Thursday, March 24, 2011

tersiksa waktu yang sirna…


Foto : Gili Trawangan Feb 2011

Aku benar, tersiksa waktu yang sirna…
Bukan haus rindu di tengah samudera
Bukan dosa ku tanamkan

Aku benar, lelah seperti parit-parit
Bukan bintik benih di langit gelap
Lelah mengancam tubuhku yang semakin kuyup

Rasanya ku ingin bangkit
Menutup noda saat ini
Meletakan tangan ini di pundak
Pundak asmara yang kesat mata adanya
Itu bukan tangis Mu… bukan tawa Mu…

Masih seperti dulu, lagi-lagi aku tenggelam…
Lagi-lagi aku tak siap akan kenyataan
Tergores-gores senyum langit
Mengapa kau tertawa?

Monday, March 14, 2011

Toleransi VS Ketersengajaan... Sebuah pembodohan public...

Angin semerdu kicau burung yang tak ku kenal, temani sepi pagi yang dingin nan sejuk. Langit biru penuh kecerian terus memandangai ku yang semakin hari, semakin cemas akan garis-garis hidup yang sungguh sulit dijamah. Senandung musik klasik ingatkan ku pada ketakberdayaan saat masih duduk di sekolah, saat kebenaran dan kebohongan sama sekali tak bisa ku bedakan.

Musik yang ku dengar bukan klasik mellow, bukan klasik jazz, bukan pula country, hanya alternative tahun 90’an. Bunga band, dengan lagu-lagu kerasnya yang bercerita tentang kehidupan kontemporer di masanya yang mungkin masih berlaku sampai saat ini. Lirik-lirik tentang ketakberdayaan seseorang dalam menjalani hidup di dunia ini. Cinta, idealis,dan narkotika seolah-olah terus menghajar kaum muda metropolitan, terus menghias dari waktu ke waktu.

Namun saya sadar cerita tentang ini tidak akan pernah habis waktunya, tidak kan pernah berhenti. Godan tetap selalu ada, masalah tak kan berhenti, nafsupun begitu. Tinggal kita mau seperti apa…

Foto : Lombok feb 2011

Tiba-tiba ingat pelajaran kuliah waktu dulu, tentang tata kota antara teori dan kenyataan di Jakarta dalam mata kuliah Geografi Perkotaan. Kita semua tahu bahwa harga tanah semakin mendekat pusat kota akan semakin tinggi, tidak heran kalau saya sudah tak mampu membeli rumah di tengah kota Jakarta.

Rumah-rumah kecil tengah kota jelas masih ada, kebanyakan mereka bukan orang berpenghasilan besar. Bila mengikuti teori harga tanah seharusnya yang mengisi permukiman kota, ya hanya orang kaya, dan seharusnya pemda Jakarta menggusur rumah-rumah kumuh di Jakarta. Pemerintah selalu mengatakan bahwa rumah-rumah kecil dan kumuh tetap berdiri karena alasan toleransi.

Begitu baiknya pemerintah kota Jakarta, tetap membiarkan kekumuhan menghiasi tata ruang kota ini. Orang-orang kumuh pun terus bertahan hidup di tengah-tengah aktifitas pusat Negara ini, transaksi ekonomi yang begitu besar juga terus berjalan tiap detiknya. Akibat toleransi yang terus menerus dipertahankan, maka terus meneruslah lahir bayi yang serba kekurangan di tengah perkampungan kumuh yang bertahan di peredaran uang terbesar di negeri ini.

“TOLERANSI”, satu kata ini membuat saya tertawa, dan semakin tertawa ketika pemerintah ini terus berkata toleransi bila dikritik buruknya pembangunan kota Jakarta. Bagi saya, buruknya pembangunan, dan terus bertahannya kekumuhan di tengah kota ini bukan karena toleransi, tapi ketersengajaan agar para perusahaan negeri ataupun swasta bisa memperkecil pengeluarannya dalam urusan rumah tangga kantornya.

Bayangkan saja, apa jadinya bila tidak ada rumah kumuh di Jakarta. Tidak ada orang kecil, tidak ada orang miskin, tidak ada rumah petak-petak di tengah kota. Gedung-gedung tinggi itu, kanto-kantor itu, siapa yang akan membersihkannya? Siapa yang akan menyediakan minum bagi pejabat kantor? Siapa yang pagi-pagi sudah ada di kantor untuk ngepel lantai? Siapa yang pulang malam untuk mematikan lampu?

Jakarta kini sudah menjadi kota megapolitan dengan terbentuknya kota-kota baru di daerah pinggiran Jakarta seperti Bekasi, DepoK dan Tanggerang. Mungkin di kota pinggiran inilah yang masih mungkin tersedia tenaga kerja dengan upah minim, tapi ini berjarak cukup jauh. Maukah perusahaan membayar mahal untuk urusan rumah tangga mereka, untuk OB dan cleaning service? Hohoooo…. Pasti mereka diam membisu, kantor-kantor di Jakarta saya rasa sangat pelit. Padahal pendapatan mereka besar, sebesar perusahaan yang ada di luar negeri seperti Malaysia.

Sudahlah, bikin kesel bila membicarakan ini di negeri ini. Karena itu saya kurang setuju bila ada orang mengatakan toleransi bila permukiman kumuh tetap bertahan di Jakarta. Padahal, mereka aja sengaja untuk membiayai urusan rumah tangga di kantornya. Mereka butuh orang berupah kecil, mereka butuh tenaga kerja semurah-murahnya dengan kemampuan sebesar-besarnya. Dan mereka akan membuangnya bila sudah tak diperlukan lagi, dan mereka akan mengatakan “toleransi” agar dibilang baik.

Hahahaa…… negeri ini… seandainnya orang-orang berupah kecil itu tahu betapa besarnya negeri ini, dan betapa indahnya negeri ini. Seandainya mereka tahu bahwa hidup ini tak sesempit Jakarta. Dan seandainya saja para pejabat dan pengusaha di negeri ini tahu bahwa harta tidak akan dibawa mati. Mungkin narkotika, tidak mampu menembus ke dada kita…. mungkin

Tuesday, March 8, 2011

Emosi...


foto: Bagian barat P.Lombok, 5 feb 2011

Disini emosi…
Bergejolak sangat panas...
Disini emosi…
Disini tidak tahu menahannya..
Yang ada emosi…
Cuma emosi…
Disini hanya ada emosi….

Terkadang, suatu masalah membuat saya begitu emosi, entah masalah yang terlalu besar atau saya tak bisa menahannya atau memang saya yang lemah. Terkadang emosi membuat saya tidak peduli petuah-petuah bijak, walau saya tahu setiap waktu selalu ada masalah pada diri manusia. Jangan sekali-kali bercerita tentang kesabaran dari sumber2 yang ada di dunia. Karena saya tahu…
Oh emosi… kenapa kau begitu indah, merasuk seperti para dewa, menggetarkan suasana. Membuat segalanya menjadi tidak berarti, serasa dunia milik saya.
Oh emosi…kemarilah, kau tak perlu takut aku akan membunuhmu…. Karena hidup mu adalah hidup ku…
Wahai emosi… menarilah bersama ku… bersama kita ungkapkan segalanya dengan telanjang… tanpa ada kebohongan…
Hai emosi… sungguh tidak berartinya hidup ini tanpamu…