam kebaikan dan amal soleh, bukan mengikuti hawa nafsunya terhadap dunia.

Masyallah… itulah Islam dan itulah ajarannya yang kebanyakan orang lupakan. Lalu kesibukan dan kenikmatan dunia sengaja mengikat nafsu kita agar kita lupa kepada Allah SWT. 

Monday, March 23, 2020

virus Corona

Dari matahari sampai ke bulan
Hanya ada ruang
Yang bayangannya sejauh mata memandang
Sampai sinarnya sendu

Dari waktu sampai waktu berikutnya
Hanya ada keindahan
Bagi yang ingin indah
Bagi yang gemar akan warna-warni

Kita bisa saja pergi dari sini
Tapi itu tidak cukup
Karena aku dan kamu adalah satu
Seperti virus corona

Sunday, October 6, 2019

Sepertinya rejeki manusia sama

Entah apa saya saja yang merasa bahwa manusia sepertinya memiliki rejeki yang sama satu dengan yang lainnya, tentunya sudah di Takdirkan oleh Sang Pencipta dengan Keadilannya yang setinggi-tingginya.

Hal ini terasa ketika saya berada di luar kota Jakarta, seperti di Aceh dan Kalimantan akhir-akhir ini bahkan mungkin hampir sama di wilayah di luar Pulau Jawa. Di sana kita tidak dikejar waktu, sunggu tak dikejar waktu, masyarakat memiliki waktu yang panjang dalam bernafas dan beraktifitas. Seperti siang hari, sebagian yang berkerja di kantor bisa pulang ke rumah untuk makan siang dan menjemput anak sekolah, hey… santai sekali mereka..

Mereka tidak perlu cepat-cepat menjalani hidup, dan mereka tidak perlu keras-keras mencari uang untuk pergi ke Mol seperti di Jakarta, karena memang Mol disana tidak ada atau masih jarang, sehingga standar kebahagian mereka dengan penduduk metropolitan begitu berbeda.

Bayangkan betapa nyamanya menjadi mereka, santai dan cukup bahagia. Di sini, di Jakarta mungkin kita harus berlarut-larut dan bertarung dalam kecepatan dalam mendapatkan skill dan pendapatan, jika tidak maka tersingkir. Kita tidak pernah memikirkan makan siang bersama keluarga, bahkan makan pagi dan malam bersama keluarga pun jarang karena kita mencari-cari harta begitu keras. Padalah bisa jadi itu tidak begitu berharga untuk sebagian orang yang sudah cukup bahagia dengan banyak waktu untuk bercanda, berkeluarga dan tertawa bersama alam, bukan hanya sekedar di depan laptop.

Lalu saya menyimpulkan sepertinya rejeki manusia itu sama, dan hanya menunggu gilirannya mendapatkan lebih, dan kurang.

Wednesday, June 26, 2019

Putaran yang tak berputar…

Pernahkah anda melihat sesuatu yang terbalik dari logika?
Seperti matematika yang tidak bisa menjawab cinta
Atau seperti langit yang tak terlihat ujungnya
Di sana lah semua kata kita bermuara

Pernahkan anda mendengar sesuatu yang tak terucap dalam kata?
Seperi angin yang berhembus seketika
Atau seperti hentakan dalam jiwa
Di sana lah keinginan berbicara

Teman…
Pernahkah anda dalam suatu putaran yang tak berputar?
Yang gelapnya pekat dan sunyinya henyap
Dan tak bisa diputar-putar
Saya menyebutnya sesuatu yang sulit sekali dirubah
Atau mungkin tidak bisa dirubah
Seperti korupsi-korupsi bid’ah yang dianggap hasanah
Memberi amplop disangka hasanah
Meminta amplop disangka hasanah
Di Negeriku.. Korupsi dianggap hasanah

Daydeh, 26 Juni 2019

Tuesday, June 11, 2019

Sudah Selesai (fase hidup)

Manusia memiliki fase jalan hidup masing-masing yang berbeda-beda, dan juga memiliki peran hidup yang berbeda pula. Tidak hanya itu, bahkan fase atau tahapan tumbuhnya kedewasaan manusia pun berbeda pula, ada yang dewasa di umur 25 tahun, ada yang di 30 tahun, ada yang di 25 tahun dan ada juga yang di 40 tahun. Kedewasaan yang dimaksud adalah kedewasaan berfikir, mau mengambil resiko dan bertanggung jawab seperti pernikahan, atau mau meninggalkan hal-hal yang sia-sia, atau bisa juga dikatakan fase metamorfosis dimana seseorang berkeinginan keras dan benar-benar konsisten memilih hidup untuk menjadi lebih baik dengan meninggalkan yang tidak baik. Dan bisa jadi dalam proses metamorfosis ini banyak fase yang harus dilalui.

Begitupula dengan saya, sebagai anak band, anak gunung dan intelektual (katanya) yang memiliki banyak sekali teman, meninggalkan dunia seperti itu rasanya berat dan akhirnya saya tidak pernah meninggalkan kebiasaan tersebut sampai akhirnya ada di fase dimana saya tidak bisa lagi ngeband dan naik gunung, karena ada bayi yang sulit sekali ditinggalkan karena sayangnya kita kepada keluarga kecil. Tentunya sebagai anak yang mudah bergaul dengan siapa saja, bahkan sakin welcame-nya apa saja dan siapa saja bisa masuk. Entah itu hal yang positif maupun negatif keduanya bisa masuk ke saya.

Lambat laun, kejadian demi kejadian pengalaman hidup akhirnya membawa saya sampai disini, dan akhirnya kita harus memilih. Memilih untuk tetap menjalankan apa saja termasuk yang negatif atau meninggalkannya. 

Kalau boleh saya evaluasi diri, di usia yang sudah menginjak umur 33 tahun dengan satu istri dan dua anak, saya masih belum terlambat untuk berbuat banyak hal yang lebih membawa kebaikan di dunia ini. Dengan ilmu dan kemampuan yang saya miliki, saya memiliki potensi untuk berbuat baik di dunia, bahkan bisa menjadi inspirasi kebaikan bagi siapa saja.

Tapi sejarah mengatakan, ada salah satu syarat untuk kita agar bisa menjadi inspirasi dalam berbuat kebaikan. Yaitu meninggalkan yang negatif dan tidak melakukannya kembali. Fase inilah yang sedang saya lalui, jangan sampai gara-gara hal negatif yang kecil maka kita tidak bisa menjadi baik dan bermanfaat untuk orang lain.

Oleh karena itu saya harus berani menjalankan fase ini dan mengatakannya “Sudah Selesai”, ya  saya ikhlas dan sudah selesai memberikan celah negatif masuk kedalam tubuh, dia harus mental jauh dan tak kembali, serta menjadi pelajaran pada masanya.   

Thursday, May 23, 2019

Hamzah RA dan Para Wali Songo

Foto: Makan Hamzah Ra dan Lokasi Perang Uhud
Hati saya bergetar kencang di sebuah tanah yang di kelilingi bukit-bukit berbatu, di sinilah tempat nyata sejarah Nabi Muhammad SAW bersama pamannya yang bernama Hamzah RA bin Abdul-Muththalib. Paman Rassullallah ini wafat saat bertempur dalam perang Uhud. Saya dan seluruh orang dari penjuru dunia melihat makamnya yang dipagari besar karena diperkirakan disana ada makam-makam lainnya yang juga gugur saat perang Uhud. Lalu kami panjatkan doa kepadanya yang dijuluki “Asadullah” atau “Singa Allah”.

Saya dan seluruh orang yang datang berziarah ke Makam Hamzah Ra, berdoa untuknya karena perjuangannya bersama Rasullallah dalam memperjuangkan dan menyebarkan Islam. Hati saya semakin bergetar kencang, MasyaAllah… perang Uhud ini merupakan perang yang diabadikan dan diceritakan oleh Kitab Suci Al Qur’an. Allhamdulillah, Karena melihat ini secara langsung, saya semakin yakin dengan Al Qur’an.

Tiba-tiba saya teringat dengan negara saya Indonesia, negara ini dibanding negara-negara di dunia lainnya yang penduduknya mayoritas Islam, Indonesia sangat jauh dari tanah Arab tetapi paling besar jumlah penduduk Islamnya. Hebat sekali Negara Kesatuan Republik Indonesia ini, apalagi negaranya besar dan berbentuk kepulauan. Saya kagum dengan orang-orang yang menyebarkan Islam ke Indonesia, Sangat kagum.

Mereka adalah para Wali Songo, yang terdiri dari Maulana Malik Ibrahim, Sunan Ampel, Sunan Giri, Sunan Bonang, Sunan Dradjad, Sunan Kalijaga, Sunan Kudus, Sunan Muria, serta Sunan Gunung Jati. Mereka hampir terlupakan oleh bangsa ini, bahkan mungkin ada yang tidak mempercayainya. Tetapi ingat, makamnya ada dan nyata bersebaran di Pulau Jawa.

Mereka mengenalkan Islam dengan cara yang sangat halus tanpa ada kekerasan. Bahkan dengan seni dan teknologi mereka mengikat masyarakat yang akhirnya banyak yang masuk Islam, mereka para wali merupakan orang-orang cerdas dan pintar pada masanya, yang dicintai masyarakat.

Jika ada wali songo yang membawa Islam masuk ke Nusantara ini, dan berjuang mengenalkan peradaban Islam yang begitu indah. Apakah para wali ini tidak pantas untuk didoakan seperti Hamzah RA, atau seperti sahabat-sahabat Rasullallah yang menegakan Islam. Apalagi para wali songo ini merupakan keturunan Rasullallah SAW. Saya diam dan teringat itu semua saat saya pas berada di lokasi terjadinya perang Uhud.

Lalu pertanyaan selanjutnya, siapa Ulama-ulama di Negara Indonesia ini yang memuliakan juga para wali, yang juga mendoakan wali songo tersebut? Siapa ulama yang cara menyebarkan Islam seperti para wali? Dengan kelembutan, intelektual dan tidak dengan kekerasan.

Saya diam dan terus bertanya pertanyaan tersebut dalam hati…

Wednesday, May 8, 2019

Umroh bersama dua bayi kecil (part 2)

Foto: Ka'bah dan Makam Nabi Ibrahim AS
“Labbaika Allahumma labbaik, labbaika laa syariika laka labbaik, innalhamda wanni’mata laka wal mulka laa syariika laka”

Artinya:
“Aku datang memenuhi panggilanmu Ya Allah, aku datang memenuhi panggilan-Mu, aku datang memenuhi panggilan-Mu, tiada sekutu bagi-Mu, aku datang memenuhi panggilan-Mu. Sesungguhnya segala puji, kemuliaan, dan segenap kekuasaan  adalah milik-Mu, tidak ada sekutu bagi-Mu.”
Foto: Umroh pertama
Malam hari sekitar jam 10an kami berjalan kaki dari hotel di jalan Ajyad menuju Masjidil Haram bersama-sama rombongan, dan tentu saja anak kami bawa meskipun mereka dalam keadaan kurang baik. Lantunan Dzikir menggema di hati, mengagungkan Allah SWT, mengembalikan kita sebagai manusia yang merupakan Ciptaan-Nya. 

Saya merasa sangat kecil seperti setetes air di lautan, bahkan lebih kecil dari air tetesan tersebut. Apapun yang didapat manusia, baik kekayaan, jabatan, kekuasaan, ketampanan, kepintaraan intelektual, kepintaran religius, dan apapun itu semuanya merupakan pemberiaan Allah SWT. Segala kenikmatan di dunia yang didapatkan itu bukan untuk apa-apa, bukan untuk kesenangan semata, bukan untuk bertahan hidup semata, bukan untuk bekerja semata, bukan untuk menjalani hidup semata. Namun, itu semua tidak lain merupakan sebuah perjalanan menuju kematian, dan adalah Islam yang dibawa oleh Nabi Besar Muhammad SAW yang mewariskan sebuah petunjuk kepada umatnya melalui Kitab Suci Al Qur’an dan Hadist-Hadist. Islam memberikan gambaran dan petunjuk paling jelas bahwa kita sebagai manusia akan berlanjut di kehidupan selanjutnya setelah kematian di dunia.

Keyakinan itu membuat saya ingat akan dosa-dosa, Astagfirullah…

Saya ada rasa bersalah dan takut datang mendekati Ka’bah yang merupakan Kiblat Sholat umat muslim, “saya malu datang dalam keadaan kotor…”. Tapi saya berusaha ingat bahwa Allah SWT sangat luas ampunannya, bahkan bila dosa itu setinggi langit.
Pertama kali lihat Ka’bah, Masyaallah….

Tidak ada kalimat-kalimat yang bisa tertulis saat melihat Ka’bah dan melakukan rukun-rukun Umroh. Tawaf dengan mengelilingi Ka’bah, Sa’i dengan berbolak balik dari Bukit Safa dan Marwah, lalu memotong rambut. Setelah melakukan kewajiban rukun-rukun Umroh, ada rasa bahagia dan sedih. 
Foto: Setelah Tawah Wada (perpisahan)
Saya merasa sangat bahagia menjalankan ibadah Umroh ini, dan saya sangat bahagia memeluk agama Islam ini, setidaknya saya tahu tujuan hidup saya, yaitu meninggal dunia dalam keadaan Khusnul Khotimah. Alhamdulillah... rasa bahagia terus terasa karena saya datang bersama isteri dan kedua anak kami yang masih bayi. Dan saya tidak menyangka ternyata kebahagiaan di tempat ini sulit dituliskan dengan kalimat-kalimat. 
Foto: Bareng Om Sidik
Di Mekkah saya bertemu dengan sepupu saya bernama Sidik yang merupakan sepupu laki-laki paling dekat darahnya dari keluarga Ibu saya, kata beliau "Sebenarnya Sidik banyak tawaran kerja di beberapa negara seperti di Qatar, Abu Dhabi, dll, tapi hati maunya kerja disini, di Mekah".

Masyaallah, sudah 8 tahun bekerja di Mekah dan lokasinya pas di depan Masjidil Haram, kecintaannya pada kota ini membuatnya terus memilih disini, mungkin karena keutamaan tempatnya sehingga dengan Doa-doanya dapat membantu seluruh sodara-sodaranya yg di Indonesia. 

"Shalat di Masjidil Haram lebih utama daripada 100.000 shalat di masjid lainnya.” (HR. Ahmad dan Ibnu Majah). 
Foto: Jabal Rachmah
Adapun rasa sedih datang karena saya harus kembali ke Tanah Air, dimana saya merasa disini masih sulit untuk dapat hidup yang jauh dari bersih, di Tanah Air korupsi masih meraja lela sampai dibagian paling hilir dari pejabat tingkat tinggi sampai pejabat paling rendah, lalu yang tidak memili jabatan ikut-ikutan tanpa ada rasa malu.

Saya belajar pada Ibadah Umroh dan saya belajar pada cara mulianya berwudhu, dimana Wudhu mengajarkan untuk membersihkan tangan, mulut, hidung, mata, wajah, telinga dan kaki, tentunya bukan fisiknya saja yang dibersihkan tetapi masuk ke akhlak dan mata hati. Wudhu mengajarkan untuk senantiasa selalu membersihkan tangan dari pemberian yang tidak halal, mulut agar tidak berkata yang buruk dan kasar, hidung tidak mencium yang haram, mata tidak melihat yang haram, telingan tidak mendengan yang buruk, dan kaki tidak melangkah ke jalan yang sesat. Karena hidup cuma sekali ini di dunia, semoga tidak salah langkah.

Bismillahhirohmanirrohim… 
Bismillahi Allahu Akbar…

Monday, May 6, 2019

Umroh bersama dua bayi kecil (part 1)

Alhamdulillah… kata-kata ini selalu hadir di bibir dari sejak sampai di Bandara Soekarno-Hatta menuju Jeddah, ada rasa bahagia dan ada rasa sedih. 
Foto: Perjalanan dari Bandara Soeta 20/4/2019
Saya merasa bahagia karena tanpa rencana panjang, tiba-tiba kami ada di Tanah Para Nabi, dan tentunya kebahagian itu memuncak karena saya ditemani oleh isteri dan kedua anak kami yang usianya baru 3 bulan dan 2 tahun 3 bulan, dan syukur pula adik saya ikut sehingga kami bisa satu kamar sekeluarga di hotel.

Sementara itu saya pun merasa sedih karena datang kesini masih dalam keadaan kotor, tidak bersih hati dan kelakukan. Tentunya banyak sekali dosa-dosa yang saya lakukan selama hidup, dan saya sendiri tidak yakin apakah dosa-dosa tersebut dapat diampuni oleh Allah SWT. Dan sedih inipun menjadi-jadi karena saya datang ke Tanah yang paling Suci, Kota Madinah dan Kota Mekkah. 
Foto: Masjid Quba, Madinah
Pertama kali sampai subuh di Madinah kami Sholat di Masjid Quba karena tidak kekejar solat di Masjid Nabawi. Melihat masjid ini di waktu subuh dengan lampu yang sederhana dan bangunan yang elegan serta burung-burung yang berterbangan membuat anak pertama kami Lintang Matadiraya melek dan terkejut, ya dia senang dengan burung merpati. Masjid ini merupakan Masjid yang pertama kali dibangun oleh Rasulullah SAW, dan memiliki keutamaan.

Rasulullah SAW bersabda, "Barang siapa yang telah bersuci (berwudhu di rumahnya), kemudian mendatangi Masjid Quba lalu shalat di dalamnya dua rakaat, maka baginya sama dengan pahala umrah." (Sunan ibn Majah, no 1412).
Foto: Masjid Nabawi, Madinah
Di waktu duha atau sekitar jam 10an pagi, kami diantar ustad sebagai guide kami, ke Masjid Nabawi. Kami diajak ke tempat paling dijabah doanya di Masjid ini, yaitu Raudhah atau Taman Surga. Saya membawa anak pertama si Lintang, dan isteri saya membawa adiknya si Raia. Saya pikir masuk ke Raudhah akan mengantri berdesak-desakan, ternyata membawa anak kecil bisa langsung masuk lewat jalur khusus tanpa berdesakan. MasyaAllah… saya sangat terkejut, Raudhah menjadi tempat pertama saya dan Lintang sholat dan berdoa di Masjid ini. 

Rasulullah SAW bersabda, “Tempat yang di antara rumahku dan mimbarku adalah raudhah (taman) di antara taman-taman surga.” (HR. Bukhari).
Foto: Lintang Matadiraya mau Sholat
Aura di sini sangat berbeda, beda sekali, selain Masjid Nabawi yang memiliki keutaman namun di Raudhah ini dijanjikan langsung oleh Rasulullah SAW menjadi salah satu tempat paling dikabulkan doanya. Di sini, air mata kita sebagai manusia mudah sekali jatuh, MasyaAllah… ya mudah sekali apalagi buat manusia yang bergelimpangan dosa-dosa seperti saya. Dan entah mengapa rasanya dekat sekali dengan Allah SWT.

Nabi Shallallahu’alaihi wa sallam bersabda, “seandainya kalian berbuat dosa sehingga tumpukan dosa itu setinggi langit kemudian kalian benar-benar bertaubat, niscaya Allah akan menerima taubat kalian.” (Shahih Ibnu Majah).
Foto: Jabal Uhud, Madinah
"Jika kita hendak melihat bukit yang terdapat di surga, maka ziarahlah ke Bukit Uhud. Nabi SAW bersabda, 'Bukit Uhud ialah salah satu dari bukit-bukit yang terdapat di surga'," demikian hadis yang diriwayatkan HR Bukhari.

Kami pun diajak melihat jejak-jejak Rasulullah SAW di Kota Madinah, melihat jejak perang Uhud yang selama ini hanya tahu dari Kitab Suci Al Qur’an. Serta kami Miqat atau niat Umroh dan berihram di Masjid Bir Ali di Madinah. Dari Bir Ali kami berangkat ke Mekah untuk melakukan Rukun Umroh selanjutnya. Selama perjalanan kurang lebih sekitar 4 sampai 5 jam ke Mekah dari Bir Ali, pemandangan yang kita lihat hanyalah padang pasir dan gunung-gunung berbatu. Kata ustad kami, Rasulullah SAW dulu umrohnya dengan berjalan kaki dan ditemani Unta. Begitu beratnya perjuangan Baginda Nabi Besar Muhammad SAW dalam menegakkan Agama Allah SWT sampai harus berhijrah ke Kota Madinah dari Mekah karena diancam dibunuh, lalu ketika sudah kuat pengikutnya beliau datang kembali ke Mekah dengan berbondong-bondong demi menegakkan kebenaran. 
Foto: Miqot di Masjid Bir Ali, Madinah
Segala hal yang diceritakan dalam Hadist dan Kitab Suci Al Quran sangat-sangat jelas dan terasa oleh kita yang berziarah ke Tanah Suci ini. Bahkan saya merasa seperti melihat Al Qur’an dan kebenaran jejaknya, padahal saya baru di Kota Madinah dan Mekkah saja, belum yang lainnya.  

Wednesday, April 3, 2019

Tentang Keberanian Memilih Jalan

Jika kita dikasih dua pilihan antara membuat nasi goreng yang sudah ada resepnya dengan nasi goreng belum ada resepnya, kira-kira kita akan memilih apa?

Saya sepakat jika membuat nasi goreng yang sudah ada resepnya itu jauh lebih mudah daripada membuat nasi goreng yang belum ada resepnya, bahkan jika resepnya itu sangat laku untuk dijual maka kita bisa untung. Tetapi, jika kita membuat nasi goreng yang belum ada resepnya tentu saja hasilnya bisa lebih enak atau kurang enak. Jika nasi goreng yang belum ada resepnya ternyata bisa lebih baik dari nasi goreng yang sudah ada resepnya maka kita melakukan sesuatu diluar yang biasa.

Melakukan sesuatu hal yang diluar kebiasaan inilah disebut keberanian memilih jalan, hal inilah yang dilakukan oleh para startup anak-anak muda milenial yang akhirnya banyak merubah cara sistem bekerja dari cara-cara lama menjadi cara baru yang membuat biaya semakin efektif dan pekerjaan menjadi mudah, atau yang dikenal dengan industri 4.0. 

Orang-orang yang memilih bekerja sesuai sistem yang ada seperti di perusahaan-perusahaan besar atau di kalangan pegawai negeri sipil, merupakan wujud cerminan cara hidup dalam keberanian memilih jalan. Orang-orang seperti ini lebih memilih kenyamanan dalam hidup ketimbang membuat usaha baru yang resikonya lebih besar. Memang tidak ada salahnya memilih jalan seperti ini.

Masalahnya, pesatnya perkembangan teknologi membuat satu persatu cara-cara lama tergantikan dengan cara baru. Tinggal kita, seberapa berani memilih jalan. Apa kita memilih menjadi penonton, dengan membiarkan para startup tumbuh dan merubah sistem. Atau kita memilih menjadi bagian yang merubah sistem.
Gambar: Konvensional yang mudal dilakukan dan Secrets yang sulit dilakukan (Zero to One)

Saya dan beberapa teman sebagai anak-anak lulusan geografi akhirnya memilih berani membangun perusahaan, dan berkomitmen untuk menjadi bagian yang akan merubah sistem yang lama. Bahkan teman saya ada yang tadinya pegawai negeri sipil dari kementrian yang populer, kini memilih berjuang dengan saya untuk menjadi perubah sistem lama.

Monday, October 29, 2018

Ada benarnya kata orang dulu

“Nak.. saat kau nanti kerja pertama kali, jangan pikirin gaji dulu. Ambil ilmunya dulu sebanyak-banyaknya… kelak kau akan belajar banyak darinya…”

Entah apa pesan orang tua jaman dulu, yang mengajak kita untuk banyak belajar dan bukan banyak meminta. Hal ini sudah sangat saya jarang lihat di jaman sekarang, anak-anak jaman now terlihat lebih melihat hasil ketimbang proses. 

Saya sangat bersyukur waktu saya awal-awal kerja dan bahkan sampai sekarang, saya tidak pernah menanya gaji dimana tempat kerja, yang saya pikirkan ilmu apa yang bisa saya ambil di pekerjaan tersebut.

Dan syukur Alhamdulillah saya banyak dipercaya oleh banyak orang khususnya rekan-rekan pemberi kerja dan proyek, sampai akhirnya saat ini saya tidak merasa kesulitan dalam mencari rejeki. Bahkan di tahun awal saya bikin perusahaan, alhamdulillah saya mendapatkan omset 8 miliar tanpa saya harus susah-sudah mencari rejeki tersebut.

Ya mungkin buat teman-teman yang masih galau sama masa depan, perlu ada rasa santai didiri kita, dan mungkin perlu juga mendengarkan lagu-lagu hebat jaman dulu seperti lagu-lagunya Bang Iwan Falls.

Contoh lagu seperti matahari:
Keinginan adalah sumber penderitaan
Tempatnya didalam pikiran
Tujuan bukan utama
Yang utama adalah prosesnya

Kita hidup mencari bahagia
Harta dunia kendaraannya
Bahan bakarnya budi pekerti
Itulah nasehat para nabi

Ingin bahagia derita didapat
Karena ingin sumber derita
Harta dunia jadi penggoda
Membuat miskin jiwa kita

Ada benarnya nasehat orang orang suci
Memberi itu terangkan hati
Seperti matahari
Yang menyinari bumi
Yang menyinari bumi

Ingin bahagia derita didapat
Karena ingin sumber derita
Harta dunia jadi penggoda
Membuat miskin jiwa kita

Sunday, May 27, 2018

Diary yang hilang

Kebiasaan saya ngeblog sudah lama hilang, kebiasaan saya menulis apa saja tentang hidup tiba-tiba saja hilang dalam beberapa tahun terakhir, bukan karena hilang akan cinta menulis dan bercerita, namun kesibukan.

Kesibukan yang terjadi berhari-hari, berbulan-bulan dan bertahun-tahun rasanya telah mematikan mata hati yang original, sampai akhirnya saya sadar bahwa sibuk bukanlah hal yang baik, bahkan sesibuk-sibuknya presiden saja, dia masih sempat bercerita dan membuat vlog. Lah kita apa? Cuma manusia biasa kok bisa sibuk banget.

Tapi ini bukan karena kebetulan, dahulu saat saya nganggur setelah lulus SMA, saya sering berdoa untuk diberi kesibukan, ternyata doa saya dikabulkan sampai saat ini.

Di bulan Ramadhan yang penuh berkah ini saya ingin sekali doa saya waktu itu direvisi, dirubah agar saya diberikan keseimbangan dalam menjalani aktifitas, tidak sibuk tetapi efektif. Amiiiiin….
Semoga saja, diary yang hilang itu bisa kembali hadir

Monday, November 13, 2017

Cerita di Lombok saat Baby L usia 6 bulan

Usia Lintang Matadiraya saat ini sudah 10 bulan, saya pun teringat bahwa sudah 10 bulan lamanya saya tidak menulis blog ini. Saya tidak tahu harus menulis apa di blog ini, tapi setidaknya 10 bulan terakhir ini waktu saya banyak bermain dengan Lintang. Di usia 6 – 7 bulan, Lintang dan mamahnya saya ajak ke Lombok selama sebulan dan setiap hari libur saya ajak jalan-jalan. 

Foto: Pantai Nipah, 2017
Liburan pertama kami ke Pantai Nipah untuk melihat sunset, inilah moment dimana lintang pertama kali menginjak pasir dan kena air ombak pantai.

Foto: Kaki bayi 6 bulan kena air laut
Ya ternaya lintang itu takut ombak, takut suaranya pula. Tapi klo ngeliat wajahnya dia sumringah sekali, seperti melihat planet yang begitu besar.

Foto: Hallo Lintang Matardiraya, Pantai Nipah 2017
Sunsetnya bagus ya dari Pantai Nipah ini

Foto: abi, mamah dan Lintang
Lintang di Lombok semuanya serba pertama kali, dari naik pesawat pertama kali dan ada drama nangis di pesawat karena gak bisa tidur. Naik kapal fast boat pertama kalinya nyebrang ke Gili Trawangan, dia bengong melihat ombak lautan. Naik Cidomo juga bengong, ya maklum anak 6 bulan lagi imut2nya. Sekarang sudah 10 bulan kok rasanya sudah besar, sudah ngerti siapa orang yg dia kenal.
Foto: Lintang 6 bulan dan Mamah, Gili Trawangan 2017
Keseruan pertama di Lombok saat kami jalan ke Gili Trawangan, Lintang ternyata takut suara ombak, dan suara-suara besar. Tapi untungnya Lintang kuat sekali, dia terlihat menikmati perjalanan demi perjalanan dan tidak pernah sakit selama disana. 

Foto: Main di Pantai Pulau Gili Trawangan 2017
Serunya jalan-jalan sama bayi, apalagi ke pulau yg bagus ini, bersih airnya dan bawah lautnya juga masih ada terumbu karang. ya walau tidak sebagus dulu, tetap saja pulau ini seru, seru untuk sekedar istirahat.
Foto: gaul banget kan ya
Lintang juga saya ajak ke KEK Mandalika untuk melihat pantai, namun karena sore anginnya kencang sekali, maka tidak bisa lama2 melihat pantai.

Tuesday, January 10, 2017

Surat untuk Lintang Matadiraya

Surat untuk Lintang Matadiraya…
6 Januari 2017, sore itu kamu masih di dalam perut Ibumu. Bersama abi, ibumu dicek di sebuah klinik dekat rumah, klinik ini merupakan klinik terdekat dengan rumah, karena rumah kita merupakan perumahan di suatu desa yang lumayan jauh dari pusat kota. Kata dokter, ibumu sudah pembukaan 1, bila sampai pembukaan 10 maka bisa lahiran. Abi dan ibumu panik, karena prediksi kelahiranmu masih sekitar 2 minggu lagi. Malam hari nenek bersema ante dinot datang dari Jakarta untuk menemani kita. Dan jam 7 malam diperiksa lagi di klinik katanya sudah pembukaan 2.

7 Januari 2017, jam 1 malam ibumu gelisah, setiap 5 menit dia mules, disitulah abi mulai merasa bahwa kamu akan hadir. Jam 1 malam itu ibumu, abi boncengin naik motor ke klinik yang biasa kontrol dekat rumah. Untung langit cerah, karena klo hujan jalanan akan becek dan licin. Sesampai di klinik, kata bidan, sudah mau pembukaan 3, mungkin masih lama lahirnya. Ya malam hari di klinik tidak ada dokter, hanya ada bidan 2 orang yang siap menunggu ibu-ibu yang ingin lahiran. Akhirnya abi dan ibumu memutuskan untuk pulang kerumah, karena katanya masih lama, dan wajar bila ibumu akan mules terus.

Dirumah dari jam 01.30– 04.00 dini hari, ibumu tidak bisa tidur dan sering sekali mules, sampai akhirnya nenek menyuruh kita ke klinik. Ya kita ke klinik lagi dengan motor. Sampai di klinik, ibumu tiduran sambal mules setiap menitnya.

Jam 6 pagi, ibumu teriak-teriak kesakitan sambil mules-mules, abi sampai diomelin gara-gara menyuruh ibumu jangan teriak. Bidan abi bangunin untuk mengecek ibumu, dan ternyata benar, sudah pembukaan 10, dan siap lahiran. Di ruangan itu, hanya ada 2 bidan, ibumu dan abi.

Berkali-kali abi melihat kepalamu nongol, tapi berkali-kali itupula ibumu tidak berhasil mengeluarkanmu. Sampai akhirnya jam 6.30 pagi, kamu benar-benar keluar. Ajaib, Subhannallah….

Abi melihat selaput-selaput yang menutupi kulitmu, sambil dibersihin oleh bidan, bidan satunya lagi sedang membersihkan dan menjahit kemaluan ibumu yang kesakitan saat mengeluarkanmu. Abi perhatikan kamu dari ujung kepala sampai ujung kaki. Airmata abi mengucur sendirinya tiada henti, terharu sekali. 

Jam 6.45 setelah kamu bersih, abi meng-Azankan-mu. Sangat jelas sekali didepan kepalamu. Pertamakalinya kamu membuka kelopak mata, dan langsung melirik abi, ketika abi Azaan. Abi tersenyum, menetes air mata karena haru. Ingat ya dek, kamu lahir pada tanggal 7 Januari 2017, sekitar jam 6.30, sebuah angka ganjil yang cantik. 

Foto: Lintang Matadiraya 7-1-2017

Tentang Namamu

Ibumu, dari awal kehamilanmu ingin sekali punya anak bernama Lintang, kebetulan abi tidak mempermasalahkannya, karena nama lintang lumayan bagus. Kata ibumu, teman-temannya yang bernama lintang selalu pintar, semoga bisa menular ke kamu dek. Sedangkan nama Matadiraya abi ambil dari nama seorang anak, yang ibunya merupakan seorang penulis novel dan media berita yang abi kagumi. Tulisan-tulisannya bagus dan bernilai tinggi yang bercerita tentang keadaan sosial dan masyarakat Indonesia, bukan tulisan yang komersil.

Abi sendiri memiliki tafsir dari namamu Lintang Matadiraya. 
Lintang merupakan sebuah garis vertikal dalam sumbu koordinat bumi, vertikal ini ibarat sebuah hubungan antara Tuhan dan Manusia. Ya… dalam nama itu terselip agar kamu hendak selalu dekat dengan Allah SWT, kelak kamu menjadi Bintang yang mampu menyinari cahaya di sekelilingmu. Cahaya yang terang, yang memberi kemanfaatan bagi sesama manusia, bahkan terhadap hewan, tumbuhan dan lingkungan. Lintang bermakna cahaya seperti para nabi dan alim ulama, yang dipimpin oleh nabi kita, Nabi Muhammad SAW.

Matadiraya, dalam doanya agar kamu dapat melihat dengan mata hati dan pikiranmu sebaik-baiknya dalam melihat alam raya ini. Agar kamu mampu melihat alam raya dengan menyeluruh, tidak separuh-separuh. Sehingga kelak kamu akan menjadi orang yang bijak, bukan orang yang emosian dan bukan menjadi orang yang sombong. Jadilah bijak karena petunjuk Allah SWT, seperti doa dalam Surat Al Fatteha. 

Meskipun abi tidak memberikan nama dari Bahasa arab ataupun nama-nama Islam, tetapi ketahuilah bahwa dalam namamu terselip doa, dan agar kamu dapat mengikuti akhlak dari pemimpin kita, yaitu Nabi Muhammad SAW.

Lintang Matadiraya, gunakanlah hati, pikiran dan badanmu sebaik-baiknya seperti lirik lagu Iwan Fals untuk anaknya yang bernama Raya. Raihlah ilmu sebaik-baiknya agar menjadi mutiara seperti lagunya Netral yang berjudul Lintang.

Lintang, berjalanlah di bumi dengan senang tanpa ingin disukai oleh orang lain, iklhaskan diri menggapai hidup yang mulia. Jangan lupa untuk selalu menolong orang-orang yang membutuhkan. Raihlah apa yang kamu cita-citakan dan jangan patah semangat, bila berhasil bersyukurlah, dan bila gagal jangan pernah mengeluh ataupun putus asa. Karena proses itu sesungguhnya lebih penting dari sebuah hasil. 

Untuk Adik Gaza

 Adik, kamu kuat di sana Rambutmu berdebu wangi surga Getaran jari tanganmu dan keringnya kulitmu adalah cinta dari Tuhan yang Maha Besar He...