Thursday, June 24, 2010

Menulis, bikin slow...

Foto : hasil menulis

Menulis, buat saya adalah hal yang menyenangkan. Nyawa saya seperti ada dua, bahkan lebih. Saya selalu berbagi dan menjawab sendiri hal-hal yang tak nyata, selalu enjoy walau terkadang orang lain tak mengerti apa yang saya tulis. Dan bukan tidak mungkin bila saya ingin membuat suatu tulisan yang kelak akan memberikan warna pada dunia.

Dengan menulis, sedikit bisa mengurangi suara mulut saya yang bawel. Boleh dibilang sebanarnya saya termasuk orang yang tidak suka diam, selalu ingin bergerak dan terus bergerak. Dengan menulis, segala umet-umet yang ada dipikiran bisa hilang begitu saja. Semacam obat saja, tapi begitulah adanya.

Tentang hidup, cinta, perjalanan dan mimpi adalah topik yang paling saya sukai. Sebenarnya sih saya ingin sekali menulis tentang penelitian, yap mungkin suatu saat nanti. Apa yang diteliti saja saya belum mengetahuinya.

Ada beberapa hal aneh yang mengalami diri saya, saya sering mengalami kejadian yang tidak saya sukai. Seperti dalam bekerja ini, sejak kuliah dulu saya sangat tidak suka dengan yang namanya GIS (Geografi Informasi Sistem), tapi kini malah bekerja dibidang sana. Untungnya saya masuk dalam divisi IT, bukan murni GIS. Saya juga tidak menyukai PNS, tapi kini malah dapat tugas di lingkungan PNS, huhhh….. ya wies gpp, nikmatin aja…

…. + . + …

Tapi itu semua membuat saya tahu banyak tentang sesuatu yang saya tidak sukai. Ternyata, memang tidak menyenangkan. Hahahaha…….

Lalu apa yang saya inginkan? Saat ini saya hanya ingin kemampuan English saya menjadi bagus, lalu saya membuat proposal penelitan tesis untuk mencari beasiswa. Hanya sampai itu yang saya inginkan, saya ingin merasakan hidup di negeri yang jauh, belajar di sana lalu mempraktikannya di Negeri yang saya cintai ini… mudah-mudahan bermanfaat…

Lalu bagaimana dengan nikah, nah ini ni yang penting…. Saya perhatikan kebanyakan orang-orang yang mengejar karir, ataupun jiwa petualang, rata-rata mereka menikahnya telat… huammmm… walau jiwa-jiwa itu ada di diri ini, saya berharap tentang ini jangan sampai lama-lama berlarut dalam ketidakjelasan…

Tak perlu takut, tak perlu ngeluh, tak perlu curang….
Tetap merasa kecil, tetap merasa bodoh, tetap mengalir apa adanya…
Seperti kata Jose Mourinho, “Karena Mimpi… tidak sama dengan Ambisi”.

Monday, June 21, 2010

Apakah Dia menginginkankan saya menjadi orang sukses?

foto : created by kabel, aplri 2010

Sambil mendengarkan lagu-lagu Paramore di album All we know is, di ruangan kerja saya yang selalu dingin, di jam kerja ini saya mencoba diam sejenak.

Saya amati satu persatu yang ada di sekeliling saya, lalu saya meloncat loncat dan menggeleng-gelengkan kepala di saat lagu sedang ngebit keras. Lalu saya bertanya-tanya untuk apa ini semua ? mengapa semuanya ada di keliling saya ? sayapun bingung tak bisa menjawabnya…

Gila ya, pertanyaan kayak gini aja gue gak bisa jawab. Ya wies… kita loncat-loncat aja sesuai irama di pagi hari senin ceria ini… sambil bicara sendiri gak jelas seperti ini :

Kalau ada orang yang bilang “apa si yang lu mau ?” gue akan jawab “uang yang buuuaaaaaaanyak…”.
Trus “cewe seperti apa si yang lu mau?”, gue pasti jawab “yang cuuuuaaaannntikk n keren…”
“Apa si hoby lu ?”, gue pasti jawab “ya jalan2 lah….. apalagi sama cewe, beuhhhh romantis abis gilaaaaa…..”
“klo ada kesempatan S2 lu mau dimana?...”, “ di eropa donkkkksssss….”
“nah lu, tar meridnya kapan?”, “jiahhhhh, nikah disana juga bisa….”
“emang bisa harta yang banyak membuat lu bahagia?”, gue jawab “ emang dengan harta yang dikit juga bisa bahagia?”
“emang cewe cantik bisa buat lu bahagia?”, “hohoooo…. Pasti donk, klo enggak ya dicerein aja si… hikhikhikkk”
“jalan-jalan terus kan ngabisin duit ? “, “biarin aja, yang penting santai…”
“lu gak mikirin orang miskin apa ya?”, “pale lu pitak gue gak mikirin, makanya gue pengen kaya biar bisa bagi2 rejeky… heheee”

Yap, begitulah kawan cara saya menilai kesuksesan yang sebanarnya saya tidak tahu seperti apa. Asal orang tua senang, asal adik-adik saya bahagia, asal orang-orang yang di sekeliling saya senang, asal sahabat-sahabat saya bisa hidup layak, asal mereka semua ada di sekeliling saya… saya bahagia… dan bisa kembali meloncat-loncat sambil mendengarkan musik…

Tuesday, June 15, 2010

Entrok...

foto : Book cover (http://madasari.blogspot.com/2010/03/entrok.html)

The finally, I’m success to read the book which I was buy more two month ago. Entrok is the novel which write by Okky Madasari. The novel tells a life of Javanese in 1950 until 1990, about buffethings a woman to life with her conviction. As novelist, she was success to published the first her novel in april 2010, with the title book is “entrok” which write in Indonesia language.

There are many moral value in this book. For example, we can see the true love of mother to child. Religi and culture are fascinating in this book. We can be imagination about attitude of government and public. Don’t hesitate, if you’re Javanese, you may have to read.

I know Okky madasari by her blog, she is journalist who can write a good novel now. I think we have to learn from her write.

Monday, June 14, 2010

Still like that...

foto : Gili Trawangan, agust 2009.

There was a time when I studied in college and lived in small room. I wanted to be writer who tell about life. I had wroted about my experience, now that book just still a save in my computer.

Not only writed the book, I had been a dream. Someday I wish I could be stay in Europe to study and traveling. But now, sometimes I feel I can’t to be like that, I don’t know why I like the one who confused to my self. Sometimes I feel bored, but sometimes I feel so enjoy.

When I was worked before, my life used to slow and free. I could be laugh so happy, nothing cared at all. Now, I’m into new life which very busy, life in Metropolitan. We can see how people could be voracious. So there are many poor and lie.

Now, are you still have dream? Are you still want to around the world ? my answer is yes, I’m still like that…


Thursday, June 10, 2010

Mengenang satu tahun Expedisi Lombok

foto : Pelabuhan Lembar, Lombok Agustus 2009

Jam 05.30 WIT dari kapal fery yang mengangkut kami dari Pelabuhan Padangbay menuju Pelabuhan Lembar dihantui bayangan bukit-bukit yang terlihat jelas berhamparan di Pulau Lombok. Di bagian utaranya berdirilah tegak sebuah gunung tercantik yang pernah ku dengar di Indonesia, Gunung Rinjani, sungguh menantang kami untuk menapakinya.

Sorot matahari terbit dari timur dengan warna kemerah-merahan dari langit yang sebelumnya gelap gulita, kini menjadi daya tarik bagi kami yang belum pernah melihatnya. Keindahan bentang alam Pulau Lombok sudah terlihat ketika kami masih di Selat Lombok. Para penumpang yang tadinya terlelap tidur kini berhamburan mendekati dek-dek luar melihat warna di sebelah timur sana.

foto : Kapal Ferry Pel. Lembar, Lombok Agustus 2009

Perjalanan menggunakan transportasi laut seperti kapal fery, membutuhkan waktu sekitar 4,5 jam dari Pelabuhan Padangbay (Bali) menuju Pelabuhan Lembar (Lombok). Keberangkatan kapal ini tersedia 24 jam yang siap angkut sekitar 15 sampai 30 menit sekali. Di Kapal ini terdapat kantin dengan harga rata-rata lebih mahal dari biasanya, namun terkadang terlihat pedagang asongan yang mondar-mandir menawarkan makanan ataupun oleh-oleh dengan harga yang sama seperti biasanya. Seperti Pop Mie, jika kita membeli di kantin kapal maka harga mencapai Rp 9.000 sedangkan di tukang asongan hanya Rp 5.000. kapal dengan tarif orang dewasa seharga Rp 31.000 ini juga menyediakan penyewaan kamar untuk tidur dengan harga sekitar Rp 25.000.

Pelabuhan Lembar merupakan pelabuhan yang dikelola oleh PT. Indonesia Ferry, sama seperti Pelabuhan Ketapang, Gilimanuk dan Padangbay. Dalam catatan PT. Indonesia Ferry yang merupakan Badan Usaha Milik Negara (BUMN), keuntungan yang didapat pada tahun 2008 mencapai lebih dari 200 juta. Kini Pelabuhan Lembar menjadi prioritas perbaikan PT. Indonesia Ferry.

Rasa senang berbaur bingung menyelimuti kami ketika kaki menginjak tanah Lombok, karena kami semua ini belum pernah ada yang ke Lombok. Kami memilih duduk di dekat WC umum yang bersebelahan dengan warung-warung di bagian utara pelabuhan. Tiba-tiba munculah seorang bapak-bapak dengan logat yang tak biasa kami dengar, ia menawarkan jasa transportasi.

Tujuan pertama kami sampai di Lombok yaitu Mataram, karena di sini kami dapat berbelanja logistik untuk pendakian yang rencananya akan kami jalani esok hari. Ada beberapa pilihan moda transportasi menuju Mataram. Dengan taksi yang dapat memuat empat penumpang, kita akan membayar tarif sekitar Rp 40.000 dan dengan angkutan umum sekitar Rp 10.000/orang. Kami sendiri menyewa mobil L200 di bapak-bapak yang datang tadi dengan harga Rp 10.000/orang, padahal harga pertama yang ia tawarkan sebesar Rp 30.000/orang.

Sekitar 45 menit sampailah di Mataram, tepatnya di Gebang Baru, di sini kami singgah di rumah teman yang asli penduduk Lombok untuk beristirahat sejenak, berbelanja dan mandi. Sudah dua hari dua malam kami tidak mandi karena jalur yang kami lalui adalah jalur darat dan laut. Tanpa pesawat terbang, hanya dengan kereta, kapal dan mobil, untungnya fisik kami masih sehat-sehat saja.

Perjalanan menuju Mataram dari Lembar terlihat banyak sawah dan jagung yang tersebar di sisi jalan utama yang kami lalui. Di angkot juga terdapat penumpang lain yang kebanyakan bapak-bapak dan Ibu-ibu dengan bawaan yang tidak sedikit, entah apa yang dibawa tapi sang Ibu yang sudah keriput dengan baju tradisional itu sepertinya membawa sayur-sayuran. Rumah-rumah terlihat sederhana diantara sawah dan jalan.

Belanjaan untuk pendakian ke Gunung Rinjani kami dapatkan di Mataram Mol. Rincian harga belanja yang kami buat (Manajemen makanan untuk pendakian), mengikuti harga standar di Jakarta, sehingga kami tidak khawatir harga akan meningkat bila harus beli di Mol. Di sini kami mendapatkan makanan yang biasa kami bawa ke gunung seperti Ikan Sarden, Bakso, Sayur, Bumbu dapur, Mie dan lain-lain. Untuk air minum ternyata di Lombok mempunyai sumber mata air yang dijadikan minuman botol air putih, yang bernama Narmada . Air minum ini dikelola oleh PT. Semoga Awet Muda yang diambil di Taman Nasional Narmada, di kaki Gunung Rinjani bagian selatan.

Siang hari terlihat sangat terang seolah-olah panas membakar, namun hawa yang kami rasakan selalu sejuk dengan angin yang sepoi. Setelah semua persiapan telah selesai di Mataram, jam 3 sore kami menuju Senaru (utara G.Rinjani) melalui jalur barat yang katanya dapat melihat keindahan Pantai Senggigi dan Gili-gili yang terkenal di dunia itu. Untuk menuju ke sana kami menyewa dua mobil angkot kecil dengan harga 450 rb.

foto : Pantai Sengigi Lombok, Agustus 2009

Awalnya keindahan ini hanya sebatas pemandangan pantai, ketika semakin ke utara ternyata kami harus menanjak, turun, nanjak lagi dan turun lagi. Semakin seru saja karena pemandangan semakin sangat memesona, terlebih ketika kami ada di atas bukit dengan lereng terjal langsung ke bibir pantai. Kami lalui bukit berbatu yang bersebelahan dengan pantai yang indah, dtiemani awan putih dan langit yang merah merona karena matahari akan tenggelam.

1,5 jam mobil angkot berjalan, Gili air, Gili Meno dan Gili Terawangan terlihat menggoda kami untuk sekedar bercanda dengan kecantikan alamnya. Di sisi jalan yang berbukit terdapat tempat peristirahatan dan warung-warung kecil, disitulah orang local dan turis menikmati alam sambil mendokumentasikannya.

Jam 7 malam sampailah kami di Rinjani Homestay. Rinjani Homestay merupakan salah satu penginapan yang tersedia di Senaru. Di Senaru kini terdapat 11 penginapan dengan harga Rp 60.000 – Rp 300.000 per kamar. Pada musim liburan seperti pada bulan agustus ini, kamar-kamar di setiap penginapan penuh diisi turis-turis asing. Di setiap penginapan biasanya tersedia rumah makan, seperti di Rinjani Homestay harga makanan berkisar Rp 15.000 – Rp 30.000. Setiap penginapan menyediakan Track Organistation yang akan membantu para turis untuk mendaki, yang menyediakan porter, gaet dan penyewaan alat-alat pendakian.

Di Senaru terdapat 15 Track Organitation Manajemen. Untuk turis-turis asing biasanya bisa kena Rp 1.000.000 untuk porter yang siap memasak dimanapun turis mau. Namun, karena kami merupakan anak pecinta alam yang memiliki manajemen perjalanan sendiri, maka makanan dan alat-alat pendakian sudah siap kami bawa sejak awal tanpa perlu bantuan Track organitation Manajemen. Setelah makan malam di kantin Rinjani Homestay, kami terlelap tidur. Empat kamar Rinjani Homestay yang menghadap barat kami isi penuh.

Jam 5 pagi, di kamar mandi Rinjani Homestay sangat menakjubkan. Sambil membasuh muka dengan air yang dingin kita dapat melihat matahari terbit, bintang-bintang sungguh membuat suasana menjadi sangat sejuk. Kami terasa mandi di alam yang bebas karena matahari memberi lekukan bayangan Rinjani dari sinar merahnya yang perlahan membuat bumi semakin cerah.

Satu persatu kami mandi, dan jam 8 pagi kami sarapan dengan nasi goreng. Ada satu hal yang sangat istimewa di Lombok, yaitu khas dengan sambal yang pedas. Kata teman kami yang berasal dari padang, di sini sambalnya lebih pedas dari Padang. Selesai makan, jam 9 kami menuju Entrance pendakian jalur Senaru.

Di Entrance Senaru kami bertemu dengan penjaganya yang memakai baju Dinas Pariwisata Lombok. Di kaca tertulis Entry Ticket Rp 200.000, mahal sekali. Ternyata itu sengaja ditempel untuk wisatawan mancanegara, sedangkan untuk wisatawan lokal hanya Rp 10.000. Di kantor ini kami melihat peta-peta besar yang menggambarkan titik-titik menarik jalur pendakian Gunung Rinjani seperti air terjun, mata air dan rumah suku sasak.

foto : Entrance Senaru Rinjani, Agustus 2009

Gunung Rinjani memiliki puncak ketinggian 3762 mdpl, gunung yang masih aktif ini mempunyai kawah besar yang kini membentuk danau. Di tengah-tengah Danau Sarakan Anak itu terdapat anak gunung yang sekarang sedang aktif dan dapat meletus sewaktu-waktu, nama anak gunung itu Barajuni. Ketika kami tiba di kantor Entrance Senaru, kami diminta untuk tidak turun ke danau karena lahar dan asapnya sangat berbahaya bagi para pendaki. Ini berarti pada kesempatan kali ini kami tidak akan sampai ke Puncak dan tidak turun ke danau yang dapat memancing. Namun kata penjaga tersebut, kami akan melihat lahar anak gunung di malam hari dengan sangat indah dan menakjubkan karena fenomena ini jarang terjadi, bisa 10 tahun sekali bahkan lebih.

Hari pertama pendakian kami berencana ngecamp di pos 3 yang merupakan batas vegetasi menuju pelawangan. Dari informasi yang kami dapatkan di internet maupun pusat track manajemen Rinjani, bahwa terdapat sumber air atau mata air di pos tiga. Karena itu sejak perjalanan dari entrance kami tidak banyak membawa air. Enam wanita membawa masing-masing 1 botol air 1,5 lt dan 7 laki-lakinya membawa 2 sampai 3 botol 1,5 lt air.
foto : Post 3 Senaru Rinjani, Agustus 2009

Perjalanan menuju pos 3 dipenuhi dengan pohon-pohon besar tropis yang basah dengan kemiringan lereng sekitar 45°. Dalam perjalanan ini kami bertemu dengan pendaki lain yang kebanyakan turis asing. Cantik-cantik dan ganteng-ganteng, dengan pakaian khas mereka yang serba minim membuat kami semangat. Mereka semua mendaki ditemani porter atau gaet, karena petugas tidak mengizinkan orang asing mendaki tanpa ditemani orang local. Oleh karena itu mereka mendaki tak lebih dari dua hari karena tidak membawa beban yang berat seperti kami.

Bermalam di post 3 yang banyak keranya cukup membuat kami tegang. Kera-kera itu lumayan besar dengan gigi bertaring dan berbulu lebat. Sering teriak dan berkelahi dengan kera yang lain. Mereka mengelilingi kami yang sedang asik masak pada pagi hari, meleng sedikit makanan kami dicuri. Lebih seram lagi ternyata persediaan air kami semakin menipis dan tak akan cukup untuk sampai pelawangan senaru.

Tiga anggota kami mencari sumber air dengan bertanya kepada porter yang lewat. Dari patahan di pinggir lembah yang menetes di tepi sungai musiman yang kering karena ini musim kemarau, terkumpul air di cekungan yang kecil. Walau kolam sumber air ini terlihat kecil dan kotor, kami mampu membawa 12 botol air 1,5 lt. ini merupakan cara surfival bagi kami, tak peduli walau di dalam air tersebut terdapat encu / cacing nyamuk.

foto : Pemandangan setelah post 3 Rinjani, Agustus 2009

Berjalan santai sekitar 5 jam dari pos 3 sampailah kami di puncak pelawangan Senaru pada sore hari. Di sini, tidak ada yang bisa kami ceritakan lagi selain keindahan alam yang rasanya tidak dapat ditemukan di tempat-tempat lain di seluruh dunia. Puncak Rinjani menantang kami untuk datang, begitu pula Danau Sarakananak yang hijau kebiru-biruan sedang menenangkan alam Rinjani. Di tengah danau berdirilah tegak gunung kecil yang aktif, yang mengeluarkan asap dan terlihat merah lahar turun ke danau yang menyebabkan sebagian danau berwarna kekuningan dan kemerahan.

Pemandangan menghadap timur dari camp senaru
foto : Puncak Rinjani, Barajuni dan Danau Sarakananak, Agustus 2009


Pemandangan menghadap barat dari camp senaru
foto : awan, sunset, laut dan Gunung Agung Bali terlihat, Agustus 2009

Pantaslah Gunung Rinjani banyak dikunjungi oleh wisatawan mancanegara dari berbagai santero dunia, bermacam-macam bahasa, budaya dan wajah. Di sinilah kesempurnaan alam terasa nyata, menjelang malam terlihat matahari terbenam di sebelah barat sehingga Gunung Agung di Pulau Bali ikut terlihat. Cantik, sungguh cantik karena awan-awan putih menyelimuti permukaan bumi dan kami ada di atas awan tersebut.
foto : Camp Senaru, Agustus 2009

Menghadap ke barat terlihat matahari terbenam dengan pemandangan awan-awan, sedangkan ke timur kami dihadiahkan pemandangan Puncak Rinjani, Danau Sarakananak, anak gunung yang berlahar dan terasa sempurna karena bulan purnama terbit bersama matahari tebenam. Semakin malam, semakin dingin terasa dan lahar merah Gunung Banranjuni semakin terlihat istimewa. Pemandangan yang entah kapan bisa kami lihat lagi. Beberapa pasangan wisatawan mancanegara terlihat saling berpelukan dan berciuman. Waww… menakjubkan.

foto : Camp Senaru, Agustus 2009

Masak apa saja dan makan apa saja, asal ditemani minuman hangat rasanya dunia ini milik kita kawan. Kami tidak tahu apakah ini di Indonesia, di Surga atau Afrika, tidak tahu ini ada dimana karena seluruh wajah dunia berkumpul di sini dan saling berbagi cerita. Hanya bisa bersyukur pada Tuhan, karena ternyata ciptaannya begitu indah.

foto : Tim GMC (Geography Mountainering Club) UI , Agustus 2009

Perjalan turun Rinjani dari Pelawangan Senaru cukup memakan waktu karena jalan yang berpasir ditambah batu-batuan dengan daerah terbuka yang jarang sekali vegetasinya. Untuk wanita, ini cukup berisiko jika berjalan cepat karena kaki mudah terkilir dan terjatuh. Kami lihat ada beberapa wisatawan mancanegara dengan rambut yang pirang terjatuh dan luka-luka di track ini. Kami meninggalkan pelawangan jam 10 pagi setelah menyanyikan lagu Indonesia Raya, kami sadar ini milik negeri kami, negeri yang sedang berjuang untuk maju.

foto : Pelawangan Senaru, Agustus 2009

Sebenarnya turun gunung di sini tidaklah sulit, bagi para laki-laki mungkin hanya 5 jam saja saja. Namun karena anggota kami terdapat wanita, diantaranya ada yang belum pernah mendaki gunung dan kini mengalami engkle sehingga perjalanan turun ini mencapai 7 jam atau sama dengan jam 5 sore sampai di entrance.

Malamnya kami kembali ke Rinjani Homestay untuk beristirahat sampai esok pagi. Keletihan saat mendaki terbayar di sini, sebagian teman kami ada yang sampai menyewa tukang pijit. Ketika mandi dan tersentuh air, rasanya sungguh nikmat, bau keringat hilang namun pengalaman menjadi abadi. Semuanya semakin sempurna ketika badan ini tergeletak di kasur sampai mata terlelap hingga esok pagi.

---- Menuju Gili Terawangan ---

foto : Gili Trawangan, Agustus 2009

Hari keempat di lombok, kami meninggalkan Rinjani Homestay di pagi hari, lalu pergi menuju sebuah pulau kecil di bagian barat laut Pulau Lombok. Gili Trawangan, sebuah pulau kecil dengan pantai pasir putih yang luasnya sekitar 6 km2 yang dihuni sekitar 800 penduduk. Terdapat banyak penginapan, café dan bar. Sebagian besar para wisatawan datang untuk berjemur, snorkeling dan diving. Gili Trawangan merupakan pulau yang paling ramai diantara dua pulau kecil lainnya yang berdekatan. Perairan bawah laut di sini merupakan salah satu spot dive terbaik di Indonesia yang terkenal di dunia.

foto : Kidomo, Gili Trawangan Agustus 2009

Secara ekonomi, datangnya turis membawa keuntungan yang sangat besar bagi penduduk, mereka bisa menjadi guide atau dapat menyewakan alat-alat olahraga seperti sepeda, snorkel dan kuda yang biasa disebut kidomo. Di musim liburan para penyewa kidomo bisa meraup untung 1 juta per hari, salah satu penyewa ada yang dapat menguliahkan adiknya di Inggris.

foto : Observasi Penyu di Gili Trawangan, Agustus 2009

Untuk menuju ke Gili Trawangan, kami menaiki perahu kecil yang paling murah dari labuhan Bangsal dengan harga 10 rb per orang. Perahu ini tersedia dari pagi sampai jam 3 sore. Kami datang ke Gili Terawangan di tepat perahu yang terakhir, dimana pada jam ini kami merasakan ombak yang sangat besar, yang membasahi kami di dalamnya. Perjalanan di perahu ini menjadi perjalanan yang sangat seru, yang membuat kami teriak ketakutan dan kesenangan.

foto : Perahu penyebrangan Gili Trawangan, Agustus 2009

Belum menyentuh pasir di Gili Trawangan, dari atas perahu kita dapat melihat indahnya alam laut. Ikan-ikan dan terumbu karang sangat jelas terlihat. pasir putih, lautan biru dan awan putih mengelilingi pulau kecil ini. Sangat menakjubkan, perahu-perahu tradisional dan modern terlihat berlayar membawa penumpang yang siap nyebur ke laut untuk melihat keunikan alamnya, sempurna.
foto : Suasana malam kami di Pantai Gili Trawangan, Agustus 2009

Bulan agustus ini harga penginapan rata-rata diatas 200 rb. Tempat makan biasanya membedakan harga turis local dengan turis asing, pastinya turis asing lebih mahal. Berhubung kami hanya membawa sedikit uang maka kami mencari penginapan gratis disini. Tepatnya di timur laut, di dekat gardu PLN, di sini lah kami mendirikan dua tenda.

foto : 2 malam tidur di Pantai Gili Trawangan, Agustus 2009

Dua hari dua malam kami habiskan di Gili Terawangan ini, kami tidur di pantai dengan alas matras dan berselimut sleeping bag. Kami habiskan waktu di sini dengan bermain dan bermain. Snorkeling, jalan-jalan dengan sepeda, bermain kano (perahu kecil yang muatannya untuk 2 orang), dan tidur-tiduran saja di pantai. Mandinya kami numpang di pos gardu PLN, makannya kami mencari yang paling murah di tempat terpencil dengan harga 5000 rb per bungkus. Oleh karena itu kami sangat irit dalam pengeluaran.

Setelah puas di Gili Terawangan, kami ke Mataram. Menginap di rumah teman kami yang asli orang lombok, satu rumah beramai-ramai. Malam di mataram kami pergi mencari oleh-oleh di sekitar mol mataram, setelah itu kami mencicipi makanan khas lombok yaitu ayam taliwang. Ayam Taliwang dicampur sambal yang sangat pedas banyak tersebar di sisi-sisi jalan di mataram. Habis sekitar 600 rb untuk makan ayam ini, cukup mahal ya?, untuk 15 orang. Tidak apalah, yang penting kami puas dalam perjalanan di Lombok ini.

Malam hari terakhir di Lombok sebagian kami ada yang pergi ke Pantai Senggigi. Dalam perjalanan ini kami melihat banyak bar dan café seperti di Kemang Jakarta, yang dipenuhi orang asing. Kami sendiri yang tak biasa dengan budaya asing memilih tempat yang lebih eksotis, yaitu warung kopi di pinggir jalan yang berbukit menghadap pantai. Sambil memandang pantai sengigi dari atas bukit, dan dengan Kopi, susu, ataupun rokok, semua menjadi tenang dan damai.

foto : Camp di Mataram bersama teman Lombok, Agustus 2009

Esoknya kami meninggalkan Lombok ditemani kedua teman kami yang asli Lombok. Kami sangat berterimakasih kepada Rosy dan Chairil, yang telah memberi tumpangan dan mencarikan penyewaan angkutan yang murah. Perjalanan ini tak mungkin terlupakan. Thanks guys…

Cerita dan informasi di Lombok tidak sebatas cerita ini saja, untuk daerah wisata pantai dan budaya telah di survey oleh anggota kami yang tidak ikut dalam pendakian. Mereka berhasil ke pantai Bangko-bangko, Maw’un, ke perkampungan sasak, melihat kebudayaan perang pedang, dan lain-lain. Kami menghabiskan waktu selama seminggu di Pulau Lombok ini.

---- Menuju Pulau Dewata ---

foto : Tanah Lot, Bali Agustus 2009

Selesai expedisi di Pulau Lombok kami tidak segera pulang, kami mampir di Pulau Dewata Bali selama dua hari dua malam. Di Bali kami menginap di penginapan milik tantenya teman kami sehingga dapat mengirit pengeluaran lagi. Di Bali kami menyewa motor dengan harga rata-rata 60 rb. Dengan motor kami bisa melihat sunsite di Tanah Lot, berputar-putar di Legian, melihat tugu bom bali, bermain di pantai Kuta dan lain-lain yang tak jauh dari Denpasar.

foto : Tugu Bom Bali, Agustus 2009


---- Menuju Jakarta melalui Banyuwangi dan Surabaya ---

foto : Stasiun Banyuwangi Baru, Agustus 2009

Gak kebayang kan enaknya kami ? Dua hari perjalanan menuju Lombok, seminggu di Lombok dan dua hari di Bali. Keseruan ini ternyata belum selesai, kereta ekonomi yang tersedia di stasiun Banyuwangi menuju Surabya hanya ada pada jam 6 pagi. Karena itu kami pergi ke Pelabuhan Gilimanuk (Bali bagian barat) dari Denpasar sekitar jam 7 malam, sampai di Gilimanuk jam 11 malam dan langsung menyebrang dengan kapal sekitar 20 menit menuju Pelabuhan ketapang.
foto : Stasiun Banyuwangi Baru, Agustus 2009

Dengan berjalan sekitar 5 menit sampailah di stasiun Banyuwangi dari pelabuahan Ketapang. Di sini kami tidur sambil menunggu kereta datang pada jam 6 pagi. Ada yang tidur di bangku tunggu dan ada yang menggelar materas tidur di ubin, angin membuat kami semakin menggigil kedinginan.

Seharusnya sampai di stasiun Surabaya jam 2 siang, lalu jam 4 sorenya kami naik kereta ekonomi menuju Jakarta. Tapi kenyataannya berubah, telah terjadi kecelakaan di jalur antara Banyuwangi menuju Surabaya, yang menyebabkan perjalanan kami semakin lambat. Jam 5 sore kami sampai di Surabaya, kereta ekonomi ke Jakarta sudah terlambat, yang ada hanya eksekutif jam 5.30. Anggaran kami tak mampu membeli kereta eksekutif atau Bisnis. Terpaksalah kami bermalam di Surabaya sehari.
foto : Stasiun Surabaya, Agustus 2009

Di Surabaya kami menginap di kosan teman. Kami diberi dua kamar, satu pria dan satunya lagi perempuan. Tomy, dia adalah orang yang membantu kami. Paginya sambil menunggu kereta ekonomi yang tersedia pada jam 4 sore, maka kami jalan-jalan lagi ke Jembatan Suramadu.

foto : Suramadu, Agustus 2009

Sampailah kami di Madura, di pulau kelima yang kami tapaki pada perjalanan ini. Pulau Madura ini tidak ada dalam rencana perjalanan kami, ini hanya kebetulan saja gara-gara ada kecelakaan kereta. Sudah 13 hari kami berada di perjalanan ini, satu hari lagi untuk perjalanan pulang ke Jakarta maka kami telah berkelanan selama dua minggu.

Dari awal keberangkatan kami, dari Stasiun Senen menuju Lombok pada tanggal 31 Juli 2009, kini kami tiba kembali tanggal 14 Agustus 2009. Dengan patungan 900 rb per orang Alhamdulillah perjalanan ini dapat terlaksana. Puji Syukur kami pada Tuhan yang mengizinkan kami berkelanan tanpa batas. Di stasiun Senen itu akhirnya kami berpisah untuk pulang ke rumah masing-masing.

Anggota perjalanan ini terdiri dari :
Geo 05 : Daydeh ( penulis ini), Haris, Ketu, RIngga, Bily, Wandi dan Arin.
Geo 06 : Wenas, Onot, Nala, Elgo dan Mia.
Geo 07 : Sandy dan Risma.
Geo 08 : Dwi, Mila, Vio dan Vasanty.

Tuesday, June 8, 2010

Aku ingin telanjang di depan Mu...


Aku ingin telanjang di depan Mu…
Memeluk Mu tanpa sadar nikmatnya
Dunia yang katanya expreso
Campuran pahit dan manis

Aku ingin telanjang di depan Mu…
Tegukan panas hawa Mu
Menghisap racun-racun tubuh Mu
Di bawah sadar mata ku

Aku ingin memeluk Mu…
Menghempit Mu dalam dada ku
Bermain bibir Mu
Antara nafsu dan suka

Tutuplah dengan sutra putih Mu…
Ciptakanlah merah asmara
Hingga larut
Hingga kita tak pernah tahu
Bahwa aku adalah kamu…

Foto : Puncak Mahameru, mei 2010

Wednesday, June 2, 2010

Djogjakarta... I'm falling in love...

foto : Parangtritis, april 2010

Dengan Pesawat Terbang dari Bandara Soekarno-Hatta menuju Adi Sutjipto (Jogja), dapat ditempuh sekitar 45 menit. Di Bandara Adi Sutjipto sudah tersedia pelayanan umum taksi yang teratur sehingga kita tidak perlu takut dibohongi supir taksi, walau tetap banyak taksi yang liar menawarkan diri, biasanya taksi liar ini mencari mangsa orang-orang yang baru pertama kali ke Bandara ini.

Jogja termasuk salah satu tujuan pariwisata dan pendidikan. Sebenarnya ini bukan pertama kali saya ke Jogja, namun kali ini saya benar-benar menikmati suasana Jogja. Hari pertama 21 april 2010, saya menginap di kali urang, suasana di sini penuh dengan anak-anak Intelektual dari kampus UGM. Penuh dengan kos-kosan, dan kebutuhan mahasiswa seperti warnet dan took-toko primer maupun sekunder.

Di sini saya jarang melihat angkutan umum, sebagian besar penduduk menggunakan kendaraan pribadi. Para wanita ikut berkeliaran di jalanan, pasangan muda-mudi banyak yang berkumpul di warung-warung pinggiran. Boleh saya katakana bahwa makanan di Jogja cukup murah untuk standar makanan sebuah perkotaan. Nasi kucing dan minuman hangat tersebar hampir diseluruh ruas-ruas jalan.

Hari pertama dan kedua, jam kerjanya saya mendapat tugas ke Lab Geomatika UGM, di sini saya meng-Instal licience software ArcGis yang asli. Setelah selesai, malam dihari kedua saya menginap di Jl.Maliobor. Penginapan di sini beragam, mulai dari 80 rb sampai ratusan ribu, saya sendiri memilih sebuah losmen dekat stasiun Tugu dengan harga 80 rb untuk 3 orang, kini saya bertemu dengan 2 teman dari Jakarta.
foto : malioboro, april 2010

Malam itu saya berjalan kaki dari penginapan menuju alun-alun utara, melewati Jl.Malioboro dan mampir di alun-alun selatan. Hohooooo…. Pegalnya… padahal tukang Becak menawarkan 20 rb untuk kami bertiga, tapi kami tidak mau.

Alun-alun selatan cukup aneh, banyak sekali orang pacaran diatas motor, mereka semua membentuk pola tempat pacaran dengan jarak sekitar 5-10 meter. Jadi mereka tidak ada yang berdekatan antara motor dengan motorlainnya, melainkan mereka parkir motor dengan jarak 5 meteran sambil pacaran. Lucu ya…. Pacaran di tengah-tengah alun-alun itu mungkin menjadi biasa bagi warga setempat. Naifnya, di keramaian orang pacaran itu, saya melihat ada nenek-nenek tidur di tanah. Kasihan…

Alun-alun utara terdapat 2 pohon beringin besar yang dipagar putih. Kepercayaan di sana bahwa bila kita dapat melewati celah dua pohon tersebut dengan mata tertutup maka keinginan kita akan dikabulin. Maka tidak heran seluruh orang yang kesana mencobanya. Hehee… dan ini tidak disia-siakan oleh orang dengan menyewakan penutup mata dengan harga Rp 3000, gilee ye… kratif, justru penyewaan itu cukup laku karena menurut saya sebagian anak muda yang datang itu gengsi kali ya sama pacarnya, masa nyewa itu aja gak mau. Selain tutup mata, juga tersedia penyewaan sepeda dengan 2 sampai 3 jog tempat duduk, hanya sekedar muter-muter di jalan sisi alun-alun itu.
Saya sendiri mencoba melewati celah pohon yang jaraknya sekitar 10 meter itu, pertama saya gagal, kedua hampir, ketiga berhasil. Hahaaa….

Pulangnya saya berjalan kaki lagi ke penginapan, kaki pegel semua dan langsung nyos untuk tidur.
foto : Borobudur, april 2010

Esoknya saya ke Candi Borobudur di Magelang dengan naik Bus Trans Jogja lalu nyambung dengan Bus lagi (saya lupa, harganya sekitar Rp 6000). Borobudur, candi yang besar penuh sejarah ini tidak masuk dalam 7 keajaiban dunia. Sedih dah Indonesia… sejarah dan ceritanya bisa anda baca di Internet. Kebanyakan yang datang ke sini adalah anak-anak sekolah. Saya sendiri ini adalah pertamakalinya. Heheee….

Sorenya saya langsung ke Parangtritis dengan kembali naik Bus Trans Jogja dan melanjutkannya dengan Bus (lupa lagi, harganya sekitar Rp 8000). Sampai di Parangtritis sudah gelap pas Azan Magrib. Sempat kebingungan menginap dimana karena uang sudah tinggal sediki. Dan ternyata penginapan di sini cukup murah, rata-rata 40 rb. Paginya saya mengunjungi pantai, ramai sekali, namun mungkin karena saya pernah melihat pantai di Bali dan Lombok sehingga pantai Parangtritis ini menjadi biasa saja, pasirnya hitam dan ombaknya bisa menyeret orang, tak berbeda dengan pantai di Pacitan.

Satu hal yang saya sukai di Jogja yaitu kehidupan budayanya, sebuah kota yang masih menganut kerajaan ini sangat damai dan tenang. Penduduknya bersikap halus dan sopan, kegiatan ekonominya berjalan lancar, tata kota diatur baik dan bersih, jarang ada gedung dan hotel yang tinggi sehingga seperti mempunyai khas yang berbeda dibanding kota-kota lain. Makanannya pun mempunyai khas manis dan murah, orangnya pun manis-manis. Menurut saya di sini lah tempat tinggal yang seperti surga bagi orang-orang Jawa.




Tuesday, June 1, 2010

Dataran Tinggi Dieng... *terdapat kesalahpahaman...

Dieng cukup terkenal di negeri kita ini, sebuah dataran tinggi (Plateu) di tengah Pulau Jawa itu memiliki beberapa kawah dan Telaga yang menyedot para pengunjung. Dengan rata-rata ketinggian di atas 2000 mdpl, Dieng sangat subur untuk pertanian khususnya kentang. Kentang Dieng merupakan kentang terbaik di negeri kita ini, tak heran seluruh kota di Pulau Jawa ikut merasakan nikmatnya kentang tersebut, bahkan pontianak dan beberapa kota di Pulau Kalimantan ikut menikmatinya.

Kentang Dieng berciri kulit yang halus, berbuah besar dan tahan lama, membuat kentang ini paling dicari diseluruh pasar kota-kota besar. Tidak seperti kentang Pengalengan yang musim tanamnya tidak sepanjang tahun, karena dipengaruhi curah hujan dan jenis tanah yang berbeda dari Dieng. Tidak pula seperti kentang dari Bromo yang warnanya hitam. Kentang Dieng memang satu-satunya di Negeri ini.

Belum lama saya mendatangi Dieng dengan bermalam di Garung Wonosobo, kali ini saya pergi untuk membantu teman untuk survey penelitiannya tentang pemasaran Kentang Dieng, Wonosobo.

Untuk mengunjungi Dieng dari Wonosobo, kita akan selalu diikuti oleh Gunung Sindoro. Gunung dengan ketinggian sekitar 3000 mdpl itu terlihat halus dari jalanan yang menghubungkan kota Wonosobo dengan Dieng. Kata sebagian orang di Desa Garung Wonosobo, orang yang pernah mendaki Gunung Sindoro maka keinginannya akan terkabul. Hoooiii… saya sendiri pernah mendaki Sindoro pada tahun 2008, dari gunung tersebutlah saya melihat keindahan Wonosobo dan Dieng.

Sabtu sore saya sampai di Desa Dieng yang sedang hujan deras, maka kedinginanlah saya apalagi saya mencapai Dieng dengan motor tanpa jaket. Seperti apakah dinginnya? Hehe… beristirahalah saya di salah satu warung yang menyediakan minuman hangat. Di sinilah saya mulai kebingungan tentang survey kentang ini.

Dieng terbagi dalam dua wilayah administrasi yang berbeda kabupaten, Dieng wetan masuk dalam kabupaten Wonosobo sedangkan sebagiannya lagi masuk dalam kabupaten Banjarnegara. Sejak perjalanan menuju Dieng ini dari Garung Wonosobo, saya tidak melihat banyak tanaman kentang kecuali di Dieng. Di Dieng sendiri pun terlihat tidak terlalu banyak, maksudnya tidak mungkin kentang Di Dieng ini mampu memasok kebutuhan kentang di kota-kota.

Dari salah satu Bandar kentang di Pasar Induk di Jakarta, kami dapat bertemu salah seorang tengkulak di Bantur Banjarnegara, yang tak jauh dari Dieng. Sore itu kami melanjujkan perjalanan ke Bantur dengan terus menuju utara. Perjalanan ini adalah jalur yang jarang dilewati oleh para wisatawan. Bentuk landscape di sini berbukit-bukit, naik turun dan berkelok-kelok, namun tidak curam dalam turunnya tingkat ketinggian datarannya.

Jarang ada orang yang berbaju lengan pendek, di sini dingin dan berkabut. Rumah-rumah beratap seng agar tidak terlalu dingin, inilah Banjarnegara. Bukit-bukit seluruhnya bertanam sayur-sayuran, dan hamppir seluruhnya dipenuhi kentang. Sungguh inilah surga kentang yang sesungguhnya, luas sekali areal kentang.

Sampai di Bantur saya bertemu salah satu tengkulak kentang, dia tertawa ketika kami menyatakan bahwa Wonosobo tempat kentang. Dia berkata bahwa saya dibohongi bila ada yang mengatakan kentang berasal dari Wonosobo. Wonosobo di Dieng hanya 30% penghasil kentang, selebihnya milik Banjarnegara. Pemandangan kentang yang saya lihat dari Dieng sampai Bantur ini belum separuhnya areal kentang yang ada di Banjarnegara, kata Bapak tengkulak itu. Nah lu… kenapa yang terkenal justru kentang Wonosobo ? dan gara-gara inilah teman saya menjadi kebingungan dengan skripsinya. Teman saya tidak bisa melihat produktivitas kentang yang dibawa ke Jakarta karena teman saya mengira bahwa kentangnya berasal dari Wonosobo.

Sekitar jam 7 malam kami melintasi Dieng dari Bantur Banjarnegara sampai ke Kota Wonosobo. Satu kata untuk perjalanan ini “ M E N A K J U B K A N”, bintang terlihat jelas dari ketinggian 2000 mdpl di Dieng, asap tenaga Uap seperti bayangan para Dewa. Jalan yang berkelok-kelok dengan pemandangan gunung, pertanian dan permukiman, membuat saya tersihir dalam Genggaman Keindahan Sang Pencipta. Hayalan saya cuma satu, saya ingin ke sini dengan mengendarai mobil sedan bersama Isteri dan anak-anak saya. Kawan, sungguh ingin seperti itu. *susssstttt… sudahlah..

Sampailah saya di alun-alun kota Wonosobo sekitar jam 9 malam, duduk dan melamun menjadi hobi saya ketika berada di tempat yang jauh dari rumah, jauh dari keluarga dan orang-orang yang biasa dekat dengan saya. Baru sebulan yang lalu saya berkelana di Jogja, dan baru 2 minggu yang lalu saya mendaki Gunung Semeru. Kini harus terbawa romantis dengan alam lagi yang membuat pikiran saya semakin mellow… semakin santai dan tenang. Semakin tidak mengerti akan jalan yang harus saya lalui. Maka semakin autislah saya ini…

Kalau bukan karena terpaksa, saya tidak akan ke sini. Terpaksa karena teman saya butuh bantuan dalam surveinya. Dengan mendadak dia mengajak saya ke Wonosobo, dan baru kali ini saya jalan tanpa persiapan, bahkan baju dan celana untuk salinan saja saya tidak bawa. Tidak tahu dah baunya seperti apa saya itu… walau akhirnya saya beli kaos dan CD.

Hari kedua, kami ke Dieng lagi. Di sini kami mengunjungi beberapa objek wisata diantaranya Telaga Warna dan Kawah. Dengan harga tiket masuk diatas Rp 5.000, serta tukang parkir yang gila duit (masa parkir motor Rp 2.000 ) membuat kami seperti dirampok. Bayangin aja duit saya hanya sisa Rp 100 logam, gila kan? Dan jujur saja kawah dan telaganya biasa-biasa saja. Menurut saya, manajemen Pariwisata di Dieng sangat kacau dan berantakan. Itu membuat orang malas lagi kesana, darimana sumber pernghasilan mereka bila bukan dari pariwisata? Ditambah lagi masalah kesuburan tanah yang terus berkurang karena terlalu sering memakai pestisida ?
Dinas Pariwisata dan Pertanian tidak banyak berbuat di sana, saya lihat mereka berusaha sendiri untuk mendapatkan keuntungan tanpa berfikir masalah ke depan.

Ya sudahlah… keindahan Dieng dihancurkan oleh manusianya.

Sedangkan candi disana adalah candi pewayangan, nama-nama wayang, ceritanya tidak jelas… jadi sulit mengenal Dieng… Teman saya yang asli Wonosobo heran ternyata kentang yang terkenal itu bukan dari Wonosobo. Sekarang saya mengerti kenapa Dosen Pariwisata saya, Bpk Djamang Ludiro melarang kami untuk Kuliah Lapang di Dieng, dulu beliau berkata Dieng biasa-biasa saja dan biaya hidupnya mahal. Ternyata ini benar… maafkan saya ya Pak dulu saya kesa KL tidak jadi di Wonosobo, malah ke Pangalengan… tapi jujur saya tidak pernah menyesal ke Pengalengan, di sana pertanian dan perkebunannya sangat beragam…