Wednesday, December 28, 2011

Lilitan - lilitan

Dunia ini seperti lilitan-lilitan bahasa yang majemuk, sulit dipahami dan terkadang saling berbeda memahaminya. Uang, kekuasan dan segala yang membuat pikiran ini menjadi gila rasanya terus menerus mengelilingi hati yang juga sulit dipahami. Semakin hari saya semakin bingung, padahal semakin tua dan suatu saat nanti entah apa yang terjadi.
Seringkali saya kesepian namun tidak bisa berkata, karena kata-kata terkadang tak berarti. Terkadang sepi menjadi siksaan hati yang paling menyakitkan, sangat menyakitkan. Seperti pesawat yang terbang diantara awan-awan putih dan langit biru. Saya hancur ditengah keramaian yang saya tidak kenal, tidak pula saya pedulikan.
Apapun itu, tetap saja dunia ini tidak peduli pada saya, dia terus berputar mengikuti perkembangan teknologi. Kecanggihan itu menjadi dewa bagi orang – orang yang senang bicara, yang senang pada dirinya. Lalu aku tertinggal jauh, jauh tak terlihat. Sampai Saya tak bisa melihat siapa didepan saya, siapa di hati saya.

Thursday, December 22, 2011

Semarang nenek moyang ku...

Foto : Masjid Agung Jawa Tengah di Semarang

Kota Semarang adalah kota misterius bagi hidup saya, beberapa kali saya pernah melewati kota ini namun belum pernah menjajakinya, kota menjadi misteri dalam garis keturunan hidup saya karena di Kota inilah asal usul nenek moyang saya yang saya tidak ketahui. Bayangkan saja, sejak umur satu tahun, baru kali ini saya datang lagi ke Kota ini untuk bertemu nenek moyang saya.

Foto : Pemandangan dari Menara Asmaul Husna

Ternyata Semarang kota yang unik, Kota yang merupakan Ibukota Provinsi Jawa Tengah ini dihiasi akan bangunan-bangunan tua. Saat ini telah dibangun Masjid Agung Jawa Tengah yang luasnya melebihi Masjid Istiqlal di Jakarta. Masjid ini merupakan tanah wakaf dari Masjid Agung Semarang, Arsitertur Masjid Jawa Tengah ini merupakan adopsi dari Masjid di Arab yang memiliki payung-payung. Masjid ini juga mempunyai menara yang tingginya 99 meter hingga dinamai Menara Asmaul Husna, dari sini kita bisa melihat kota Semarang menyeluruh karena memang Kota Semarang jarang ada bangunan tinggi.

Foto : Salah satu bangunan tua di Semarang

Jarangnya bangunan tinggi di Semarang bisa dikarenakan tekstur tanahnya, kata penduduk disana sebagian besar tanah di Semarang mudah sekali bergerak-gerak, ini bisa dilihat dari seringnya longsor di Semarang atas, banjirnya di Semarang bawah dan rusaknya jalanan. Semarang secara fisik dibagi dua, Semarang atas merupakan bagian perbukitan yang ada di sebelah selatan., Semarang bawah merupakan bagian pesisir pantai sampai batas perbukitan. Lanskap sangat jelas terlihat bila dilihat dari Menara Asmaul Husna.

Foto : Alun-alun di depan Masjid Agung Demak

Bencana banjir di Semarang sepertinya menjadi masalah yang tidak ada habisnya, Semarang bawah selalu dihantui dengan bencana ini. Terlebih perumahan di pesisir pantai, banyak sekali perumahan yang asalnya merupakan lahan tambak kini berubah menjadi perumahan. Seperti di rumah sudara saya di Sayung, di sini kita bisa melihat kekacawan tata ruang yang menjadi masalah yang sulit dihentikan. Kecamatan Sayung masuk dalam kabupaten Demak yang berbatasan langsung dengan Kota Semarang. Ternyata nenek moyang saya juga berasal dari Demak yang merupakan Kerajaan Islam pertama di Pulau Jawa.

Foto : Masjid Agung Demak

Baru kali ini saya pergi ke suatu tempat yang suasananya seperti jaman dahulu yang dipenuhi nuansa Islam. Demak bisa saya sebut seperti ini karena sepanjang jalan saya banyak melihat pesantren, bahkan di alun-alun depan Masjid Agung Demak didirikan papan tiang yang bertuliskan Asmaul Husna sepanjang sisinya. Saya sampai mikir, apakah dengan tiang-tiang bertuliskan Asmaul Husna membuat abg pacaran tidak mau ketempat itu.

Foto : Patung Laksamana Cheng Hoo di Semarang

Nenek moyang saya yang masih hidup memang kebanyakan di Semarang. Sambil ketempat-tempat mereka, saya sempatkan mampir ke tempat-tempat wisata seperti tempat Laksamana Cheng Hoo yang merupakan pahlawan asal Cina yang menyebarkan agama Islam di Semarang.
Semarang setidaknya telah mengembalikan saya ke salah satu pelukan nenek moyang. Masih ada satu pelukan lagi yang belum saya kunjungi, yang berada di Kota Purwokerto dan Purbalingga.

Wednesday, December 14, 2011

Pekanbaru - Lirik, Riau.

Foto : Bandara Syeh Kasim II, Pekanbaru.

Bulan Desember ini saya mempunyai kesempatan untuk kembali ke Provinsi Riau, dengan mendarat di Kota Pekanbaru dan singgah 2 malam di kota itu, serta menyempatkan diri pergi ke Distrik Lirik yang jauhnya 4 jam ditempuh dengan mobil.

Kota ini mengalami perubahan sejak pertama kali saya datang kesana November 2010, sekarang perluasan bandara sudah mulai terlihat kemajuan dan rampung dalam waktu dekat. Sepanjang jalan sudirman yang paling terlihat perubahannya, sekarang dalam pembangunan Jalan Layang/fly over. Saya rasa ini ada hubungannya dengan persiapan kota Pekabaru sebagai penyelenggara PON (Pekan Olahraga Nasional) di tahun 2012.

Ada yang membuat saya miris di Kota Pekanbaru itu, setiap halte busway terlihat hancur tapi operasional kendaraannya tetap jalan. Sempat saya melihat turis yang sedang duduk di halte yang kacanya tidak ada, miris saja melihatnya karena Kota Pekanbaru juga merupakan cerminan Negara kita. Setidaknya cerminan budaya dan prilaku bangsa ini, terlebih Riau merupakan bagian dari Indonesia barat yang lebih maju dari Indonesia timur. Tapi sisi positif yang saya pikirkan yaitu, pasti ada hubungannya dengan pembangunan, mungkin nanti halte tersebut akan diperbaiki seiring pembangunan jalan layang dan akab bagus sebelum PON 2012 dimulai.
Foto : Sebuah jalan di Distrik Lirik, Riau.

Saya sempatkan ke Distrik Lirik, di sini sumber daya alamnya cukup melimpah terutama minyaknya. Pembangunan jalannya cukup bagus dan tempatnya cukup tenang, tidak seperti tahun lalu di Bagansiapiapi.

Negara ini, Negara Indonesia sungguh kaya. Sampai-sampai beberapa industry pengolahan barang baku menjadi barang jadi tidak didirikan di negeri ini, mungkin karena Negara lain takut Negara ini menjadi Negara maju dan menekan pertumbuhan ekonomi Negara tersebut. Sebagai contoh industri pengolahan kosmetik yang bahan bakunya sawit, industrinya hanya ada di Malaysia, bukan di Negara kita yang sumber sawitnya sangat banyak. Lalu industry Blackberry yang juga di Malaysia dan tidak didirikan di Indonesia, walau pasar terbanyak ada di Indonesia. Siapa yang maju kalau keadaan lokasi industry seperti ini?

Terkadang saya heran, mengapa hal-hal sempele seperti ini tidak diperhatikan. Padahal ini sangat berpengaruh pada pertumbuhan ekonomi.

Friday, November 25, 2011

Patah


Bagai serpih-serpih pasir di pantai
Tersapu gelombang pasang…
Meski harus hilang terpecah karang

Meninggalakan kenangan abadi…

(Patah, Padi band)

(Foto : Pantai Tanjung An, Lombok. Sept 2011)


Monday, November 7, 2011

Langit itu..

Di ketinggian 30.000 kaki, sambil memandang awan yang melayang. Sambil bercakap-cakap dengan teman sebelah, sesaat saya perhatikan langkah saya. Kegagalan demi kegagalan terus terjadi dalam hidup saya, punah namun saya tidak ingin menyerah. Roda-roda pun berjalan dalam hidup saya, terkadang pahit dan terkadang manis.

Sang Pemimpi mengajarkan saya untuk terus berjuang menembus langit, menghiraukan waktu dan ruang. Laki-laki macam apa yang menyerah begitu saja, menangis dalam penderitaan dan berharap nasib akan berubah sendiri, berfoya-foya seakan semua tidak ada artinya. Sekali lagi, nasib tidak akan berubah bila tak dirubah.

Lionel Messi pergi ke Barcelona demi pendidikan sepakbola yang lebih baik, Habibi ke Jerman demi menimba ilmu tentang teknologi pesawat, Abdee Slank pergi ke Australia untuk belajar music yang lebih bagus. Sebagian besar orang pergi merantau untuk menemukan ilmu baru atau menggali ilmunya yang sudah ada agar menjadi lebih baik.

Masih di pesawat perjalanan dari Makasar menuju Jakarta, saya perhatikan semua orang dalam pesawat termasuk pramugari dan pilot. Cuma satu intinya, mereka memiliki kehidupan sendiri, resiko sendiri dan tantangan sendiri, antara penumpang memiliki perbedaan pekerjaan, begitupula pramugari dan pilot.

Tentang penderitaan, sambil melirik bumi dari langit, di setiap tempat memiliki tingkat kemakmuran yang berbeda-beda. Terlebih di Jakarta, seperti ada batas antara orang yang hidup di perumahan kumuh dengan teratur, atau antara mereka yang hidup di gedung-gedung tinggi yang bagus dan ber-AC dengan mereka yang hidup di kolong jembatan, di jalanan atau di sebuah tempat yang kita tidak tahu. Kematian mereka tak pernah diketahui, siapa keluarganya dan dimana dikuburnya. Salahkah mereka yang tidak mau berusaha atau salahkah mereka yang tidak ingin membantu?

Awan-awan mengajariku untuk berbagi, melupakan kesenangan yang tidak ada habisnya dan berusaha mengejar mimpi-mimpi mulia, walau harus jungkir balik untuk mendapatkannya. Jangan mengeluh dan berputus asa.

Monday, October 24, 2011

Melepaskan penat di Manado & bermain di Bunaken

Di Malalayang Manado, Sulawesi Utara, berjejer pedagang gorengan dengan khas pisang goreng yang dimakan dengan sambal. Pantai terjal di sana selalu ramai orang yang berenang, kebanyakan orang lokal yang menggunakan ban karet agar mengapung di air. Tidak heran terdapat beberapa restoran seafood di sana, dengan pemandangan laut dan Gunung Manado Tua.

Foto : Pisang goreng + sambal khas Manado, Oktober 2011

Tiap malam di jalan Boulevart, tepatnya dekat dengan mol yang merupakan pusat bisnis di Manado selalu saja ramai. Keramaianya tetap terasa walau sudah tengah malam, makanan kuliner berjejeran, dari kelas bawah sampai kelas atas. Di bagian dekat pantai yang merupakan tanah hasil reklamasi dipenuhi anak-anak muda yang suka akan kegelapan, di tempat seperti itu pastinya banyak orang pacaran.

Foto : Manado malam hari dilihat dari atas bukit, Oktober 2011

Masih di sekitar Boulevart, lalu ke jalan-jalan cabang dari jalan ini, wanita-wanita seksi terlihat menggoda. Mereka ada yang bisa diajak untuk menemani kita, bisa karoke ataupun main biliyard atau apasaja yang menghibur. Wanita Manado menurut saya cantik-cantik, sakin cantiknya dimana kita berjalan makan akan menemukan wanita cantik, saya sendiri pernah melihat tukang fotocopy dan tukang bakso yang juga cantik.
Foto : Pulau Bunaken, Oktober 2011

Bagi pecinta alam bawah laut, Manado merupakan kota yang wajib dikunjungi. Ini karena Taman Laut Nasional Bunaken yang terkenal di dunia, sebuah alam bawah laut yang cantik dan luas. Dari pusat kota Manado, untuk menuju ke Bunaken sangat mudah dan cepat, sekitar 1 jam sudah bisa sampai di sana dengan menyewa perahu.

Foto : Narsis di Bunaken, Oktober 2011

Perjalanan ke Bunaken ini merupakan perjalan pertama saya, saya tidak bisa diving tapi bisa berenang sehingga saya hanya perlu menyewa alat snorkeling dan baju renang agar tidak melukai tubuh saat berenang. Sebelum nyemplung ke air, dari perahu kita bisa melihat kehidupan bawah laut, air jernihnya membuat mata bisa menembus melihat ikan-ikan laut, bintang laut dan terumbu karang. Bunaken diambil dari nama Pulau Bunaken yang merupakan pulau terdekat, dari sini kita juga dapat melihat jelas Gunung Manado Tua.

Foto : Bunaken, Oktober 2011

Perahu membawa kami ke tengah terumbu karang yang bersebelahan dengan palung terumbu karang. Kata gueide kami, palung laut di Bunaken memiliki kedalaman 20 – 30 meter, dikedalaman inilah para penyelam melakukan eksplorasi bawah laut. Saya yang hanya snorkeling saja sudah puas melihat bawah laut bunaken, sekali-kali saya melirik ke palung, disana saya melihat ikan-ikan besar. Dengan biskuat atau roti kita bisa foto bareng bersama ikan-ikan kecil yang cantik. Melihat keindahan Bunaken ini maka saya tidak heran tempat ini sampai terkenal di dunia.

Foto : Keadaan di dalam air Bunaken, Oktober 2011

Tuesday, October 18, 2011

Gili Nanggo, Lombok...

Foto : Gili Nanggo, sept 2011

Tidak diragukan lagi bahwa Lombok adalah salah satu tempat kehidupan terumbu karang dan ikan-ikan yang terkenal di Indonesia. Sebut saja Gili Trawangan, pulau kecil itu dikelilingi pemandangan yang menakjubkan di dasar lautnya, tidak heran fasilitas menjadi lengkap di Pulau kecil itu karena promosi dilakukan besar-besaran untuk pulau tersebut. Di dekat Gili Trawangan terdapat dua pulau kecil yang ikut menjadi promosi pariwisata yaitu Gili Meno dan Gili Air.

Beberapa tahun terakhir 3 Gili tersebut sangat ramai dikunjungi wisatawan dari seluruh dunia. Di tulisan ini, saya ingin menampilkan suatu pulau kecil yang belum terkenal yang keindahan alam lautnya masih murni dan suasananya sangat tenang. Pulau kecil ini terletak di barat daya Pulau Lombok, lebih ke selatan dari Pelabuhan Lembar. Dari Mataram bisa ditempuh dalam waktu 45 menit menggunakan mobil.

Foto : Welcome to Gili Nanggo, sept 2011

Gili Nanggo merupakan rentetan pulau kecil, ada beberapa Gili disana yang tidak diketahui namanya. Butuh 15 menit dari bibir pantai Pulau Lombok menuju ke Gili Nanggo, dan sepanjang perjalanan di perahu kita akan takjun oleh pemandangan bukit-bukit, pulau-pulau kecil, pantai pasir putih, dan perairan laut yang tenang.

Foto : Pasir putih dan air yang jernih di Gili Nanggo, sept 2011

Foto : Berenang di Gili Nanggo, sept 2011

Pasir putih di pantai Gili Nanggo seputih pantai di pulau yang tak bertuan, dari pantai itu kita bisa melihat terumbu karang dan ikan-ikan kecil. Menakjubkan bukan, dengan menggunakan kacamata snorkeling saya telusuri perairan yang tak jauh dari pantai tersebut. Ikan-ikan seperti bersahabat dengan manusia, begitu Terumbu Karang yang indahnya lebih indah dibanding Gili Trawangan. Sambil snorkeling saya memberi makan ikan di dalam air dengan roti, ikan-ikan tersebut mendekati saya sampai saya bisa memegang ikan-ikan tersebut.

Foto : Penginapan di Gili Nanggo, sept 2011

Dan untuk pertama kalinya dalam seumur hidup saya, saya bisa bermain air dengan ikan sambil memegangnya di habitat mereka tempati. Oh… Betapa indahnya Negeri ini…

Keterangan :
Sewa Perahu PP (muat 8 – 10 orang) = Rp 250.000,-
Sewa Kacamata Snorkling & Kaki Katak = Rp 35.000,- / set
Penginapan di Gili Nanggo = Rp 400.000 – 600.000,- / Cottage (muat satu keluarga kecil)
Foto : Diambil dari Bedul, teman yg gila foto

Thursday, October 13, 2011

Keinginan...

Ada 3 hal besar yang harus saya selesaikan, bisa jadi ini adalah sesuatu yang banyak pengaruhnya bila saya sampai mendapatkan 3 hal ini, yaitu Menikah, Kuliah S2 di Eropa dan Membeli rumah. 3 hal ini menjadi tantangan yang menarik, menikah muda yang saya ingingkan sudah gagal, dahulu saya ingin menikah di umur 21 tahun namun pada umur segitu saya belum bisa apa-apa, nah sekarang juga masih aja gak jelas siapa cewe yang jadi isteri saya nanti. Kuliah S2 di eropa sampai saat ini masih belum kesampaian, tahun ini saya mencoba satu beasiswa namun gagal juga, hambatan terbesar untuk meraih beasiswa S2 di eropa adalah Tofle, atau bahasa inggris saya yang masih belecetan. Sedangkan membeli rumah juga belum kesampaian karena saya belum mampu menabung dan belum bisa hidup hemat, saya sendiri baru 2 tahun bekerja setelah lulus kuliah, saya harap setidaknya dalam waktu dekat saya bisa bayar DP dulu untuk membeli rumah.

Itu adalah 3 hal keinginan yang sangat besar, saya sebut itu adalah prioritas utama, saya harap dalam waktu dekat saya bisa mendapatkan salah satunya. Setelah 3 hal itu, saya memiliki keinginan besar juga yang di bawah prioritas utama. Saya sebut prioritas kedua, yaitu membuat Ibu saya bisa pergi haji, dan saya ingin jalan-jalan di eropa serta membuat novel. Saya harap dalam waktu 5 tahun ke depan, 3 prioritas kedua ini bisa tercapai. Pergi haji akan lebih mudah bila saya sudah mempunyai rumah sendiri walaupun masih kredit, jalan-jalan di eropa akan lebih mudah bila saya bisa kuliah di eropa, dan membuat novel lebih muda bila saya banyak pengalaman. Bisa jadi prioritas kedua ini merupakan turunan dari prioritas utama.

Selain memiliki prioritas utama dan kedua, saya juga memiliki prioritas jangka panjang, yaitu menjadi pengusaha, seniman dan dosen/ilmuwan. Terakhir saya memiliki keinginan besar yang mulia yaitu membangun pesantren modern gratis untuk orang-orang tidak mampu, pesantren yang fasilitasnya sama baiknya dengan kampus UI.

Monday, October 10, 2011

Kota Palu, Sulawesi Tengah

Masih dengan mimpi-mimpi ku
aku terbuai cerita yang abadi
yang melayang-layang tanpa sayap

...
Foto : Bandara Mutiara, Palu - Sulawesi Tengah

Setelah ke Lombok di minggu kedua bulan September, saya ke Kota Palu yang merupakan ibukota provinsi Sulawesi Tengah. Tengah malam sesaat sebelum pesawat landing di Bandara Mutiara, cahaya lampu rumah dan penerangan lainnya yang bersinar saat itu begitu memesona. Cahaya berkilau di sisi jalan yang langsung bersebelahan dengan teluk dan pantai yang cekung ke arah kota, serta kota kecil yang dikelilingi bukit. Semua penumpang pesawat takjub akan pemandangan itu, termasuk saya yang kebetulan pas di samping jendela. Degradasi warna begitu kemilau,dan jelas perbedaannya antara pemukiman, pantai, dan vegetasi.

Foto : Jalan di Kota Palu - Sulawesi Tengah

Membicarakan Kota Palu, kita akan juga membicarakan Kota Poso, lalu merentet ke cerita ambon. Hanya saja Palu bukanlah daerah konflik seperti Poso dan Ambon. Kebanyakan pendatang berasal dari suku bugis dari Makasar dan suku jawa dari Pulau Jawa, banyak makanan khas Makasar dan Jawa tersedia di sana. Karena transportasi dari Palu menuju Poso sangat sulit, maka banyaklah interaksi antara kota-kota di Sulteng bagian timur dengan kota-kota di provinsi lain yang berdekatan. Di Palu ada Panti Asuhan Wali Songo yang merupakan bekas Pesantren yang ada di Poso. Mobil travel menjadi kendaraan yang sering di pakai di Sulteng karena kota-kota terpisah pada alam yang bertebing dan saling berjauhan.

Foto : Restoran milik Kaka Slank, Donggala - Sulawesi Tengah

Ada jembatan yang bagus di pinggir pantai Palu, pantai itu menjadi kebanggaan masyarakat. Namun untuk Diving dan Snorkling lebih bagus ke Kabupaten Donggala yang tak jauh dari kota Palu. Donggala boleh berbangga hati karena merupakan tempat kelahiran Pasha Ungu dan Kaka Slank. Dengar-dengar mereka suka makan di restoran di pinggir pantai donggala ketika liburan. Uniknya, banyak bangunan tua seperti di Kota Jakarta yang masih berdiri di Donggala.

Foto : Spot Diving Pantai Tanjung Karang, Donggala - Sulawesi Tengah

Selama perjalanan di Palu dan wilayah sekitarnya selama 5 hari, saya menyadari betapa indahnya Indonesia, betapa makmur dan uniknya negeri ini. Namun kemerataan dan peningkatan teknologi sungguh masih kurang , terutama di Indonesia dibagian timur.

….

Manado, 10 Okrober 2011

Monday, September 26, 2011

Lombok bagian selatan

Foto : Tanjung An, sept 2011

12 – 16 September 2011 saya mendapat kesempatan kembali ke Lombok. Pulau Lombok merupakan pulau yang paling berkesan buat saya, pada awal agustus 2009 saya datang ke pulau ini dengan perjuangan yang sangat besar yaitu dengan jalur darat dari Jakarta, ketika itu saya masih berstatus sebagai mahasiswa tingkat akhir.

Awal tahun 2011 ini, tepatnya bulan februari saya datang lagi ke pulau ini. Sama seperi tahun 2009, perjalanan ini juga membawa saya ke Pelawangan Gunung RInjani dan Gili Trawangan. Bedanya pada februari 2011 saya menggunakan transortasi udara, dan saya hanya berdua dengan teman tidak seperti 2009 yang terdiri dari 18 orang.

Kesempatan saya datang ke Lombok pada tengah September 2011 ini tidak saya sia-siakan, beberapa tempat yang belum saya datangi kini saya datangi. Seperti Pantai Kuta, Tanjung An dan Narmada. Pantai bagian selatan Lombok merupakan pantai terbaik yang dimiliki oleh Pulau Lombok. Pasir putih yang halus dan lembut itu dimanjakan dengan karang-karang besar yang menghiasi kawasan laut lepas ke Samudera Hindia. Ombak yang bagus untuk surfing membuat turis-turis asing perlahan-lahan mulai mendatangi tempat ini.

Foto : Tanjung An ke arah laut lepas, sept 2011

Pemerintah Indonesia pun bertindak cepat melihat potensi besar ini, Bandara baru telah dibangin di Praya, Lombok Tengah. Hal ini untuk mendongkrak pertumbuhan ekonomi dan pariwisata ke level provinsi, Pulau Lombok dan Sumbawa yang masuk dalam provinsi Nusa Tenggara Barat diharapkan menjadi pusat pariwisata baru di Indonesia selain Bali.

Foto : Pantai Kuta Lombok dengan anak2 Suku Sasak, sept 2011

Foto : Pantai Kuta Lombok, sept 2011

Untuk kita sebagai orang Jakarta, Visit Lombok and Sumbawa akan menjadi alternatif baru.


Palu, Sulawesi Tengah, 24 September 2011.

Tuesday, September 6, 2011

Pulau Tidung

foto : P.Tidung, 3 Sept 2011

Hiburan di Kota Jakarta rasanya benar-benar habis di musim lebaran ini, hampir semua tempat hiburan ramai sekali. Saya tidak pernah heran bila tempat hiburan selalu saja kebanjiran pengunjung pada musim liburan, karena memang jumlah penduduk di kota ini sudah sangat mengkhawatirkan, terlalu banyak yang tinggal di Jakarta. Oleh karena itu, saya dan beberapa teman memilih ke Pulau Tidung agar bisa berlibur lebih tenang dan santai di tanggal 2 dan 3 September 2011.
foto : Muara karang, 2 Sept 2011

Pagi hari kami sudah sampai di Muara Karang, karena dari tempat inilah kami naik ke kapal untuk menyebrang ke P.Tidung. Kapal yang memuat sekitar 50 sampai 80 orang ini ternyata masih kurang untuk mengangkut penumpang yang datang pagi itu. Saya pun terkejut, takut kapal yang terbuat dari kayu itu tenggelam karena banyaknya penumpang.

Saya sempat muntah beberapa kali, "hehe... jadi malu..." ketika 2 jam perjalanan dilalui. Kapal dengan kecepatan 10 Km/Jam yang kami tumpangi membutuhkan waktu 3 jam, berarti jarak dari Muara Karang ke P.Tidung hanya sekitar 30 Km, lebih jauh dari Pulau Pramuka. Seandainya saja kami naik kapal ferry yang lebih cepat 2 kali dari kapal ini, mungkin hanya membutuhkan waktu 1,5 jam. Kapal saya seharga 30 - 35 ribu per sekali jalan, untuk kapal ferry dari Marina pastinya lebih mahal.
foto : jalanan di P.Tidung Besar, 2 Sept 2011

foto : Narsis dengan background P.Tidung Besar, sore 2 Sept 2011

Dermaga terletak di tengah bagian selatan P.Tidung besar, Tidung terbagi menjadi dua, P.Tidung Besar dan P.Tidung Kecil. Tidung besar merupakan tempat kegiatan segalanya, karena hanya di Tidung besarlah permukiman tersedia. Terdapat sekolah SD, SMP dan SMK, juga puskesmas dan lapangan bola di P.Tidung besar. Bangunan jalan tersedia mirip seperti di Gili Trawangan dengan penginapan-penginapan di sisinya selain rumah warga. Penyewaan alat rekreasipun terletak di sini, seperti sepeda dengan harga 15 ribu per hari, dan alat senorkling seharga 30 rb per hari.
foto : Narsis dengan Background P.Tidung Kecil, 2 Sept 2011

foto : Mancing di P.Tidung Kecil, 2 Sept 2011

Di bagian timur Tidung besar kita dapat melihat P.Tidung kecil yang masih alami. Di bagian inilah tempat pusat wisata P.Tidung, perairan yang rata-rata tak lebih dari 2 m membuat pengungjung suka sekali berenang atau bermain wisata air lainnya seperti banana boat, kayak/kano ataupun jetsky. Tapi yang seru alamaiah yaitu adanya jembatan cinta yang berbukit dengan tinggi sekitar 8 m dari permukaan laut, sehingga kita bisa merasakan sensasi melompat setinggi 8 m. Saya sendiri melompat sampai 3 kali, sehingga badan memar dan pegal-pegal.
foto : jembatan penghubung P.Tidung Besar dan P.Tidung Kecil

foto : berenang di P.Tidung Kecil, 2 Sept 2011

Di P.Tidung Kecil banyak yang membuat camp atau tenda sendiri tanpa harus menyewa penginapan yang rata-rata seharga 300 - 400 rb per malam untuk 10 orang. Namun di P.Tidung ini tidak memiliki terumbu karang yang bagus, sehingga harus menyewa perahu kecil untuk ke Pulau yang memiliki pemandangan bawah laut yang indah, seperti di Pulau Payung yang kami kunjungi, di sini ikan dan terumbu karang terlihat indah.
foto : Snorkling di P.Payung, 3 Sept 2011

foto : Lompat di Jembatan Cinta, 3 Sept 2011

Monday, August 22, 2011

Ambon Manise



Foto : Pantai Natsepa, Ambon

Bulan Ramadhan ini saya berkesempatan berkunjung ke salah satu kota yang pertumbuhannya cepat, karena sejak tahun 1999 sampai 2005 kota ini menjadi kota mati. Ambon menise, dengan segala keindahannya hadir temeni saya di Ramadhan ini.

Kota Ambon terlihat mungil ketika saya lalui jalanan yang berkelok-kelok dan berbukit. Kapal fery penyebrangan dengan waktu sekitar 10 menit membawa pandangan kota dengan mental nelayan. Di tepi pantai pedagan ikan asap berjualan dengan tenang.

Foto : Patung Crhistina Matha Tiahahu menghadap Kota Ambon
(Pahlawan wanita di Maluku)

Kulit hitam yang memiliki senyum manis hampir dimiliki seluruh kaum hawa di Ambon, dengan body langsing dan tegar banyak dimiliki wanita di Ambon, tidak ada gemulai dan ayu. Sekali terlihat wanita dengan kulit putih maka kita akan terbengong-bengong, mereka seperti bukan orang Indonesia. Memang, bangsa Portugis dan Belanda bertahun-tahun telah mencampurkan orang ambon. Wanita Ambon menjadi menawan, bermata biru dan berambut pirang. Orang kulit hitam pun tak kalah, dengan rambut keriting serta senyum yang manis membuat kesan khas ambon.

Foto : Penjual Ikan di Ambon

Selain ikan yang melimpah luas di Laut Banda, Laut Aru dan sekitarnya. Sejak ratusan tahun yang lalu Ambon diburu para pedagang asing karena memiliki hasil pertanian pala dan cengkeh yang menawan. Harum dan rasanya adalah nomor satu di dunia. Besi putih menjadi oleh-oleh kerajinan yang bisa kita bawa, selain minyak kayu putih yang memang terkenal kualitasnya.

Saya tidak tahu kemana hasil sumberdaya ikan, pertanian dan tambangnya. Apakah membawa kemajuan warganya?. Tapi buat orang yang senang jalan, ambon termasuk kota yang indah. Pantai Natsipe menjadi pantai yang ramai dikunjungi karena pasir putih dan air jernihnya membuat orang selalu ingin berendam. Di beberapa titik kita bisa memancing asalkan gelombang sedang bersahabat.
Foto : Anak Kecil di Ambon

Di tengah-tengah cuaca yang panas, kini pembangunan di Kota Ambon terlihat begitu cepat, mereka ingin pergi dari kehancuran yang pernah dideritanya sekitar 10 tahun yang lalu.

Tuesday, August 16, 2011

Ramadhan bantu aku...

Wahai Ramadhan yang Agung
Wahai Ramadhan yang Mulia
Wahai Ramadhan yang dapat merubah segala keburukan menjadi kebaikan
Wahai Ramadhan yang Indah
Wahai Ramadhan yang Damai
Wahai Ramadhan yang selalu membuat air mata menjadi penuh hikmah…
Tahukan kamu, aku sendiri sedang gundah…
Bagai keramba pada laut
Bagai kelap kelip malam yang dingin
Pada siapa aku mengadu ketika lautan berdebur
Kapan lagi aku harus mengadu
17 Ramadhan yang semakin ganjil
Dengan keajaiban dari segala kerapuhan
Sebuah nilai yang tidak pernah berpura-pura
Sampai aku berpura-pura kalau Yang Maha Agung tidak pernah melihat
Aku kehilangan keberkahan… aku kehilangan hikmah…
Aku dihitamkan tipu daya diri ku sendiri
Wahai Zat Yang Tidak Pernah Tertidur dan Lupa
Rubahlah segala ketidakbaikan yang menyeret hidup ini…
Yang membuat terbuai dalam gelar…
Ya Allah SWT…
“Bimbinglang hamba…”


Wednesday, August 10, 2011

Ku Ingin Rasakan CInta...


Kucoba memahami tempatku berlabuh
Terdampar dikeruhnya satu sisi dunia
Hadir dimuka bumi tak tersaji indah
Kuingin rasakan cinta

Lusuh lalu tercipta mendekap diriku
Hanya usung sahaja kudamba Kirana
Ratapan mulai usang nur yang kumohon
Kuingin rasakan cinta
Manis seperti mereka....

Ayah Bunda tercinta satu yang tersisa
Mengapa kau tiupkan nafasku kedunia
Hidup tak kusesali mungkin kutangisi
Kuingin rasakan cinta

Peluhkupun mengering menanti jawabmu
Takkan pernah usai cintaku padamu
Hanya kata yang lugas yang kini tercipta
Kuingin rasakan cinta

Smakin jauh kumelangkah
Smakin perih jejak langkahku
Harikupun semakin sombong
Meski hidup terus berjalan...terus berjalan

Kirana jamah aku jamahlah rinduku
Hanya wangi terurai yang dapat kucumbu

Manis seperti mereka
Tulus seperti adanya
Suci seperti dirimu
Ingin rasakan cintamu

Kirana jamah aku jamahlah rinduku
Takkan pernah usai cintaku padamu
Hanya kata yang lugas yang kini tersisa
Kuingin rasakan cinta...

Lagu : Kirana (Dewa 19)

Foto : di sini

Sekali-kali sebuah rasa saya bebaskan masuk ke seluruh aliran darah yang hampir membeku karena saya adalah manusia... Saat saya perhatikan alam dan manusianya, hidup ini hanya segelintir waktu yang lewat tanpa mengenal siapa di dalamnya. Saya cuma bisa diam... Karena Cinta terlalu dalam dirasakan, tak kenal ruang dan waktu, namun terkadang hilang begitu saja... Ramadhan yang indah ini, saya berharap dosa-dosa saya larut dalam singgasana...

Tuesday, July 19, 2011

Tawuran Menteng

Batu kerikil tak beraturan terbang melayang di udara, ledakan petasan dan senapan angin meramaikan suara dan sekaligus membuat diam suara kenalpot. Pemberani berdiri di depan menggunakan pedang atau cerurit, ada yang memakai helm dan ada yang tidak. Setengah meter dari tempat saya berdiri pun terkena ledakan petasan yang keras.

Senapan angin dorlop dan mimis menjadi senjata paling keren, berkali-kali saya melihat anak tanggung terkena senapan. Ibu-ibu mengumpulkan batu dan air minum untuk para lelaki jagoannya. Tawuran ini selalu saja terjadi sejak saya masih kecil sampai tangan ini mengetik.

Meskipun kantor polisi sudah dibangun sejak setahun lebih yang lalu, namun perkelahian antar warga di sini tetap saja tak terhentikan. Menteng Tenggulun VS Pasar Rumput menjadi perkelahian yang tak ada ujungnya, walau beberapa kali sudah memakan korban jiwa dikedua belah pihak.

Sebagai anak menteng, saya miris…

Sengaja saya mendekat lokasi tawuran, saya pun terbawa dalam masa lama, masa ketika saya senang sekali ikut tawuran karena pada masa itu saya merasa sangat laki-laki bila ikut tawuran. Puncak terakhir saya tawuran ketika lulus SMP, bersama teman-teman SMP kami mencari musuh dengan menumpangi bus. Tanpa disadari ternyata seorang wartawan berhasil merekam kami dengan kamera fotonya, maka keesokan harinya kami dipanggil kepala sekolah untuk dimintai pertanggungjawaban karena foto kami beramai-ramai masuk dalam lembaran Koran Kompas.

Tuesday, June 21, 2011

Makassar, Juni 2011.


Foto : Bandara Hasanuddin, Makassar Juni 2011

Makassar, sebuah kota yang cukup ramai. Bandara Hasanuddin menjadi bandara tersibuk kedua di Indonesia setelah Bandara Soekarno Hatta, ini hasil penelitian skripsi saya tahun 2009 tentang Pola Arus Keberangkatan dan Kedatangan di Bandar Udara Indonesia. Setidaknya, Makassar menjadi kota penghubung antara wilayah barat Indonesia dengan wilayah timurnya.
Ada jalan Tol, ada jalan layang, ada banyak gedung tinggi dan hotel, ada pelabuhan, ada mol dan lapangan olahraga yang menumplek di tengah kota, sedangkan kampus tersebar di pinggiran Kota Makassar.

Foto : Hotel di Pantai Losari, Juni 2011
(bentuk Love ini cuma kebetulan karena sinar Matahari pada Sore hari)

Namun, ramainya Makassar tidak membuat kemacatan yang berlebih seperti di Jakarta, sehingga saya merasa nyaman di sana. Kota tempat asal Mantan wakil President Jusuf Kalla ini membentuk karakter kota, ada Hotel Kalla, ada Masjid Kalla, ada show room Kalla, dan lain-lainnya.

Foto : Tempat oleh-oleh di dekat Pantai Losari

Tidak banyak tempat rekreasi di Kota, paling ramai di sekitar reklamasi pantai yang terkenal yaitu Pantai Losari. Makanan khas dari Soto, otak-otak, Seafood dan lainnya ada disana, begitupula kerajinan tangan dan hotel, semua tersedia lengkap. Ketika saya melihat banyak toko emas, saya baru tahu kalau di Makassar terkenal akan emasnya. Sedangkan makanan yang enak yaitu Soto Makassar. Hiburan yang terkenal yaitu Studio Trans Makassar, yang terbesar kedua di Asia Tenggara karena dikalahkan studio Trans yang di Bandung (ya iya lah wong cuma ada 2 studio trans di Indonesia), namun karena isinya kebanyakan anak kecil (kata teman) maka saya hanya melihat dari kejauhan.


Foto : Losari Senja

Tuesday, June 14, 2011

Manado...


Foto : Bandara Sam Ratulangi, Manado mei 2011

Masih di bulan mei, kini saya ke Manado. Sebuah kota di ujung utara Pulau Sulawesi ini sungguh berbeda dan asing buat saya. Selama perjalanan dari Bandara Sam Ratulangi menuju Hotel Quality Manado di jalan Boelevart saya melihat banyak gereja, dan selama saya di Manado hanya sempat melihat satu Masjid.
Subuh saya tidak mendengar suara azan, sehingga pagi hari terasa sangat tenang, setenang pemandangan pemukiman, gunung-gunung dan laut di sekitar hotel saya menginap. Manado buat saya kota yang bersih dan eksotis, tidak ramai dan tidak pula sepi, harmonis. Keharmonisan kota ini juga dihiasi oleh wanita-wanita cantik yang sering saya lihat. Yup… Manado terkenal akan wanita cantiknya.
Dibalik kecantikan Kota Manado, ada keresahan bagi orang-orang muslim. Yaitu soal makanan, agak sulit mencari makanan yang halal, oleh karena itu saya dan teman-teman memilih tempat yang agak jauh namun halal. Ada dua restoran yang menjadi pavorit kami, restoran ryario dan keyko.

Foto : Bentuk restoran yang menyerupai kapal laut, Malalayang Manado.

Ryario terletak dipinggir pantai di Malalayang, dari sini terlihat gunung di tengah laut yaitu Gunung Manado Tua. Udang, ikan bawal, ikan salmon, sayur kangkung dan Es Kelapa gula merah mampu membuat suasana restoran dengan view laut ini menjadi lebih asyik. Saya perhatikan di sekitar ternyata model arsitektur restoran banyak yang menyerupai kapal laut. Masih di Malalayang, terdapat pantai umum yang banyak dipenuhi penduduk lokal yang sedang berenang, di pinggirnya terdapat rumah makan panggung menyerupai saung, yang terkenal dengan pisang goreng sambal. Dari situ saya tahu bahwa sebagian besar di Manado, makanan jenis apapun selalu disuguhin sambal.

Foto : Restoran dengan view laut dan Gunung Manado Tua

Nah kalau satu restoran ini adalah pavorit bos saya, kami rela-rela naik mobil 1,5 jam dari hotel untuk makan ikan dan makanan laut lainnya. Yaitu keyko, aroma bau amisnya hilang ketika sampai di mulut, ajaib. Restoran yang juga dijadikan tempat pemancingan ini membuat saya mabok dijalan karena jauhnya, dan saya hanya bisa ikut saja. Hehe….


Foto : Restoran seafoood Keyko, Manado.

Sayangnya saya tidak sempat ke Bunaken yang terkenal itu, karena ada tugas yang harus diselesaikan selama 6 hari di Manado. Tapi tak apalah, biar saya dan keluarga saya kelak bermain kesana suatu saat nanti. Oh iya… di hati-hatilah menyebrang jalan, mereka bisa menabrak kita bila tidak menyebrang di Zebra cross. Sedikit saya perhatikan ternyata mobil jumlahnya lebih banyak dari motor. Semakin eksotis saja…