Friday, December 26, 2008

skripsi

foto : pelabuhan sunda kelapa

aku ingin skripsi tentang kelautan...
tentang dunia yang sepi
tentang makhluk yang jarang dibicarakan
hanya tempat sampah bagi daratan
seperti di gunung...
laut pun membiru...
dengan awan-awan yang ku cintai
kawan... jangan ajak aku pergi-pergi
aku ingin persiapkan penelitian
terimakasih

Thursday, December 25, 2008

Jakarta dan Laut

Foto : Brojonegara Serang

Kehidupan, tak kan pernah cukup untuk digali hikmahnya. Bagaimana keadaannya? Dan dimana tempatnya? Setidaknya membuat manusia selalu terus bertanya, begitu pula aku… ketika mata mulai membuka dari lelap atau ketika telinga mulai terasa ada gelombang dengan frekuensi tertentu masuk dan mendengung.

Selama bertahun-tahun aku hidup, baru akhir-akhir ini aku mulai berfikir dan mencari hikmah dari keberadaan dan keindahan laut. Aku baru berfikir bahwa sebenarnya Negara ini sangat kaya hanya dengan laut saja, bayangkan saja berapa luas lautan kita dibanding dataran. Dengan perjalanan kemarin di selat sunda bersama anak-anak daerah dari pelosok negeri ini, aku mulai merasa hidup dan benar-benar hidup sebagai Negara Indonesia. Kenapa?

Jelas, merekalah orang-orang yang tak terjajah oleh budaya dan pemikiran bangasa asing yang lama kelamaan jelas menghancurkan negeri ini. Walau mereka terkesan cupu / kuno, tapi mereka ternanam benih-benih negeri yang asli. Contohnya Rossy (anak pantai Lombok), ia sangat ingin tahu keadaan Moll dan tempat-tempat yang bagus, ternyata ia kecewa karena justru yang dilihat hanyalah pengemis dimana-mana dan banyaknya rumah kumuh.

Kata Rossy “berarti aku tertipu oleh sinetron-sinetron dan film di TV, aku ndak sanggup tinggal di Jakarta ded kalau sudah tahu Jakarta seperti ini.”

Eka (anak Aceh), “Lah Loh… Jakarta kok seperti ini ya… banyak sekali wanita yang memakai baju dengan se-enaknya, seksi… aku gak kuat. Jakarta kok banyak rumah kumuh yang tinggal di bawah jembatan ya, di Aceh gak ada tuh ” .

Si Sapto (semarang) langsung menimpal, “jelas aja di Aceh gak ada jembatan layang, jadi gak ada yang tinggal di bawah jembatan”.

“he….he,,,,,…hehe…ha,haaahaaa. Jakarta banyak polusi, banyak karbon, timbal dan unsur kimia yang beracun untuk kesehatan, pusing…. Harus naik bus, bajai dan kereta…. Aku gak bisa ded.. enakkan di laut, tenang dan damai”, si Nhellya (anak Bangka).

“Jakarta tak seperti yang ku kira, masih bagusan di Papua”, kata Kris anak Kep Biak Papua.

“aku juga gak kuat tinggal lama-lama di jakarta, biaya hidup mahal. Enakan di Lombok ” kata Khoiril.

“Jakarta sama saja seperti di Surabaya, enakkan di gunung, kapan kita naik ke gunung bareng ded?” si Tomy anak surabaya.

“enakan di jogja” kata prima anak jogja.

Semua teman-teman ku dari daerah selalu bilang Jakarta tidak menyenangkan untuk hidup. Aku sebagai anak yang sudah lama tinggal di Jakarta sangat merasa miris, apalagi ketika menanyakan dimana tempat belanja barang asli buatan Jakarta. Jujur aku sangat bingung, sampai saat ini aku belum tahu barang kerajinan apa yang asli buatan Jakarta, dan dimana tempatnya aku pun belum tahu. Apalagi kris sudah memberi kalung asli buatan Papua kepada ku yang dikirim melalui JNE. Aku harus ngasih apa? Bingung?

Maaf kawan, mungkin monas yang asli Jakarta. Tapi kata Ibetz (anak bandung) “itu mah biasa aja.. di Bandung banyak yang bagus”.

Sudahlah, lelah rasanya membicarakan Jakarta. Yang menurut ku sama saja membicarakan kekuasaan, kerakusan, kejahatan dan kebohongan. Jakarta tak memiliki nilai seni, lihat saja tata kota dan bentuk bangunannya. Jakarta tak memiliki hati, lihat saja keadilan, data menujukan orang kaya semakin banyak dan orang miskin pun semakin banyak, Jakarta hanya berpihak pada yang ber-uang. Jakarta bukan Negeri kita, lihat saja orang-orang yang tinggal di sana, saling berebut kekuasaan dan penuh dengan kebohongan.

Hidup di Jakarta seperti diperbudak oleh waktu yang harus menuntut bekerja dan belajar tanpa henti agar nanti kita tak kalah dalam persaingan hidup. Sedih… bagi mereka yang kalah. Apakah yang kalah tak menjadi manusia? Jakarta sialan… orang makan sampah di Jakarta adalah lumrah, orang bunuh diri di Jakarta adalah lumrah, orang pembohong adalah lumrah.


Foto : Brojonegara Serang


Kawan, cintailah apa yang ada di sekitar mu… termasuk aku yang terus mencintai kota sampah ini, aku mencoba bertahan di tengah-tengah kebohongan, kepalsuan, dan kotoran-kotoran manusia lainnya. Bagaimana lautan di Jakarta…. Hah… sama aja… kotor… Karena itu tidak heranlah aku bahwa anak Jakarta lebih senang berfoya-foya untuk menghibur diri sendiri karena tak ada keindahan alam. Kebanyakan orang Jakarta menghabisi waktu dengan nonton film, makan makanan yang bergaya barat, diskotik, dugem. Karokean, ngeband, futsal (gue banget), dan lain-lain walau tak semuanya.

Dan sebagian orang yang tidak suka dengan itu semua, mereka memilih merenungkan cinta, mencari cinta sejati katanya gitu. Katanya dengan cinta, apapun bentuk lingkungannya, rasanya semua menjadi Indah…. Haha…mungkin inilah yang menjadi kemenagan Jakarta, di Jakarta banyak interaksi sosial yang akhirnya banyak menimbulkan benih-benih cinta, betul gak? Karena interaksi cinta itulah semua menjadi indah…. Kecuali bagi mereka yang menutup diri, “gak papa donk… semua kan hak manusia.. mau menutup, membuka atau setengah-setengah ya gak papa kali…. Karena tak ada orang yang sempurna… termasuk aku yang sangat jauh dari sempurna” Namun bukan berarti membiarkan diri jatuh dan terus terjatuh, harus bangun dan bermanfaat.

Friday, December 12, 2008

Perjalanan bersama tim Oseanografi

Tanggal 25 november 2008 sampai 3 desember 2008 saya bergabung dengan tim oseanografi dalam Pelayaran Kebangsaan bagi Ilmuan Muda yang diadakan oleh Direktorat Pendidikan Tinggi DEPDIKNAS yang bekerjasama dengan Pusat Penelitian Oseanografi – LIPI. Peserta tim oseanografi ini berjumlah 20 orang yang terdiri dari 11 dosen dan 9 mahasiswa. Peserta berasal dari beberapa daerah, mulai dari Aceh sampai Papua.


Hari selasa dan rabu atau tanggal 25 dan 26 november, kami diberi materi layaknya kuliah. Materi ini berisi tentang Penulisan Ilmiah, fisika oseanografi, kimia oseanografi, mikrobiologi laut, plankton dan geologi. Materi ini diberikan di lantai 3 gedung LIPI yang terletak di Jl. Raden saleh mulai jam 9 pagi sampai 6 sore, isi materi ini disampaikan oleh ahlinya masing-masing yang berasal dari LIPI. Penginapan kami di Hotel Mega yang terletak di Jl. Proklamasi, dalam satu kamar terdiri dari dua orang.


Jam 8 pagi hari kamis 27 november, kami menuju pelabuhan muara baru Jakarta Utara yang diantar dengan bus. Sesampainya disana, kami langsung menaruh tas di kapal Baruna Jaya VIII, setelah itu berkumpul di panggung yang sudah tersedia untuk acara pelepasan kapal. Salah satu acara pelepasan kapal selain sambutan-sambutan dari petinggi DIKTI-DEPDIKNAS dan LIPI, yaitu menyanyikan lagu Indonesia Raya. Jam 11 siang kapal meninggalkan Jakarta, yang sebelumnya kami di foto-foto dan direkam video oleh para wartawan.


Berdiri diatas kapal terbaik se-Indonesia merupakan pengalaman yang luar biasa, karena memang saya belum pernah naik kapal laut. Kapal Baruna Jaya VIII ini merupakan kapal riset yang dimiliki oleh LIPI yang dibeli pada tahun 1998, yang dibuat di Norwegia. Kapal ini sudah standar internasional, lengkap segala navigasi modern dan fasilitas kenyamanan. Ruangan dalamnya ber-AC dengan system pembuangan kotoran yang ramah lingkungan, terdapat ruang diskusi, makan, sholat,laundry, fitness dan karokean. Captain dalam perjalanan ini bernama Irham Danil, B.Sc, namun tidak seperti kapal-kapal milik angkatan laut, disini kami bebas memasuki ruang apa saja, bahkan duduk di tempat captain ruang nahkodapun kami diperbolehkan. (baik ya..)


Kami mendapat kamar di lantai room deck, sebuah lantai yang dikhususkan untuk penginapan/kamar tidur para peserta. Kamar saya bermuat 4 orang dengan 2 kasur bertingkat, di kamar ini tersedia washtafel, satu meja kecil serta bangku panjang, listrik, 4 lemari besar dan 4 lemari kecil. Tersedia juga handuk masing-masing orang dan laundry pada hari sabtu. Semua tempat keran air tersedia pilihan air panas dan standar, sehingga nyaman jika mandi pagi hari dengan air panas. Saya sekamar dengan Prima (UGM), serta Rosy dan khairul yang berasal dari Universitas Mataram (Lombok).


Tempat kami berkumpul untuk diskusi ataupun makan terletak di lantai shelter deck. Tempat kumpul dan makan ini terdapat banyak meja besar dan bangku yang kokoh agar tak mudah goyang saat gelombang besar. Tempat ini terdapat papan tulis besar dan peta dunia di sebelahnya, banyak juga lukisan-lukisan abstrak dan pajangan kuno di dinding ruangan, sehingga menciptakan ruangan yang berseni gaya pelaut modern (kayaknya sih..). Ruang kumpul ini dilengkapi dengan TV, dvd dan peralatan sound system termasuk karoke, selain itu juga tersedia kulkas yang selalu diisi penuh tiap harinya, isi kulkas ini antara lain green tea, fruite tea, fanta, coca-cola, sprite, pocari sweat, aqua botol dan buah-buahan segar yang berganti-ganti setiap hari.


Di lantai shelter deck ini terdapat beberapa ruang khusus seperti ruang lab kimia, mikrobiologi, plankton, geologi dan fisika, yang lengkap dengan peralatannya. Dari shelter deck, kita bisa ke bagian luar kapal untuk melihat pemandangan karena termasuk daerah terbuka sehingga tak ber-AC, di tempat inilah kami mengambil sampel-sampel penelitian. Shelter deck luar ini lengkap dengan peralatan sampel, helm kepala, sepatu boot, pelampung dan lain-lain untuk pengamanan diri.


Hari pertama di kapal, saya lebih banyak menghabiskan waktu di bagian atas luar dekat nahkoda, sambil melihat awan-awan di langit serta ombak-ombak. Tak henti-hentinya saya bersyukur pada Tuhan, karena hanya orang yang beruntung yang dapat mengikuti acara ini. Sore menjelang malam Eka banyak berbagi cerita dengan saya, ia merupakan satu-satunya mahasiswa dari Aceh atau Universitas Syah Kuala. Tanpa disengaja saat ngobrol di tepi kapal, saya melihat lumba-lumba meloncat-loncat dengan indah di samping kapal, sambutan pertama untuk saya adalah lumba-lumba.


Malam hari setelah makan, semua berkumpul merencanakan penelitian dan sekaligus pembagian kelompok kerja. Dari 20 peserta, akhirnya menjadi 4 kelompok yaitu kelompok Kimia air, microbiologi, plankton dan fisika-geologi. Saya bergabung dengan kelompok kimia air yang terdiri dari Pak Andri (univ. Bung Hatta, padang), Pak Tri (IPB, Bogor), Prima (UGM, Jogja), Nhelly (Univ. Sriwijaya, Palembang) dan saya sendiri wakil dari mahasiswa UI. Selesai itu semua, saya pergi ke atas luar deck sendiri untuk menikmati pemandangan malam di laut. Angin begitu kencang dan lumayan dingin, hanya sendiri perasaan senang bercampur gundah. Tak lama menahan angin, saya masuk ke kamar untuk tidur.


Jum’at pagi – sore banyak menghabiskan waktu untuk pengambilan sampel 3 titik di sekitar Pulau Jawa dan Sumatera. Kelompok kimia air di bimbing oleh Pak Muswerry yang dibantu oleh Pak Mahdi, saya sangat antusias dalam pengambilan sampel ini. Sore hari di titik ke-3, saya mulai merasa mual dan langsung lari ke kamar untuk memuntahkan isi perut. Goyangan kapal sangat terasa di kepala, saya istirahat di kasur sampai akhirnya ketiduran dan tidak ikut dalam pengambilan sampel di titik ke 3 ini. Di setiap titik, kami berhenti sekitar 1 - 2 jam untuk pengambilan sampel, lalu pergi ketitik berikutnya. Setiap titik dinamakan stasiun, dan terus menerus sampai 10 stasiun yang direncanakan.


Setelah bangun dari ketiduran saya merasa bersalah karena tidak ikut mengambil sampel, karena itu saya ikut menganalisis sampel di lab kimia pada malam harinya. Kami diajarkan Pak Mahdi bagaimana membentuk air sampel menjadi zat hara fosfat, nitrat dan oksigen terlarut. Cukup menarik dengan melakukan reduksi dan titrasi dengan alat modern, serta pengukuran fosfat dan nitrat dengan spektrofotometri, zat hara tersebut terlihat kadarnya di permukaan laut,di kedalaman 10 m dan kedalaman dekat dengan dasar laut. Akhirnya kejadian yang ditunggu-tunggu datang juga, di ruang lab si Nhelly muntah, dan Karena mendengar suara muntahan Nhelly, saya ikut muntah di tempat yang sama, si Nhelly kabur tak berdosa, terpaksa saya sendiri membersihkan muntahan kami berdua dengan tangan (jijik…jijik deh…), karena ruangan harus bersih sebagai lab kimia.


Kata Pak Muswerry, yang merupakan lulusan S2 dan S3 di Belgia dalam bidang kimia kelautan ini, “kalau muntah harus banyak makan”. Maka, pagi hari sabtu saya langsung banyak makan, dan Pak Muswerry bilang “bagus ded…makan yang banyak” sambil mengacungkan jempol. Tapi memang benar, rasa mual semuanya hilang dan aku merasa segar kembali.


Hari ketiga di laut ini kami menuju stasiun 4, 5 dan 6. Pak Andri yang akrab dipanggil Pak RT gara-gara menjadi ketua tim osenografi ini, sudah mabuk laut dari hari pertama, karena itulah terkadang dia tidak ada saat pengambilan sampel. Begitu juga Nhelly, pada hari ini dia tidak muncul di stasiun 5 dan 6. Akhirnya saya paling rajin mengambil sampel, Prima menggantikan tugas Pak RT dalam pencatatan, sedangkan Pak Tri selalu siap di lab untuk pengukuran Ph dan beberapa larutan yang harus dicampur, sayapun merangkap meng-filtrasi larutan yang biasa dikerjakan Nhelly. Siangnya kapal bergerak mendekati gunung Krakatau atau daerah Rakatau (di Peta), cantik… gunungnya tertutup penuh oleh batuan pasir hitam akibat aktifitas magmanya. Setelah itu hujan pun turun memberi kedamaian kami.


Malam harinya, yaitu malam minggu. Bosan dengan keadaan malam sebelumnya, saya masuk ke kamar Eka dan Kris yang sekamar itu, dan mereka meminta ku untuk mengajak Nhelly ke kamar untuk sekedar ngumpul. Tanpa pikir panjang, ide ku muncul cepat sekali, saya memanggil Nhelly dengan alasan berpura-pura untuk membuat laporan kimia. Nhelly datang dan langsung ku ajak ke kamar Eka dengan pintu terus dibuka agar tak terjadi kesalahpahaman, pura-puranya laporan ada di laptop si Eka, dan ternyata setelah ku cari-cari tidak ada laporan. Hehe… “laporannya hilang Nhell..” dengan nada kecewa padahal hati senang.


Kris dan Eka langsung mengajak ngobrol Nhelly sehingga wanita ini lupa dengan laporannya (hek,,hek… jahatnya laki-laki). Akhirnya kami ngobrol-ngobrol berempat di kamar Eka sampai tengah malam, setelah itu kami berempat ke atas luar deck kapal dekat ruang nahkoda. Kris, laki-laki dari Papua ini langsung membuat pantun tentang persahabatan. Eka pun demikian, dia langsung menimpal perkataan Kris dengan kata-kata bijak. Tapi Nhelly tetap cemberut, sedangkan saya hanya tertawa-tawa tak tahan melihat tingkah orang Aceh dan Papua itu. “Walaupun kita berbeda-beda budaya daerah, dengan pelayaran kebangsaan ini kita dipersatukan menjadi Indonesia” kata Eka. “kita tidak boleh melihat orang dari penampilannya saja, tidak boleh ada blog diantara kita” kata Kris dengan logat timur yang sering mengeluarkan kata-kata pantun. Nhelly langsung teriak “ya… kita harus bersatu dan terus bersahabat”. Eka langsung menjulurkan tangan kanannya, tangan kanan Kris juga langsung di atas tangan Eka, Nhelly pun mengikuti di atas tangan Kris, dan telapak tangan kanan saya ada di paling atas mereka semua. (sorry kalau kata-kata Kris, Eka dan Nhelly ada yang salah, karena aku lupa-lupa ingat, namun tak jauh dari itu semua kok…). Tak lama saat ngobrol berempat di atas kapal itu, saya melihat bintang jatuh dua kali, yang pertama jatuhnya panjang dan hanya saya yang lihat, bintang kedua agak pendek dan Eka juga melihat.


Saya sungguh mengagumi ketiga orang tersebut, mengagumi pula kecantikan alam di lautan pada malam hari. Senang rasanya bisa melihat bintang jatuh dari tengah laut, di luar sana pemandangan sangat gelap namun bertabur cahaya bak mutiara dari pinggir pantai Pulau Jawa, Pulau Sumatera dan pulau kecil lainnya. Tak bisa dikhianati lagi bahwa saya benar-benar bersyukur, jika membayar pasti saya tidak akan sanggup. Kata Eka, saat tsunami ia kena sampai setinggi dada, ia memegang tiang pondasi Masjid dan akhirnya selamat. Kris, walau ia paling jauh, namun rasa percaya dirinya paling tinggi. Sedangkan Nhelly, satu-satunya peserta wanita yang paling perkasa (ya jelaslah… karena wanita yang satunya lagi sakit-sakitan dari pertama naik kapal), mulai dari captain kapal, panitia, pemberi materi, dosen-dosen, teman mahasiswa, awak kapal sampai pelayan kapal, semuanya bisa tertawa gara-gara kebawelan Nhelly. so… secara garis besar, tiga orang inilah yang membuat ramai suasana kapal Baruna Jaya VIII.


Hari minggu mengambil sampel di stasiun 7, 8 dan 9. Dua titk sampel pertama, Nhelly tidak ada ditempat. Siangnya, Prima memecahkan tabung neraca milik lab kimia, ia langsung panik karena memang hanya ia seorang yang kerja dengan Pak Mahdi, katanya sih biar cepet, eh… ternyata malah ngerusakin barang (sabar ya Prim).


Malam senin saya, Eka, Kris dan Nhelly kembali berkumpul di atas bagian luar kapal, lalu muncul ide untuk mengumpulkan seluruh mahasiswa. Saya lah yang membangunkan teman-teman mahasiswa agar berkumpul, dan mereka semua langsung berkumpul sambil bernyanyi dengan gitar yang dimainkan oleh Tomy. Tomy merupakan mahasiswa Universitas Airlangga, hampir seluruh gunung di Jawa pernah ia daki kecuali Gede-pangrango dan Salak, sehingga saya cepat nyambung ngobrol tentang gunung. Tomy sangat mahir memainkan gitar terutaman lagu-lagu romantis seperti gigi dan dewa 19. Jam 1 malam kami semua masuk kamar.


Senin pagi mengambil sampel terakhir, setelah itu kapal bergerak ke pelabuhan Brojonegara Serang. Di pelabuhan itu kami bertukar tempat dengan Tim Biologi pelayaran yang terdiri dari 20 mahasiswa juga dari beberapa daerah seperti kami. Jam 11 siang kami diantar kembali ke Hotel Mega yang berbintang dua itu. Sore sebelum sampai Hotel, saya ditelpon Bu Wanny (Ibunya Kesya dan Risha, murid privat ku) untuk mengajar kesya karena besoknya ia ada ujian. Saya pun berjanji datang jam 8 malam, karena saya harus mengantar Nhelly ke rumah sudara dan ke kampus adiknya di daerah senen tak jauh dari rumah murid ku. Terpaksalah si Nhelly ikut ke rumah murid ku, karena saya takut ia kesasar jika pulang sendiri ke hotel. Pulang dari ngajar, Bu Wany bilang “teman mu lucu ded…”, untung si Nhelly orang Bangka yang sempat melihat shuting film Laskar Pelangi saat ia kerja praktek, dan Bu Wanny sangat senang dengan cerita Andrea Hirrata, nyambunglah mereka ngobrol. Jam 10 malam sampailah kami berdua ke Hotel bergabung dengan teman-teman.


Hari selasa jam 8 pagi kami diantar ke LIPI Ancol untuk membuat laporan karya ilmiah yang akan diterbitkan sebagai Jurnal dibeberapa buku popular tentang ilmu pengetahuan. Jam 4 sore kami kembali dijemput untuk kembali ke Hotel, tapi Kris mengajak saya dan teman-teman lain ke Harco Mangga Dua. Akhirnya beberapa teman memilih ikut ke Mangga Dua, beberapa penjual kesal dengan sikap kami, terutama dengan Kris yang gayanya sangat seram. Namun, karena harga dollar sedang naik maka semua harga ikut naik, kebanyakan kami hanya membeli flashdisk saja. Setelah itu pulang dengan busway.


Hari Rabu, seperti biasa kami dibawa ke LIPI Ancol untuk melanjutkan pembuatan laporan. Kelompok kimia berpindah tempat, kami presentasi di ruang rapat dekat perpustakaan yang dimaksudkan agar lebih tenang. Tanpa diduga teman-teman yang dari Aceh, Lombok dan Papua sudah memesan tiket pesawat untuk pulang pada hari kamis. Sedangkan si Nhelly tidak ada yang memberitahu tentang tiket promo itu, Tanya dan Tanya… Mbak Fajar (panitia) tidak bisa memesan tiket promo lagi, Nhelly pun terlantar. Pak RT meninggalkan kami paling pertama saat laporan kima belum selesai (dasar Pak RT).


Sorenya acara penutupan, panitia mnyuruh perwakilan untuk menyampaikan kesan dan pesan. Nhelly yang pertama kali bicar, lalu Prima, sterusnya si Eka dan Kris. Ketika salam-salaman perpisahan, Prima terlihat memerah matanya karena sedih (lucunya…), ia pun lari ke kamar kecil. Mendengar perpisahan rasanya memang menyakitkan, apalagi setelah terkurung selama berhari-hari di Kapal dan Hotel dari pagi sampai pagi kembali, rasanya memang tak rela namun harus terjadi. Malam hari di Hotel, kami diberi uang saku yang lumayan dan uang tiket transportasi sesuai yang dinaikinya.


Kamis pagi Prima pulang ke Jogja dari Gambir, diikuti teman-teman dari Surabaya (Tomy, Kamal dan Pak Eko) untuk memesan karcis. Kemarin malam beberapa orang sudah ada yang pulang, termasuk Mas Pipin yang merupakan dosen Ui. Nhelly belum mendapat tiket pesawat dan ia pergi ke rumah sudaranya di Cempaka Putih. Eka, Rosy dan Kris berencana kembali ke Mangga Dua lalu langsung ke bandara. Khairil dan Sapto berencana ke rumah saudaranya di Bogor, begitu juga Pak Eron dan Pak Tri yang sama-sama ke IPB.


Satu per satu mereka kembali ke asalnya, sebuah kisah yang penuh dengan cerita seru. Membawakan budaya masing-masing untuk dikenal, sebuah jalur hidup yang memang sudah diatur. Malam harinya, teman-teman sms saya bahwa mereka sudah sampai ke kampung halamannya, teman dari Aceh, Jogja, Lombok dan Papua.


Nanti bersambung lagi… banyak kisah seru lainnya pada Baruna Jaya VIII

Baruna Jaya VIII

Menjelang ingatan… aku persembahkan udara yang tak berdebu

Mengagumi kesederhanaan para pelaut

Tak berujung sepertinya hampa

Aku tak tahu ada dimana

Malam itu…emas menghampar melipir di pesisir

Cantik aduhai bintang pun jatuh

Doa ku tak bernyawa

Tak bernyanyi…

Itu keindahan yang tak bisa dibayar

Dibeli atau dicuri…

Di atas deck luar Baruna Jaya VIII

Suara sabang sampai marouke

Dari kepulauan sampai megapolitan…

Cantik dan sempurna…

Saturday, December 6, 2008

Anugerah Terindah



Tidak sangka, saya akhirnya berlayar dan naik kapal terbaik se Indonesia bersama tim oseanografi dalam rangka pelayaran kebangsaan ilmuan muda yang diadakan oleh depdiknas dan bekerjasama LIPI. sekarang hanya foto saja yang di tampil, ceritanya nanti kalau sedang mood.


Friday, November 21, 2008

sayang...


Sayang… gemercik mu halus

Tak terdengar benturan-benturan kecil

Sunyi… sayup senyap


Sayang… suara mu larut

Tak menampak karena silau

Antara kenyataan dan harapan


Mengertikah arah membawa mu

Mengertikah…


Aku… ingin mengepakan sayap hingga menjulang ke angkasa

Menjauh dunia dalam pandangan

Sampai udara tak lagi bersahabat


Tuhan… bawalah aku yang jauh…

Yang jauh yang pernah engkau ciptakan

Aku bosan… bosan…

aku..



Aku ingin menyembah Mu… di atas putihnya penglihatan ku

Aku ingin menyembah Mu… dan memeluk Mu

Aku begitu lemah…

Allah swt… tetaplah tuntun aku

tetap menuntun…

Aku ingin dalam bimbingan Mu

bukan bimbingan orang-orang yang tak bisa membaca kehidupan

Aku ingin dekat dengan Mu…

Wednesday, November 12, 2008

terlalu banyak partai

Terlalu banyak partai, terlalu banyak perdebatan dan terlalu banyak yang menginginkan kekuasaan. Apa jadinya negeri ini jika semua merasa benar, merasa yang dipikirkannya adalah langkah yang terbaik. Ada yang aneh di Negara demokrasi ini, satu per satu mulai berani mengucapkan keburukan-keburukan. Di sini saya mencoba melihat masyarakat sebagai pemilih.

Dari 230 juta lebih penduduk Indonesia, berapakah yang mengerti tentang kepemimpinan? Berapa yang berpendidikan tinggi? berapa yang mempunyai prinsip-prinsip hidup tentang kejujuran? Berapa yang menjalankan perintah agama? Berapa yang mengerti sejarah? Rasanya memang aneh… masyarakat kita yang tidak mengerti tentang itu semua harus menjadi pemilih, menjadi incaran para partai pastinya.

Diantara mahasiswa saja banyak perbedaan ideology, kepentingan dan kebutuhan. Sedangkan masyarakat hanya tahu kalau harga barang naik maka ia akan hidup semakin sulit. Kasihan masyarakat Indonesia. Apa benar yang dibutuhkan di negeri ini adalah demokrasi? Yang banyak menghabiskan biaya untuk perdebatan yang tak penting. Banyak sekali uang yang dikeluarkan untuk keberlangsungan partai.

Padahal, inti dari sebuah Negara adalah kemakmuran. Rakyatnya harus mempunyai penghasilan, dan mampu memenuhi kebutuhan dan keinginan. Sehingga dapat memperbaiki kehidupannya termasuk memperbaiki akhlaknya sendiri dan keluarganya. Apakah rakyat menjadi perhatian kita semua?

Negeri yang indah dan kaya akan sumberdaya alam ini pastinya milik masyarakat. Sayang sumberdaya manusianya masih lemah, menurut saya… karena sdm manusia kita masih lemah, tak perlulah bicara demokrasi yang kebanyakan bicara ini, “tong kosong nyaring bunyinya”.

Masih dibutuhkan pemimpin otoriter, namun yang berhati mulia dan mengerti tentang ilmu pengetahuan yang integrity. Karena negeri ini belum dewasa, masih memalukan di mata dunia. Walaupun juara bulu tangkis, tinju dan olympiade ilmu eksak. Itu hanya sebagian kecil dari 230 juta lebih penduduk Indonesia. Ingat… 230 juta lebih penduduk.

ANDRE’ AUMARS / A. UMAR SAID, wartawan buangan jaman orde baru, beliau pernah bersinggah di lebih dari 40 negara

· Bersikap rendah hati adalah perlu untuk menghadapi orang lain. Rendah hati tidak berarti harus timide (pemalu atau penakut). Pada umumnya, orang suka kepada orang yang rendah hati. Rendah hati tidaklah merendahkan diri, bahkan sebaliknya.

· Sopan terhadap orang lain tidak mengurangi harga diri. Tidak sopan terhadap orang lain pada hakekatnya tidaklah sopan terhadap diri sendiri.

· Kecongkakan atau kesombongan tidak membikin orang lain lebih hormat kepada diri kita sendiri, bahkan sebaliknya. Demikian juga kesukaan untuk membual tanpa dasar. “tong kosong nyaring bunyinya,” kata satu pepatah.

· Kita senang kalau orang lain bersikap simpatik terhadap kita. Orang lain juga akan senang kalau kita bersikap simpatik terhadapnya. Kita tidak kehilangan apa-apa dengan bersikap simpatik terhadap orang lain.

· Merasa senang karena sudah membuat orang lain senang. Artinya, menarik kepuasan dari membuat kesenangan kepada orang lain.

· Merugikan orang lain, bisa berakibat-langsung atau tidak langsung, dan dalam beraneka rupa bentuk – merugikan diri sendiri, dalam jangka dekat atau jangka jauh. Kalau tidak bisa menolong orang lain, janganlah merugikan orang lain.

· Menolong orang lain, tidak selalu berarti kehilangan (waktu, uang, tenaga, atau jasa-jasa lain). Bahkan walaupun tidak selalu pertolongan kepada orang lain ini bisa menjadi pertolongan kepada diri sendiri (dalam berbagai bentuk, langsung atau tidak langsung, dalam jangka dekat atau jangka jauh).

· Kita senang atau menghormati orang yang suka menolong kita sendiri. Biasanya, orang lain akan senang atau menghormati kita, kalau kita suka menolong orang.

· Semua orang ingin dihormati, dan tidak ada yang mau dihina.

Kebenaran atau kebaikan yang pada suatu waktu, atau periode tertentu, dianggap “benar” atau “baik”, bisa saja bahwa kemudian ternyata menjadi “tidak benar” atau “tidak baik”. Disamping itu kebenaran atau kebaikan, atau kejelekan, sering sekali relatif. Relatif kepada apa, kepada siapa, kapan, dimana, dan seterusnya. Karena itu perlu selalu menyesuaikan atau mengontrol pikiran dengan perkembangan atau perobahan.

Dalam pergaulan atau dalam hubungan dengan orang lain, perlu berusaha melihat sesuatu dalam gerak. Semuanya berobah, dan rumit. Apa yang kelihatan, belum tentu merupakan yang “sebenarnya”. Disamping itu, yang sebenarnya itu pun pada suatu waktu bisa berobah. Menurut pengalaman beliau, pergaulan dalam masyarakat memang tidak mudah. Watak orang bermacam-macam, dan kepentingan orang juga berbeda-beda dan berobah-obah.

Tuesday, November 4, 2008

Telanjang....

foto : Pangalengan


Semua selalu begitu… dan terus begitu…

Selalu saja begitu…

Perlakuan, sama saja seperti itu… dan terus seperti itu…

Esok pun seperti itu…

Bosan… sepertinya tak berubah

Sungguh bosan…

Sama sekali membuat hidup tak bernafas

Aku ingin telanjang… telanjang…

Aku paling tidak suka, orang berbohong yang tak harus berbohong…

Lebih sempitnya, orang-orang koruptor dan orang-orang pengejar proyek

Padahal proyek itu tak ada artinya… seperti para birokrat dan orang pintar

Aku paling tidak ingin menjadi orang baik…

Orang yang berjalan lurus tanpa melihat orang yang ada disekelilingnya

Apalagi orang penurut yang merendahkan orang lain

Aku paling muak dengan orang yang mengajarkan kebenaran

Yang selalu berkata “ini loh jalan yang benar, bukan seperti itu…”

Padahal mereka tidak tahu apa yang dialami orang yang dinasihatinya itu

Aku paling kesal, orang yang tidak menghargai hidupnya

Melakukan hal yang sia-sia dan setiap hari seperti itu…

Apalagi orang bermulut besar namun mental seperti banci begitu juga orang pelit

Aku paling senang jika ada anak-anak gelandangan disekeliling ku

Bukan bidadari cantik dan uang melimpah luas

Apalagi orang-orang alim

Aku paling mengagumi dua tokoh Indonesia

Bung Karno dan Bang Iwan Falls

Andrea hirata juga aku kagumi saat ini

Termasuk para penulis buku perjalanan hidupnya dengan jujur