Monday, July 4, 2016

"Ada gula, ada semut" di Kota Ternate...

Tiba di Bandar Udara Sultan Babullah pagi hari membuat saya takjub dengan indahnya pemandangan Gunung Gamalama yang puncaknya dibayangi awan-awan. Udara segar dan kencangnya angin sedikit membuka nafas baru bagi kami warga Jakarta, yang biasa dengan keramaian. Kota ini merupakan salah satu kota yang membuat saya penasaran, mengapa pulau sekecil ini begitu ramai dan terkenal? bagaimana mereka bertahan hidup dan terus berkembang? Disini, dengan singkat saya ingin berbagi pengalaman selama 5 hari di Kota Ternate, Maluku Utara.

Pada tahun 1999, Maluku Utara resmi menjadi Provinsi, dimana sebelumnya merupakan Kabupaten Maluku Utara dan Halmahera Tengah. Pada tahun tersebut, Ternate menjadi Ibukota Provinsi Maluku Utara, sampai akhirnya pada tahun 2010 ibukota provinsi dipindahkan ke Kota Sofifi. Kota Sofifi sendiri terletak di Pulau Halmahera, butuh menyebrang laut sekitar 40 menit untuk mencapai Sofifi dari Ternate.

Kota Ternate
Ternate bila dilihat dari pesawat atau imagery, seperti sebuah pulau berbentuk lingkaran dimana tengahnya adalah Gunung Gamalama dengan ketinggian sekitar 1.715 mdpl. Kawasan permukiman dan lahan terbangun lainnya berkumpul di bagian timur dan selatan. Bila dibandingkan dengan kabupaten/kota lainnya di Maluku Utara, Ternate memiliki kepadatan penduduk paling tinggi. Dari catatan BPS, tahun 2014 jumlah penduduk di Ternate 207,789 jiwa atau terbanyak kedua setelah Halmahera Selatan 215,719 jiwa, namun luas Ternate hanya 111,39 Km2 atau paling kecil diantara kabupaten/kota lainnya, sedangkan Halmahera Tengah 8.148,90 km2. 
Gambar: Pulau Ternate, sumber: Google imagery


Saya kira, Ternate ramai karena ada pusat-pusat industri, ternyata disana tidak ada industri, sekalipun ada, itupun jarang dan itupun yang skalanya kecil. Tidak ada sawah, dan selama 5 hari disana, saya tidak melihat adanya tambak. Oleh karena itu jangan heran bila harga barang, jasa dan makanan begitu mahal. Pernah saya berbuka puasa dipinggir laut dengan satu ikan kerapu dan satu ikan kakap dimakan bersama tiga orang, sekaligus dengan es kelapa agar nikmat. Harga totalnya 270 ribu rupiah.  

Sewa mobil rata-rata disini juga cukup mahal, 550 ribu hanya mobil dan supir, belum dengan bensin. Oleh karena itu jangan harap mendapatkan penginapan yang bagus dengan harga 500 ribu kebawah. Yasudah kita lupakan mahalnya harga disini. Ada hal yang menarik saat bulan puasa disini, jam 2 siang dipinggir-pinggir jalan sudah banyak yang jual takjil atau makanan ringan untuk buka puasa, padahal waktu berbuka puasa jam 6.30. Saya sendiri tergoda untuk mencicipi takjil, saya beli 2 risol, 2 gorengan, 1 kolak pisang dan 1 kolak pisang. Paling tidak saya akan mengeluarkan uang sekitar 25 ribu untuk takjil kali ini, namun dugaan saya salah, total takjil itu ternyata 37 ribu. Woooowww…. Mahaaallll….

Baiklah, tidak usah pikirkan mahalnya, lalu ketika saya dan teman memakan takjil tersebut, rasanya sungguh tidak biasa dilidah kami… sediiih…. Kolaknya hanya sekedar dicicipi. Rasanya seperti banyak kunyit atau mungkin pala. Makanan-makanan di sini, bukan tidak enak, hanya saja selera orang disini berbeda dengan kami yang terbiasa dengan masakan di Pulau Jawa.

Bagi yang suka dengan sejarah, ternate bisa dijadikan objek wisata yang cukup menarik, karena disini merupakan kesultanan, dimana dulu pernah diduduki portugis untuk mendapatkan rempah-rempah. Peninggalan itu dapat kita lihat di rumah-rumah keraton dan benteng-benteng tepi laut. Wisata alamnya ada tempat snorkeling, ada danau, dan batu-batu bekas letusan gunung. Dan yang paling terkenal ada landskap menggambarkan Pulau Tidore seperti gambar di uang seribu rupiah. 
Foto: Pulau Tidore seperti gambar di uang kertas seribu rupiah

….
“Walau harga-harga cukup tinggi, untuk mendapatkan uang disini juga mudah…” Pak Tam. Kata supir saya seperti itu, bahkan disini hampir tidak ada pengemis, disni juga jarang terjadi kejahatan, bahkan disini bisa jadi tidak ada pengangguran. Pak Tam sendiri, bila tidak menjadi supir, sehari-hari beliau bekerja menjadi supir ojek, menjadi supir ojek saja sehari minimal mendapatkan 100 ribu rupiah.

Jadi jangan heran, walau biaya hidup tinggi di Ternate, untuk mendapatkan uangpun tidak sulit. Anggap saja apa yang dikatakan Pak Tam itu benar, walau butuh penelitian lebih mendalam untuk membuktikannya. Seperti halnya “ada gula ada semut”, tidak heran ada banyak uang maka ada banyak orang.

Kota Ternate pernah 11 tahun menjadi ibukota provinsi, walau tidak ada industri disana, namun tentu selama 11 tahun itu Ternate telah melakukan pembangunan infrastruktur yang lebih baik dibanding wilayah lain di Maluku Utara. Pelayanan umum, kesehatan, sekolah dan pasar yang merupakan kebutuhan utama masyarakat telah terbangun lengkap di Kota itu. Apalagi, untuk mengelilingi Pulau Ternate hanya butuh satu jam, artinya untuk melakukan tranportasi di dalam kota sangatlah cepat. Dari rumah ke kantor mungkin rata-rata hanya butuh 15 - 30 menit.

Dari segi ekonomi, tahun 2014 pertumbuhan ekonomi Ternate sebesar 6,10 % atau masih diatas pertumbuhan nasional. Sektor tertinggi yaitu pengadaan listrik dan gas, konstruksi, dan Jasa Keuangan. Sedangkan pertanian, kehutanan dan perikanan merupakan sektor dengan pertumbuhan ekonomi paling kecil. Barang dan bahan makanan kebanyakan berasal dari Surabaya, yang dikirim melalui jalur laut ke Pelabuhan Ahmad Yani di Ternate. Pelabuhan ini merupakan pelabuhan terbesar di Provinsi Maluku Utara. Sehingga untuk mengirim barang ke wilayah lainnya haruslah ke Ternate terlebih dahulu.

Maka terbayanglah bahwa di kabupaten/kota lain di Maluku Utara, harga-harga menjadi lebih tinggi dibanding di Ternate. Oleh karena itu, orang lebih senang tinggal di Ternate dibanding wilayah lainnya di Maluku Utara. 

Karena itu pula, Sofifi merupakan Ibukota Provinsi paling sepi yang pernah saya jumpai di Indonesia. Bayangkan saja, kantor pemerintah provinsi terletak di Sofifi, sedangkan pegawainya 98% tinggal di Ternate. 

Dari Ternate ke pelabuhan di Sofifi butuh biaya sebesar 50 ribu sekali jalan, dari pelabuhan kita harus mengeluarkan uang 10 ribu rupiah agar sampai ke kantor. Sehingga rata-rata biaya transportasi pegawai pemerintah provinsi sebesar 100 ribu. Untunglah mereka ada tunjangan transportasi, walau sering telat cairnya. Lalu kenapa pegawainya tidak tinggal di Sofifi ya? Ya karena di Sofifi pelayanannya tidak selengkap di Ternate.
Gambar: Rute penyebrangan dari Ternate ke Sofifi


Ada yang berniat tinggal Ternate?

Sampai di Jakarta, saya bertanya dengan seorang planner senior, mengapa Ibukota Sofifi begitu sepi. Lalu beliau bilang, bahwa para investor tidak berani mengambil resiko untuk membangun infrastruktur yang menarik perhatian di Kota Sofifi. Sehingga masyarakat tidak juga berani membangun industri skala kecil disana, jangankan industri, untuk tempat tinggal saja orang ternate tidak suka pindah ke Sofifi. ya bisa jadi karena fasilitas belum memadai. 

Oleh karena itu, untuk membangun sofifi dan meramaikan tentu saja butuh puluhan tahun, saat ini seolah-olah seperti memaksakan Ibukota pindah ke Sofifi, padahal penduduknya tetap memilih tinggal di Ternate. Pekerjaan terkait pemerintahan di sana menjadi tidak efektif, dan tentunya anggaran pemerintah memerlukan biaya besar karena harus memberi tunjangan transportasi ke pegawainya.

Seperti halnya, "ada gula, ada semut"...  Salah satu alasan mengapa Kota Ternate paling ramai dibanding wilayah lain di Maluku Utara. Mungkin saat ini wilayah lain belum bisa menjanjikan penghasilan yang tinggi, bahkan ibukota provinsinya pun seperti kota mati...

Foto: Kota Ternate


Catatan: Tulisan ini juga di post di geografimanusia.com

Tuesday, March 22, 2016

Menikahimu...

Selesai azan subuh itu, aku berdiri memandang gelap langit sambil merasakan dingin embun, sejuk. Aku ingin sudahi, sudahi semua galau kesendirian dan kerisauan yang panjang. Aku belajar iklhas, bagaimana aku diciptakan dan dilahirkan. Puji syukur segala apa yang terjadi selama ini, dan memaafkan kesalahan-kesalahan yang pernah tercipta baik sengaja dan tanpa sengaja. Inilah iklhas yang selama ini tertutup kabut.

Zikirku untuk diriku dan kepadaNya aku bersyukur. kini aku menikahimu...

Foto: 5 Maret 2016

Friday, March 11, 2016

Berhentilah membandingkan...

Kita tidak pernah tahu seberapa lama kita mencintai mimpi-mimpi kita. Seseorang menjadi pemimpi bukanlah karena nafsu dan hasrat yang menggebu-gebu. Mimpi adalah cinta yang terbang dalam ruang dan waktu. Seandainya dia tahu…

Aku pernah berfikir bahwa segala yang aku inginkan bisa aku wujudkan, bahkan aku percaya bahwa mimpiku akan menjadi nyata secepatnya. Namun pada nyatanya ilmu ku tak sesuai kapasistasku untuk menjadi mimpiku. Hidup bagai sehelai daun…

Nyatanya, iklhas memang lebih sulit daripada mencintai. Menerima segalanya itu terasa menyakitkan bila tiada sesuai dengan mimpi-mimpi. Sampai aku ketahui bahwa ada yang lebih tinggi dari cinta, yaitu keiklhasan. Keiklhasan kita menerima…

Tiba-tiba seekor belalang hijau diatas daun yang terbang berkata:
“berhentilah membandingkan diriku dengan dirinya…”
“berhentilah membandingkan dirimu dengan dirinya…”
“berhentilah membandingkan mimpimu dengan diriku…”
“berhentilah membandingkan mimpiku dengan dirimu…”
 …
Aku melamun mendengarnya, dan aku terdiam. Rasanya ingin sekali aku berkata: “berhentilah menangis, berhentilah menangisi hidup yang tak sesuai mimpi-mimpi…”
Karena ada yang lebih tinggi dari sekedar mimpi-mimpi, yaitu antara kita dengan tempat diakhir nanti.

Thursday, February 25, 2016

Ketahuilah… “memilih namun salah itu lebih baik daripada tidak pernah memilih”

Foto: Lupa dimana dan kapan

Berjalan penuh kesalahan pun tetap lebih baik daripada tidak mau berjalan sama sekali. Rasanya dalam perjalanan tidak mungkin kita tidak pernah melakukan salah. Kesalahan menandakan bahwa kita adalah manusia, dan bukan Tuhan.

Kita tidak mungkin seperti mereka, aku tidak mungkin seperti kamu, perbedaan ini membuat hidup menjadi berwarna. Karena itulah tidak perlu memaki bila ada perbedaan. Tersenyumlah…

Thursday, December 17, 2015

Pagi dan kembali...

Tak akan  ada habis-habisnya dunia, jalani hari-hari yang kelabu. Tak seindah saat matahari bersinar, memberikan panas ke sini, ke hati ini yang mungkin telah dingin berhari-hari. Ah manisnya ketika hujan rintik ditemani pelangi senja, atau embun menyambut pagi.

Harum tanah semerbak kedamaian jiwa, menarilah kupu-kupu meski bunga belum bermekar. Cintailah apa jadinya hidup, bernyanyilah dengan tenang, dengan senyum yang lama tak hadir disini. Tulislah apa yang terjadi dalam hidup, bukan untuk siapa-siapa, tapi untuk awan-awan yang tetap setia menemani hari demi hari.

Tidak perlu jadi apa jadinya yang lain, jadikan ini kembali seperti adanya. Adanya hidup, adanya keceriaan, adanya cinta, tanpa tekanan dan tanpa beban. Ketahuilah betapa indah mimpi-mimpi, dari perbedaan mimpi mimpi sesama kita. Aku punya mimpi, dan kau punya mimpi. 

Foto: Kepulauan Seribu Jakarta

Lalu biarkan kegilaan ini menjadi kelucuan, menjadi cerita cerita.
Foto: Kota Jayapura
 Dan melihat dunia apa adanya, membiarkan perbedaan tetap ada.
Foto: Gunung Rinjani Lombok
 Dari waktu ke waktu bersama angin dan alam yang begitupula adanya...
Foto: di Jakarta

Monday, November 30, 2015

Tentang Orang Pintar

Orang pintar adalah mereka yang bisa memperkerjakan orang lain
Memperkerjakan orang lain atau mengeksploitasi orang lain?
Orang pintar adalah mereka yang mampu membangun sistem yang canggih
Sistem yang canggih atau pamer kepinteran?
Orang pintar adalah yang bisa bicara di depan umum
Bisa bicara atau bisa berbohong?
Orang pintar adalah

Friday, July 24, 2015

Belajar dari Kota Jayapura

Foto: Kota Jayapura
30 Juni 2015, dari tempat yang paling luas mata memandang kota dan laut. dari bukit yang bertuliskan Jayapura City, dengan menghadap utara dari sini, sore itu menjadi teduh. Pelabuhan Numbay dengan peti kemasnya tersusun rapih, dua pulau kecil di timur laut pelabuhan itu, terlihat rumah-rumah terapung yang perairannya terus dilalui perahu-perahu kecil. 

Di bagian barat daya dari tempat saya berdiri itulah daratan kota yang menjadi pusat kehidupan dimana tepi pantai sampai bukit-bukit telah menjadi areal terbangun, jelas terlihat permukiman, hotel, rumah makan dan gedung perkantoran. Saya tatap langit dan awan yang bersih, tidak terlihat asap-asap ngebul seperti layaknya kawasan industri di kota-kota besar Indonesia. 

Apa yang terlihat dari atas bukit tempat saya berdiri, ada sedikit persamaan dengan catatan BPS dimana distribusi PDRB Kota Jayapura tahun 2013 untuk sektor industri pengolahan tercatat 2,48 % atau terendah kedua setelah pertambangan dan penggalian 0,43 %. Dari sini kita dapat berfikir bahwa bahan-bahan kebutuhan pokok masyarakat Kota Jayapura baik primer, sekunder ataupun tersier, sebagian besar berasal dari luar Kota. Namun asumsi ini tidak akan akurat bila kita tidak turun dari bukit dan mengelilingi Kota Jayapura. 

Keliling Kota Jayapura

Satu hal yang membuat saya kagum disini, infrastruktur jalan. Jarang sekali saya melewati jalan yang rusak ataupun berlubang baik di tepi pantai ataupun diatas bukit, bahkan ada jalan yang sedang dibangun diatas laut tepi pantai. Kata supir, itu merupakan jalan tol diatas laut. Ajaib sekali, saya tidak bisa membayangkan apa yang terjadi 10 atau 20 tahun lagi di kota ini bila infrastruktur itu benar-benar selesai, karena saat ini saja aktifitas kendaraan pribadi baik motor dan mobil sudah cukup ramai. 

Agar penasaran saya hilang dengan pembangunan di Kota Jayapura, maka saya mengunjungi Bappeda Kota Jayapura dan Bappeda Provinsi untuk sekedar diskusi dan melihat peta perencanaan. Ternyata jalan diatas laut yang dikira jalan tol adalah ring road yang pembangunannya baru selesai tahap satu, masih ada dua tahap lagi yang diperkirakan satu tahap selesai 3 – 4 tahun, dengan jalan ini diharapkan akses di Kota menjadi lebih mudah dan cepat. Selain itu, pemerintah pusat dan provinsi juga sedang melanjutkan pembangunan jalan dari Kota Jayapura menuju Wamena yang diperkirakan akan selesai tahun depan. Dengan adanya jalan ini diharapkan harga-harga tidak terlalu tinggi di papua pedalaman seperti di Wamena yang masih mengandalkan tranportasi udara.

…. Perbandingan harga di Papua…
Gambar: Sketsa Jayapura-Wamena dan Marauke-Boven Digoel
“Dari mana semen berasal?” tanya salah seorang pegawai Bappeda Provinsi. “Tentu saja dari Gresik ke Surabaya, lalu diangkut melalui kapal menuju pelabuhan Numbay di Kota Jayapura dan pelabuhan di Kota Marauke. Dari Marauke dibawa menuju kabupaten Boven Digoel, harga semen itu menjadi 200 ribu/sak melalui jalur darat. Sedangkan untuk ke Wamena mesti melalui jalur udara dengan pesawat kecil dari Kota Jayapura, tidak heran harga semen mencapai 2 juta/sak disana.” Dengan lantang ia bicara sambil tersenyum bercerita dengan ramah, “kami berharap pembangunan akses dari Kota Jayapura menuju Wamena agar segera terealisir agar harga tidak terlalu melonjak saat mencapai pedalaman…” 

...Kembali ke Kota Jayapura….

5 hari di Kota Jayapura tidaklah bisa menggambarkan seluruh aktifitas kehidupan, namun setidaknya ada yang bisa dilihat dan dipelajari sedikit dari sisi sosial, ekonomi dan lingkungan. Pendatang cukup dominan dan menguasai ekonomi di Kota Jayapura, seperti nelayan yang sebagian besar adalah pendatang dari Sulawesi selatan dan tenggara, seperti Bugis, Makassar dan Buton. Merekalah yang menguasai harga-harga tangkapan ikan, serta jasa seperti warung kelontong, rental mobil dan warnet. Ada satu cinema XXI di mol APO, tanah yang menjadi pusat ekonomi itu ternyata dimiliki oleh orang keturunan Cina yang menjadi orang terkaya di Kota Jayapura, dia juga memiliki perusahaan air minum lokal satu-satunya. Pertanian belum maksimal dan sangat jarang dijumpai. Di pemerintahan banyak dijumpai orang medan selain orang dari Sulawesi yang sudah menetap dari 20 tahunan yang lalu.

Lalu dimana orang Papua bekerja?
Foto: Penjual Pinang
Di pinggir jalan, mereka banyak yang menjual buah pinang dan buah matoa. Di hotel dan gedung perkantoran banyak yang menjadi security. Di pemerintahan tentunya yang paling banyak dijumpai, entah sebagai staf biasa ada juga yang menjadi pejabat. Ada orang pendatang yang sudah lama menetap di sana bercerita kepada saya bahwa orang papua di sini masih mengandalkan pekerjaan yang sifatnya langsung menghasilkan uang atau perputarannya cepat, seperti menjual pinang, karena dengan itu mereka tidak pusing-pusing berfikir bagaimana caranya memutar uang. Contoh lainnya yang saat ini sedang popular, batu akik mereka cari di gunung lalu dijual dalam keadaan mentah.

Tidak ada industri besar, tidak ada pertanian, hanya gedung bangunan, restoran, hotel dan perdagangan yang paling sering dijumpai di Kota Jayapura. Hal ini sejalan dengan catatan dari BPS dimana distribusi PDRB Kota Jayapura tahun 2013 paling besar ditempati oleh sektor bangunan 26,05 % lalu diikuti perdagangan hotel dan restoran 19,5 %. Ketiga pengankutan dan komunikasi 18,71 % dan keuangan, persewaan dan Jasa Perusahaan 17,33 %, sedangkan pertanian hanya 3,57 %
.
Grafik: Distribusi PDRB Kota Jayapura, BPS
….
Tingginya pertumbuhan ekonomi Kota Jayapura tahun 2013 sebesar 12,28 % dan tahun 2010 sebesar 8,99 %, bisa jadi tidak sama dengan tingkat kemakmuran orang papua asli di Kota tersebut, bahkan bisa saja berbanding terbalik. Hal ini mesti kita lihat dari jumlah penduduk dan tingkat migrasi. 2013 jumlah penduduk Kota Jayapura 272.554 orang atau bertambah 1,58 % dari tahun sebelumnya dengan jumlah penduduk miskin tahun 2013 sebanyak 44.300 orang dan tahun 2009 sebanyak 39.050 orang (BPS Kota Jayapura).

Di sektor pendidikan angka parsisipasi sekolah (APS) kelompok umur 7-12 = 98,6 dan 13-15 = 92,6 dan semakin berumur semakin kecil yaitu 16-18 = 68,00. Dapat dikatakan anak SMU semakin sedikit dibanding anak SMP. Di Provinsi Papua sendiri Kota Jayapura menempati angka IPM (Indeks Pembangunan Manusia) tertinggi dibanding kabupaten/kota lainnya yaitu sebesar 77,12. Bisa jadi Kota Jayaputa adalah kabupaten/kota termaju di Provinsi Papua walaupun masih banyak kekurangannya.

…. Kemana arah pembangunan Kota Jayapura …
Foto: Permukiman Kota Jayapura
Kita ketahui bahwa Kota Jayapura merupakan tempat penyokong kebutuhan pokok untuk kabpuaten/kota lainnya di Provinsi Papua. Kota ini bisa jadi menjadi prioritas pembangunan dan tempat pencari kerja yang menjadi daya tarik bagi para pendatang untuk hidup. Sumberdaya alam yang masih banyak dan indah, serta rahasia geologi yang masih belum terpublikasi bisa saja menjadi rencana ekspansi perusahaan asing yang sudah jelas menguasai tambang seperti Freeport. Perkebunan kelapa sawit mulai merambah dibeberapa wilayah, entah apakah bisa seperti Kalimantan yang kehilangan hutannya karena kepentingan ekonomi. 

Bila saya orang papua tentunya ini sangat menyedihkan, melihat generasi keturunan yang nantinya menjadi apa? Karena semakin terkikis oleh para pendatang. Sumberdaya alamnya melimpah tapi tidak tahu untuk siapa? Mengapa kami orang papua malah tinggal di bukit-bukit dengan lereng cukup terjal? Kami tinggal dengan sangat sederhana, tidak mengenal smartphone, tidak mengenal mol, tidak mengenal makanan yang lezat, kami hanya mengenal pinang dan sepak bola. Di laut penuh dengan nelaayan pendatang, di pemerintahaan penuh dengan pendatang. Ahhh… tapi ini Indonesia, berbeda beda tapi satu jua. Kami heran mengapa BBM naik sedikit saja di bumi barat Indonesia sudah ramai penuh demo, sedangkan disini kami terbiasa mahal, jarang kami demo karena harga mahal. Kami biasa beralaskan sandal jepit atau tak beralas berjalan di terik matahari. Kami sangatlah toleransi, belum pernah di Kota Jayapura ini ada konflik agama, kami menghormati orang barat, tapi bisakah lihat sedikit saja sosial di sini, pendidikan disini, kesehatan disini. Mengapa di Indonesia barat begitu maju dan disini terus begini? Atau karena hanya jumlah penduduk kami yang kecil?

Kalau memang alasanya sumberdaya manusia kami yang belum mampu mengelola sumberdaya alam, alangkah baiknya prioritas pembangunan di Kota Jayapura adalah pembangunan manusianya seperti pendidikannya baik universitas, teknologi dan sekolah menengah kejuruan.

Angka-angka yang tercatat di BPS ataupun lembaga lain, serta peta-peta yang terpetakan oleh instansi-intansi tidaklah cukup mengenal kami, hai orang barat, datanglah kesini, bukan hanya untuk melihat indahnya raja ampat, bukan hanya melihat indahnya karang kami, tapi lihatlah kami, lihat cara kami berjalan, lihat cara kami memakan, dan lihat cara kami tidur. Setidaknya bisa melihat betapa bersyukurnya diri kalian.
….
Foto: Pantai Holtikamp
Tahun 2008 nomor 23 terbit peraturan daerah khusus Proivinsi Papua tentang hak ulayat masyarakat hukum adat dan hak perorangan warga masyarakat hukum adat atas tanah. Hukum ini untuk perlindungan dan pengelolaan sumberdaya alam masyarakat hukum adat papua dan hak ulayat. Walau BPN memiliki sertifikat tanah yang bisa dibeli para investor atau perorangan, itu belum resmi sebelum melalui langkah hukum adat. Hal ini bisa menjadi perlindungan atas hak-hak orang papua, walau ada juga dampak negatifnya.

Sebagai contoh wilayah pariwisata pantai yang tidak ada pengelolanya menjadi kotor, tapi pengunjung tetap harus membayar ke orang lokal dengan harga yang mereka tetapkan sendiri. Sayangnya mereka belum bisa memanajemen tempat pariwisata tersebut. Para pendatang atau investor menjadi kesulitan dalam melakukan bisnis apapun di suatu area lahan, karena akan banyak claim kepemilikan lahan adat dari banyak orang papua, harga tanah akan menjadi berkali-kali lipat dari sebenarnya yang ditetapkan BPN. Seandainya saja peta komunal atau peta hak adat bisa dipetakan, mungkin akan lebih mudah persoalan tanah di Papua. PR untuk para geograf… 

Note: Tulisan ini juga dimuat di geografimanusia.com


Saturday, May 9, 2015

Thingking Out Loud, Ed Sheeran – Cover by Yene, Daydeh and Wibi

Di kesempatan kali ini kami mengcover lagu Ed Sheeran, karena pengambilan video ini pada jam 2 malam, makanya semua kelihatan ngantuuuk….

Friday, May 8, 2015

Terlalu kuat...

Ini adalah bagian dari fajar
Terbit diantara malam
Bersinar seiring putaran bumi
Menjadi waktu

Di sini mungkin hanya hiasan
Mungkin juga hanya daun kering yang terbang terbawa angin

Friday, April 3, 2015

Lebih baik menyalakan lilin...

Saya sangat menyukai keindahan, sangat mencintai hal-hal yang indah, kadang saya berpuisi tentang hal yang tak bisa saya terjemahkan dengan kalimat, lalu saya bernyanyi di tengah keriuhan hidup yang terasa gelap. Saya berdiri untuk melakukan hal yang indah, melakukannya dengan indera manapun yang saya bisa. Ya saya menyukai itu, hal yang indah.

Saya melihat sebuah keagungan pada setiap manusia, naluri alamiah yang begitu indah, saya percaya manusia lebih indah dari apapun di alam ini. Keajaiban terbesar di alam ini, bagi saya adalah manusia sehingga saya kadang bersedih disaat melihat manusia dengan manusia lainnya saling bertikai. Terkadang muncul pertanyaan, mengapa kita saling bertikai, saling menyalahkan, saling berprasangka buruk, saling berpesimis, saling membentak, mengapa? Bukankah kita sama? 

Saya tidak ingin menyalahkan siapa-siapa, memang dunia ini terasa sedikit lebih gelap. Namun ketahuilah bahwa daydeh menyukai keindahan, mencintai ketenangan. Oleh karenanya lebih baik menyalakan lilin daripada terus menerus mengutuk kegelapan.