Wednesday, June 26, 2019

Putaran yang tak berputar…

Pernahkah anda melihat sesuatu yang terbalik dari logika?
Seperti matematika yang tidak bisa menjawab cinta
Atau seperti langit yang tak terlihat ujungnya
Di sana lah semua kata kita bermuara

Pernahkan anda mendengar sesuatu yang tak terucap dalam kata?
Seperi angin yang berhembus seketika
Atau seperti hentakan dalam jiwa
Di sana lah keinginan berbicara

Teman…
Pernahkah anda dalam suatu putaran yang tak berputar?
Yang gelapnya pekat dan sunyinya henyap
Dan tak bisa diputar-putar
Saya menyebutnya sesuatu yang sulit sekali dirubah
Atau mungkin tidak bisa dirubah
Seperti korupsi-korupsi bid’ah yang dianggap hasanah
Memberi amplop disangka hasanah
Meminta amplop disangka hasanah
Di Negeriku.. Korupsi dianggap hasanah

Daydeh, 26 Juni 2019

Tuesday, June 11, 2019

Sudah Selesai (fase hidup)

Manusia memiliki fase jalan hidup masing-masing yang berbeda-beda, dan juga memiliki peran hidup yang berbeda pula. Tidak hanya itu, bahkan fase atau tahapan tumbuhnya kedewasaan manusia pun berbeda pula, ada yang dewasa di umur 25 tahun, ada yang di 30 tahun, ada yang di 25 tahun dan ada juga yang di 40 tahun. Kedewasaan yang dimaksud adalah kedewasaan berfikir, mau mengambil resiko dan bertanggung jawab seperti pernikahan, atau mau meninggalkan hal-hal yang sia-sia, atau bisa juga dikatakan fase metamorfosis dimana seseorang berkeinginan keras dan benar-benar konsisten memilih hidup untuk menjadi lebih baik dengan meninggalkan yang tidak baik. Dan bisa jadi dalam proses metamorfosis ini banyak fase yang harus dilalui.

Begitupula dengan saya, sebagai anak band, anak gunung dan intelektual (katanya) yang memiliki banyak sekali teman, meninggalkan dunia seperti itu rasanya berat dan akhirnya saya tidak pernah meninggalkan kebiasaan tersebut sampai akhirnya ada di fase dimana saya tidak bisa lagi ngeband dan naik gunung, karena ada bayi yang sulit sekali ditinggalkan karena sayangnya kita kepada keluarga kecil. Tentunya sebagai anak yang mudah bergaul dengan siapa saja, bahkan sakin welcame-nya apa saja dan siapa saja bisa masuk. Entah itu hal yang positif maupun negatif keduanya bisa masuk ke saya.

Lambat laun, kejadian demi kejadian pengalaman hidup akhirnya membawa saya sampai disini, dan akhirnya kita harus memilih. Memilih untuk tetap menjalankan apa saja termasuk yang negatif atau meninggalkannya. 

Kalau boleh saya evaluasi diri, di usia yang sudah menginjak umur 33 tahun dengan satu istri dan dua anak, saya masih belum terlambat untuk berbuat banyak hal yang lebih membawa kebaikan di dunia ini. Dengan ilmu dan kemampuan yang saya miliki, saya memiliki potensi untuk berbuat baik di dunia, bahkan bisa menjadi inspirasi kebaikan bagi siapa saja.

Tapi sejarah mengatakan, ada salah satu syarat untuk kita agar bisa menjadi inspirasi dalam berbuat kebaikan. Yaitu meninggalkan yang negatif dan tidak melakukannya kembali. Fase inilah yang sedang saya lalui, jangan sampai gara-gara hal negatif yang kecil maka kita tidak bisa menjadi baik dan bermanfaat untuk orang lain.

Oleh karena itu saya harus berani menjalankan fase ini dan mengatakannya “Sudah Selesai”, ya  saya ikhlas dan sudah selesai memberikan celah negatif masuk kedalam tubuh, dia harus mental jauh dan tak kembali, serta menjadi pelajaran pada masanya.   

Thursday, May 23, 2019

Hamzah RA dan Para Wali Songo

Foto: Makan Hamzah Ra dan Lokasi Perang Uhud
Hati saya bergetar kencang di sebuah tanah yang di kelilingi bukit-bukit berbatu, di sinilah tempat nyata sejarah Nabi Muhammad SAW bersama pamannya yang bernama Hamzah RA bin Abdul-Muththalib. Paman Rassullallah ini wafat saat bertempur dalam perang Uhud. Saya dan seluruh orang dari penjuru dunia melihat makamnya yang dipagari besar karena diperkirakan disana ada makam-makam lainnya yang juga gugur saat perang Uhud. Lalu kami panjatkan doa kepadanya yang dijuluki “Asadullah” atau “Singa Allah”.

Saya dan seluruh orang yang datang berziarah ke Makam Hamzah Ra, berdoa untuknya karena perjuangannya bersama Rasullallah dalam memperjuangkan dan menyebarkan Islam. Hati saya semakin bergetar kencang, MasyaAllah… perang Uhud ini merupakan perang yang diabadikan dan diceritakan oleh Kitab Suci Al Qur’an. Allhamdulillah, Karena melihat ini secara langsung, saya semakin yakin dengan Al Qur’an.

Tiba-tiba saya teringat dengan negara saya Indonesia, negara ini dibanding negara-negara di dunia lainnya yang penduduknya mayoritas Islam, Indonesia sangat jauh dari tanah Arab tetapi paling besar jumlah penduduk Islamnya. Hebat sekali Negara Kesatuan Republik Indonesia ini, apalagi negaranya besar dan berbentuk kepulauan. Saya kagum dengan orang-orang yang menyebarkan Islam ke Indonesia, Sangat kagum.

Mereka adalah para Wali Songo, yang terdiri dari Maulana Malik Ibrahim, Sunan Ampel, Sunan Giri, Sunan Bonang, Sunan Dradjad, Sunan Kalijaga, Sunan Kudus, Sunan Muria, serta Sunan Gunung Jati. Mereka hampir terlupakan oleh bangsa ini, bahkan mungkin ada yang tidak mempercayainya. Tetapi ingat, makamnya ada dan nyata bersebaran di Pulau Jawa.

Mereka mengenalkan Islam dengan cara yang sangat halus tanpa ada kekerasan. Bahkan dengan seni dan teknologi mereka mengikat masyarakat yang akhirnya banyak yang masuk Islam, mereka para wali merupakan orang-orang cerdas dan pintar pada masanya, yang dicintai masyarakat.

Jika ada wali songo yang membawa Islam masuk ke Nusantara ini, dan berjuang mengenalkan peradaban Islam yang begitu indah. Apakah para wali ini tidak pantas untuk didoakan seperti Hamzah RA, atau seperti sahabat-sahabat Rasullallah yang menegakan Islam. Apalagi para wali songo ini merupakan keturunan Rasullallah SAW. Saya diam dan teringat itu semua saat saya pas berada di lokasi terjadinya perang Uhud.

Lalu pertanyaan selanjutnya, siapa Ulama-ulama di Negara Indonesia ini yang memuliakan juga para wali, yang juga mendoakan wali songo tersebut? Siapa ulama yang cara menyebarkan Islam seperti para wali? Dengan kelembutan, intelektual dan tidak dengan kekerasan.

Saya diam dan terus bertanya pertanyaan tersebut dalam hati…

Wednesday, May 8, 2019

Umroh bersama dua bayi kecil (part 2)

Foto: Ka'bah dan Makam Nabi Ibrahim AS
“Labbaika Allahumma labbaik, labbaika laa syariika laka labbaik, innalhamda wanni’mata laka wal mulka laa syariika laka”

Artinya:
“Aku datang memenuhi panggilanmu Ya Allah, aku datang memenuhi panggilan-Mu, aku datang memenuhi panggilan-Mu, tiada sekutu bagi-Mu, aku datang memenuhi panggilan-Mu. Sesungguhnya segala puji, kemuliaan, dan segenap kekuasaan  adalah milik-Mu, tidak ada sekutu bagi-Mu.”
Foto: Umroh pertama
Malam hari sekitar jam 10an kami berjalan kaki dari hotel di jalan Ajyad menuju Masjidil Haram bersama-sama rombongan, dan tentu saja anak kami bawa meskipun mereka dalam keadaan kurang baik. Lantunan Dzikir menggema di hati, mengagungkan Allah SWT, mengembalikan kita sebagai manusia yang merupakan Ciptaan-Nya. 

Saya merasa sangat kecil seperti setetes air di lautan, bahkan lebih kecil dari air tetesan tersebut. Apapun yang didapat manusia, baik kekayaan, jabatan, kekuasaan, ketampanan, kepintaraan intelektual, kepintaran religius, dan apapun itu semuanya merupakan pemberiaan Allah SWT. Segala kenikmatan di dunia yang didapatkan itu bukan untuk apa-apa, bukan untuk kesenangan semata, bukan untuk bertahan hidup semata, bukan untuk bekerja semata, bukan untuk menjalani hidup semata. Namun, itu semua tidak lain merupakan sebuah perjalanan menuju kematian, dan adalah Islam yang dibawa oleh Nabi Besar Muhammad SAW yang mewariskan sebuah petunjuk kepada umatnya melalui Kitab Suci Al Qur’an dan Hadist-Hadist. Islam memberikan gambaran dan petunjuk paling jelas bahwa kita sebagai manusia akan berlanjut di kehidupan selanjutnya setelah kematian di dunia.

Keyakinan itu membuat saya ingat akan dosa-dosa, Astagfirullah…

Saya ada rasa bersalah dan takut datang mendekati Ka’bah yang merupakan Kiblat Sholat umat muslim, “saya malu datang dalam keadaan kotor…”. Tapi saya berusaha ingat bahwa Allah SWT sangat luas ampunannya, bahkan bila dosa itu setinggi langit.
Pertama kali lihat Ka’bah, Masyaallah….

Tidak ada kalimat-kalimat yang bisa tertulis saat melihat Ka’bah dan melakukan rukun-rukun Umroh. Tawaf dengan mengelilingi Ka’bah, Sa’i dengan berbolak balik dari Bukit Safa dan Marwah, lalu memotong rambut. Setelah melakukan kewajiban rukun-rukun Umroh, ada rasa bahagia dan sedih. 
Foto: Setelah Tawah Wada (perpisahan)
Saya merasa sangat bahagia menjalankan ibadah Umroh ini, dan saya sangat bahagia memeluk agama Islam ini, setidaknya saya tahu tujuan hidup saya, yaitu meninggal dunia dalam keadaan Khusnul Khotimah. Alhamdulillah... rasa bahagia terus terasa karena saya datang bersama isteri dan kedua anak kami yang masih bayi. Dan saya tidak menyangka ternyata kebahagiaan di tempat ini sulit dituliskan dengan kalimat-kalimat. 
Foto: Bareng Om Sidik
Di Mekkah saya bertemu dengan sepupu saya bernama Sidik yang merupakan sepupu laki-laki paling dekat darahnya dari keluarga Ibu saya, kata beliau "Sebenarnya Sidik banyak tawaran kerja di beberapa negara seperti di Qatar, Abu Dhabi, dll, tapi hati maunya kerja disini, di Mekah".

Masyaallah, sudah 8 tahun bekerja di Mekah dan lokasinya pas di depan Masjidil Haram, kecintaannya pada kota ini membuatnya terus memilih disini, mungkin karena keutamaan tempatnya sehingga dengan Doa-doanya dapat membantu seluruh sodara-sodaranya yg di Indonesia. 

"Shalat di Masjidil Haram lebih utama daripada 100.000 shalat di masjid lainnya.” (HR. Ahmad dan Ibnu Majah). 
Foto: Jabal Rachmah
Adapun rasa sedih datang karena saya harus kembali ke Tanah Air, dimana saya merasa disini masih sulit untuk dapat hidup yang jauh dari bersih, di Tanah Air korupsi masih meraja lela sampai dibagian paling hilir dari pejabat tingkat tinggi sampai pejabat paling rendah, lalu yang tidak memili jabatan ikut-ikutan tanpa ada rasa malu.

Saya belajar pada Ibadah Umroh dan saya belajar pada cara mulianya berwudhu, dimana Wudhu mengajarkan untuk membersihkan tangan, mulut, hidung, mata, wajah, telinga dan kaki, tentunya bukan fisiknya saja yang dibersihkan tetapi masuk ke akhlak dan mata hati. Wudhu mengajarkan untuk senantiasa selalu membersihkan tangan dari pemberian yang tidak halal, mulut agar tidak berkata yang buruk dan kasar, hidung tidak mencium yang haram, mata tidak melihat yang haram, telingan tidak mendengan yang buruk, dan kaki tidak melangkah ke jalan yang sesat. Karena hidup cuma sekali ini di dunia, semoga tidak salah langkah.

Bismillahhirohmanirrohim… 
Bismillahi Allahu Akbar…

Monday, May 6, 2019

Umroh bersama dua bayi kecil (part 1)

Alhamdulillah… kata-kata ini selalu hadir di bibir dari sejak sampai di Bandara Soekarno-Hatta menuju Jeddah, ada rasa bahagia dan ada rasa sedih. 
Foto: Perjalanan dari Bandara Soeta 20/4/2019
Saya merasa bahagia karena tanpa rencana panjang, tiba-tiba kami ada di Tanah Para Nabi, dan tentunya kebahagian itu memuncak karena saya ditemani oleh isteri dan kedua anak kami yang usianya baru 3 bulan dan 2 tahun 3 bulan, dan syukur pula adik saya ikut sehingga kami bisa satu kamar sekeluarga di hotel.

Sementara itu saya pun merasa sedih karena datang kesini masih dalam keadaan kotor, tidak bersih hati dan kelakukan. Tentunya banyak sekali dosa-dosa yang saya lakukan selama hidup, dan saya sendiri tidak yakin apakah dosa-dosa tersebut dapat diampuni oleh Allah SWT. Dan sedih inipun menjadi-jadi karena saya datang ke Tanah yang paling Suci, Kota Madinah dan Kota Mekkah. 
Foto: Masjid Quba, Madinah
Pertama kali sampai subuh di Madinah kami Sholat di Masjid Quba karena tidak kekejar solat di Masjid Nabawi. Melihat masjid ini di waktu subuh dengan lampu yang sederhana dan bangunan yang elegan serta burung-burung yang berterbangan membuat anak pertama kami Lintang Matadiraya melek dan terkejut, ya dia senang dengan burung merpati. Masjid ini merupakan Masjid yang pertama kali dibangun oleh Rasulullah SAW, dan memiliki keutamaan.

Rasulullah SAW bersabda, "Barang siapa yang telah bersuci (berwudhu di rumahnya), kemudian mendatangi Masjid Quba lalu shalat di dalamnya dua rakaat, maka baginya sama dengan pahala umrah." (Sunan ibn Majah, no 1412).
Foto: Masjid Nabawi, Madinah
Di waktu duha atau sekitar jam 10an pagi, kami diantar ustad sebagai guide kami, ke Masjid Nabawi. Kami diajak ke tempat paling dijabah doanya di Masjid ini, yaitu Raudhah atau Taman Surga. Saya membawa anak pertama si Lintang, dan isteri saya membawa adiknya si Raia. Saya pikir masuk ke Raudhah akan mengantri berdesak-desakan, ternyata membawa anak kecil bisa langsung masuk lewat jalur khusus tanpa berdesakan. MasyaAllah… saya sangat terkejut, Raudhah menjadi tempat pertama saya dan Lintang sholat dan berdoa di Masjid ini. 

Rasulullah SAW bersabda, “Tempat yang di antara rumahku dan mimbarku adalah raudhah (taman) di antara taman-taman surga.” (HR. Bukhari).
Foto: Lintang Matadiraya mau Sholat
Aura di sini sangat berbeda, beda sekali, selain Masjid Nabawi yang memiliki keutaman namun di Raudhah ini dijanjikan langsung oleh Rasulullah SAW menjadi salah satu tempat paling dikabulkan doanya. Di sini, air mata kita sebagai manusia mudah sekali jatuh, MasyaAllah… ya mudah sekali apalagi buat manusia yang bergelimpangan dosa-dosa seperti saya. Dan entah mengapa rasanya dekat sekali dengan Allah SWT.

Nabi Shallallahu’alaihi wa sallam bersabda, “seandainya kalian berbuat dosa sehingga tumpukan dosa itu setinggi langit kemudian kalian benar-benar bertaubat, niscaya Allah akan menerima taubat kalian.” (Shahih Ibnu Majah).
Foto: Jabal Uhud, Madinah
"Jika kita hendak melihat bukit yang terdapat di surga, maka ziarahlah ke Bukit Uhud. Nabi SAW bersabda, 'Bukit Uhud ialah salah satu dari bukit-bukit yang terdapat di surga'," demikian hadis yang diriwayatkan HR Bukhari.

Kami pun diajak melihat jejak-jejak Rasulullah SAW di Kota Madinah, melihat jejak perang Uhud yang selama ini hanya tahu dari Kitab Suci Al Qur’an. Serta kami Miqat atau niat Umroh dan berihram di Masjid Bir Ali di Madinah. Dari Bir Ali kami berangkat ke Mekah untuk melakukan Rukun Umroh selanjutnya. Selama perjalanan kurang lebih sekitar 4 sampai 5 jam ke Mekah dari Bir Ali, pemandangan yang kita lihat hanyalah padang pasir dan gunung-gunung berbatu. Kata ustad kami, Rasulullah SAW dulu umrohnya dengan berjalan kaki dan ditemani Unta. Begitu beratnya perjuangan Baginda Nabi Besar Muhammad SAW dalam menegakkan Agama Allah SWT sampai harus berhijrah ke Kota Madinah dari Mekah karena diancam dibunuh, lalu ketika sudah kuat pengikutnya beliau datang kembali ke Mekah dengan berbondong-bondong demi menegakkan kebenaran. 
Foto: Miqot di Masjid Bir Ali, Madinah
Segala hal yang diceritakan dalam Hadist dan Kitab Suci Al Quran sangat-sangat jelas dan terasa oleh kita yang berziarah ke Tanah Suci ini. Bahkan saya merasa seperti melihat Al Qur’an dan kebenaran jejaknya, padahal saya baru di Kota Madinah dan Mekkah saja, belum yang lainnya.  

Wednesday, April 3, 2019

Tentang Keberanian Memilih Jalan

Jika kita dikasih dua pilihan antara membuat nasi goreng yang sudah ada resepnya dengan nasi goreng belum ada resepnya, kira-kira kita akan memilih apa?

Saya sepakat jika membuat nasi goreng yang sudah ada resepnya itu jauh lebih mudah daripada membuat nasi goreng yang belum ada resepnya, bahkan jika resepnya itu sangat laku untuk dijual maka kita bisa untung. Tetapi, jika kita membuat nasi goreng yang belum ada resepnya tentu saja hasilnya bisa lebih enak atau kurang enak. Jika nasi goreng yang belum ada resepnya ternyata bisa lebih baik dari nasi goreng yang sudah ada resepnya maka kita melakukan sesuatu diluar yang biasa.

Melakukan sesuatu hal yang diluar kebiasaan inilah disebut keberanian memilih jalan, hal inilah yang dilakukan oleh para startup anak-anak muda milenial yang akhirnya banyak merubah cara sistem bekerja dari cara-cara lama menjadi cara baru yang membuat biaya semakin efektif dan pekerjaan menjadi mudah, atau yang dikenal dengan industri 4.0. 

Orang-orang yang memilih bekerja sesuai sistem yang ada seperti di perusahaan-perusahaan besar atau di kalangan pegawai negeri sipil, merupakan wujud cerminan cara hidup dalam keberanian memilih jalan. Orang-orang seperti ini lebih memilih kenyamanan dalam hidup ketimbang membuat usaha baru yang resikonya lebih besar. Memang tidak ada salahnya memilih jalan seperti ini.

Masalahnya, pesatnya perkembangan teknologi membuat satu persatu cara-cara lama tergantikan dengan cara baru. Tinggal kita, seberapa berani memilih jalan. Apa kita memilih menjadi penonton, dengan membiarkan para startup tumbuh dan merubah sistem. Atau kita memilih menjadi bagian yang merubah sistem.
Gambar: Konvensional yang mudal dilakukan dan Secrets yang sulit dilakukan (Zero to One)

Saya dan beberapa teman sebagai anak-anak lulusan geografi akhirnya memilih berani membangun perusahaan, dan berkomitmen untuk menjadi bagian yang akan merubah sistem yang lama. Bahkan teman saya ada yang tadinya pegawai negeri sipil dari kementrian yang populer, kini memilih berjuang dengan saya untuk menjadi perubah sistem lama.

Monday, October 29, 2018

Ada benarnya kata orang dulu

“Nak.. saat kau nanti kerja pertama kali, jangan pikirin gaji dulu. Ambil ilmunya dulu sebanyak-banyaknya… kelak kau akan belajar banyak darinya…”

Entah apa pesan orang tua jaman dulu, yang mengajak kita untuk banyak belajar dan bukan banyak meminta. Hal ini sudah sangat saya jarang lihat di jaman sekarang, anak-anak jaman now terlihat lebih melihat hasil ketimbang proses. 

Saya sangat bersyukur waktu saya awal-awal kerja dan bahkan sampai sekarang, saya tidak pernah menanya gaji dimana tempat kerja, yang saya pikirkan ilmu apa yang bisa saya ambil di pekerjaan tersebut.

Dan syukur Alhamdulillah saya banyak dipercaya oleh banyak orang khususnya rekan-rekan pemberi kerja dan proyek, sampai akhirnya saat ini saya tidak merasa kesulitan dalam mencari rejeki. Bahkan di tahun awal saya bikin perusahaan, alhamdulillah saya mendapatkan omset 8 miliar tanpa saya harus susah-sudah mencari rejeki tersebut.

Ya mungkin buat teman-teman yang masih galau sama masa depan, perlu ada rasa santai didiri kita, dan mungkin perlu juga mendengarkan lagu-lagu hebat jaman dulu seperti lagu-lagunya Bang Iwan Falls.

Contoh lagu seperti matahari:
Keinginan adalah sumber penderitaan
Tempatnya didalam pikiran
Tujuan bukan utama
Yang utama adalah prosesnya

Kita hidup mencari bahagia
Harta dunia kendaraannya
Bahan bakarnya budi pekerti
Itulah nasehat para nabi

Ingin bahagia derita didapat
Karena ingin sumber derita
Harta dunia jadi penggoda
Membuat miskin jiwa kita

Ada benarnya nasehat orang orang suci
Memberi itu terangkan hati
Seperti matahari
Yang menyinari bumi
Yang menyinari bumi

Ingin bahagia derita didapat
Karena ingin sumber derita
Harta dunia jadi penggoda
Membuat miskin jiwa kita

Sunday, May 27, 2018

Diary yang hilang

Kebiasaan saya ngeblog sudah lama hilang, kebiasaan saya menulis apa saja tentang hidup tiba-tiba saja hilang dalam beberapa tahun terakhir, bukan karena hilang akan cinta menulis dan bercerita, namun kesibukan.

Kesibukan yang terjadi berhari-hari, berbulan-bulan dan bertahun-tahun rasanya telah mematikan mata hati yang original, sampai akhirnya saya sadar bahwa sibuk bukanlah hal yang baik, bahkan sesibuk-sibuknya presiden saja, dia masih sempat bercerita dan membuat vlog. Lah kita apa? Cuma manusia biasa kok bisa sibuk banget.

Tapi ini bukan karena kebetulan, dahulu saat saya nganggur setelah lulus SMA, saya sering berdoa untuk diberi kesibukan, ternyata doa saya dikabulkan sampai saat ini.

Di bulan Ramadhan yang penuh berkah ini saya ingin sekali doa saya waktu itu direvisi, dirubah agar saya diberikan keseimbangan dalam menjalani aktifitas, tidak sibuk tetapi efektif. Amiiiiin….
Semoga saja, diary yang hilang itu bisa kembali hadir

Monday, November 13, 2017

Cerita di Lombok saat Baby L usia 6 bulan

Usia Lintang Matadiraya saat ini sudah 10 bulan, saya pun teringat bahwa sudah 10 bulan lamanya saya tidak menulis blog ini. Saya tidak tahu harus menulis apa di blog ini, tapi setidaknya 10 bulan terakhir ini waktu saya banyak bermain dengan Lintang. Di usia 6 – 7 bulan, Lintang dan mamahnya saya ajak ke Lombok selama sebulan dan setiap hari libur saya ajak jalan-jalan. 

Foto: Pantai Nipah, 2017
Liburan pertama kami ke Pantai Nipah untuk melihat sunset, inilah moment dimana lintang pertama kali menginjak pasir dan kena air ombak pantai.

Foto: Kaki bayi 6 bulan kena air laut
Ya ternaya lintang itu takut ombak, takut suaranya pula. Tapi klo ngeliat wajahnya dia sumringah sekali, seperti melihat planet yang begitu besar.

Foto: Hallo Lintang Matardiraya, Pantai Nipah 2017
Sunsetnya bagus ya dari Pantai Nipah ini

Foto: abi, mamah dan Lintang
Lintang di Lombok semuanya serba pertama kali, dari naik pesawat pertama kali dan ada drama nangis di pesawat karena gak bisa tidur. Naik kapal fast boat pertama kalinya nyebrang ke Gili Trawangan, dia bengong melihat ombak lautan. Naik Cidomo juga bengong, ya maklum anak 6 bulan lagi imut2nya. Sekarang sudah 10 bulan kok rasanya sudah besar, sudah ngerti siapa orang yg dia kenal.
Foto: Lintang 6 bulan dan Mamah, Gili Trawangan 2017
Keseruan pertama di Lombok saat kami jalan ke Gili Trawangan, Lintang ternyata takut suara ombak, dan suara-suara besar. Tapi untungnya Lintang kuat sekali, dia terlihat menikmati perjalanan demi perjalanan dan tidak pernah sakit selama disana. 

Foto: Main di Pantai Pulau Gili Trawangan 2017
Serunya jalan-jalan sama bayi, apalagi ke pulau yg bagus ini, bersih airnya dan bawah lautnya juga masih ada terumbu karang. ya walau tidak sebagus dulu, tetap saja pulau ini seru, seru untuk sekedar istirahat.
Foto: gaul banget kan ya
Lintang juga saya ajak ke KEK Mandalika untuk melihat pantai, namun karena sore anginnya kencang sekali, maka tidak bisa lama2 melihat pantai.

Tuesday, January 10, 2017

Surat untuk Lintang Matadiraya

Surat untuk Lintang Matadiraya…
6 Januari 2017, sore itu kamu masih di dalam perut Ibumu. Bersama abi, ibumu dicek di sebuah klinik dekat rumah, klinik ini merupakan klinik terdekat dengan rumah, karena rumah kita merupakan perumahan di suatu desa yang lumayan jauh dari pusat kota. Kata dokter, ibumu sudah pembukaan 1, bila sampai pembukaan 10 maka bisa lahiran. Abi dan ibumu panik, karena prediksi kelahiranmu masih sekitar 2 minggu lagi. Malam hari nenek bersema ante dinot datang dari Jakarta untuk menemani kita. Dan jam 7 malam diperiksa lagi di klinik katanya sudah pembukaan 2.

7 Januari 2017, jam 1 malam ibumu gelisah, setiap 5 menit dia mules, disitulah abi mulai merasa bahwa kamu akan hadir. Jam 1 malam itu ibumu, abi boncengin naik motor ke klinik yang biasa kontrol dekat rumah. Untung langit cerah, karena klo hujan jalanan akan becek dan licin. Sesampai di klinik, kata bidan, sudah mau pembukaan 3, mungkin masih lama lahirnya. Ya malam hari di klinik tidak ada dokter, hanya ada bidan 2 orang yang siap menunggu ibu-ibu yang ingin lahiran. Akhirnya abi dan ibumu memutuskan untuk pulang kerumah, karena katanya masih lama, dan wajar bila ibumu akan mules terus.

Dirumah dari jam 01.30– 04.00 dini hari, ibumu tidak bisa tidur dan sering sekali mules, sampai akhirnya nenek menyuruh kita ke klinik. Ya kita ke klinik lagi dengan motor. Sampai di klinik, ibumu tiduran sambal mules setiap menitnya.

Jam 6 pagi, ibumu teriak-teriak kesakitan sambil mules-mules, abi sampai diomelin gara-gara menyuruh ibumu jangan teriak. Bidan abi bangunin untuk mengecek ibumu, dan ternyata benar, sudah pembukaan 10, dan siap lahiran. Di ruangan itu, hanya ada 2 bidan, ibumu dan abi.

Berkali-kali abi melihat kepalamu nongol, tapi berkali-kali itupula ibumu tidak berhasil mengeluarkanmu. Sampai akhirnya jam 6.30 pagi, kamu benar-benar keluar. Ajaib, Subhannallah….

Abi melihat selaput-selaput yang menutupi kulitmu, sambil dibersihin oleh bidan, bidan satunya lagi sedang membersihkan dan menjahit kemaluan ibumu yang kesakitan saat mengeluarkanmu. Abi perhatikan kamu dari ujung kepala sampai ujung kaki. Airmata abi mengucur sendirinya tiada henti, terharu sekali. 

Jam 6.45 setelah kamu bersih, abi meng-Azankan-mu. Sangat jelas sekali didepan kepalamu. Pertamakalinya kamu membuka kelopak mata, dan langsung melirik abi, ketika abi Azaan. Abi tersenyum, menetes air mata karena haru. Ingat ya dek, kamu lahir pada tanggal 7 Januari 2017, sekitar jam 6.30, sebuah angka ganjil yang cantik. 

Foto: Lintang Matadiraya 7-1-2017

Tentang Namamu

Ibumu, dari awal kehamilanmu ingin sekali punya anak bernama Lintang, kebetulan abi tidak mempermasalahkannya, karena nama lintang lumayan bagus. Kata ibumu, teman-temannya yang bernama lintang selalu pintar, semoga bisa menular ke kamu dek. Sedangkan nama Matadiraya abi ambil dari nama seorang anak, yang ibunya merupakan seorang penulis novel dan media berita yang abi kagumi. Tulisan-tulisannya bagus dan bernilai tinggi yang bercerita tentang keadaan sosial dan masyarakat Indonesia, bukan tulisan yang komersil.

Abi sendiri memiliki tafsir dari namamu Lintang Matadiraya. 
Lintang merupakan sebuah garis vertikal dalam sumbu koordinat bumi, vertikal ini ibarat sebuah hubungan antara Tuhan dan Manusia. Ya… dalam nama itu terselip agar kamu hendak selalu dekat dengan Allah SWT, kelak kamu menjadi Bintang yang mampu menyinari cahaya di sekelilingmu. Cahaya yang terang, yang memberi kemanfaatan bagi sesama manusia, bahkan terhadap hewan, tumbuhan dan lingkungan. Lintang bermakna cahaya seperti para nabi dan alim ulama, yang dipimpin oleh nabi kita, Nabi Muhammad SAW.

Matadiraya, dalam doanya agar kamu dapat melihat dengan mata hati dan pikiranmu sebaik-baiknya dalam melihat alam raya ini. Agar kamu mampu melihat alam raya dengan menyeluruh, tidak separuh-separuh. Sehingga kelak kamu akan menjadi orang yang bijak, bukan orang yang emosian dan bukan menjadi orang yang sombong. Jadilah bijak karena petunjuk Allah SWT, seperti doa dalam Surat Al Fatteha. 

Meskipun abi tidak memberikan nama dari Bahasa arab ataupun nama-nama Islam, tetapi ketahuilah bahwa dalam namamu terselip doa, dan agar kamu dapat mengikuti akhlak dari pemimpin kita, yaitu Nabi Muhammad SAW.

Lintang Matadiraya, gunakanlah hati, pikiran dan badanmu sebaik-baiknya seperti lirik lagu Iwan Fals untuk anaknya yang bernama Raya. Raihlah ilmu sebaik-baiknya agar menjadi mutiara seperti lagunya Netral yang berjudul Lintang.

Lintang, berjalanlah di bumi dengan senang tanpa ingin disukai oleh orang lain, iklhaskan diri menggapai hidup yang mulia. Jangan lupa untuk selalu menolong orang-orang yang membutuhkan. Raihlah apa yang kamu cita-citakan dan jangan patah semangat, bila berhasil bersyukurlah, dan bila gagal jangan pernah mengeluh ataupun putus asa. Karena proses itu sesungguhnya lebih penting dari sebuah hasil.