Thanks.. to uma: ud ngajarin gw argis n ngasi pinjem duit. To Harris: ngajarin Arcgis sampe gw ngantuk. To Mas Toto: minjemin kemeja. To Wandi: nganterin gw pake motor. To Ringga: Minjemin motor. To Sidik: menjemin sepatu pantovel. To Adi geo'02: yg uda ngajak gw kerja. SUMPAH... hari ini pertama kerja di kantor & gw gak punya apa2... gak akan gw lupa tanggal 11 11 09
"gw pengen kaya biar cepet nikah" sms saya ke seorang wanita. Keesokannya wanita itu bilang "kebahagiaan bukan karena uang, gw gak bisa dibeli.." dan lain-lain yang intinya cinta dan kebahagian gak bisa dengan uang. Saya sangat setuju dengan kata-kata seperti itu, ketika dia bilang seperti itu hati saya langsung terasa ditegur... yup selama ini memang mimpi ini selalu ingin menjauhi kehidupan yang membosankan.
Kemarin saat menonton film festival eropa di Erasmus Huis (semua film saya tonton), banyak pelajaran yang bisa saya petik karena film2 tersebut menceritakan kisah kehidupan yang real... akhirnya bukan tambah ingin ke eropa, malah hati ini ingin cepat kembali ke orang2 yang saya sayangi seperti Mamah dan adik2 serta teman-teman yang banyak menghiasi hidup ini... Entah kenapa jadi bosan dengan mimpi-mimpi...
Memang saya punya banyak pengalaman pahit ketika saya benar2 merasa sulit dengan kurangnya materi dan kasihsayang, dan perlahan-lahan bangkit ketika saya bisa kuliah tanpa bimbingan guru dan orang tua. Sombong... namun memang itu yang terjadi... Sekarang semuanya menjadi paradoks, apa yang saya lihat didunia kampus serta ditambah wawasan saya dapat ternyata, apa yang saya tahu tentang kehidupan dari sebuah lagu2 Indonesia yang menceritakan sebuah cinta, kehidupan dan politik... ternyata itu sebuah kenyataan.
Sedangkan yang saya temui dilingkungan kampus dan orang2 hebat ternyata hanyalah sebuah teori yang banyak melupakan perasaan... yups perasaan inilah yang sering dikorbankan. Ingin mapan dan kaya sampai harus melupakan cinta...
Saya sempat bertanya pada teman-teman saya apa cinta butuh uang... kebanyakan mereka menjawab iya dengan alasan yang bermacam-macam... saya memang belum tahun tentang cerita yang saya tulis ini, dan mudah2an saya mendapatkan jawabannya secepatnya. Apakah uang menjadi hal utama?
Saya baru saja membeli sendal dengan merek ando, lucunya semua teman-teman saya pun sudah membeli sendal ini. Beberapa minggu terakhir ini teman-teman saya ini tinggal di kostan saya di Jagakarsa dekat dengan halte UI. Ini bukan pertama kalinya kami tidur ramai-ramai dalam satu ruangan. Sejak pertama kali masuk UI pun kami memang sering ngumpul seperti ini, hingga 4 tahun lebih ini masih saja seperti ini walau dahulu pernah diantara kami mempunyai kesibukan tersendiri.
Dari kumpulan ando (anak dongo) ini, saya termasuk beruntung karena sudah keluar dari lingkungan departemen geografi yang katanya agak sulit lulus cepat. Lambat laun saya meminum racun yang menyebabkan saya ingin sekali ke eropa. Ke Belanda, Perancis, Jerman, Italia, Barcelona dan lain-lain.
Alas an saya ingin ke sana karena saya merasa kurang tantangan hidup. Terkadang rasanya ingin kerja lalu menikah, namun saya tidak bisa membayangkan betapa bosannya hidup jika harus menjalani secara datar dan statis.
Saya sadar IPK saya tidak mencapai 3 dan English saya masih kacau, namun semangat ini telah melebihi kemampuan dasar saya, mungkin seperti para pejuang 45. Hehehe…
Sudah dua bulan saya lulus kuliah dan masih saja menjadi pengangguran, memang saya ikut proyek namun saya anggap itu bukan pekerjaan, hanya sebatas iseng, seperti mengajar private juga. Saya tidak peduli apa kata orang kenapa saya masih nganggur, tak peduli orang bilang bagaimana masa depan, bagaimana bisa berkeluarga,…. Yups saya tak peduli dengan itu semua. Saya hanya ingin menjalani hidup ini apa yang saya senangi, saya tak suka diatur, tidak suka diperintah, tidak suka dengan kebohongan… saya ingin melakukan apa yang saya ingini seperti ke eropa, belajar English n ducth…
Ada orang yang bingung untuk apa berdoa, ada pula yang kerjanya hanya berdoa. Ada orang yang berusaha mati-matian untuk mendapatkan impiannya, ada pula orang yang hanya bermimpi namun tak berusaha. Ada orang yang berusaha untuk mendapatkan kebahagian, namun ada pula yang merasa sudah bahagia. Negeriku Indonesia dengan ragam budayanya sangat bervariasi, masing-masing mempunyai keyakianan yang kuat. Cara berfikirnyapun didasarkan atas banyak dorongan seperti agama dan kepercayaan hingga tidak heran bila negeri ini sibuk memperdebatkan keyakinan tanpa ada yang mau mengalah. Semuanya merasa paling benar. Negerikku Indonesiaku memiliki tanah dan laut yang luas. Sangat luas sampai-sampai orang asing beramai-ramai datang untuk mencari sumberdaya yang akan menghasilkan uang nantinya. Namun akhirnya ini sangat ironis bila melihat kenyataan yang ada. Justru negeri ini memiliki jumlah pengangguran terbesar di kancah asia tenggara. lalu... kemana tanah ini? Kita semua pasti tau bahwa tidak ada tempat di tanah bumi ini yang tidak memiliki sumberdaya, ini sudah dikatakan dalam Al Qur'an bahwa tidak ada yang sia-sia di muka bumi ini. Coba lihat daerah bantul yang kering lontang seperti tak ada kehidupan dengan tanah berbatu atau kars yang kering sepanjang tahun, namun ternyata memiliki satu kelebihan yang sangat mahal yaitu tumbuh subur pohon jati. Coba bayangkan berapa harga pohon jati? Kalimantan yang luas memiliki pohon yang beruang. Papua dengan emasnya. Bangka dengan timahnya. Irak dengan minyaknya. Mahatma Gandi pernah bilang dunia ini cukup untuk menghidupi seluruh manusia asal tidak ada keserakahan. Peraih nobel, Paul Krugmen dengan New economic geography tahun 2008 lalu pun menuturkan betapa dunia ini semestinya mampu membiayai hidup seluruh manusianya, dengan melihat produksi unggulan disetiap wilayah. Semestinya Indonesia dengan ragam sumberdaya alamnya pun mampu menyetarakan kemakmuaran, bukan dalam mimpi, namun seharusnya sudah terjadi. Saya terkejut sekali dengan pemikiran Pak Presiden pertama kita yaitu Bung Karno yang dalam idenya Ibukota negara akan dipindahkan ke Palangkaraya Kalimantan, bukan lagi di Jakarta. Semua ahli lingkungan dan ekonomi tahu bahwa pindahnya Ibukota negara ini akam membawa kemakmuran yang merata, hingga tidak semeraut ini. Jakarta sudah sangat kacau, bukankah dengan melihat Ibukota negaralah maka akan terlihat seluruh negara? Yang lebih mengherankan lagi Pulau Jawa semakin banyak pembangunan jalan padahal jumlah manusia semakin bertambah dan makanan utama negeri ini yaitu padi hanya dapat tumbuh subur di Jawa. kedepan mungkin kita harus impor beras... Mebicarakan inilah yang membuat saya tertarik bergelut dalam ilmu geografi ekonomi, bukan GIS yang lagi ngetren saat ini... yup, mudah2an ada jalan belajar di eropa, negeri legenda yang penuh peradaban...
Setelah lebih dari seminggu melakukan pekerjaan yang sangat sederhana, yaitu dengan melakukan survey BTS di Jakarta Timur, saya terpaksa melihat kehidupan manusia di berbagai kalangan. Banyak hal menarik yang saya dapatkan, banyak pula hal-hal yang saya tak pernah ketahui sebelumnya. Bukan masalah uang honor yang saya dapatkan.
Sebagai sarjana geografi ini merupakan pekerjaan murahan, namun apa yang saya lihat dari kehidupan yang saya lewati dan temui, ini merupakan pelajaran yang sangat menarik. Yupsss…karena saya memang senang melihat kehidupan.
Ada yang kaya, ada yang miskin. Ada yang biasa saja, ada yang istimewa. Ada yang baik, ada yang galak. Ada yang cantik, ada yang jelek. Hal hal yang sangat luar biasa… mereka semua bergerak namun saya hanya dapat melihat. Mereka mempunyai kesibukannya masing-masing.
Terkadang hal-hal seperti inilah yang membuat saya bersyukur, atau malu dengan alam. Seandainya saya menjadi orang yang bisa berbagi… hmmmm… menyenangkan
Satu yang paling dalam jika melihat sepasang suami istri sedang pulang ke rumah… omaigad, hati ini luntuh luruh mengetuk hati untuk segera berfikir tentang kesederhanaan hidup yang indah… berkeluarga
cui... gw pengen keliling dunia, gak tau gimana caranya tapi gw tetep pengen. Klo bisa hari ini, ya hari ini dah jalan... enggak tau kenapa pengen kesana.
pertama kelilingi eropa lalu merembet kesekitarnya...