Monday, November 13, 2017

Cerita di Lombok saat Baby L usia 6 bulan

Usia Lintang Matadiraya saat ini sudah 10 bulan, saya pun teringat bahwa sudah 10 bulan lamanya saya tidak menulis blog ini. Saya tidak tahu harus menulis apa di blog ini, tapi setidaknya 10 bulan terakhir ini waktu saya banyak bermain dengan Lintang. Di usia 6 – 7 bulan, Lintang dan mamahnya saya ajak ke Lombok selama sebulan dan setiap hari libur saya ajak jalan-jalan. 

Foto: Pantai Nipah, 2017
Liburan pertama kami ke Pantai Nipah untuk melihat sunset, inilah moment dimana lintang pertama kali menginjak pasir dan kena air ombak pantai.

Foto: Kaki bayi 6 bulan kena air laut
Ya ternaya lintang itu takut ombak, takut suaranya pula. Tapi klo ngeliat wajahnya dia sumringah sekali, seperti melihat planet yang begitu besar.

Foto: Hallo Lintang Matardiraya, Pantai Nipah 2017
Sunsetnya bagus ya dari Pantai Nipah ini

Foto: abi, mamah dan Lintang
Lintang di Lombok semuanya serba pertama kali, dari naik pesawat pertama kali dan ada drama nangis di pesawat karena gak bisa tidur. Naik kapal fast boat pertama kalinya nyebrang ke Gili Trawangan, dia bengong melihat ombak lautan. Naik Cidomo juga bengong, ya maklum anak 6 bulan lagi imut2nya. Sekarang sudah 10 bulan kok rasanya sudah besar, sudah ngerti siapa orang yg dia kenal.
Foto: Lintang 6 bulan dan Mamah, Gili Trawangan 2017
Keseruan pertama di Lombok saat kami jalan ke Gili Trawangan, Lintang ternyata takut suara ombak, dan suara-suara besar. Tapi untungnya Lintang kuat sekali, dia terlihat menikmati perjalanan demi perjalanan dan tidak pernah sakit selama disana. 

Foto: Main di Pantai Pulau Gili Trawangan 2017
Serunya jalan-jalan sama bayi, apalagi ke pulau yg bagus ini, bersih airnya dan bawah lautnya juga masih ada terumbu karang. ya walau tidak sebagus dulu, tetap saja pulau ini seru, seru untuk sekedar istirahat.
Foto: gaul banget kan ya
Lintang juga saya ajak ke KEK Mandalika untuk melihat pantai, namun karena sore anginnya kencang sekali, maka tidak bisa lama2 melihat pantai.

Tuesday, January 10, 2017

Surat untuk Lintang Matadiraya

Surat untuk Lintang Matadiraya…
6 Januari 2017, sore itu kamu masih di dalam perut Ibumu. Bersama abi, ibumu dicek di sebuah klinik dekat rumah, klinik ini merupakan klinik terdekat dengan rumah, karena rumah kita merupakan perumahan di suatu desa yang lumayan jauh dari pusat kota. Kata dokter, ibumu sudah pembukaan 1, bila sampai pembukaan 10 maka bisa lahiran. Abi dan ibumu panik, karena prediksi kelahiranmu masih sekitar 2 minggu lagi. Malam hari nenek bersema ante dinot datang dari Jakarta untuk menemani kita. Dan jam 7 malam diperiksa lagi di klinik katanya sudah pembukaan 2.

7 Januari 2017, jam 1 malam ibumu gelisah, setiap 5 menit dia mules, disitulah abi mulai merasa bahwa kamu akan hadir. Jam 1 malam itu ibumu, abi boncengin naik motor ke klinik yang biasa kontrol dekat rumah. Untung langit cerah, karena klo hujan jalanan akan becek dan licin. Sesampai di klinik, kata bidan, sudah mau pembukaan 3, mungkin masih lama lahirnya. Ya malam hari di klinik tidak ada dokter, hanya ada bidan 2 orang yang siap menunggu ibu-ibu yang ingin lahiran. Akhirnya abi dan ibumu memutuskan untuk pulang kerumah, karena katanya masih lama, dan wajar bila ibumu akan mules terus.

Dirumah dari jam 01.30– 04.00 dini hari, ibumu tidak bisa tidur dan sering sekali mules, sampai akhirnya nenek menyuruh kita ke klinik. Ya kita ke klinik lagi dengan motor. Sampai di klinik, ibumu tiduran sambal mules setiap menitnya.

Jam 6 pagi, ibumu teriak-teriak kesakitan sambil mules-mules, abi sampai diomelin gara-gara menyuruh ibumu jangan teriak. Bidan abi bangunin untuk mengecek ibumu, dan ternyata benar, sudah pembukaan 10, dan siap lahiran. Di ruangan itu, hanya ada 2 bidan, ibumu dan abi.

Berkali-kali abi melihat kepalamu nongol, tapi berkali-kali itupula ibumu tidak berhasil mengeluarkanmu. Sampai akhirnya jam 6.30 pagi, kamu benar-benar keluar. Ajaib, Subhannallah….

Abi melihat selaput-selaput yang menutupi kulitmu, sambil dibersihin oleh bidan, bidan satunya lagi sedang membersihkan dan menjahit kemaluan ibumu yang kesakitan saat mengeluarkanmu. Abi perhatikan kamu dari ujung kepala sampai ujung kaki. Airmata abi mengucur sendirinya tiada henti, terharu sekali. 

Jam 6.45 setelah kamu bersih, abi meng-Azankan-mu. Sangat jelas sekali didepan kepalamu. Pertamakalinya kamu membuka kelopak mata, dan langsung melirik abi, ketika abi Azaan. Abi tersenyum, menetes air mata karena haru. Ingat ya dek, kamu lahir pada tanggal 7 Januari 2017, sekitar jam 6.30, sebuah angka ganjil yang cantik. 

Foto: Lintang Matadiraya 7-1-2017

Tentang Namamu

Ibumu, dari awal kehamilanmu ingin sekali punya anak bernama Lintang, kebetulan abi tidak mempermasalahkannya, karena nama lintang lumayan bagus. Kata ibumu, teman-temannya yang bernama lintang selalu pintar, semoga bisa menular ke kamu dek. Sedangkan nama Matadiraya abi ambil dari nama seorang anak, yang ibunya merupakan seorang penulis novel dan media berita yang abi kagumi. Tulisan-tulisannya bagus dan bernilai tinggi yang bercerita tentang keadaan sosial dan masyarakat Indonesia, bukan tulisan yang komersil.

Abi sendiri memiliki tafsir dari namamu Lintang Matadiraya. 
Lintang merupakan sebuah garis vertikal dalam sumbu koordinat bumi, vertikal ini ibarat sebuah hubungan antara Tuhan dan Manusia. Ya… dalam nama itu terselip agar kamu hendak selalu dekat dengan Allah SWT, kelak kamu menjadi Bintang yang mampu menyinari cahaya di sekelilingmu. Cahaya yang terang, yang memberi kemanfaatan bagi sesama manusia, bahkan terhadap hewan, tumbuhan dan lingkungan. Lintang bermakna cahaya seperti para nabi dan alim ulama, yang dipimpin oleh nabi kita, Nabi Muhammad SAW.

Matadiraya, dalam doanya agar kamu dapat melihat dengan mata hati dan pikiranmu sebaik-baiknya dalam melihat alam raya ini. Agar kamu mampu melihat alam raya dengan menyeluruh, tidak separuh-separuh. Sehingga kelak kamu akan menjadi orang yang bijak, bukan orang yang emosian dan bukan menjadi orang yang sombong. Jadilah bijak karena petunjuk Allah SWT, seperti doa dalam Surat Al Fatteha. 

Meskipun abi tidak memberikan nama dari Bahasa arab ataupun nama-nama Islam, tetapi ketahuilah bahwa dalam namamu terselip doa, dan agar kamu dapat mengikuti akhlak dari pemimpin kita, yaitu Nabi Muhammad SAW.

Lintang Matadiraya, gunakanlah hati, pikiran dan badanmu sebaik-baiknya seperti lirik lagu Iwan Fals untuk anaknya yang bernama Raya. Raihlah ilmu sebaik-baiknya agar menjadi mutiara seperti lagunya Netral yang berjudul Lintang.

Lintang, berjalanlah di bumi dengan senang tanpa ingin disukai oleh orang lain, iklhaskan diri menggapai hidup yang mulia. Jangan lupa untuk selalu menolong orang-orang yang membutuhkan. Raihlah apa yang kamu cita-citakan dan jangan patah semangat, bila berhasil bersyukurlah, dan bila gagal jangan pernah mengeluh ataupun putus asa. Karena proses itu sesungguhnya lebih penting dari sebuah hasil. 

Wednesday, January 4, 2017

Makan Gak Makan Asal Kumpul...

Hidup memang udah susah
Tapi jangan dibikin susah
Hidup memang bikin pusing
Jangan tambah dibawa pening

Selama kamu masih mencintaiku
Selama kamu tetap setia padaku

Makan gak makan asal kumpul 2X
Makan gak makan, makan gak makan
Asal kumpul
Makan gak makan, makan gak makan
Asal kau ada di sampingku

Hari demi hari semakin parah
Kuatin semangat biar gak lemah
Gali-gali lobang tutup lobang
Biar gak tambah banyak hutang

Tapi selama kamu masih, masih cinta
Tapi selama kita tetap bersatu...sama - sama


Bulan kebulan semakin gawat
Asal gak laper sampai lewat
Kalau gak mikir cepat-cepat
Bangsa indonesia bisa kiamat

Selama kita gak panik dan mikir santai
selama kita tetap...cinta damai

By Slank


Friday, October 14, 2016

Keindahan Kawasan Manado, Bitung dan Minahasa

Kali ini saya mendapat kesempatan untuk melihat wilayah diujung Pulau Sulawesi, tapi diujung Pulau Besarnya saja, bukan di pulau-pulau kecil di utaranya. Kesempatan kali ini saya berkunjung ke Kota Manado, Kota Tomohon, Tondano, Likupang dan Airmadidi. Perjalanan singkat itu membantu saya menggambarkan Kawasan BIMINDO (Bitung, Minahasa dan Manado).

Mungkin ada teman yang belum tahu bahwa kawasan utara di Pulau Sulawesi itu punya julukan BIMINDO, kawasan ini menekankan pada konsep Metropolitan dengan Bitung sebagai pusat industri, yang biasa disebut Kawasan Ekonomi Khusus BITUNG. Kawasan industri ini diharapkan mampu mendorong pertumbuhan ekonomi menjadi lebih cepat di kawasan BIMINDO.

Foto: Kawasan Manado, Bitung, Minahasa


Taman Nasional Bunaken merupakan daya tarik yang utama, yang mampu menggerakan ekonomi di Manado dan sekitarnya, sejak lama. Dengan keindahan alamnya, dan kota Manado sebagai pusat ibukota provinsi, maka pertumbuhan hotel, perdagangan dan permukiman menjadi berpusat di sana. Tapi itu belum cukup untuk menggali potensi sumber daya alam yang ada di kawasan tersebut. Oleh karena itu, pemerintah berupaya mengejar ekonomi dari sektor lain sesuai potensi wilayah, seperti potensi ikan tangkapan di BIUTUNG yang begitu besar. Harapannya, industri di BITUNG mampu menggerakan produksi-produksi yang potensial di sana.

Oleh karena itu beberapa percepatan dibidang infrastruktur dan fasilitas penunjang mulai direncanakan, seperti pembangunan jalan tol dan rel kereta api dari Manado ke Bitung, agar industri cepat tumbuh dan mampu menyerap tenaga kerja. 

Namun, disini saya tidak akan berbicara konsep pengembangan kawasan. Saya ingin bercerita bahwa ada hal yang sungguh menarik, yang mungkin hal ini tidak akan menjadi tulisan laporan perencanaan bagi seorang plano. 

Bila kita melihat data, saat ini pertumbuhan penduduk di BIMINDO sangat kecil, begitu pula dengan imigrasi masuk juga kecil, artinya industri disana belum bisa mendongkrak penyerapan tenaga kerja. Bisa juga industri belum menjadi daya tarik penduduk untuk tinggal disana.

Mengapa penduduk disana kecil pertumbuhannya?

Hasil pengamatan saya kecil-kecilan, salah satu faktor utama yang membuat pertumbuhan penduduk disana kecil yaitu faktor agama. Disana agama mayoritas adalah nasrani. Orang-orang disana tanpa industri, dengan pertanian saja mereka bisa kaya raya, lalu setelah kaya mereka cenderung pergi keluar negeri dan menetap disana (kenegara yg sudah lebih baik dan seiman seperti eropa dan singapura). 

Masih karena agama, karena wilayah yang padat penduduk seperti Pulau Jawa dan Sumatera rata-rata mayoritas Islam, maka orang dari lingkungan padat ini enggan atau sulit bermigrasi ke Manado atau Bitung dan sekitarnya, karena bisa jadi ada perbedaan dalam hal kesehari-hariannya.

Lalu bagaimana untuk meningkatkan pertumbuhan disana? 

Saya rasa sambal menunggu industri itu tumbuh, kita bisa meningkatkan pariwisawa disana, karena pariwisata disana cukup terkenal sampai mancanegara. Di Likupang ada pulau Gangga yang saat ini sudah ramai wisata mancanegara. Di sekitar sini banyak spot diving dan pasir putih yang sebenarnya bisa menjadi daya tarik tersendiri. Selain itu di Kota Tomohon, meskipun masih mengandalkan pertanian dan jasa, di sana lokasinya mirip di puncak Bogor namun masih asri, sehingga cocok untuk dijadikan kawasan wisata alam dengan keindahan alam.

Ya, sebagai orang Indonesia yang memiliki banyak budaya, Kawasan ini bisa dijadikan tempat wisata yang sangat menarik dari segi alam laut, gunung, pantai dan budaya manusianya. Apalagi disini juga memiliki kuliner yang cukup enak dan berbeda dari Indonesia lainnya, di sini ada pisang goreng yang dimakan dengan sambal, ada ikan tuna dan cakalang yang dijadikan sop dan mie begitu lezat, ada juga singkong yang dimakan dengan ikan, ada juga pasar ekstrim yang menjual binatang untuk dimakan. Selamat mencicipi keindahan alam, masakan dan budaya disini….

Foto: Pantai Pulisan, Likupang Kab. Minahasa Utara


Thursday, September 15, 2016

Aku disini by Iwan Fals

Mengantuk perempuan setengah baya di bak terbuka mobil sayuran
Jam tiga pagi itu tangannya terangkat saat sorot lampu mobilku menyilaukan matanya
Aku ingat ibuku, aku ingat istri dan anak perempuanku

Separo jalan menuju rumah saat lampu menyala merah di depan terminal bis kota yang masih sepi
Aku melihat seorang pelacur tertidur mungkin letih atau mabuk
Aku ingat ibuku, aku ingat istri dan anak perempuanku

Di bawah temaram sinar merkuri
Bocah telanjang dada bermain bola
Oh pagi yang gelap kau sudutkan aku

Suara kaset dalam mobil aku matikan
Jendela kubuka angin pagi dan nyanyian sekelompok anak muda mengusik ingatanku
Aku ingat mimpiku, aku ingat harapan yang semakin hari semakin panjang tak berujung

Perempuan setengah baya pelacur yang tertidur
Bocah-bocah bermain bola anak muda yang bernyanyi

Sebentar lagi ayam jantan kabarkan pagi
Hari-harimu menagih janji
Aku di sini ya.. aku di sini
Ingat ibuku, istri dan anak-anakku

Monday, July 4, 2016

"Ada gula, ada semut" di Kota Ternate...

Tiba di Bandar Udara Sultan Babullah pagi hari membuat saya takjub dengan indahnya pemandangan Gunung Gamalama yang puncaknya dibayangi awan-awan. Udara segar dan kencangnya angin sedikit membuka nafas baru bagi kami warga Jakarta, yang biasa dengan keramaian. Kota ini merupakan salah satu kota yang membuat saya penasaran, mengapa pulau sekecil ini begitu ramai dan terkenal? bagaimana mereka bertahan hidup dan terus berkembang? Disini, dengan singkat saya ingin berbagi pengalaman selama 5 hari di Kota Ternate, Maluku Utara.

Pada tahun 1999, Maluku Utara resmi menjadi Provinsi, dimana sebelumnya merupakan Kabupaten Maluku Utara dan Halmahera Tengah. Pada tahun tersebut, Ternate menjadi Ibukota Provinsi Maluku Utara, sampai akhirnya pada tahun 2010 ibukota provinsi dipindahkan ke Kota Sofifi. Kota Sofifi sendiri terletak di Pulau Halmahera, butuh menyebrang laut sekitar 40 menit untuk mencapai Sofifi dari Ternate.

Kota Ternate
Ternate bila dilihat dari pesawat atau imagery, seperti sebuah pulau berbentuk lingkaran dimana tengahnya adalah Gunung Gamalama dengan ketinggian sekitar 1.715 mdpl. Kawasan permukiman dan lahan terbangun lainnya berkumpul di bagian timur dan selatan. Bila dibandingkan dengan kabupaten/kota lainnya di Maluku Utara, Ternate memiliki kepadatan penduduk paling tinggi. Dari catatan BPS, tahun 2014 jumlah penduduk di Ternate 207,789 jiwa atau terbanyak kedua setelah Halmahera Selatan 215,719 jiwa, namun luas Ternate hanya 111,39 Km2 atau paling kecil diantara kabupaten/kota lainnya, sedangkan Halmahera Tengah 8.148,90 km2. 
Gambar: Pulau Ternate, sumber: Google imagery


Saya kira, Ternate ramai karena ada pusat-pusat industri, ternyata disana tidak ada industri, sekalipun ada, itupun jarang dan itupun yang skalanya kecil. Tidak ada sawah, dan selama 5 hari disana, saya tidak melihat adanya tambak. Oleh karena itu jangan heran bila harga barang, jasa dan makanan begitu mahal. Pernah saya berbuka puasa dipinggir laut dengan satu ikan kerapu dan satu ikan kakap dimakan bersama tiga orang, sekaligus dengan es kelapa agar nikmat. Harga totalnya 270 ribu rupiah.  

Sewa mobil rata-rata disini juga cukup mahal, 550 ribu hanya mobil dan supir, belum dengan bensin. Oleh karena itu jangan harap mendapatkan penginapan yang bagus dengan harga 500 ribu kebawah. Yasudah kita lupakan mahalnya harga disini. Ada hal yang menarik saat bulan puasa disini, jam 2 siang dipinggir-pinggir jalan sudah banyak yang jual takjil atau makanan ringan untuk buka puasa, padahal waktu berbuka puasa jam 6.30. Saya sendiri tergoda untuk mencicipi takjil, saya beli 2 risol, 2 gorengan, 1 kolak pisang dan 1 kolak pisang. Paling tidak saya akan mengeluarkan uang sekitar 25 ribu untuk takjil kali ini, namun dugaan saya salah, total takjil itu ternyata 37 ribu. Woooowww…. Mahaaallll….

Baiklah, tidak usah pikirkan mahalnya, lalu ketika saya dan teman memakan takjil tersebut, rasanya sungguh tidak biasa dilidah kami… sediiih…. Kolaknya hanya sekedar dicicipi. Rasanya seperti banyak kunyit atau mungkin pala. Makanan-makanan di sini, bukan tidak enak, hanya saja selera orang disini berbeda dengan kami yang terbiasa dengan masakan di Pulau Jawa.

Bagi yang suka dengan sejarah, ternate bisa dijadikan objek wisata yang cukup menarik, karena disini merupakan kesultanan, dimana dulu pernah diduduki portugis untuk mendapatkan rempah-rempah. Peninggalan itu dapat kita lihat di rumah-rumah keraton dan benteng-benteng tepi laut. Wisata alamnya ada tempat snorkeling, ada danau, dan batu-batu bekas letusan gunung. Dan yang paling terkenal ada landskap menggambarkan Pulau Tidore seperti gambar di uang seribu rupiah. 
Foto: Pulau Tidore seperti gambar di uang kertas seribu rupiah

….
“Walau harga-harga cukup tinggi, untuk mendapatkan uang disini juga mudah…” Pak Tam. Kata supir saya seperti itu, bahkan disini hampir tidak ada pengemis, disni juga jarang terjadi kejahatan, bahkan disini bisa jadi tidak ada pengangguran. Pak Tam sendiri, bila tidak menjadi supir, sehari-hari beliau bekerja menjadi supir ojek, menjadi supir ojek saja sehari minimal mendapatkan 100 ribu rupiah.

Jadi jangan heran, walau biaya hidup tinggi di Ternate, untuk mendapatkan uangpun tidak sulit. Anggap saja apa yang dikatakan Pak Tam itu benar, walau butuh penelitian lebih mendalam untuk membuktikannya. Seperti halnya “ada gula ada semut”, tidak heran ada banyak uang maka ada banyak orang.

Kota Ternate pernah 11 tahun menjadi ibukota provinsi, walau tidak ada industri disana, namun tentu selama 11 tahun itu Ternate telah melakukan pembangunan infrastruktur yang lebih baik dibanding wilayah lain di Maluku Utara. Pelayanan umum, kesehatan, sekolah dan pasar yang merupakan kebutuhan utama masyarakat telah terbangun lengkap di Kota itu. Apalagi, untuk mengelilingi Pulau Ternate hanya butuh satu jam, artinya untuk melakukan tranportasi di dalam kota sangatlah cepat. Dari rumah ke kantor mungkin rata-rata hanya butuh 15 - 30 menit.

Dari segi ekonomi, tahun 2014 pertumbuhan ekonomi Ternate sebesar 6,10 % atau masih diatas pertumbuhan nasional. Sektor tertinggi yaitu pengadaan listrik dan gas, konstruksi, dan Jasa Keuangan. Sedangkan pertanian, kehutanan dan perikanan merupakan sektor dengan pertumbuhan ekonomi paling kecil. Barang dan bahan makanan kebanyakan berasal dari Surabaya, yang dikirim melalui jalur laut ke Pelabuhan Ahmad Yani di Ternate. Pelabuhan ini merupakan pelabuhan terbesar di Provinsi Maluku Utara. Sehingga untuk mengirim barang ke wilayah lainnya haruslah ke Ternate terlebih dahulu.

Maka terbayanglah bahwa di kabupaten/kota lain di Maluku Utara, harga-harga menjadi lebih tinggi dibanding di Ternate. Oleh karena itu, orang lebih senang tinggal di Ternate dibanding wilayah lainnya di Maluku Utara. 

Karena itu pula, Sofifi merupakan Ibukota Provinsi paling sepi yang pernah saya jumpai di Indonesia. Bayangkan saja, kantor pemerintah provinsi terletak di Sofifi, sedangkan pegawainya 98% tinggal di Ternate. 

Dari Ternate ke pelabuhan di Sofifi butuh biaya sebesar 50 ribu sekali jalan, dari pelabuhan kita harus mengeluarkan uang 10 ribu rupiah agar sampai ke kantor. Sehingga rata-rata biaya transportasi pegawai pemerintah provinsi sebesar 100 ribu. Untunglah mereka ada tunjangan transportasi, walau sering telat cairnya. Lalu kenapa pegawainya tidak tinggal di Sofifi ya? Ya karena di Sofifi pelayanannya tidak selengkap di Ternate.
Gambar: Rute penyebrangan dari Ternate ke Sofifi


Ada yang berniat tinggal Ternate?

Sampai di Jakarta, saya bertanya dengan seorang planner senior, mengapa Ibukota Sofifi begitu sepi. Lalu beliau bilang, bahwa para investor tidak berani mengambil resiko untuk membangun infrastruktur yang menarik perhatian di Kota Sofifi. Sehingga masyarakat tidak juga berani membangun industri skala kecil disana, jangankan industri, untuk tempat tinggal saja orang ternate tidak suka pindah ke Sofifi. ya bisa jadi karena fasilitas belum memadai. 

Oleh karena itu, untuk membangun sofifi dan meramaikan tentu saja butuh puluhan tahun, saat ini seolah-olah seperti memaksakan Ibukota pindah ke Sofifi, padahal penduduknya tetap memilih tinggal di Ternate. Pekerjaan terkait pemerintahan di sana menjadi tidak efektif, dan tentunya anggaran pemerintah memerlukan biaya besar karena harus memberi tunjangan transportasi ke pegawainya.

Seperti halnya, "ada gula, ada semut"...  Salah satu alasan mengapa Kota Ternate paling ramai dibanding wilayah lain di Maluku Utara. Mungkin saat ini wilayah lain belum bisa menjanjikan penghasilan yang tinggi, bahkan ibukota provinsinya pun seperti kota mati...

Foto: Kota Ternate


Catatan: Tulisan ini juga di post di geografimanusia.com

Tuesday, March 22, 2016

Menikahimu...

Selesai azan subuh itu, aku berdiri memandang gelap langit sambil merasakan dingin embun, sejuk. Aku ingin sudahi, sudahi semua galau kesendirian dan kerisauan yang panjang. Aku belajar iklhas, bagaimana aku diciptakan dan dilahirkan. Puji syukur segala apa yang terjadi selama ini, dan memaafkan kesalahan-kesalahan yang pernah tercipta baik sengaja dan tanpa sengaja. Inilah iklhas yang selama ini tertutup kabut.

Zikirku untuk diriku dan kepadaNya aku bersyukur. kini aku menikahimu...

Foto: 5 Maret 2016

Friday, March 11, 2016

Berhentilah membandingkan...

Kita tidak pernah tahu seberapa lama kita mencintai mimpi-mimpi kita. Seseorang menjadi pemimpi bukanlah karena nafsu dan hasrat yang menggebu-gebu. Mimpi adalah cinta yang terbang dalam ruang dan waktu. Seandainya dia tahu…

Aku pernah berfikir bahwa segala yang aku inginkan bisa aku wujudkan, bahkan aku percaya bahwa mimpiku akan menjadi nyata secepatnya. Namun pada nyatanya ilmu ku tak sesuai kapasistasku untuk menjadi mimpiku. Hidup bagai sehelai daun…

Nyatanya, iklhas memang lebih sulit daripada mencintai. Menerima segalanya itu terasa menyakitkan bila tiada sesuai dengan mimpi-mimpi. Sampai aku ketahui bahwa ada yang lebih tinggi dari cinta, yaitu keiklhasan. Keiklhasan kita menerima…

Tiba-tiba seekor belalang hijau diatas daun yang terbang berkata:
“berhentilah membandingkan diriku dengan dirinya…”
“berhentilah membandingkan dirimu dengan dirinya…”
“berhentilah membandingkan mimpimu dengan diriku…”
“berhentilah membandingkan mimpiku dengan dirimu…”
 …
Aku melamun mendengarnya, dan aku terdiam. Rasanya ingin sekali aku berkata: “berhentilah menangis, berhentilah menangisi hidup yang tak sesuai mimpi-mimpi…”
Karena ada yang lebih tinggi dari sekedar mimpi-mimpi, yaitu antara kita dengan tempat diakhir nanti.

Thursday, February 25, 2016

Ketahuilah… “memilih namun salah itu lebih baik daripada tidak pernah memilih”

Foto: Lupa dimana dan kapan

Berjalan penuh kesalahan pun tetap lebih baik daripada tidak mau berjalan sama sekali. Rasanya dalam perjalanan tidak mungkin kita tidak pernah melakukan salah. Kesalahan menandakan bahwa kita adalah manusia, dan bukan Tuhan.

Kita tidak mungkin seperti mereka, aku tidak mungkin seperti kamu, perbedaan ini membuat hidup menjadi berwarna. Karena itulah tidak perlu memaki bila ada perbedaan. Tersenyumlah…

Thursday, December 17, 2015

Pagi dan kembali...

Tak akan  ada habis-habisnya dunia, jalani hari-hari yang kelabu. Tak seindah saat matahari bersinar, memberikan panas ke sini, ke hati ini yang mungkin telah dingin berhari-hari. Ah manisnya ketika hujan rintik ditemani pelangi senja, atau embun menyambut pagi.

Harum tanah semerbak kedamaian jiwa, menarilah kupu-kupu meski bunga belum bermekar. Cintailah apa jadinya hidup, bernyanyilah dengan tenang, dengan senyum yang lama tak hadir disini. Tulislah apa yang terjadi dalam hidup, bukan untuk siapa-siapa, tapi untuk awan-awan yang tetap setia menemani hari demi hari.

Tidak perlu jadi apa jadinya yang lain, jadikan ini kembali seperti adanya. Adanya hidup, adanya keceriaan, adanya cinta, tanpa tekanan dan tanpa beban. Ketahuilah betapa indah mimpi-mimpi, dari perbedaan mimpi mimpi sesama kita. Aku punya mimpi, dan kau punya mimpi. 

Foto: Kepulauan Seribu Jakarta

Lalu biarkan kegilaan ini menjadi kelucuan, menjadi cerita cerita.
Foto: Kota Jayapura
 Dan melihat dunia apa adanya, membiarkan perbedaan tetap ada.
Foto: Gunung Rinjani Lombok
 Dari waktu ke waktu bersama angin dan alam yang begitupula adanya...
Foto: di Jakarta