Thursday, December 17, 2015

Pagi dan kembali...

Tak akan  ada habis-habisnya dunia, jalani hari-hari yang kelabu. Tak seindah saat matahari bersinar, memberikan panas ke sini, ke hati ini yang mungkin telah dingin berhari-hari. Ah manisnya ketika hujan rintik ditemani pelangi senja, atau embun menyambut pagi.

Harum tanah semerbak kedamaian jiwa, menarilah kupu-kupu meski bunga belum bermekar. Cintailah apa jadinya hidup, bernyanyilah dengan tenang, dengan senyum yang lama tak hadir disini. Tulislah apa yang terjadi dalam hidup, bukan untuk siapa-siapa, tapi untuk awan-awan yang tetap setia menemani hari demi hari.

Tidak perlu jadi apa jadinya yang lain, jadikan ini kembali seperti adanya. Adanya hidup, adanya keceriaan, adanya cinta, tanpa tekanan dan tanpa beban. Ketahuilah betapa indah mimpi-mimpi, dari perbedaan mimpi mimpi sesama kita. Aku punya mimpi, dan kau punya mimpi. 

Foto: Kepulauan Seribu Jakarta

Lalu biarkan kegilaan ini menjadi kelucuan, menjadi cerita cerita.
Foto: Kota Jayapura
 Dan melihat dunia apa adanya, membiarkan perbedaan tetap ada.
Foto: Gunung Rinjani Lombok
 Dari waktu ke waktu bersama angin dan alam yang begitupula adanya...
Foto: di Jakarta

Monday, November 30, 2015

Tentang Orang Pintar

Orang pintar adalah mereka yang bisa memperkerjakan orang lain
Memperkerjakan orang lain atau mengeksploitasi orang lain?
Orang pintar adalah mereka yang mampu membangun sistem yang canggih
Sistem yang canggih atau pamer kepinteran?
Orang pintar adalah yang bisa bicara di depan umum
Bisa bicara atau bisa berbohong?
Orang pintar adalah

Friday, July 24, 2015

Belajar dari Kota Jayapura

Foto: Kota Jayapura
30 Juni 2015, dari tempat yang paling luas mata memandang kota dan laut. dari bukit yang bertuliskan Jayapura City, dengan menghadap utara dari sini, sore itu menjadi teduh. Pelabuhan Numbay dengan peti kemasnya tersusun rapih, dua pulau kecil di timur laut pelabuhan itu, terlihat rumah-rumah terapung yang perairannya terus dilalui perahu-perahu kecil. 

Di bagian barat daya dari tempat saya berdiri itulah daratan kota yang menjadi pusat kehidupan dimana tepi pantai sampai bukit-bukit telah menjadi areal terbangun, jelas terlihat permukiman, hotel, rumah makan dan gedung perkantoran. Saya tatap langit dan awan yang bersih, tidak terlihat asap-asap ngebul seperti layaknya kawasan industri di kota-kota besar Indonesia. 

Apa yang terlihat dari atas bukit tempat saya berdiri, ada sedikit persamaan dengan catatan BPS dimana distribusi PDRB Kota Jayapura tahun 2013 untuk sektor industri pengolahan tercatat 2,48 % atau terendah kedua setelah pertambangan dan penggalian 0,43 %. Dari sini kita dapat berfikir bahwa bahan-bahan kebutuhan pokok masyarakat Kota Jayapura baik primer, sekunder ataupun tersier, sebagian besar berasal dari luar Kota. Namun asumsi ini tidak akan akurat bila kita tidak turun dari bukit dan mengelilingi Kota Jayapura. 

Keliling Kota Jayapura

Satu hal yang membuat saya kagum disini, infrastruktur jalan. Jarang sekali saya melewati jalan yang rusak ataupun berlubang baik di tepi pantai ataupun diatas bukit, bahkan ada jalan yang sedang dibangun diatas laut tepi pantai. Kata supir, itu merupakan jalan tol diatas laut. Ajaib sekali, saya tidak bisa membayangkan apa yang terjadi 10 atau 20 tahun lagi di kota ini bila infrastruktur itu benar-benar selesai, karena saat ini saja aktifitas kendaraan pribadi baik motor dan mobil sudah cukup ramai. 

Agar penasaran saya hilang dengan pembangunan di Kota Jayapura, maka saya mengunjungi Bappeda Kota Jayapura dan Bappeda Provinsi untuk sekedar diskusi dan melihat peta perencanaan. Ternyata jalan diatas laut yang dikira jalan tol adalah ring road yang pembangunannya baru selesai tahap satu, masih ada dua tahap lagi yang diperkirakan satu tahap selesai 3 – 4 tahun, dengan jalan ini diharapkan akses di Kota menjadi lebih mudah dan cepat. Selain itu, pemerintah pusat dan provinsi juga sedang melanjutkan pembangunan jalan dari Kota Jayapura menuju Wamena yang diperkirakan akan selesai tahun depan. Dengan adanya jalan ini diharapkan harga-harga tidak terlalu tinggi di papua pedalaman seperti di Wamena yang masih mengandalkan tranportasi udara.

…. Perbandingan harga di Papua…
Gambar: Sketsa Jayapura-Wamena dan Marauke-Boven Digoel
“Dari mana semen berasal?” tanya salah seorang pegawai Bappeda Provinsi. “Tentu saja dari Gresik ke Surabaya, lalu diangkut melalui kapal menuju pelabuhan Numbay di Kota Jayapura dan pelabuhan di Kota Marauke. Dari Marauke dibawa menuju kabupaten Boven Digoel, harga semen itu menjadi 200 ribu/sak melalui jalur darat. Sedangkan untuk ke Wamena mesti melalui jalur udara dengan pesawat kecil dari Kota Jayapura, tidak heran harga semen mencapai 2 juta/sak disana.” Dengan lantang ia bicara sambil tersenyum bercerita dengan ramah, “kami berharap pembangunan akses dari Kota Jayapura menuju Wamena agar segera terealisir agar harga tidak terlalu melonjak saat mencapai pedalaman…” 

...Kembali ke Kota Jayapura….

5 hari di Kota Jayapura tidaklah bisa menggambarkan seluruh aktifitas kehidupan, namun setidaknya ada yang bisa dilihat dan dipelajari sedikit dari sisi sosial, ekonomi dan lingkungan. Pendatang cukup dominan dan menguasai ekonomi di Kota Jayapura, seperti nelayan yang sebagian besar adalah pendatang dari Sulawesi selatan dan tenggara, seperti Bugis, Makassar dan Buton. Merekalah yang menguasai harga-harga tangkapan ikan, serta jasa seperti warung kelontong, rental mobil dan warnet. Ada satu cinema XXI di mol APO, tanah yang menjadi pusat ekonomi itu ternyata dimiliki oleh orang keturunan Cina yang menjadi orang terkaya di Kota Jayapura, dia juga memiliki perusahaan air minum lokal satu-satunya. Pertanian belum maksimal dan sangat jarang dijumpai. Di pemerintahan banyak dijumpai orang medan selain orang dari Sulawesi yang sudah menetap dari 20 tahunan yang lalu.

Lalu dimana orang Papua bekerja?
Foto: Penjual Pinang
Di pinggir jalan, mereka banyak yang menjual buah pinang dan buah matoa. Di hotel dan gedung perkantoran banyak yang menjadi security. Di pemerintahan tentunya yang paling banyak dijumpai, entah sebagai staf biasa ada juga yang menjadi pejabat. Ada orang pendatang yang sudah lama menetap di sana bercerita kepada saya bahwa orang papua di sini masih mengandalkan pekerjaan yang sifatnya langsung menghasilkan uang atau perputarannya cepat, seperti menjual pinang, karena dengan itu mereka tidak pusing-pusing berfikir bagaimana caranya memutar uang. Contoh lainnya yang saat ini sedang popular, batu akik mereka cari di gunung lalu dijual dalam keadaan mentah.

Tidak ada industri besar, tidak ada pertanian, hanya gedung bangunan, restoran, hotel dan perdagangan yang paling sering dijumpai di Kota Jayapura. Hal ini sejalan dengan catatan dari BPS dimana distribusi PDRB Kota Jayapura tahun 2013 paling besar ditempati oleh sektor bangunan 26,05 % lalu diikuti perdagangan hotel dan restoran 19,5 %. Ketiga pengankutan dan komunikasi 18,71 % dan keuangan, persewaan dan Jasa Perusahaan 17,33 %, sedangkan pertanian hanya 3,57 %
.
Grafik: Distribusi PDRB Kota Jayapura, BPS
….
Tingginya pertumbuhan ekonomi Kota Jayapura tahun 2013 sebesar 12,28 % dan tahun 2010 sebesar 8,99 %, bisa jadi tidak sama dengan tingkat kemakmuran orang papua asli di Kota tersebut, bahkan bisa saja berbanding terbalik. Hal ini mesti kita lihat dari jumlah penduduk dan tingkat migrasi. 2013 jumlah penduduk Kota Jayapura 272.554 orang atau bertambah 1,58 % dari tahun sebelumnya dengan jumlah penduduk miskin tahun 2013 sebanyak 44.300 orang dan tahun 2009 sebanyak 39.050 orang (BPS Kota Jayapura).

Di sektor pendidikan angka parsisipasi sekolah (APS) kelompok umur 7-12 = 98,6 dan 13-15 = 92,6 dan semakin berumur semakin kecil yaitu 16-18 = 68,00. Dapat dikatakan anak SMU semakin sedikit dibanding anak SMP. Di Provinsi Papua sendiri Kota Jayapura menempati angka IPM (Indeks Pembangunan Manusia) tertinggi dibanding kabupaten/kota lainnya yaitu sebesar 77,12. Bisa jadi Kota Jayaputa adalah kabupaten/kota termaju di Provinsi Papua walaupun masih banyak kekurangannya.

…. Kemana arah pembangunan Kota Jayapura …
Foto: Permukiman Kota Jayapura
Kita ketahui bahwa Kota Jayapura merupakan tempat penyokong kebutuhan pokok untuk kabpuaten/kota lainnya di Provinsi Papua. Kota ini bisa jadi menjadi prioritas pembangunan dan tempat pencari kerja yang menjadi daya tarik bagi para pendatang untuk hidup. Sumberdaya alam yang masih banyak dan indah, serta rahasia geologi yang masih belum terpublikasi bisa saja menjadi rencana ekspansi perusahaan asing yang sudah jelas menguasai tambang seperti Freeport. Perkebunan kelapa sawit mulai merambah dibeberapa wilayah, entah apakah bisa seperti Kalimantan yang kehilangan hutannya karena kepentingan ekonomi. 

Bila saya orang papua tentunya ini sangat menyedihkan, melihat generasi keturunan yang nantinya menjadi apa? Karena semakin terkikis oleh para pendatang. Sumberdaya alamnya melimpah tapi tidak tahu untuk siapa? Mengapa kami orang papua malah tinggal di bukit-bukit dengan lereng cukup terjal? Kami tinggal dengan sangat sederhana, tidak mengenal smartphone, tidak mengenal mol, tidak mengenal makanan yang lezat, kami hanya mengenal pinang dan sepak bola. Di laut penuh dengan nelaayan pendatang, di pemerintahaan penuh dengan pendatang. Ahhh… tapi ini Indonesia, berbeda beda tapi satu jua. Kami heran mengapa BBM naik sedikit saja di bumi barat Indonesia sudah ramai penuh demo, sedangkan disini kami terbiasa mahal, jarang kami demo karena harga mahal. Kami biasa beralaskan sandal jepit atau tak beralas berjalan di terik matahari. Kami sangatlah toleransi, belum pernah di Kota Jayapura ini ada konflik agama, kami menghormati orang barat, tapi bisakah lihat sedikit saja sosial di sini, pendidikan disini, kesehatan disini. Mengapa di Indonesia barat begitu maju dan disini terus begini? Atau karena hanya jumlah penduduk kami yang kecil?

Kalau memang alasanya sumberdaya manusia kami yang belum mampu mengelola sumberdaya alam, alangkah baiknya prioritas pembangunan di Kota Jayapura adalah pembangunan manusianya seperti pendidikannya baik universitas, teknologi dan sekolah menengah kejuruan.

Angka-angka yang tercatat di BPS ataupun lembaga lain, serta peta-peta yang terpetakan oleh instansi-intansi tidaklah cukup mengenal kami, hai orang barat, datanglah kesini, bukan hanya untuk melihat indahnya raja ampat, bukan hanya melihat indahnya karang kami, tapi lihatlah kami, lihat cara kami berjalan, lihat cara kami memakan, dan lihat cara kami tidur. Setidaknya bisa melihat betapa bersyukurnya diri kalian.
….
Foto: Pantai Holtikamp
Tahun 2008 nomor 23 terbit peraturan daerah khusus Proivinsi Papua tentang hak ulayat masyarakat hukum adat dan hak perorangan warga masyarakat hukum adat atas tanah. Hukum ini untuk perlindungan dan pengelolaan sumberdaya alam masyarakat hukum adat papua dan hak ulayat. Walau BPN memiliki sertifikat tanah yang bisa dibeli para investor atau perorangan, itu belum resmi sebelum melalui langkah hukum adat. Hal ini bisa menjadi perlindungan atas hak-hak orang papua, walau ada juga dampak negatifnya.

Sebagai contoh wilayah pariwisata pantai yang tidak ada pengelolanya menjadi kotor, tapi pengunjung tetap harus membayar ke orang lokal dengan harga yang mereka tetapkan sendiri. Sayangnya mereka belum bisa memanajemen tempat pariwisata tersebut. Para pendatang atau investor menjadi kesulitan dalam melakukan bisnis apapun di suatu area lahan, karena akan banyak claim kepemilikan lahan adat dari banyak orang papua, harga tanah akan menjadi berkali-kali lipat dari sebenarnya yang ditetapkan BPN. Seandainya saja peta komunal atau peta hak adat bisa dipetakan, mungkin akan lebih mudah persoalan tanah di Papua. PR untuk para geograf… 

Note: Tulisan ini juga dimuat di geografimanusia.com


Saturday, May 9, 2015

Thingking Out Loud, Ed Sheeran – Cover by Yene, Daydeh and Wibi

Di kesempatan kali ini kami mengcover lagu Ed Sheeran, karena pengambilan video ini pada jam 2 malam, makanya semua kelihatan ngantuuuk….

Friday, May 8, 2015

Terlalu kuat...

Ini adalah bagian dari fajar
Terbit diantara malam
Bersinar seiring putaran bumi
Menjadi waktu

Di sini mungkin hanya hiasan
Mungkin juga hanya daun kering yang terbang terbawa angin

Friday, April 3, 2015

Lebih baik menyalakan lilin...

Saya sangat menyukai keindahan, sangat mencintai hal-hal yang indah, kadang saya berpuisi tentang hal yang tak bisa saya terjemahkan dengan kalimat, lalu saya bernyanyi di tengah keriuhan hidup yang terasa gelap. Saya berdiri untuk melakukan hal yang indah, melakukannya dengan indera manapun yang saya bisa. Ya saya menyukai itu, hal yang indah.

Saya melihat sebuah keagungan pada setiap manusia, naluri alamiah yang begitu indah, saya percaya manusia lebih indah dari apapun di alam ini. Keajaiban terbesar di alam ini, bagi saya adalah manusia sehingga saya kadang bersedih disaat melihat manusia dengan manusia lainnya saling bertikai. Terkadang muncul pertanyaan, mengapa kita saling bertikai, saling menyalahkan, saling berprasangka buruk, saling berpesimis, saling membentak, mengapa? Bukankah kita sama? 

Saya tidak ingin menyalahkan siapa-siapa, memang dunia ini terasa sedikit lebih gelap. Namun ketahuilah bahwa daydeh menyukai keindahan, mencintai ketenangan. Oleh karenanya lebih baik menyalakan lilin daripada terus menerus mengutuk kegelapan.

Monday, March 23, 2015

Suatu saat nanti...

Suatu saat nanti
Bila emosi kecil ini membuncah, mendepak-depak kulit di badan
Aku tak bisa membayangkan
Apa dia benar-benar keluar

Suatu saat
Bila lapisan kulit di badan sudah tidak mampu
Menahan lontaran emosi-emosi kecil ku
Aku belum bisa membayangkan
Apa aku akan tetap bernafas

Suatu saat itu
Bila ternyata aku benar-benar tak mampu
Tak mampu menahan emosi kecil ku
Aku sungguh benar-benar tak tahu
Apa aku masih peduli kepada diriku sendiri

Ada hal yang tak terbatas di dunia ini
Ada hal yang tak perlu dijelaskan dengan kata-kata di sini
Ada pendirian yang tak perlu didirikan
Seberapa besar aku mampu berdiri

Mataku adalah air yang beriak
Telingaku adalah ombak yang berhempas
Aku bukanlah sisa-sia kehidupan
Bukan daun yang melayang-layang

Aku tak perlu menunggu nanti
Juga tak butuh penantian
Kepada emosiku tajam...
Kepada emosiku rajam...
Dengan emosiku padam...

Wednesday, March 11, 2015

you can always come home...

Eh malam ini tenang sekali gara-gara denger lagu Jason Miraz - 93 million miles. Santai sekali, sejuk sekali denger lagu dan liriknya…

Yup memang tidak ada tempat yang paling indah kecuali di rumah… Home.. Home… Mungkin karena saya jarang sekali pulang kali ya.. hehe… jarang tidur di rumah sendiri…. :D


“Just know, that wherever you go, no you’re never alone, you will always get back home”

Monday, March 2, 2015

Tetaplah sederhana... “Anything is possible”

Tetaplah sederhana daydeh
Tetap menuju kesederhanaan daydeh
Biar saja dunia berubah cepat menuju kemewahan
Tapi tetaplah engkau semakin sederhana daydeh
Ilmumu dinanti alam, manusia dan mahluk hidup lainnya
Untuk memberikan keseimbangan

Daydeh,
Tetaplah sederhana meski bintang berubah menjadi mutiara yang ingin direngkuh manusia
Jagalah emosimu walau tidak ada lagi yang peduli untuk menjaga emosi
Dunia ini membutuhkan manusia-manusia sederhana daydeh

Hai daydeh…
Sederhanakanlah sikapmu…
Sederhanakanlah pikiranmu…
Walau aku tahu kau tidak akan sanggup menyederhanakan semua hal…

Sederhanakanlah langkahmu
Meski ku tahu kau takan mampu menahan semua godaan dunia
Tapi tetaplah kembali dalam kesederhanaan
Seperti bintang yang tak terlalu banyak memberi sinarnya pada malam
Seperti angin yang tak banyak bergemuruh
Tetaplah sederhana…

“Anything is possible”

Miracles - Coldplay

From up above I heard 
The angels sing to me these words.
And sometimes in your eyes 
I see the beauty in the world.

Oh, now I'm floating so high.
I blossom and die.
Send your storm and your lightning to strike 
Me between the eyes,
Eyes

Sometimes the stars decide 
To reflect in puddles in the dirt.
When I look in your eyes 
I forget all about what hurts.

Oh, now I'm floating so high.
I blossom and die.
Send your storm and your lightning to strike 
Me between the eyes
And cry.

Believe in miracles.
Oh hey, I'm floating up above the world now!
Oh hey, I'm floating up above the world now!
Oh yeah, yeah, yeah!


Ada banyak orang mendefinisikan cinta, ada banyak orang yang mencari-cari cinta sejati. Ada yang pergi jauh-jauh ke pantai yang jarang dikuunjungi hanya untuk menemukan cinta, ada pula yang pergi ke puncak-puncak gunung demi memahami cinta. Bahkan ada yang berkelana keliling dunia dengan alasan cinta. Bisa jadi doa yang paling banyak didengar Tuhan adalah tentang cinta. 

Dengan cinta, banyak sekali jejak di bumi sebagai bukti sejarah bahwa mereka hadir dengan cinta. Dengan cinta banyak sekali perubahan, yang menghasilkan ilmu pengetahuan dan kesenian. Tanpa cinta, manusia akan kering dan akan sulit membedakan kebenciaan dengan kebaikan. Beruntunglah kita yang diselimuti cinta, yang membawa kebaikan dan kesejukan.

Oleh karenanya pujangga Sapardi Djoko Damono meninggi namanya karena cara beliau memberikan makna pada cinta yang begitu sederhana namun bermakna; dalam syairnya :

"aku ingin mencintaimu dengan sederhana;
dengan kata yang tak sempat diucapkan
kayu kepada api yang menjadikannya abu

aku ingin mencintaimu dengan sederhana;
dengan isyarat yang tak sempat disampaikan
awan kepada hujan yang menjadikannya tiada” 

Thursday, February 26, 2015

Hidup masih panjang, tersenyumlah...

Saya lihat foto-foto lama, coba belajar dari wajah dan senyuman pada masanya. Saya ingat-ingat apa saja yang telah saya lakukan dalam perjalanan itu, terkadang ingin memeluknya atau bahkan memukulnya, saya gemas dengan diri saya sendiri saat masanya. Lalu saya perhatikan pula wajah riang sahabat-sahabat yang begitu tulus, mereka juga berjalan dan tetap berjalan.

Bagaimana alam dan lingkungan mengajarkan kita tentang hidup, tentang keberanian berkata benar juga keberanian berkata salah. Mengakui kekurangan, menurunkan emosi dan membesarkan wawasan. Kita tidak gagal sendirian, dan gagal bukanlah akhir. Kita hanya belum mengerti dan terlalu asik menikmati hidup yang begitu asik. 

Jalan ini masih sangat panjang, dengan segala kegagalannya bukankah itu begitu indah. Memasukan lagi semangat hidup abadi dengan kebahagiaan dan keceriaan. Lagu-lagu yang mengetuk dan memanggil untuk berbuat kebaikan dengan cara kita sendiri, cara menikmati hidup dengan santai dan bahagia. 

Kita belajar pada kita di masanya, kita tertawa jalani hidup dari masa keceriaan dahulu, belajar dari kita yang dahulu. Kita tidak akan gagal lagi, keberanian telah menguburkan rasa pesimis, membuat gairah optimis semangat hidup. Ego kita, masih bisa menurun dan berfikir seimbang. Mata kita masih bisa melihat yang benar, dan kuping masih jelas mendengar hal-hal yang bijak. Karena keinginan memang tidak semuanya atas kehendak kita. 

Insyaallah… pagi ini dan pagi-pagi selanjutnya adalah perjalanan yang bahagia. Mari tanamkan kembali keberanian, kejujuran dan ketulusan, cukup sudah masa gamang memilih jalan hidup. Jalan hidup yang ini adalah jalan penikmat hidup dengan iklhas dan berbagi. Bismillah….

Monday, February 23, 2015

Aku ingin bertemumu di surga...

Di sini tempat kesalahan
Tempat perjalanan dimana ternyata cokelat adalah biru
Dan hijau adalah merah
Tak ada yang bisa menduga tapi bisa dipahami setelahnya

Di sini tempat salah arti
Tanpa ilmu tetaplah seperti itu
Tanpa hikmah dan memahami maka akan tetap salah arti
Sekarang gilirannya ingin memahami atau berdiam diri

Aku melihatmu di surga
Dengan tutur dan sikap yang indah
Dengan kesederhanaan yang terpancar dari hati
Dan tatapan yang tidak bisa dibeli di sini

Aku mendengarmu di surga
Memanggil dan menungguku yang masih di sini
Yang belum mengerti tentang surga itu
Yang berjalan sendiri berbelok arah

Bila di sini adalah perjalanan
Maka pastilah aku akan berjalan
Bila di sini aku ada di hitam
Maka aku takkan kembali ke hitam
Aku mencarimu melewati cahaya-cahaya
Yang hanya bisa dilihat dengan kesederhanaan
Seperti melihat dan mendengar jiwamu….

Sekarang aku tahu surga itu apa
Tempat dimana kau menungguku
Dimana kau ingin bercerita dan bercanda denganku
Bercerita tentang perjalanan di sini
Tentang mencari perjalanan yang terang

Aku ingin bertemumu di surga….
Bila di sini kita tak bisa lagi bercerita….
Dengan hati, pikiran dan badan…

Monday, February 16, 2015

Aku ingin berdua denganmu...

Aku ingin berjalan bersamamu
Dalam hujan dan malam gelap
Tapi aku tak bisa melihat matamu

Aku ingin berdua denganmu
Di antara daun gugur
Aku ingin berdua denganmu
Tapi aku hanya melihat keresahanmu

Aku menunggu dengan sabar
Di atas sini, melayang-layang
Tergoyang angin, menantikan tubuh itu

by Payung Teduh - Resah

Apa kau sanggu hidup sendirian...?

Sosial itu sudah fitrah manusia, itu terbukti dari lahirnya bayi, bayi takkan bisa tumbuh besar tanpa ada orang tua, artinya ada ketergantungan antara manusia dengan manusia. Inilah yang membuat manusia begitu unik, saling bergantungan… 

Hanya saja lambat laun seiring mereka tumbuh besar dan menua, mulai tumbuhlah pikiran-pikiran yang menjadi wawasan dan sudut pandang bagi mereka sendiri. Mulai muncullah manusia yang berfikir mampu hidup sendiri tanpa bantuan orang lain, mulai munculah manusia yang berfikir sosial itu tidak penting, dan sebaliknya mulai muncul juga manusia yang berfikir sosial itu penting.

Sebelum memutuskan sosial itu penting atau tidak, saya ingin berbagi pengalaman sedikit saja, ya sedikit saja. 

Saya memiliki beberapa teman yang dahulu saat sekolah dan kuliah, begitu pintar, bahkan sangat pintar. Tapi jarang sekali saya melihat mereka bermain dan bersosial dengan teman-teman, ketika pulang kuliah ya mereka langsung saja pulang, atau terkadang diselingi mencari rezki dengan menjadi pengajar. Atau ada juga teman saya yang begitu kreatif, bahkan sangat kreatif namun saya juga jarang melihat mereka bersosial dengan teman-temannya.

Memang bagus sih melihat mereka dahulu, penuh prestasi dalam bidangnya, tapi seiring waktu, saat ini mereka pada menganggur. Aneh saja klo melihat mereka nganggur, artinya mereka yang cerdas kok bisa menganggur. 

Saya dalami, ya memang ada yang salah tentang persepsi. Menganggap mampu hidup sendiri tanpa bantuan orang lain adalah sesuatu yang keliru, buktinya teman-teman saya yang biasa-biasa saja tidak terlalu pintar, atau ada yang pintar tapi juga pandai bersosial, merekalah justru yang mampu bertahan hidup dalam keadaan apapun.

Karena sebagian besar rezeki itu memang ada pada niaga, sebuah transaksi yang membutuhkan kemampuan sosial yang begitu tinggi. Ahhh… hidup, sebenarnya sederhana….
..
Sebenarnya saya bukan ingin menulis tentang seberapa pentingkah nilai sosial, tapi ini bercerita apa yang membuat saya sulit berinteraksi dengan orang.

Yupppp… Paling sulit itu berhadapan dengan teman yang biasa berbohong, itu… Ya itu… apa lagi dia adalah teman dari kecil. 

Mengapa sulit? karena kadang dalam berucap saya ingin menjaga perasaannya agar tidak tersinggung, tapi disisi lain saya ingin membantunya membuka wawasan bahwa bohong itu lebih banyak merugikan.

Good personality, yup… cobalah teman-teman berfikir ulang arti nilai sosial. Cobalah memaknai sebuah sosial dalam kehidupan. 

Apa kita perlu berbohong? 
Apa kita hanya ingin sukses sesukses suksesnya sendirian? 
Apa perlu kita saling tikung menikung hanya untuk mengejar prestasi? 
Apa perlu kita memaksa dan terus memaksa apa yang orang tidak ingin lakukan?
Apa perlu kita merendahkan orang lain? 
Apa yang mesti kita sombongkan? 
Apa harus melakukan sesuatu dengan emosi? 
Apa perlu dengan suara yang tinggi untuk menjadi tegas?

Atau pertanyaan yang indah untuk saya sendiri….  Apa kita sanggup hidup sendirian?
aihzz... "sumpahhhhh gak sangguuuup..." jawab saya sendiri.

Thursday, February 12, 2015

I'm not the only one.. (live cover)

Okeh.. kali ini saya iseng cover lagu bersama yene dan wandi...
yene sebagai vokal, cajon dan kecrekan (haha lengkap).. saya sendiri di gitar dan wandi bass..

lagu karya Sam Smith ini kami cover live akustik..

Pagi ini, februari yang dingin...

Kata dosen saya dulu, ada relatifitas dalam penilaian kebahagiaan. Itu mengapa Jakarta walau dianggap kota yang tidak ramah tetap menjadi kota favorit bagi kebanyakan orang Indonesia itu sendiri. Sebagai contoh, banyak sekali orang Jakarta walau tahu macet, mereka tetap saja naik mobil dan rela macet berjam-jam. Karena bisa jadi mereka sebenarnya bahagia, relatif ini bisa terjadi karena berbagai faktor. Misalkan mereka bermacet-macetan bersama sang kekasih atau pacar, rasa kesal karena macet itu seketika berubah menjadi rasa bahagia.

Begitu juga dengan banjir di Jakarta yang tidak kurun selesai bertahun-tahun lamanya, mungkin ada relatifitas yang membuat penduduknya tetap tinggal dan tak ingin pergi dari Kota. Kalau kata teman saya Budi, “Banjir merupakan tanda bahwa banyaknya manusia yang rindu akan sang kekasih…”. Hehee….

Itulah mengapa dalam agama, manusia selalu diingatkan untuk bersyukur dan iklhas. Karena bisa jadi ada relatifitas yang belum ditemukan dalam hidupnya, yang tidak kalah bahagia dari keinginannya yang tidak tercapai.

Ah pagi ini…. Semakin dingin saja. 
Untung ada white coffie luwak hangat, ku nikmati sejenak.

Hey pagi yang dingin di Jakarta-ku… Seandainya saja aku adalah matahari, mungkin kau akan begitu merindukanku. Tapi kali ini aku tidak akan banyak berandai, aku cuma ingin bercanda denganmu. 
Tahukah kau, mengapa aku ingin bercanda denganmu? Karena kau adalah sosok yang selalu ku rindukan, yang selalu membuatku bahagia bila bersamamu. Sesederhana itu saja…

Don't wanna wake up alone anymore
Still believing you'll walk through my door
All I need is to know it's for sure
Then I'll give... all the love in the world
(The Corrs)