Monday, October 24, 2011

Melepaskan penat di Manado & bermain di Bunaken

Di Malalayang Manado, Sulawesi Utara, berjejer pedagang gorengan dengan khas pisang goreng yang dimakan dengan sambal. Pantai terjal di sana selalu ramai orang yang berenang, kebanyakan orang lokal yang menggunakan ban karet agar mengapung di air. Tidak heran terdapat beberapa restoran seafood di sana, dengan pemandangan laut dan Gunung Manado Tua.

Foto : Pisang goreng + sambal khas Manado, Oktober 2011

Tiap malam di jalan Boulevart, tepatnya dekat dengan mol yang merupakan pusat bisnis di Manado selalu saja ramai. Keramaianya tetap terasa walau sudah tengah malam, makanan kuliner berjejeran, dari kelas bawah sampai kelas atas. Di bagian dekat pantai yang merupakan tanah hasil reklamasi dipenuhi anak-anak muda yang suka akan kegelapan, di tempat seperti itu pastinya banyak orang pacaran.

Foto : Manado malam hari dilihat dari atas bukit, Oktober 2011

Masih di sekitar Boulevart, lalu ke jalan-jalan cabang dari jalan ini, wanita-wanita seksi terlihat menggoda. Mereka ada yang bisa diajak untuk menemani kita, bisa karoke ataupun main biliyard atau apasaja yang menghibur. Wanita Manado menurut saya cantik-cantik, sakin cantiknya dimana kita berjalan makan akan menemukan wanita cantik, saya sendiri pernah melihat tukang fotocopy dan tukang bakso yang juga cantik.
Foto : Pulau Bunaken, Oktober 2011

Bagi pecinta alam bawah laut, Manado merupakan kota yang wajib dikunjungi. Ini karena Taman Laut Nasional Bunaken yang terkenal di dunia, sebuah alam bawah laut yang cantik dan luas. Dari pusat kota Manado, untuk menuju ke Bunaken sangat mudah dan cepat, sekitar 1 jam sudah bisa sampai di sana dengan menyewa perahu.

Foto : Narsis di Bunaken, Oktober 2011

Perjalanan ke Bunaken ini merupakan perjalan pertama saya, saya tidak bisa diving tapi bisa berenang sehingga saya hanya perlu menyewa alat snorkeling dan baju renang agar tidak melukai tubuh saat berenang. Sebelum nyemplung ke air, dari perahu kita bisa melihat kehidupan bawah laut, air jernihnya membuat mata bisa menembus melihat ikan-ikan laut, bintang laut dan terumbu karang. Bunaken diambil dari nama Pulau Bunaken yang merupakan pulau terdekat, dari sini kita juga dapat melihat jelas Gunung Manado Tua.

Foto : Bunaken, Oktober 2011

Perahu membawa kami ke tengah terumbu karang yang bersebelahan dengan palung terumbu karang. Kata gueide kami, palung laut di Bunaken memiliki kedalaman 20 – 30 meter, dikedalaman inilah para penyelam melakukan eksplorasi bawah laut. Saya yang hanya snorkeling saja sudah puas melihat bawah laut bunaken, sekali-kali saya melirik ke palung, disana saya melihat ikan-ikan besar. Dengan biskuat atau roti kita bisa foto bareng bersama ikan-ikan kecil yang cantik. Melihat keindahan Bunaken ini maka saya tidak heran tempat ini sampai terkenal di dunia.

Foto : Keadaan di dalam air Bunaken, Oktober 2011

Tuesday, October 18, 2011

Gili Nanggo, Lombok...

Foto : Gili Nanggo, sept 2011

Tidak diragukan lagi bahwa Lombok adalah salah satu tempat kehidupan terumbu karang dan ikan-ikan yang terkenal di Indonesia. Sebut saja Gili Trawangan, pulau kecil itu dikelilingi pemandangan yang menakjubkan di dasar lautnya, tidak heran fasilitas menjadi lengkap di Pulau kecil itu karena promosi dilakukan besar-besaran untuk pulau tersebut. Di dekat Gili Trawangan terdapat dua pulau kecil yang ikut menjadi promosi pariwisata yaitu Gili Meno dan Gili Air.

Beberapa tahun terakhir 3 Gili tersebut sangat ramai dikunjungi wisatawan dari seluruh dunia. Di tulisan ini, saya ingin menampilkan suatu pulau kecil yang belum terkenal yang keindahan alam lautnya masih murni dan suasananya sangat tenang. Pulau kecil ini terletak di barat daya Pulau Lombok, lebih ke selatan dari Pelabuhan Lembar. Dari Mataram bisa ditempuh dalam waktu 45 menit menggunakan mobil.

Foto : Welcome to Gili Nanggo, sept 2011

Gili Nanggo merupakan rentetan pulau kecil, ada beberapa Gili disana yang tidak diketahui namanya. Butuh 15 menit dari bibir pantai Pulau Lombok menuju ke Gili Nanggo, dan sepanjang perjalanan di perahu kita akan takjun oleh pemandangan bukit-bukit, pulau-pulau kecil, pantai pasir putih, dan perairan laut yang tenang.

Foto : Pasir putih dan air yang jernih di Gili Nanggo, sept 2011

Foto : Berenang di Gili Nanggo, sept 2011

Pasir putih di pantai Gili Nanggo seputih pantai di pulau yang tak bertuan, dari pantai itu kita bisa melihat terumbu karang dan ikan-ikan kecil. Menakjubkan bukan, dengan menggunakan kacamata snorkeling saya telusuri perairan yang tak jauh dari pantai tersebut. Ikan-ikan seperti bersahabat dengan manusia, begitu Terumbu Karang yang indahnya lebih indah dibanding Gili Trawangan. Sambil snorkeling saya memberi makan ikan di dalam air dengan roti, ikan-ikan tersebut mendekati saya sampai saya bisa memegang ikan-ikan tersebut.

Foto : Penginapan di Gili Nanggo, sept 2011

Dan untuk pertama kalinya dalam seumur hidup saya, saya bisa bermain air dengan ikan sambil memegangnya di habitat mereka tempati. Oh… Betapa indahnya Negeri ini…

Keterangan :
Sewa Perahu PP (muat 8 – 10 orang) = Rp 250.000,-
Sewa Kacamata Snorkling & Kaki Katak = Rp 35.000,- / set
Penginapan di Gili Nanggo = Rp 400.000 – 600.000,- / Cottage (muat satu keluarga kecil)
Foto : Diambil dari Bedul, teman yg gila foto

Thursday, October 13, 2011

Keinginan...

Ada 3 hal besar yang harus saya selesaikan, bisa jadi ini adalah sesuatu yang banyak pengaruhnya bila saya sampai mendapatkan 3 hal ini, yaitu Menikah, Kuliah S2 di Eropa dan Membeli rumah. 3 hal ini menjadi tantangan yang menarik, menikah muda yang saya ingingkan sudah gagal, dahulu saya ingin menikah di umur 21 tahun namun pada umur segitu saya belum bisa apa-apa, nah sekarang juga masih aja gak jelas siapa cewe yang jadi isteri saya nanti. Kuliah S2 di eropa sampai saat ini masih belum kesampaian, tahun ini saya mencoba satu beasiswa namun gagal juga, hambatan terbesar untuk meraih beasiswa S2 di eropa adalah Tofle, atau bahasa inggris saya yang masih belecetan. Sedangkan membeli rumah juga belum kesampaian karena saya belum mampu menabung dan belum bisa hidup hemat, saya sendiri baru 2 tahun bekerja setelah lulus kuliah, saya harap setidaknya dalam waktu dekat saya bisa bayar DP dulu untuk membeli rumah.

Itu adalah 3 hal keinginan yang sangat besar, saya sebut itu adalah prioritas utama, saya harap dalam waktu dekat saya bisa mendapatkan salah satunya. Setelah 3 hal itu, saya memiliki keinginan besar juga yang di bawah prioritas utama. Saya sebut prioritas kedua, yaitu membuat Ibu saya bisa pergi haji, dan saya ingin jalan-jalan di eropa serta membuat novel. Saya harap dalam waktu 5 tahun ke depan, 3 prioritas kedua ini bisa tercapai. Pergi haji akan lebih mudah bila saya sudah mempunyai rumah sendiri walaupun masih kredit, jalan-jalan di eropa akan lebih mudah bila saya bisa kuliah di eropa, dan membuat novel lebih muda bila saya banyak pengalaman. Bisa jadi prioritas kedua ini merupakan turunan dari prioritas utama.

Selain memiliki prioritas utama dan kedua, saya juga memiliki prioritas jangka panjang, yaitu menjadi pengusaha, seniman dan dosen/ilmuwan. Terakhir saya memiliki keinginan besar yang mulia yaitu membangun pesantren modern gratis untuk orang-orang tidak mampu, pesantren yang fasilitasnya sama baiknya dengan kampus UI.

Monday, October 10, 2011

Kota Palu, Sulawesi Tengah

Masih dengan mimpi-mimpi ku
aku terbuai cerita yang abadi
yang melayang-layang tanpa sayap

...
Foto : Bandara Mutiara, Palu - Sulawesi Tengah

Setelah ke Lombok di minggu kedua bulan September, saya ke Kota Palu yang merupakan ibukota provinsi Sulawesi Tengah. Tengah malam sesaat sebelum pesawat landing di Bandara Mutiara, cahaya lampu rumah dan penerangan lainnya yang bersinar saat itu begitu memesona. Cahaya berkilau di sisi jalan yang langsung bersebelahan dengan teluk dan pantai yang cekung ke arah kota, serta kota kecil yang dikelilingi bukit. Semua penumpang pesawat takjub akan pemandangan itu, termasuk saya yang kebetulan pas di samping jendela. Degradasi warna begitu kemilau,dan jelas perbedaannya antara pemukiman, pantai, dan vegetasi.

Foto : Jalan di Kota Palu - Sulawesi Tengah

Membicarakan Kota Palu, kita akan juga membicarakan Kota Poso, lalu merentet ke cerita ambon. Hanya saja Palu bukanlah daerah konflik seperti Poso dan Ambon. Kebanyakan pendatang berasal dari suku bugis dari Makasar dan suku jawa dari Pulau Jawa, banyak makanan khas Makasar dan Jawa tersedia di sana. Karena transportasi dari Palu menuju Poso sangat sulit, maka banyaklah interaksi antara kota-kota di Sulteng bagian timur dengan kota-kota di provinsi lain yang berdekatan. Di Palu ada Panti Asuhan Wali Songo yang merupakan bekas Pesantren yang ada di Poso. Mobil travel menjadi kendaraan yang sering di pakai di Sulteng karena kota-kota terpisah pada alam yang bertebing dan saling berjauhan.

Foto : Restoran milik Kaka Slank, Donggala - Sulawesi Tengah

Ada jembatan yang bagus di pinggir pantai Palu, pantai itu menjadi kebanggaan masyarakat. Namun untuk Diving dan Snorkling lebih bagus ke Kabupaten Donggala yang tak jauh dari kota Palu. Donggala boleh berbangga hati karena merupakan tempat kelahiran Pasha Ungu dan Kaka Slank. Dengar-dengar mereka suka makan di restoran di pinggir pantai donggala ketika liburan. Uniknya, banyak bangunan tua seperti di Kota Jakarta yang masih berdiri di Donggala.

Foto : Spot Diving Pantai Tanjung Karang, Donggala - Sulawesi Tengah

Selama perjalanan di Palu dan wilayah sekitarnya selama 5 hari, saya menyadari betapa indahnya Indonesia, betapa makmur dan uniknya negeri ini. Namun kemerataan dan peningkatan teknologi sungguh masih kurang , terutama di Indonesia dibagian timur.

….

Manado, 10 Okrober 2011