Thursday, January 21, 2010

Cepatlah...

Cepatlah… ini adalah hal yang dilupakan pada bangsa ini, termasuk saya sendiri yang melupakan kata “cepat..”. Bukan cepat dalam naik motor, bukan cepat berjalan dan berlalri. Namun kecepatan dalam bertindak dan memilih keputusan, tanpa melupakan norma-norma kejujuran, tanpa tergesa-gesa sampai lupa akan istirahat hingga lupa bahwa kita adalah manusia.

Saya yakin bahwa semua manusia, sesibuk-sibuknya bekerja dan berfikir, ia tetaplah manusia yang tidak ingin dirinya menjadi orang yang buruk.

Saya menjadi teringat kata Mario Teguh bahwa tidak ada manusia yang benar-benar stabil, sehingga tidak perlu menunggu stabil untuk bertindak. Lihatlah pesawat Jet, ia terus lincah berputar-putar sambil menyerang, kadang seperti inilah hidup… bergerak cepat, tidak takut kalah dan terus menyerang… pastinya untuk memuliakan manusia… ingat kawan kita ini Manusia.. jangan jadikan pekerjaan, kesibukan, uang, wanita, jabatan dan apapun yang katanya membuat manusia menjadi keren… menjadikan kita lupa bahwa tidak ada perbedaan derajat, semuanya sama-sama mempunyai perasaan yang indah…

Yah, perasaan, pikiran dan hati nurani serta indera keenam setiap manusia adalah keajaiban yang paling indah. Bila ada manusia lain yang curang… biarlah, tapi kita jangan menjadi curang… tapi tetap bertindak cepat, sederhana namun intelektual…

*ini dipersembahkan untuk diri saya sendiri… bukan untuk menasehati siapapun yang membacanya..


Wednesday, January 20, 2010

Manusia Mulia...

Saat aku menjalani hidup sejak kecil yang begitu polos sampai sebesar ini ada satu hal yang penting dalam hidup. Yaitu manusia begitu sempurna, memiliki hati dan pikiran yang begitu besar dan mulia. Ketika aku mendengar tangisan bayi, dunia serasa indah dan sejuk. Ketika aku diomelin orang tua karena kenakalan ku, aku begitu senang. Senang sekali….

Manusia itu indah, begitu mulia dan halus. Perasaannya meliputi sejuta rasa para penakluk kehidupan. Aku menyadarinya, sangat menyadari bahwa manusia adalah suatu mahluk yang begitu mulia. Tawanya seperti riak ombak yang menari tanpa beban.

Ini bukan masalah diriku yang mellow, bukan masalah melankolis, bukan masalah kebodohan dan kepintaran. Tapi sejak lulus kuliah dan kerja di salah satu konsultan, lalu ditugaskan di salah satu kantor pemerintah. Saya merasa hidup itu terlalu murah, terlalu kecil harga dirinya.

Mengapa kita semua memaksa diri untuk dapat bertahan hidup demi perut, lalu ingin yang lebih sehingga norma-norma sang manusia dihilangkan. Mengapa kita harus berbohong…

Mengapa harus beremosi hingga kita lupa bahwa kita semua adalah manusia, tidak ada perbedaan kasta diantara kita. Pernahkan kalian berfikir bahwa system tata kota dan system ekonomi adalah hasil dari otak kita, buatan manusia yang memang diciptakan begitu hebat oleh Tuhan sampai malaikat dan jin pun disuruh sujut kepada kita.

Baiklah, memang sangat jarang orang yang bisa bicara sederhana namun besar maknanya. Memang seorang yang bertahan pada kejujuran selalu diasingkan. Entah siapa yang sombong, diri ini yang sok munafik atau memang diri ini yang berlebihan.

Tapi aku selalu berharap, bisa lancar bahasa English hingga akhirnya bisa belajar S2 di Eropa. Bisa lebih menghargai lagi tentang kehidupan, bisa hidup tanpa tekanan sehingga hidup tidak lagi menjadi murah sebagai manusia. Hingga tidak ditipu lagi oleh dunia ini, dunia yang tidak ada habisnya bila ingin senang-senang…

Aku yakin Pada-Mu Tuhan…. Engkau itu Ada… yang memberikan jalan dan petunjuk… yang mengabulkan Doa.. dan yang mampu merubah takdir bila takdir ini tidaklah menyenangkan…



Tuesday, January 19, 2010

Berjalan Sendiri...

Teman-teman gw jelas ada dimana...
mereka masih bersama
masih bercerita dan tertawa

gw di sebuah ruangan
di tempat para PNS
tapi gw bukan PNS

Ada yang tersenyum
ada yang cemberut
ada-ada saja...
hahahaha....

kadang melihat orang aja sudah senang
kadang berbicara saja sudah enak...
kadang-kadang kesal lalu tertawa lagi

Entah apa yang dinamakan beban
entah apa yang dinamakan mimpi
entah apa tapi tiba-tiba....
hahhahaaaa.....

mungkin hidup memang harus bersabar...

Tuesday, January 12, 2010

Kadang aku menyakiti Mu…


Sekali lagi terpaksa, seharusnya wangi aroma kasturi semerpak di jalanan tempat kita menapak kaki, dan aku membuat lubang yang memaksa kita agak berbeda langkahnya. Memang tidak ada yang mengerti, mengapa terkadang aku menyakiti Mu…

Aku pernah buyarkan kumpulan kunang-kunang, pernah memanah para macan yang jelas-jelas setia. Tapi aku terpaksa dan sekali lagi terpaksa hanya untuk diri Mu, yang begitu halus dan lembut.

Bagaimanapun arah sebuah angin dari barat yang memberikan kehidupan, kehidupan yang pernah hilang entah kemana. Aku selalu memberontak, menolak, memaksa takdir untuk tidak seperti itu. Sebagian orangpun menggelengkan kepala, “tidak tidak, itu tidak benar…”.

Entah mengapa apa yang ku lihat selalu berbeda dari mereka lihat, apa yang ku dengar berbeda dari mereka dengar, apa yang ku rasa berbeda dari mereka rasa. Apa yang membuatnya bahagiapun telah berbedapula.

Manusia, kebanyakan selalu ingin senang… ingin hidupnya bahagia… entah bahagia saling berbagi, entah bahagia saling menertawai, entah bahagia saling berbohong, entahlah…

Dengan kitabpun mereka ingin bahagia, ingin surga sama saja ingin bahagia. Dengan perkumpulannya merekapun ingin bahagia, agar mendapat uang, agar mendapat kelayakan hidup, agar mendapatkan seseorang yang dicintainya.

Hemmm…. Aku daydeh, tidak mengerti tentang itu semua… tidak tahu yang namanya bahagia… yang ku tahu aku manusia ciptaan-Nya…

Friday, January 8, 2010

Dari 2009 untuk 2010

Apalagi yang bisa diceritakan di 2009? jelas banyak sekali. Tidak ada kata lagi selain “syukur”. Dari tahun baru di Tegal, tengah tahun di Bali – Lombok dan akhir tahun di Puncak Bogor. Dari Pengangguran, Kuliah, Wisuda, Jalan-jalan, Bermain Hati dan Kerja, semua saya jalani. Ada yang berhasil dan ada yang tidak.

Tapi tetap saja nikmat itu begitu besar. Besar sekali…
Pelajaran 2009 begitu besar, apa yang pernah saya duga sebelumnya menjadi kenyataan. Hikmah satu persatu datang menegur jiwa yang begitu keras kepala. Setidaknya otak ini terasa diobrak-abrik oleh kehidupan, kejadian demi kejadian memaksa melihat segalanya dari sudut yang berbeda. Mungkin akan terlihat gila bagi beberapa orang, mungkin juga tidak.

Terakhir ini tepat tanggal 31 Desember 2009 saya bolos kerja untuk menyegarkan diri di Puncak (saya senang dengan dingin), untuk melihat perayaan tahun baru dan untuk mengoreksi diri. Tiba-tiba bos saya menelpon dan menegur, tapi saya siap menerima resiko bahkan siap dipecat. Namun setelah kejadian ini malah saya menjadi semangat kerja dan tak ingin melakukan hal yang sama lagi.

Saya ingin belajar, ingin kuliah di Eropa walau entah bisa atau tidak. Namun di sisi lain saya tidak akan egois lagi, saya tahu bahwa saya adalah manusia yang setidaknya harus menjadi manusia selayaknya. Kelak akan menikah, karena wanita juga lah yang akan mendamaikan hati ini.

Namun tidak secepat itu. Pelajaran 2009 untuk 2010 yaitu “menikmati hidup dengan menyenangi diri sendiri…”

Begitulah kira-kira tema hidup tahun ini. Tidak usah mengeluh lagi, bila ingin sesuatu raihlah saja tanpa menunggu-nunggu karena rejeki pasti sudah ada. Tidak perlu sedih dalam kesendirian ataupun kesal, karena manusia banyak sekali.

Sedangkan kesalahan-kesalahan maupun beban yang lalu biarlah… tak usah dipikirkan dahulu, pasti ada saatnya memperbaiki kesalahan. Kini nikmati saja hidup dengan menyenangi diri sendiri…

Bila sudah menemukan wanita ya nikahilah, bila harus menjadi PNS ya nikmatilah, bila harus jadi ustad ( heheheee… enggak banget) ya apaboleh buat… setidaknya hati ini terus berusaha untuk mengejar mimpi dengan belajar dan terus belajar…
Bila ada yang bilang “hidup lu membosankan?”… jawab saja “iya ya…” (hehe… masa sih bosen? Enjoy aja tuh…)

Sebagai anak geografi, saat ini saya sadar bahwa tempat lingkungan yang berbeda dapat menyebabkan cara berfikir yang berbeda pula. Karena apa yang dilihat dan dirasakan seseorang juga berbeda sehingga sebuah kebahagian seseorang juga akan berbeda pula. Mungkin bila ada Albert Einstein, dia akan berkata “kebahagiaan itu relatif..”

Sebuah bentang alam dan tanah yang berbeda, atau segala jenis geografi yang berbeda dapat membedakan budaya mereka. Kata Mas Hafid (dosen saya dulu), bentangan alamlah yang membuat suatu budaya terbentuk hingga akhirnya menjadi sebuah peradaban. Karena itu tidak heran bila seseorang ada yang ingin begini dan ada yang ingin begitu hingga akhirnya tidak bisa bersatu.
Salah satu menyikapinya ialah dengan menghormati perbedaan yang ada, namun jangan harap bisa bersatu untuk hal-hal yang pribadi…

Karena itu menikmati hidup dengan menyenangi diri sendiri adalah hal yang paling gampang untuk saya lakukan…. Hal yang gampang namun jarang sekali saya lakukan…