Thursday, February 26, 2015

Hidup masih panjang, tersenyumlah...

Saya lihat foto-foto lama, coba belajar dari wajah dan senyuman pada masanya. Saya ingat-ingat apa saja yang telah saya lakukan dalam perjalanan itu, terkadang ingin memeluknya atau bahkan memukulnya, saya gemas dengan diri saya sendiri saat masanya. Lalu saya perhatikan pula wajah riang sahabat-sahabat yang begitu tulus, mereka juga berjalan dan tetap berjalan.

Bagaimana alam dan lingkungan mengajarkan kita tentang hidup, tentang keberanian berkata benar juga keberanian berkata salah. Mengakui kekurangan, menurunkan emosi dan membesarkan wawasan. Kita tidak gagal sendirian, dan gagal bukanlah akhir. Kita hanya belum mengerti dan terlalu asik menikmati hidup yang begitu asik. 

Jalan ini masih sangat panjang, dengan segala kegagalannya bukankah itu begitu indah. Memasukan lagi semangat hidup abadi dengan kebahagiaan dan keceriaan. Lagu-lagu yang mengetuk dan memanggil untuk berbuat kebaikan dengan cara kita sendiri, cara menikmati hidup dengan santai dan bahagia. 

Kita belajar pada kita di masanya, kita tertawa jalani hidup dari masa keceriaan dahulu, belajar dari kita yang dahulu. Kita tidak akan gagal lagi, keberanian telah menguburkan rasa pesimis, membuat gairah optimis semangat hidup. Ego kita, masih bisa menurun dan berfikir seimbang. Mata kita masih bisa melihat yang benar, dan kuping masih jelas mendengar hal-hal yang bijak. Karena keinginan memang tidak semuanya atas kehendak kita. 

Insyaallah… pagi ini dan pagi-pagi selanjutnya adalah perjalanan yang bahagia. Mari tanamkan kembali keberanian, kejujuran dan ketulusan, cukup sudah masa gamang memilih jalan hidup. Jalan hidup yang ini adalah jalan penikmat hidup dengan iklhas dan berbagi. Bismillah….

Monday, February 23, 2015

Aku ingin bertemumu di surga...

Di sini tempat kesalahan
Tempat perjalanan dimana ternyata cokelat adalah biru
Dan hijau adalah merah
Tak ada yang bisa menduga tapi bisa dipahami setelahnya

Di sini tempat salah arti
Tanpa ilmu tetaplah seperti itu
Tanpa hikmah dan memahami maka akan tetap salah arti
Sekarang gilirannya ingin memahami atau berdiam diri

Aku melihatmu di surga
Dengan tutur dan sikap yang indah
Dengan kesederhanaan yang terpancar dari hati
Dan tatapan yang tidak bisa dibeli di sini

Aku mendengarmu di surga
Memanggil dan menungguku yang masih di sini
Yang belum mengerti tentang surga itu
Yang berjalan sendiri berbelok arah

Bila di sini adalah perjalanan
Maka pastilah aku akan berjalan
Bila di sini aku ada di hitam
Maka aku takkan kembali ke hitam
Aku mencarimu melewati cahaya-cahaya
Yang hanya bisa dilihat dengan kesederhanaan
Seperti melihat dan mendengar jiwamu….

Sekarang aku tahu surga itu apa
Tempat dimana kau menungguku
Dimana kau ingin bercerita dan bercanda denganku
Bercerita tentang perjalanan di sini
Tentang mencari perjalanan yang terang

Aku ingin bertemumu di surga….
Bila di sini kita tak bisa lagi bercerita….
Dengan hati, pikiran dan badan…

Monday, February 16, 2015

Aku ingin berdua denganmu...

Aku ingin berjalan bersamamu
Dalam hujan dan malam gelap
Tapi aku tak bisa melihat matamu

Aku ingin berdua denganmu
Di antara daun gugur
Aku ingin berdua denganmu
Tapi aku hanya melihat keresahanmu

Aku menunggu dengan sabar
Di atas sini, melayang-layang
Tergoyang angin, menantikan tubuh itu

by Payung Teduh - Resah

Apa kau sanggu hidup sendirian...?

Sosial itu sudah fitrah manusia, itu terbukti dari lahirnya bayi, bayi takkan bisa tumbuh besar tanpa ada orang tua, artinya ada ketergantungan antara manusia dengan manusia. Inilah yang membuat manusia begitu unik, saling bergantungan… 

Hanya saja lambat laun seiring mereka tumbuh besar dan menua, mulai tumbuhlah pikiran-pikiran yang menjadi wawasan dan sudut pandang bagi mereka sendiri. Mulai muncullah manusia yang berfikir mampu hidup sendiri tanpa bantuan orang lain, mulai munculah manusia yang berfikir sosial itu tidak penting, dan sebaliknya mulai muncul juga manusia yang berfikir sosial itu penting.

Sebelum memutuskan sosial itu penting atau tidak, saya ingin berbagi pengalaman sedikit saja, ya sedikit saja. 

Saya memiliki beberapa teman yang dahulu saat sekolah dan kuliah, begitu pintar, bahkan sangat pintar. Tapi jarang sekali saya melihat mereka bermain dan bersosial dengan teman-teman, ketika pulang kuliah ya mereka langsung saja pulang, atau terkadang diselingi mencari rezki dengan menjadi pengajar. Atau ada juga teman saya yang begitu kreatif, bahkan sangat kreatif namun saya juga jarang melihat mereka bersosial dengan teman-temannya.

Memang bagus sih melihat mereka dahulu, penuh prestasi dalam bidangnya, tapi seiring waktu, saat ini mereka pada menganggur. Aneh saja klo melihat mereka nganggur, artinya mereka yang cerdas kok bisa menganggur. 

Saya dalami, ya memang ada yang salah tentang persepsi. Menganggap mampu hidup sendiri tanpa bantuan orang lain adalah sesuatu yang keliru, buktinya teman-teman saya yang biasa-biasa saja tidak terlalu pintar, atau ada yang pintar tapi juga pandai bersosial, merekalah justru yang mampu bertahan hidup dalam keadaan apapun.

Karena sebagian besar rezeki itu memang ada pada niaga, sebuah transaksi yang membutuhkan kemampuan sosial yang begitu tinggi. Ahhh… hidup, sebenarnya sederhana….
..
Sebenarnya saya bukan ingin menulis tentang seberapa pentingkah nilai sosial, tapi ini bercerita apa yang membuat saya sulit berinteraksi dengan orang.

Yupppp… Paling sulit itu berhadapan dengan teman yang biasa berbohong, itu… Ya itu… apa lagi dia adalah teman dari kecil. 

Mengapa sulit? karena kadang dalam berucap saya ingin menjaga perasaannya agar tidak tersinggung, tapi disisi lain saya ingin membantunya membuka wawasan bahwa bohong itu lebih banyak merugikan.

Good personality, yup… cobalah teman-teman berfikir ulang arti nilai sosial. Cobalah memaknai sebuah sosial dalam kehidupan. 

Apa kita perlu berbohong? 
Apa kita hanya ingin sukses sesukses suksesnya sendirian? 
Apa perlu kita saling tikung menikung hanya untuk mengejar prestasi? 
Apa perlu kita memaksa dan terus memaksa apa yang orang tidak ingin lakukan?
Apa perlu kita merendahkan orang lain? 
Apa yang mesti kita sombongkan? 
Apa harus melakukan sesuatu dengan emosi? 
Apa perlu dengan suara yang tinggi untuk menjadi tegas?

Atau pertanyaan yang indah untuk saya sendiri….  Apa kita sanggup hidup sendirian?
aihzz... "sumpahhhhh gak sangguuuup..." jawab saya sendiri.

Thursday, February 12, 2015

I'm not the only one.. (live cover)

Okeh.. kali ini saya iseng cover lagu bersama yene dan wandi...
yene sebagai vokal, cajon dan kecrekan (haha lengkap).. saya sendiri di gitar dan wandi bass..

lagu karya Sam Smith ini kami cover live akustik..

Pagi ini, februari yang dingin...

Kata dosen saya dulu, ada relatifitas dalam penilaian kebahagiaan. Itu mengapa Jakarta walau dianggap kota yang tidak ramah tetap menjadi kota favorit bagi kebanyakan orang Indonesia itu sendiri. Sebagai contoh, banyak sekali orang Jakarta walau tahu macet, mereka tetap saja naik mobil dan rela macet berjam-jam. Karena bisa jadi mereka sebenarnya bahagia, relatif ini bisa terjadi karena berbagai faktor. Misalkan mereka bermacet-macetan bersama sang kekasih atau pacar, rasa kesal karena macet itu seketika berubah menjadi rasa bahagia.

Begitu juga dengan banjir di Jakarta yang tidak kurun selesai bertahun-tahun lamanya, mungkin ada relatifitas yang membuat penduduknya tetap tinggal dan tak ingin pergi dari Kota. Kalau kata teman saya Budi, “Banjir merupakan tanda bahwa banyaknya manusia yang rindu akan sang kekasih…”. Hehee….

Itulah mengapa dalam agama, manusia selalu diingatkan untuk bersyukur dan iklhas. Karena bisa jadi ada relatifitas yang belum ditemukan dalam hidupnya, yang tidak kalah bahagia dari keinginannya yang tidak tercapai.

Ah pagi ini…. Semakin dingin saja. 
Untung ada white coffie luwak hangat, ku nikmati sejenak.

Hey pagi yang dingin di Jakarta-ku… Seandainya saja aku adalah matahari, mungkin kau akan begitu merindukanku. Tapi kali ini aku tidak akan banyak berandai, aku cuma ingin bercanda denganmu. 
Tahukah kau, mengapa aku ingin bercanda denganmu? Karena kau adalah sosok yang selalu ku rindukan, yang selalu membuatku bahagia bila bersamamu. Sesederhana itu saja…

Don't wanna wake up alone anymore
Still believing you'll walk through my door
All I need is to know it's for sure
Then I'll give... all the love in the world
(The Corrs)