Tuesday, March 22, 2016

Menikahimu...

Selesai azan subuh itu, aku berdiri memandang gelap langit sambil merasakan dingin embun, sejuk. Aku ingin sudahi, sudahi semua galau kesendirian dan kerisauan yang panjang. Aku belajar iklhas, bagaimana aku diciptakan dan dilahirkan. Puji syukur segala apa yang terjadi selama ini, dan memaafkan kesalahan-kesalahan yang pernah tercipta baik sengaja dan tanpa sengaja. Inilah iklhas yang selama ini tertutup kabut.

Zikirku untuk diriku dan kepadaNya aku bersyukur. kini aku menikahimu...

Foto: 5 Maret 2016

Friday, March 11, 2016

Berhentilah membandingkan...

Kita tidak pernah tahu seberapa lama kita mencintai mimpi-mimpi kita. Seseorang menjadi pemimpi bukanlah karena nafsu dan hasrat yang menggebu-gebu. Mimpi adalah cinta yang terbang dalam ruang dan waktu. Seandainya dia tahu…

Aku pernah berfikir bahwa segala yang aku inginkan bisa aku wujudkan, bahkan aku percaya bahwa mimpiku akan menjadi nyata secepatnya. Namun pada nyatanya ilmu ku tak sesuai kapasistasku untuk menjadi mimpiku. Hidup bagai sehelai daun…

Nyatanya, iklhas memang lebih sulit daripada mencintai. Menerima segalanya itu terasa menyakitkan bila tiada sesuai dengan mimpi-mimpi. Sampai aku ketahui bahwa ada yang lebih tinggi dari cinta, yaitu keiklhasan. Keiklhasan kita menerima…

Tiba-tiba seekor belalang hijau diatas daun yang terbang berkata:
“berhentilah membandingkan diriku dengan dirinya…”
“berhentilah membandingkan dirimu dengan dirinya…”
“berhentilah membandingkan mimpimu dengan diriku…”
“berhentilah membandingkan mimpiku dengan dirimu…”
 …
Aku melamun mendengarnya, dan aku terdiam. Rasanya ingin sekali aku berkata: “berhentilah menangis, berhentilah menangisi hidup yang tak sesuai mimpi-mimpi…”
Karena ada yang lebih tinggi dari sekedar mimpi-mimpi, yaitu antara kita dengan tempat diakhir nanti.