Friday, October 31, 2008

langit putih

foto : pengalengan

Aku ingin mengayuh sebuah sepeda

Melintasi liku-liku jalan

Mengayuh dengan kencang

Melepas tangan dan bernyanyi

Di depan pintu aku tertawa

Memandang putih langit pagi

Berandai esok lebih indah

Kuda putihpun datang menjemput ku

Tak bisa bercinta...

foto : di ragusa

Ketika malam semakin gelap dan bintang mulai terlihat terang membentuk abstrak. Sahabat ku terlelap dengan suasana malam yang dingin, kesibukan semakin tertatih oleh mata yang lelap. Mulai dari yang sedikit ku mengerti sampai tak ada lagi yang bisa ku pahami.

Aku tak bisa tergila-gila karena cinta, bahkan sampai aku tak mengerti cinta. Tak bisa lagi merasakannya, sebuah keindahan dunia. Banyak sekali yang tak ku mengerti, sungguh kasihan diri ini. Tak bisa menjelaskan rasa rindu, tak bisa pahami rasa suka dan sayang.

Aku berusaha mencintai mu, namun ku pikir, aku terlalu bodoh untuk mu. Atau terlalu naïf sampai tak bisa membedakan warna diantara warna kehidupan yang terus ku lalui. Pantaskah aku merasakan cinta?

Di hidup ini… aku hanya tahu tentang kebebasan

Suatu rasa yang membuat ku lupa akan penat

Di tubuh ini… aku hanya ingin menulis segalanya

Sampai aku bertemu… wanita itu…

Atau memang tak akan pernah bertemu…

Cinta yang indah katanya…

Wednesday, October 29, 2008

nyawa yang sia-sia

Jum’at kemarin saya di ceritakan oleh mamah bahwa ada anak smp (bekas muritnya saat di SD) meninggal karena jatuh dari bus di daerah matraman, anak itu terpeleset di padatnya penumpang saat pulang sekolah. Ada cerita, sebelum anak itu meninggal. Di dalam sekolah saat ia tidur, ditanya oleh guru ‘kenapa tidur’, lalu anak itu menjawab ‘bu saya kan mau tidur selamanya’. Tragis….

Selasa ini, dama (adik saya) bercerita bahwa kemarin ada anak abg masih sma kelelep di sungai dekat rumah saya di jalan sultan agung. Dua anak sma sedang ngelap mobil di jl.sultan agung, tiba-tiba polisi lewat dan menegur kedua anak tersebut. Menurut polisi itu, ngelap-ngelap mobil membuat lalu lintas menjadi tidak lancer, dan anak itu ngelawan dengan ngebantah, sampai akhirnya kedua anak itu dikejar-kejar polisi yang lewat itu. Polisi tersebut mengeluarkan tembakan ke udara yang membuat anak tersebut panik, karena sangat panik akhirnya kedua anak tersebut nyebur ke sungai untuk menyebrang. Tapi naas, anak tersebut tak bisa berenang. Hanya satu yang selamat, yang satu lagi belum ditemukan mayatnya sampai saat ini. Sebelum meninggal anak itu sempat menitip uang ke temannya untuk membayar utang pulsa ke kakaknya. Tragis…

Kedua anak yang meninggal ini tidak jauh rumahnya dari rumah ku. Sekitar dua minggu yang lalu, dua orang meninggal di dekat kostan ku yang dekat dengan gerbatama UI. Yang satu, wanita karena diperkosa dan satunya lagi karena ketabrak kereta.

Saya semakin tidak mengerti dengan hidup ini… begitu mudahnya semua melayang dan hilang, karena emosi atau karena takdir… sebuah nyawa seperti kertas, kapan saja bisa kita buang… atau kita rusakin…

kesalahan yang sempurna

Seharusnya hari jum’at malam saya ikut acara di metro tv bareng teman2 kampus, hari sabtu juga ada acara bakti sosial di yayasan yatim piatu dengan anak2 bem fakultas yang kebanyakan teman2 saya, dan hari minggu seharusnya saya pergi ke dufan gratis diajak yayasan tersebut.

Namun, mas Pipin (dosen) mengajak saya ke gunung di daerah bogor. Karena mas Pipin bilang ini acara penting yang akan bekerja sama dengan wisatawan mancanegara. Akhirnya, jam 8 malam saya sampai di St.Pocin menunggu mas pipin untuk ke st.bogor yang nantinya akan dijemput oleh mas Rudi (alumni geo anktn 90).

Sudah jam 10 malam saya belum ketemu mas Pipin juga, saya sms’an sama nufi (teman), dia marah karena saya seperti memainkan perasaannya (katanya). Untung depta datang menemani saya dari jam 9.30 sampai akhirnya saya dan mas Pipin naik taksi jam 10.30. Berarti 2 setengah jam saya menunggu. Ini membuat perasaan saya benar-benar terluka, rasanya ingin tidak jadi pergi.

Di taksi dan di mobil pak rudi, perut saya sakit dan ingin muntah. Di tambah sakit sama nufi yang berkali-kali sms saya untuk tidak mengganggunya lagi. Malam minggu saya, mas pipin, mas rudi, di tambah dua orang warga (aco dan aca), tidur dan nenda di puncak gunung gagak kecil (1450 mdpl). Sialnya, mas rudi tidur ngorok disamping saya dan membuat saya tidak bisa tidur.

Karena gak bisa tidur ini, jam 2 subuh saya terpaksa bangun dan membuat moccacino. Tapi pikiran ini ada di rumah, mikirin kegiatan yang seharusnya saya jalani dan mikirin nufi yang tiba-tiba jadi aneh. Sungguh mala mini membuat menderita. Setiap saya membuka jalur di jalan, saya memukul pohon tak berdosa dengan emosi. Berkali-kali juga saya jatuh terpeleset, bahkan hampir saja jatuh ke sungai yang tingginya sekitar 5 meter dari jalan yang saya lalui dan berbatu besar. Untung aca (warga) seumur dengan saya, dan saya banyak bercerita dengannya. aca merupakan pemuda tampan yang senang berburu burung atau jamur di kawasan gunung gagak, ia lulusan smp dan sekarang sering bekerja di grogol Jakarta sebagai penjahit konveksi baju anak-anak. Aca lah yang menemani saya dan membuat saya tidak terlalu BT.

Ekspedisi berhasil karena mas Pipin berhasil menenbus gunung gagak besar yang sudah sangat jarang dilalui, sayang pulangnya kami tersesat dan telat dua jam dari target. Perjalanan ini hanya mengandalkan GPS yang dipegang Mas Pipin (tidak membawa peta).

Kapok-kapok, pulangnya mas rudi bercerita tentang anak geo tahun 80-90 yang sangat brutal. Mereka juga bercerita tentang anak-anaknya yang masih balita, yang membuat saya bengong. Kawan, sungguh menyakitkan perjalanan ini. kesalahan pilihan ini benar-benar sempurna.

Tuesday, October 21, 2008

Tukang mangga dari geografi

Foto : tukang mangga (pasti laku)

Tukang mangga di stasiun pasar minggu

Arum manis dan indramayu merupakan dua jenis mangga yang sering di jual saat musim seperti ini, ada fenomena yang ingin saya sampaikan berkait dengan pelajaran geografi pemasaran pada bab behavior beberapa hari yang lalu.

Kebiasaan orang berlalu lalang di pagi hari dan sore memperlihatkan contoh kecil dimana pedagang mangga dengan mahir menentukan tempat berdagangnya yang berlainan. Logikanya, 5000 orang yang berlalu lalang pasti menyediakan uang untuk sekedar berlanja atau jajan. Tinggal bagaimana selera ia berbelanja, apakah suka yang arum manis atau indramayu? Letak kerumunan orang menyebabkan pedagang mendekati tempat tersebut, perbedaan pagi dan sore adalah contoh kecil perilaku manusia untuk menciptakan meet point. Tanpa disadari pergerakan 5000 0rang membawa dampak tranksaksi yang besar secara ekonomi namun tak dipelajari dalam ilmu ekonomi. seandainya dari lima ribu orang menyisakan duaribu rupiah untuk sekedar jajan berarti terjadi transaksi sebesar Rp 10.000.000 di sebuah stasiun tersebut.

Karena itulah pedagang tidak pernah berhenti dan hilang di sekitar setasiun tersebut, terutama stasiun-stasiun besar seperti pasarminggu. Karena jika terdapat 20 tukang mangga berarti masing-masing pedagang mendapatkan transaksi sebesar rp 500.000. Hal ini belum dilihat dari persaingan antar pedagang. Namun setidaknya menggambarkan sebuah perilaku dan analisis spasial seorang geografi.