Monday, August 22, 2011

Ambon Manise



Foto : Pantai Natsepa, Ambon

Bulan Ramadhan ini saya berkesempatan berkunjung ke salah satu kota yang pertumbuhannya cepat, karena sejak tahun 1999 sampai 2005 kota ini menjadi kota mati. Ambon menise, dengan segala keindahannya hadir temeni saya di Ramadhan ini.

Kota Ambon terlihat mungil ketika saya lalui jalanan yang berkelok-kelok dan berbukit. Kapal fery penyebrangan dengan waktu sekitar 10 menit membawa pandangan kota dengan mental nelayan. Di tepi pantai pedagan ikan asap berjualan dengan tenang.

Foto : Patung Crhistina Matha Tiahahu menghadap Kota Ambon
(Pahlawan wanita di Maluku)

Kulit hitam yang memiliki senyum manis hampir dimiliki seluruh kaum hawa di Ambon, dengan body langsing dan tegar banyak dimiliki wanita di Ambon, tidak ada gemulai dan ayu. Sekali terlihat wanita dengan kulit putih maka kita akan terbengong-bengong, mereka seperti bukan orang Indonesia. Memang, bangsa Portugis dan Belanda bertahun-tahun telah mencampurkan orang ambon. Wanita Ambon menjadi menawan, bermata biru dan berambut pirang. Orang kulit hitam pun tak kalah, dengan rambut keriting serta senyum yang manis membuat kesan khas ambon.

Foto : Penjual Ikan di Ambon

Selain ikan yang melimpah luas di Laut Banda, Laut Aru dan sekitarnya. Sejak ratusan tahun yang lalu Ambon diburu para pedagang asing karena memiliki hasil pertanian pala dan cengkeh yang menawan. Harum dan rasanya adalah nomor satu di dunia. Besi putih menjadi oleh-oleh kerajinan yang bisa kita bawa, selain minyak kayu putih yang memang terkenal kualitasnya.

Saya tidak tahu kemana hasil sumberdaya ikan, pertanian dan tambangnya. Apakah membawa kemajuan warganya?. Tapi buat orang yang senang jalan, ambon termasuk kota yang indah. Pantai Natsipe menjadi pantai yang ramai dikunjungi karena pasir putih dan air jernihnya membuat orang selalu ingin berendam. Di beberapa titik kita bisa memancing asalkan gelombang sedang bersahabat.
Foto : Anak Kecil di Ambon

Di tengah-tengah cuaca yang panas, kini pembangunan di Kota Ambon terlihat begitu cepat, mereka ingin pergi dari kehancuran yang pernah dideritanya sekitar 10 tahun yang lalu.

Tuesday, August 16, 2011

Ramadhan bantu aku...

Wahai Ramadhan yang Agung
Wahai Ramadhan yang Mulia
Wahai Ramadhan yang dapat merubah segala keburukan menjadi kebaikan
Wahai Ramadhan yang Indah
Wahai Ramadhan yang Damai
Wahai Ramadhan yang selalu membuat air mata menjadi penuh hikmah…
Tahukan kamu, aku sendiri sedang gundah…
Bagai keramba pada laut
Bagai kelap kelip malam yang dingin
Pada siapa aku mengadu ketika lautan berdebur
Kapan lagi aku harus mengadu
17 Ramadhan yang semakin ganjil
Dengan keajaiban dari segala kerapuhan
Sebuah nilai yang tidak pernah berpura-pura
Sampai aku berpura-pura kalau Yang Maha Agung tidak pernah melihat
Aku kehilangan keberkahan… aku kehilangan hikmah…
Aku dihitamkan tipu daya diri ku sendiri
Wahai Zat Yang Tidak Pernah Tertidur dan Lupa
Rubahlah segala ketidakbaikan yang menyeret hidup ini…
Yang membuat terbuai dalam gelar…
Ya Allah SWT…
“Bimbinglang hamba…”


Wednesday, August 10, 2011

Ku Ingin Rasakan CInta...


Kucoba memahami tempatku berlabuh
Terdampar dikeruhnya satu sisi dunia
Hadir dimuka bumi tak tersaji indah
Kuingin rasakan cinta

Lusuh lalu tercipta mendekap diriku
Hanya usung sahaja kudamba Kirana
Ratapan mulai usang nur yang kumohon
Kuingin rasakan cinta
Manis seperti mereka....

Ayah Bunda tercinta satu yang tersisa
Mengapa kau tiupkan nafasku kedunia
Hidup tak kusesali mungkin kutangisi
Kuingin rasakan cinta

Peluhkupun mengering menanti jawabmu
Takkan pernah usai cintaku padamu
Hanya kata yang lugas yang kini tercipta
Kuingin rasakan cinta

Smakin jauh kumelangkah
Smakin perih jejak langkahku
Harikupun semakin sombong
Meski hidup terus berjalan...terus berjalan

Kirana jamah aku jamahlah rinduku
Hanya wangi terurai yang dapat kucumbu

Manis seperti mereka
Tulus seperti adanya
Suci seperti dirimu
Ingin rasakan cintamu

Kirana jamah aku jamahlah rinduku
Takkan pernah usai cintaku padamu
Hanya kata yang lugas yang kini tersisa
Kuingin rasakan cinta...

Lagu : Kirana (Dewa 19)

Foto : di sini

Sekali-kali sebuah rasa saya bebaskan masuk ke seluruh aliran darah yang hampir membeku karena saya adalah manusia... Saat saya perhatikan alam dan manusianya, hidup ini hanya segelintir waktu yang lewat tanpa mengenal siapa di dalamnya. Saya cuma bisa diam... Karena Cinta terlalu dalam dirasakan, tak kenal ruang dan waktu, namun terkadang hilang begitu saja... Ramadhan yang indah ini, saya berharap dosa-dosa saya larut dalam singgasana...