Wednesday, December 28, 2011

Lilitan - lilitan

Dunia ini seperti lilitan-lilitan bahasa yang majemuk, sulit dipahami dan terkadang saling berbeda memahaminya. Uang, kekuasan dan segala yang membuat pikiran ini menjadi gila rasanya terus menerus mengelilingi hati yang juga sulit dipahami. Semakin hari saya semakin bingung, padahal semakin tua dan suatu saat nanti entah apa yang terjadi.
Seringkali saya kesepian namun tidak bisa berkata, karena kata-kata terkadang tak berarti. Terkadang sepi menjadi siksaan hati yang paling menyakitkan, sangat menyakitkan. Seperti pesawat yang terbang diantara awan-awan putih dan langit biru. Saya hancur ditengah keramaian yang saya tidak kenal, tidak pula saya pedulikan.
Apapun itu, tetap saja dunia ini tidak peduli pada saya, dia terus berputar mengikuti perkembangan teknologi. Kecanggihan itu menjadi dewa bagi orang – orang yang senang bicara, yang senang pada dirinya. Lalu aku tertinggal jauh, jauh tak terlihat. Sampai Saya tak bisa melihat siapa didepan saya, siapa di hati saya.

Thursday, December 22, 2011

Semarang nenek moyang ku...

Foto : Masjid Agung Jawa Tengah di Semarang

Kota Semarang adalah kota misterius bagi hidup saya, beberapa kali saya pernah melewati kota ini namun belum pernah menjajakinya, kota menjadi misteri dalam garis keturunan hidup saya karena di Kota inilah asal usul nenek moyang saya yang saya tidak ketahui. Bayangkan saja, sejak umur satu tahun, baru kali ini saya datang lagi ke Kota ini untuk bertemu nenek moyang saya.

Foto : Pemandangan dari Menara Asmaul Husna

Ternyata Semarang kota yang unik, Kota yang merupakan Ibukota Provinsi Jawa Tengah ini dihiasi akan bangunan-bangunan tua. Saat ini telah dibangun Masjid Agung Jawa Tengah yang luasnya melebihi Masjid Istiqlal di Jakarta. Masjid ini merupakan tanah wakaf dari Masjid Agung Semarang, Arsitertur Masjid Jawa Tengah ini merupakan adopsi dari Masjid di Arab yang memiliki payung-payung. Masjid ini juga mempunyai menara yang tingginya 99 meter hingga dinamai Menara Asmaul Husna, dari sini kita bisa melihat kota Semarang menyeluruh karena memang Kota Semarang jarang ada bangunan tinggi.

Foto : Salah satu bangunan tua di Semarang

Jarangnya bangunan tinggi di Semarang bisa dikarenakan tekstur tanahnya, kata penduduk disana sebagian besar tanah di Semarang mudah sekali bergerak-gerak, ini bisa dilihat dari seringnya longsor di Semarang atas, banjirnya di Semarang bawah dan rusaknya jalanan. Semarang secara fisik dibagi dua, Semarang atas merupakan bagian perbukitan yang ada di sebelah selatan., Semarang bawah merupakan bagian pesisir pantai sampai batas perbukitan. Lanskap sangat jelas terlihat bila dilihat dari Menara Asmaul Husna.

Foto : Alun-alun di depan Masjid Agung Demak

Bencana banjir di Semarang sepertinya menjadi masalah yang tidak ada habisnya, Semarang bawah selalu dihantui dengan bencana ini. Terlebih perumahan di pesisir pantai, banyak sekali perumahan yang asalnya merupakan lahan tambak kini berubah menjadi perumahan. Seperti di rumah sudara saya di Sayung, di sini kita bisa melihat kekacawan tata ruang yang menjadi masalah yang sulit dihentikan. Kecamatan Sayung masuk dalam kabupaten Demak yang berbatasan langsung dengan Kota Semarang. Ternyata nenek moyang saya juga berasal dari Demak yang merupakan Kerajaan Islam pertama di Pulau Jawa.

Foto : Masjid Agung Demak

Baru kali ini saya pergi ke suatu tempat yang suasananya seperti jaman dahulu yang dipenuhi nuansa Islam. Demak bisa saya sebut seperti ini karena sepanjang jalan saya banyak melihat pesantren, bahkan di alun-alun depan Masjid Agung Demak didirikan papan tiang yang bertuliskan Asmaul Husna sepanjang sisinya. Saya sampai mikir, apakah dengan tiang-tiang bertuliskan Asmaul Husna membuat abg pacaran tidak mau ketempat itu.

Foto : Patung Laksamana Cheng Hoo di Semarang

Nenek moyang saya yang masih hidup memang kebanyakan di Semarang. Sambil ketempat-tempat mereka, saya sempatkan mampir ke tempat-tempat wisata seperti tempat Laksamana Cheng Hoo yang merupakan pahlawan asal Cina yang menyebarkan agama Islam di Semarang.
Semarang setidaknya telah mengembalikan saya ke salah satu pelukan nenek moyang. Masih ada satu pelukan lagi yang belum saya kunjungi, yang berada di Kota Purwokerto dan Purbalingga.

Wednesday, December 14, 2011

Pekanbaru - Lirik, Riau.

Foto : Bandara Syeh Kasim II, Pekanbaru.

Bulan Desember ini saya mempunyai kesempatan untuk kembali ke Provinsi Riau, dengan mendarat di Kota Pekanbaru dan singgah 2 malam di kota itu, serta menyempatkan diri pergi ke Distrik Lirik yang jauhnya 4 jam ditempuh dengan mobil.

Kota ini mengalami perubahan sejak pertama kali saya datang kesana November 2010, sekarang perluasan bandara sudah mulai terlihat kemajuan dan rampung dalam waktu dekat. Sepanjang jalan sudirman yang paling terlihat perubahannya, sekarang dalam pembangunan Jalan Layang/fly over. Saya rasa ini ada hubungannya dengan persiapan kota Pekabaru sebagai penyelenggara PON (Pekan Olahraga Nasional) di tahun 2012.

Ada yang membuat saya miris di Kota Pekanbaru itu, setiap halte busway terlihat hancur tapi operasional kendaraannya tetap jalan. Sempat saya melihat turis yang sedang duduk di halte yang kacanya tidak ada, miris saja melihatnya karena Kota Pekanbaru juga merupakan cerminan Negara kita. Setidaknya cerminan budaya dan prilaku bangsa ini, terlebih Riau merupakan bagian dari Indonesia barat yang lebih maju dari Indonesia timur. Tapi sisi positif yang saya pikirkan yaitu, pasti ada hubungannya dengan pembangunan, mungkin nanti halte tersebut akan diperbaiki seiring pembangunan jalan layang dan akab bagus sebelum PON 2012 dimulai.
Foto : Sebuah jalan di Distrik Lirik, Riau.

Saya sempatkan ke Distrik Lirik, di sini sumber daya alamnya cukup melimpah terutama minyaknya. Pembangunan jalannya cukup bagus dan tempatnya cukup tenang, tidak seperti tahun lalu di Bagansiapiapi.

Negara ini, Negara Indonesia sungguh kaya. Sampai-sampai beberapa industry pengolahan barang baku menjadi barang jadi tidak didirikan di negeri ini, mungkin karena Negara lain takut Negara ini menjadi Negara maju dan menekan pertumbuhan ekonomi Negara tersebut. Sebagai contoh industri pengolahan kosmetik yang bahan bakunya sawit, industrinya hanya ada di Malaysia, bukan di Negara kita yang sumber sawitnya sangat banyak. Lalu industry Blackberry yang juga di Malaysia dan tidak didirikan di Indonesia, walau pasar terbanyak ada di Indonesia. Siapa yang maju kalau keadaan lokasi industry seperti ini?

Terkadang saya heran, mengapa hal-hal sempele seperti ini tidak diperhatikan. Padahal ini sangat berpengaruh pada pertumbuhan ekonomi.