Friday, July 24, 2015

Belajar dari Kota Jayapura

Foto: Kota Jayapura
30 Juni 2015, dari tempat yang paling luas mata memandang kota dan laut. dari bukit yang bertuliskan Jayapura City, dengan menghadap utara dari sini, sore itu menjadi teduh. Pelabuhan Numbay dengan peti kemasnya tersusun rapih, dua pulau kecil di timur laut pelabuhan itu, terlihat rumah-rumah terapung yang perairannya terus dilalui perahu-perahu kecil. 

Di bagian barat daya dari tempat saya berdiri itulah daratan kota yang menjadi pusat kehidupan dimana tepi pantai sampai bukit-bukit telah menjadi areal terbangun, jelas terlihat permukiman, hotel, rumah makan dan gedung perkantoran. Saya tatap langit dan awan yang bersih, tidak terlihat asap-asap ngebul seperti layaknya kawasan industri di kota-kota besar Indonesia. 

Apa yang terlihat dari atas bukit tempat saya berdiri, ada sedikit persamaan dengan catatan BPS dimana distribusi PDRB Kota Jayapura tahun 2013 untuk sektor industri pengolahan tercatat 2,48 % atau terendah kedua setelah pertambangan dan penggalian 0,43 %. Dari sini kita dapat berfikir bahwa bahan-bahan kebutuhan pokok masyarakat Kota Jayapura baik primer, sekunder ataupun tersier, sebagian besar berasal dari luar Kota. Namun asumsi ini tidak akan akurat bila kita tidak turun dari bukit dan mengelilingi Kota Jayapura. 

Keliling Kota Jayapura

Satu hal yang membuat saya kagum disini, infrastruktur jalan. Jarang sekali saya melewati jalan yang rusak ataupun berlubang baik di tepi pantai ataupun diatas bukit, bahkan ada jalan yang sedang dibangun diatas laut tepi pantai. Kata supir, itu merupakan jalan tol diatas laut. Ajaib sekali, saya tidak bisa membayangkan apa yang terjadi 10 atau 20 tahun lagi di kota ini bila infrastruktur itu benar-benar selesai, karena saat ini saja aktifitas kendaraan pribadi baik motor dan mobil sudah cukup ramai. 

Agar penasaran saya hilang dengan pembangunan di Kota Jayapura, maka saya mengunjungi Bappeda Kota Jayapura dan Bappeda Provinsi untuk sekedar diskusi dan melihat peta perencanaan. Ternyata jalan diatas laut yang dikira jalan tol adalah ring road yang pembangunannya baru selesai tahap satu, masih ada dua tahap lagi yang diperkirakan satu tahap selesai 3 – 4 tahun, dengan jalan ini diharapkan akses di Kota menjadi lebih mudah dan cepat. Selain itu, pemerintah pusat dan provinsi juga sedang melanjutkan pembangunan jalan dari Kota Jayapura menuju Wamena yang diperkirakan akan selesai tahun depan. Dengan adanya jalan ini diharapkan harga-harga tidak terlalu tinggi di papua pedalaman seperti di Wamena yang masih mengandalkan tranportasi udara.

…. Perbandingan harga di Papua…
Gambar: Sketsa Jayapura-Wamena dan Marauke-Boven Digoel
“Dari mana semen berasal?” tanya salah seorang pegawai Bappeda Provinsi. “Tentu saja dari Gresik ke Surabaya, lalu diangkut melalui kapal menuju pelabuhan Numbay di Kota Jayapura dan pelabuhan di Kota Marauke. Dari Marauke dibawa menuju kabupaten Boven Digoel, harga semen itu menjadi 200 ribu/sak melalui jalur darat. Sedangkan untuk ke Wamena mesti melalui jalur udara dengan pesawat kecil dari Kota Jayapura, tidak heran harga semen mencapai 2 juta/sak disana.” Dengan lantang ia bicara sambil tersenyum bercerita dengan ramah, “kami berharap pembangunan akses dari Kota Jayapura menuju Wamena agar segera terealisir agar harga tidak terlalu melonjak saat mencapai pedalaman…” 

...Kembali ke Kota Jayapura….

5 hari di Kota Jayapura tidaklah bisa menggambarkan seluruh aktifitas kehidupan, namun setidaknya ada yang bisa dilihat dan dipelajari sedikit dari sisi sosial, ekonomi dan lingkungan. Pendatang cukup dominan dan menguasai ekonomi di Kota Jayapura, seperti nelayan yang sebagian besar adalah pendatang dari Sulawesi selatan dan tenggara, seperti Bugis, Makassar dan Buton. Merekalah yang menguasai harga-harga tangkapan ikan, serta jasa seperti warung kelontong, rental mobil dan warnet. Ada satu cinema XXI di mol APO, tanah yang menjadi pusat ekonomi itu ternyata dimiliki oleh orang keturunan Cina yang menjadi orang terkaya di Kota Jayapura, dia juga memiliki perusahaan air minum lokal satu-satunya. Pertanian belum maksimal dan sangat jarang dijumpai. Di pemerintahan banyak dijumpai orang medan selain orang dari Sulawesi yang sudah menetap dari 20 tahunan yang lalu.

Lalu dimana orang Papua bekerja?
Foto: Penjual Pinang
Di pinggir jalan, mereka banyak yang menjual buah pinang dan buah matoa. Di hotel dan gedung perkantoran banyak yang menjadi security. Di pemerintahan tentunya yang paling banyak dijumpai, entah sebagai staf biasa ada juga yang menjadi pejabat. Ada orang pendatang yang sudah lama menetap di sana bercerita kepada saya bahwa orang papua di sini masih mengandalkan pekerjaan yang sifatnya langsung menghasilkan uang atau perputarannya cepat, seperti menjual pinang, karena dengan itu mereka tidak pusing-pusing berfikir bagaimana caranya memutar uang. Contoh lainnya yang saat ini sedang popular, batu akik mereka cari di gunung lalu dijual dalam keadaan mentah.

Tidak ada industri besar, tidak ada pertanian, hanya gedung bangunan, restoran, hotel dan perdagangan yang paling sering dijumpai di Kota Jayapura. Hal ini sejalan dengan catatan dari BPS dimana distribusi PDRB Kota Jayapura tahun 2013 paling besar ditempati oleh sektor bangunan 26,05 % lalu diikuti perdagangan hotel dan restoran 19,5 %. Ketiga pengankutan dan komunikasi 18,71 % dan keuangan, persewaan dan Jasa Perusahaan 17,33 %, sedangkan pertanian hanya 3,57 %
.
Grafik: Distribusi PDRB Kota Jayapura, BPS
….
Tingginya pertumbuhan ekonomi Kota Jayapura tahun 2013 sebesar 12,28 % dan tahun 2010 sebesar 8,99 %, bisa jadi tidak sama dengan tingkat kemakmuran orang papua asli di Kota tersebut, bahkan bisa saja berbanding terbalik. Hal ini mesti kita lihat dari jumlah penduduk dan tingkat migrasi. 2013 jumlah penduduk Kota Jayapura 272.554 orang atau bertambah 1,58 % dari tahun sebelumnya dengan jumlah penduduk miskin tahun 2013 sebanyak 44.300 orang dan tahun 2009 sebanyak 39.050 orang (BPS Kota Jayapura).

Di sektor pendidikan angka parsisipasi sekolah (APS) kelompok umur 7-12 = 98,6 dan 13-15 = 92,6 dan semakin berumur semakin kecil yaitu 16-18 = 68,00. Dapat dikatakan anak SMU semakin sedikit dibanding anak SMP. Di Provinsi Papua sendiri Kota Jayapura menempati angka IPM (Indeks Pembangunan Manusia) tertinggi dibanding kabupaten/kota lainnya yaitu sebesar 77,12. Bisa jadi Kota Jayaputa adalah kabupaten/kota termaju di Provinsi Papua walaupun masih banyak kekurangannya.

…. Kemana arah pembangunan Kota Jayapura …
Foto: Permukiman Kota Jayapura
Kita ketahui bahwa Kota Jayapura merupakan tempat penyokong kebutuhan pokok untuk kabpuaten/kota lainnya di Provinsi Papua. Kota ini bisa jadi menjadi prioritas pembangunan dan tempat pencari kerja yang menjadi daya tarik bagi para pendatang untuk hidup. Sumberdaya alam yang masih banyak dan indah, serta rahasia geologi yang masih belum terpublikasi bisa saja menjadi rencana ekspansi perusahaan asing yang sudah jelas menguasai tambang seperti Freeport. Perkebunan kelapa sawit mulai merambah dibeberapa wilayah, entah apakah bisa seperti Kalimantan yang kehilangan hutannya karena kepentingan ekonomi. 

Bila saya orang papua tentunya ini sangat menyedihkan, melihat generasi keturunan yang nantinya menjadi apa? Karena semakin terkikis oleh para pendatang. Sumberdaya alamnya melimpah tapi tidak tahu untuk siapa? Mengapa kami orang papua malah tinggal di bukit-bukit dengan lereng cukup terjal? Kami tinggal dengan sangat sederhana, tidak mengenal smartphone, tidak mengenal mol, tidak mengenal makanan yang lezat, kami hanya mengenal pinang dan sepak bola. Di laut penuh dengan nelaayan pendatang, di pemerintahaan penuh dengan pendatang. Ahhh… tapi ini Indonesia, berbeda beda tapi satu jua. Kami heran mengapa BBM naik sedikit saja di bumi barat Indonesia sudah ramai penuh demo, sedangkan disini kami terbiasa mahal, jarang kami demo karena harga mahal. Kami biasa beralaskan sandal jepit atau tak beralas berjalan di terik matahari. Kami sangatlah toleransi, belum pernah di Kota Jayapura ini ada konflik agama, kami menghormati orang barat, tapi bisakah lihat sedikit saja sosial di sini, pendidikan disini, kesehatan disini. Mengapa di Indonesia barat begitu maju dan disini terus begini? Atau karena hanya jumlah penduduk kami yang kecil?

Kalau memang alasanya sumberdaya manusia kami yang belum mampu mengelola sumberdaya alam, alangkah baiknya prioritas pembangunan di Kota Jayapura adalah pembangunan manusianya seperti pendidikannya baik universitas, teknologi dan sekolah menengah kejuruan.

Angka-angka yang tercatat di BPS ataupun lembaga lain, serta peta-peta yang terpetakan oleh instansi-intansi tidaklah cukup mengenal kami, hai orang barat, datanglah kesini, bukan hanya untuk melihat indahnya raja ampat, bukan hanya melihat indahnya karang kami, tapi lihatlah kami, lihat cara kami berjalan, lihat cara kami memakan, dan lihat cara kami tidur. Setidaknya bisa melihat betapa bersyukurnya diri kalian.
….
Foto: Pantai Holtikamp
Tahun 2008 nomor 23 terbit peraturan daerah khusus Proivinsi Papua tentang hak ulayat masyarakat hukum adat dan hak perorangan warga masyarakat hukum adat atas tanah. Hukum ini untuk perlindungan dan pengelolaan sumberdaya alam masyarakat hukum adat papua dan hak ulayat. Walau BPN memiliki sertifikat tanah yang bisa dibeli para investor atau perorangan, itu belum resmi sebelum melalui langkah hukum adat. Hal ini bisa menjadi perlindungan atas hak-hak orang papua, walau ada juga dampak negatifnya.

Sebagai contoh wilayah pariwisata pantai yang tidak ada pengelolanya menjadi kotor, tapi pengunjung tetap harus membayar ke orang lokal dengan harga yang mereka tetapkan sendiri. Sayangnya mereka belum bisa memanajemen tempat pariwisata tersebut. Para pendatang atau investor menjadi kesulitan dalam melakukan bisnis apapun di suatu area lahan, karena akan banyak claim kepemilikan lahan adat dari banyak orang papua, harga tanah akan menjadi berkali-kali lipat dari sebenarnya yang ditetapkan BPN. Seandainya saja peta komunal atau peta hak adat bisa dipetakan, mungkin akan lebih mudah persoalan tanah di Papua. PR untuk para geograf… 

Note: Tulisan ini juga dimuat di geografimanusia.com