Tuesday, December 28, 2010

walau ku tahu tak terdengar...

foto : Desember 2010

Entah menjadi apa saya nanti, saya tidak peduli.
Sambil mendengar lagu-lagu dari Iwan Falls dan Matchbox 20, senyap saya terhambur mimpi sambil melihat hening malam yang terdiam. “waktu terus bergulir, semuanya mesti terjadi”, sentak menyisipkan syaraf saya dalam nuansa yang terkubur.
Lagu Galang Rambo Anarke berdenting ditelinga saya, berputar seperti roda kehidupan, lalu memotret kesederhanaan hidup yang hilang dalam keseharian. Apalagi yang membuat manusia puas? “maafkan kedua orang tua mu kalau tak sanggup beli susu”, lirik ini mengguncah otak yang terlalu sombong, terlalu angkuh.
Ini semua semakin menyakitkan ketika lagu “belum ada judul” berputar dalam winamp. Mengklise jejak nasib yang telah saya lalui, seolah membawa saya dalam masa kecil, lalu masa ABG yang begitu klasik, begitu indah. “cukup lama aku jalan sendiri tanpa teman yang sanggup mengerti”, air mata ini hampir saja jatuh bila saya tidak menahannya. Hidup ini, semakin membuat saya tak peduli.
Dimana kesederhanaan? Dimana kejujuran?
Orang-orang pintar, membuat saya emosi… para pejabat, mengiris nadi.
Entah menjadi apa saya nanti, saya tidak peduli…
Bibirku bergerak tetap nyanyikan cinta walau ku tahu tak terdengar…” Iwan Falls terus mengiris nadi ku.

Wednesday, December 15, 2010

Hitam dan Putih...

Di batas lelah… Ku hentikan Langkah hidup ini
Mungkin Harusnya… aku mengerti semua adanya
Bila… Ku bayangkan warna hidup ku

Ku lukis dunia… Hitam dan putih
Yang hanya berselang… tawa… tangis..

Ada saat… ku tenggelam di lumpur-lumpur
Ku pastikan… ku hempaskan diriku di jalanan lurus
Semua itu.. harus tertelan pahit dan manis…

Ku lukis dunia… Hitam dan putih
Yang hanya berselang… tawa… tangis..

Aku memang manusia…
Yang tak’kan mungkin harus selalu putih…
Aku pun tak ingin terlukis hitam lagi…
Biarlah hidup berjalan lagi apa adanya…
Hitam.. putih… pahit… manis… tawa… tangis…

Hitam Putih, Dewa 19…

Friday, November 26, 2010

Sombong kadang bermanfaat....

“Saya bersyukur menjadi orang yang tidak rendah hati, karena dengan itu saya tidak akan mendapatkan apa-apa” Jose Mourinho. Mourinho, pelatih sepak bola Madrid saat ini telah mempengaruhi pemikiran saya secara tidak langsung. Kata-katanya yang frontal berhasil dibuktikannya, kali ini dia berpendapat dengan kesombongannya, beliau mampu menggapai prestasinya. Maka tidak heran saya selalu mendukung tim yang dilatihnya.
Saya senang dengan kata-kata pedasnya, dengan sikap sombongnya kepada musuh-musuhnya. Terkadang kata-kata itupun meresap dalam kehidupan saya, terimplementasi pada pemikiran saya, karena saya juga egois. Mourinho lahir menjadi pemenang, akal sehatnya mematahkan teori-teori gaya sepak bola. Ini seperti matematika dan ekonomi, mahzab baru dari Mourinho memberikan cara pandang yang berbeda dan indah.
Mourinho pernah berkata jangan pernah membandingkan diri kita dengan orang lain, karena kita selalu kalah. Kata-kata yang terlontar seperti membaca buku-buku Andrea Hirata, atau mendengar motivasi Mario Teguh. Impian yang terpendam begitu dalam, rasanya menjadi indah. Tinggal bagaimana cara dan kemampuan menggerakannya menjadi cepat. Cepat dan metode seharusnya menghasilkan sesuatu, bila tidak maka saya akan berlama-lama dalam kegagalan. Atau seperti kata Ikal, “kegagalan adalah kebodohan yang dipelihara…”

Wednesday, November 24, 2010

Akhir di SMU

Gambar : Jum'at saat SMU kelas 3 di Lantai 4 depan tangga
(Zainudin, Dedi, Eric, Arga dan Arnold)

Baru saja saya bermimpi, yang membuat setetes air mata jatuh ketika tertidur. Sebuah mimpi yang menggetarkan hati, memaksa hati menjerit kesakitan. Saya bermimpi berjalan bersama teman-teman SMA, bersama teman ngeband waktu SMA dulu. Lebih dari 7 tahun yang lalu. Saya mengangis tergores rindu yang sangat dalam, ingin memeluknya, memeluk sahabat-sahabat saya itu.
DIARNOZIC, singkatan dari Dedi, Arga, Arnold, Zainudin dan Eric, yang membentuk Band SMA sejak kelas 1 SMA. Mereka, anak kencur yang ikut menghiasi warna anak SMA saya dulu itu. Tidak hanya di sekolah, mereka juga terkadang ikut festival musik di luar sekolah.
Di malam promnite akhir sekolah, saya masih ingat, sangat ingat. Dari Gedung Nyi Ageng Serang Kuningan, setelah acara selesai, mereka berjalan bersama dari gedung tersebut melewati setiabudi lalu ke benhil dan terus tak berujung sampai kaki pegal-pegal. Saya masih ingat itu, dengan penuh emosi mereka berjalan. Jas dibuka, bahkan ada beberapa yang juga membuka bajunya, hingga hanya menyisakan kaos kutang seperti si Dedi. Mereka tak kenal angin malam, tak kenal haus, tak kenal teman-teman SMA yang lain, mereka hanya kenal cinta katanya yang tak bertujuan, seperti langkahnya saat ini.
Entah apa yang mereka pikirkan dan katakan, karena mereka memikirkan cintanya masing-masing. Yang saya tahu cuma si Dedi, dia baru saja menikmati malam yang indah di acara promnite itu. Bagaimana tidak, cewek yang diincarnya sejak kelas 1 itu telah digenggamnya dihari terakhir sekolah. Dia sangat kasmaran, dan sangat gundah, lidahnya tak bisa berkata apa-apa.
Kini lebih dari 7 tahun persahabatan mereka telah meremukkan urat nadi yang tak ingin lepas. Saya menyaksikan sendiri, mereka… kini bukan lagi anak kencur yang malu-malu. Cinta tak berujung itu telah menjadi saksi kebodohan mereka masing-masing, belum ada yang menikah diantara mereka. Tidak ada yang sama nasib hidupnya, tidak ada yang sesukses seperti yang guru-guru harapkan.
Namun di mimpi itu, saya sangat terharu sampai meneteskan air mata. Di mimpi itu kami berjalan bersama sambil mendengarkan lagu Loe Toe Yee dari /Rif, lagu yang pernah kami nyanyikan saat ada festival di sebuah pasar dekat sekolah kami. Kami juga berjalan di tempat yang dulu kami jalani di malam promnite itu. Saya…merindukan mereka… ingin memeluknya satu persatu.
Tuhan… Bantu aku mengobati kerinduan ini, saya berjanji akan belajar sungguh-sungguh mewujudkan sisa-sisa mimpi saya ini. Demi mereka… demi persahabatan tak berujung ini… seperti langkah-langkah terakhir bersama mereka… tak bertujuan…. Tak ada akhirnya…

Saturday, November 20, 2010

down..

Guys, have you ever walk alone at nite. What did you feel?
Actually, I don't care with that, with alone or together for me it's just the same. Likes rain down give me coolness. Eventhough, there's no any clouds, I keep not care. Maybe only preassure make me more not care to everythings.
In this world, I just know my dreams, live to reach it. To follow live's line that still secret on sky, stored in God. I'm sure, I'm believe the all would be beautiful in my self. Painting of the world could be pleasure in the end. Yes I know... or maybe I trapped my dreams... oh nooo... don't worry, not problem if I down die at dept of imagines.

Thursday, November 18, 2010

Ini sepi yang indah...

Ini sepi… sepi yang indah…
Malam ini dingin… bermalam selalu dingin
Selalu ada bayangan… membayangkan melodi ku disamping ku…
Seolah senyum tidak ada habisnya di langit…
Lalu kau hadir dengan lelah mu..
Kembali lagi dengan lelah mu…

Kau tidak tahu betapa sakitnya aku dulu…
Kau memaksa kita tidak pernah ada…
Kau memaksa aku jatuh ketika baru saja berdiri
Aku lelah tertawa dengan mu…
Aku lelah dengan senyum mu…

Tapi aku senang dengan jiwa mu..
Lalu aku kesal sifat mu..
Tapi ku suka permainan ini…
Lalu aku kesal sifat mu…
Tapi aku cinta kamu
Lalu aku kesal kembali..

Aku dari langit gelap beresolusi merah…
Aku… penghayal termakan amarah
Udara putih suara ku yang pahit…
Sendiri dalam kerinduan yang terpendam…

Hei kamu… apa kau ingin terus memainkan ini..
Apa kau ingin meninggikan ku lagi…
Lalu menjatuhkan ku lagi..
Dan menginggalkan ku lagi…
Lalu pergi dengan ikrarkan kita tidak bisa bersama
Kita tidak bisa bersama…

Hingga ku sakit… terpaksa merasa pahit….
Dengan kebohongan mu sendiri….
Dengan dalil mu sendiri…
Membohongi diri…
….
Hei wanita… aku bisa melihat matamu…
Aku bisa melihat suara mu yang tidak kau ucapkan…
Aku bisa membuat mu jatuh…
Bisa membuat mu senang…
Seperti kau membuat ku senang dan jatuh…

Apa kau tidak kuat dengan sayap ku yang menempel di pundak mu…
Apa sayap ku terlalu besar untuk melindungi mu..
Atau seperti dalil mu saja… kita tidak bisa bersama…

Kasihan kita… kasihan kita… kasihan kamu dan aku…
… … …
Karena aku memang lahir dari awan tua…
Antara gemuruh dan hujan…

Monday, November 15, 2010

Memeluk awan...

Saya kelelahan, begitu kelelahan… Tak bisa mendengar suara yang menyelinap di telinga, tak bisa melihat apa yang ada di dekat saya. Saya begitu kaku, kaki ini sulit untuk berjalan,tak tahu harus kemana arah di depan saya. Saya tertunduk, malu kumal tak terurus, karena tak tahu kemana harus melangkah.
Siapa dia disana yang menggenggam tangan saya, menggenggam dengan rasa yang tak bisa saya terjemahkan. Siapa dia yang memperhatikan tubuh ini, percuma,… saya sudah beku diantara es es kutub yang biru, sebiru pandangan saya yang termakan emosi. Pucat dan pasi…
Apalah artinya ini, dan apalah artinya itu… apa maksudnya aku berdiam, apa maksudnya… apa maksudnya? Apa maksudnya?
….
Apa maksudnya….?
Biarkan aku terus menari, biarkan aku bermain, biarkan aku memeluk awan….

Sunday, November 7, 2010

Bunga...

Begitu banyak bunga ditamanku
Slalu menanti saat untuk dipetik
Ada yang merah dan ada yang putih
Kuning dan ungu...
Beragam warnanya..
Beragam warnanya...

Tuhan tolonglah aku
Beri satu petunjuk
Aku ingin bahagia
Berikanlah yang indah
Untuk diriku ini...
Untuk slama - lamanya...
Satu bunga yang indah...
Satu bunga yang indah..

Mama papa mohon nilai rangkaian
Rangkaian bunga aku mohon restumu
Bila nanti ada yang tak berkenan
Katakan saja aku slalu mendengar

Banyak bunga layu sebelum berkembang
Ada yang terindah tapi wanginya tak slalu
Seindah bentuknya malah mungkin durinya
Menusuk hatiku lukai cintaku
Tapi kuyakin nanti ada satu untukku
Harumi hari... mengharumi hari...


Bunga - Dewa 19

Thursday, November 4, 2010

Kaki ku menyadarkan ku...

Hari ini tiba-tiba tersentak, gara-gara sejenak berjalan kaki di siang hari. Lalu memperhatikan kaki saya ini, dan melihat kendaran bermotor di daerah kuningan. Dengan sangat emosi saya kaget, ternyata saya masih memiliki kaki, dan kaki ini jarang digunakan, hanya di rumah atau di kantor. Itu saja, padahal kaki ini banyak maknanya, gara-gara selalu naik motor kini jadi merasa kehilangan kaki. Wahai kaki… maafkan aku ini yang sombong melupakanmu.
Gara-gara melihat kaki itu, saya jadi memperhatikan organ-organ lainnya. Mulai dari ujung kaki sampai kepala, dan sampai saya sadar dan menyesal telah menyia-nyiakan organ-organ yang saya miliki. Seperti tangan ini, entah apa yang dilakukannya. Begitupula mata yang semakin liar, serta pikiran yang tak terkontrol dan jarang belajar atau membaca.
Lalu saya perhatikan lagi keadaan luar, orang-orang asing yang ada di disini. Mengapa seperti ini? Saya browser segala keinginan yang saya ingin tahu di internet. Sayapun merasa sentak lagi, begitu sempitnya hidup saya. Hanya bekerja dan bekerja, sekali-kali bermain, tertawa dan tertawa lagi, atau sedih karena melihat bencana alam yang melanda negeri Ku.
Saat itu saya menyadari, sebenarnya mimpi saya sudah terjadi, hanya saja saya menyia-nyiakan dan memperlambat dengan hal-hal yang tak ada gunanya. Tuhan tidak salah, dia sudah memberikan apa yang saya inginkan. Orang tua saya tidak salah, mereka sudah memberikan kasih sayang yang begitu besar. Teman-teman saya tidak salah, mereka hanya berbeda mimpinya dengan saya.
Nyesal, ya saya menyesal akan kurang cepatnya saya dalam bergerak menuju mimpi-mimpi. Saya puas-puaskan hari ini untuk menyesal dan bersalah… ya saya bersalah… tapi saya menyadari bahwa ini belum terlambat, belum telat untuk mewujudkannya….
Ayooo daydeh… kita tebus dosa-dosa ini…

Friday, October 29, 2010

Pekanbaru dan Bagansiapiapi...

25 Oktober 2010, jam 7 malam saya meninggalkan kantor di Pejaten untuk segera pulang ke rumah di Menteng. Rintikan hujan terpaksa saya lalui karena besok pagi saya harus terbang ke Riau. Namun, ini bukan hal yang mudah karena di mampang banjir dan macet total, saya pun segera memutar dan melewati pasarminggu, ternyata disini macet juga. Lalu motor saya angkat ke luar jalur hingga saya melawan arus. Saya mencari jalan lain yang mendekat dengan jalanan kereta sampai di stasiun kalibata saya merapat lagi ke jalan utama hingga muncul di pangadegan. Hampir jam 9 malam saya mulai mendekat Pancoran, dingin dan asap kendaraan bercampur bersatu meramaikan Jakarta saat itu. Jam 9.30 saya sampai di rumah, ini perjalanan terlama saya dari kantor menuju rumah. Saat itu Jakarta dianggap gagal menyusun tata kota karena banjir dimana-mana menjadi media di TV.
foto : Pekanbaru, Oktober 2010

26 Oktober 2010, jam 7.30 saya sampai di Bandara Soekarno-Hatta, saya bertemu dengan 2 bapak dan 1 kakek2 yang akan ikut dalam perjalanan saya ke Riau nanti. Jam 9 pagi saya lepas landas bersama Lion Air, beruntung saya duduk didekat jendela sehingga saya bias menikmati pemandangan pagi ini bersama awan-awan. Maklumlah, ini perjalanan pertama saya di Pulau Sumatera, 2 tahun yang lalu saya pernah melihat pulau yang besar ini dari Kapal Baruna Jaya VIII, ketika itu saya terombang ambing di perairan selat sunda selama 5 hari. Kini saya bias melihat jejaknya dari atas. Indahnya negeri ini…
foto : Riau, Oktober 2010

Lepas landas, perlahan lahan permukaan bumi semakin jauh. Saya melihatnya seperti melihat foto udara atau foto satelit citra Quickbirt, dimana mobil dan rumah-rumah kecil terlihat jelas. Semakin tinggi seperti melihat citra spot 5 dengan resolusi yang semakin kecil hingga awan ada di bawah pesawat. Otak saya langsung terasngsang akan perjalanan teknologi foto satelit, bagaimana perkembangan ini menghasilkan alat-alat analisi keruangan/spasial yang sangat canggih. Alat-alat untuk melihat permukaan bumi ini berbeda-beda sesuai fungsi, seperti melihat tata kota, kandungan minyak, kandungan mineral dalam bumi, serta pergerakan awan dan hujan.
1 jam 20 menit saya sampai di Bandara Syarif Kasim II, langsung dijemput oleh mobil menuju Bagansiapiapi. Awan putih, langit biru dan kebun sawit seperti tidak ada ujungnya karena. 7 jam kemudian sampailah di Bagansiapiapi (capek, capek deh). Agak sedikit aneh di kota kecil ini, disetiap persimpangan tidak terdapat lampu lalu lintas sehingga kita harus hati-hati menyebrang. Yang paling anehnya lagi disini ramai suara burung wallet. Yup, hampir setiap bangunan tinggi memiliki suara buatan burung walet agar burung-burung itu bersarang di rumahnya. Selain mencari ikan yang semakin lama semakin berkurang, kini burung walet menjadi penghasil sampingan yang bisa dijual sarangnya dan liurnya.
foto : Bagansiapiapi, Oktober 2010
(terdengar suara burung walet)

Bagansiapiapi seperti tempat pemuja, dimana mana dipenuhi kuil, dan di setiap rumah terdapat patung-patung sesembahan. Sebagian besar di sini adalah orang cina, mereka bernelayan dan berdagang. Bahasanya pun kebanyakan cina, cina apa saya juga belum tahu persis, sepertinya cina kek. Sedikit orang melayu, padang dan batak. Saat saya presentasi di salah satu kantor pemerintahannya, saya tidak melihat orang-orang cina tersebut walau mereka mendominasi. Orang cina disana ada juga yang kulitnya hitam, hidup miskin dan sederhana, tidak seperti orang pemertintahnya yang gemuk-gemuk. Gara-gara melihat orang gemuk dengan HP canggih itu yang mungkin terbiasa dengan makan enak, saya menjadi tidak ingin menjadi orang gemuk. Yup, mana enak hidup mewah dengan di kelilingi orang yang sulit untuk makan walau beda ras dan suku. Hup… jadi kesal sendiri…
foto : Klenteng di Bagansiapiapi, Oktober 2010

Becak di sana lucu, tidak dikendarai dengan tenaga manusia seperti di Jogja, di Bagansiapiapi becak menempel di motor. Ke depan, kantor pemerintahannya akan ditempatkan di tempat baru dengan bangunan yang baru dan bagus dekat dengan muara sungai. Malam harinya saya kelayaban sendiri mencari suasana, sialnya tidak ada sinyal Indosat, hanya ada Simpati dan Xl.
foto : Kantor Bupati Bagansiapiapi, Oktober 2010

Saya nongkrong di Taman Kota sambil mengisap beberapa punting rokok, lalu masuk ke warnet tp sial sinyalnya lagi putus-putus. Saat itu, saya merasa jauh dan termarginalkan. Otak saya pun terasngsang akan kehidupan lain ini, bagaimana bila saya lahir dan menjadi orang cina di sini? Saya terus memikirnya saat saya di dalam mobil menuju Pekanbaru yang akan menghabiskan waktu 7 jam.
foto : Klenteng di Bagansiapiapi, Oktober 2010

27 oktober 2010, tadi malam saya menginap di Wisma 81 di jalan Sudirman. Motor dan mobil masih saja sibuk, tapi tidak berpakaian kantor seperti di Jakarta. Sepertinya mereka habis pacaran atau sekedar nongkrong di Simpang tiga. Saya mencoba sate padang yang lewat di depan saya saat saya asik ngobrol dengan penjaga warung klontong pinggir jalan dekat penginapan saya. Sambalnya berwarna merah, entah apa isinya tapi rasanya sama seperti sate padang yang saya makan di Jakarta.
foto : Gedung Perpustakaan di Pekanbaru, Oktober 2010

Paginya saya naik Trans Pekanbaru dengan tiket seharga 3 ribu rupiah, tidak tahu mau kemana saya ikutin saja sendiri sampai akhirnya bertemu terminal kalim dan kembali lagi ketempat halte saya yaitu Cempedak. Saya melihat Mol SKA dan beberapa kantor pemerintahan dan Masjid yang unik. Di setiap kantor terdapat corak yang sama, dan paling modern adalah gedung perpustakaan. Bahkan ini lebih bagus dari bangunan yang ada di Jakarta yang pernah saya lihat.
Kata sahabat saya, tidak afdol kalau belum ke Pasar Bawah, di sini terdapat kerajinan, kain-kain dan makanan khas Pekanbaru. Ketika saya ingin membeli kaos, ternyata made in Bandung, hehehee…. Kata abangnya sih kainnya dari sini namun disablon di Bandung. Perhiasan gelang dan kalung membuat pasar ini bernuansa antik. Tapi menurut saya seperti di Tanah Abang ataupun di Jatinegara. Mana orangnya kebanyakan orang padang. Begitulah Pekanbaru, isinya sebagian besar orang padang. Masakannya pun kebanyakan masakan padang, seperti di Bagansiapiapi.
foto : Pasar Bawah di Pekanbaru, Oktober 2010

foto : Masjid khas di Pekanbaru, Oktober 2010

jam 2 siang saya kembali ke Jakarta dan terkena macet, namun saya lebih senang di Jakarta, karena di Jakartalah rumah saya, tempat sahabat dan orang-orang yang dekat dengan saya. Hukhuk… mellow sekali….. dalam perjalanan ini saya lebih senang dengar cerita dari Pak Radit atau Mbah Radit karena usianya sudah 62 tahun, sudah 20 tahun menjadi vegetarian. Beliau sangat lincah dan lucu. Berikut saya sedikit menceritakan cerita lucu bersamanya.

“kalau berobat di Puskesmas itu murah ya tapi sengsara, disuruh bolak balik terus tidak seperti di Rumah Sakit, sampai saya tahu bahwa puskesmas itu Cuma bisa menyembuhkan 3 penyakit yaitu pusing, keseleo dan masuk angin” kata mbah Radit. 3 penyakit itu singkatan dari puskesmas. Mbah lulusan S1 Geodesi ITB itu langsung dapat master di Belanda, dan beberapa program di Jerman dan Perancis. Hati saya langsung tersabet pedang, yup…itukan mimpi saya. Setelah melewati tiga Negara tersebut, beliau ke Jepang lalu ke Amerika, haaaggg… membuat saya bengong. “saya dulu sering mendaki gunung ketinggian diatas 3000 meter”, wah anak pecinta alam juga toh? Hati saya berfikir lagi, “itu mah sama seperti saya”….
Selain gunung di Indonesia beliau juga pernah mencapai puncak Gunung Fuji di Jepang, dan beberapa gunung salju di Eropa. Wahhhh…. Mendengar ceritanya membuat saya nangis…. Itu mah mimpi saya pak… lalu saya iseng bertanya “trus meridnya kapan pak?”, ternyata mbah tersebut menikah ketika ia lulus kuliah S1, bersama kepergiannya untuk kuliah di Belanda. *ahhhhh…. Sumpah ni orang bikin ngiri aja… denger ceritanya bikin mati… mimpi saya sudah terjadi di dirinya…
foto : Bersama Mbah Radit, Oktober 2010

Hebat banget ya itu orang, senang sekali bisa jalan bersamanya… begitulah kalau orang memiliki pengalaman yang hebat, sedikit bicara membuat orang lain tersanjung dan senang. Setidaknya perjalanan ini sedikit membalut luka karena saya tidak dapat ujian salah satu cpns gara2 harus Rata Penuhke Riau ini…

Thursday, October 21, 2010

Dufan, Mainan anak Jakarta...

Pagi itu hujan besar sekali di sekitar rumah saya, tapi karena tiket masuk dufan sudah dipesan dari jauh-jauh hari maka saya beserta rombongan dari Yayasan Yatim Piatu Nurul Iman Jafariah dengan terpaksa datang ke dufan ancol. Sampai di dufan masih menyisakan gerimis namun setelah itu langit tidak gelap dan tidak terang. Tidak panas dan tidak hujan. Yang lebih seru lagi tidak ramai…. Hahaha….

Ini pertama kalinya saya ke dufan dengan pengunjung yang tidak begitu ramai, saya bisa naik apa saja tanpa perlu ngantri. Menyenangkan sekali….

foto : suasana pulang bersama anak2 panti asuhan

foto : Histeria (bikin nyawa coplot sesaat)
foto : Tornado (sumpah, takut coplot dan jatuh)

Beginilah nasib anak Jakarta, hiburannya ya begini-begini aja, tahun ini saya sudah ke Atlantis, Sea World dan ini terakhir ke dufan. Beberapa kali saya juga sering main ke pantai yang ada di Ancol, herannya pantai yang menurut saya jelek ini tetap saja ramai pengunjungnya.... ya sudahlah... begini nasib jadi anak Jakarta...

Friday, October 8, 2010

Aku... Sang Emosional

Seperti yang ku dengar dari para petualang yang mengais seluruh lapisan yang tak pernah ku kenal, menakjubkan hati kala mata tak mampu lagi memandang. Merah merona bagai mawar bertopeng menancap tepat di dada, meracuni darah perlahan-lahan dengan lembut. Asmara muda ku membakar segala emosi dengan takjub. Bersabarlah sayang, mungkin ini belum waktunya.
Percayalah semua orang memiliki masalah, dan percayalah setiap orang meiliki cara menyelesaikan masalahnya. Kata “sabar” selalu dielu-elukan sebagian besar orang yang telah berpengalaman, namun bagi ku itu terlalu berat. Aku tak kuasa berlarut dalam kuasa, hanya ingin segera membuktikannya secepat mungkin. Dengan cinta, dengan cinta kawan… emosi cinta, emosi cinta kawan.
Dengan segala keautisan yang ku miliki, aku lebih senang berjalan sendiri. Melewati dingin malam sendiri, seakan-akan di dunia ini hanya aku yang hidup, tinggal aku yang tersisa. Dan kamu, dia ataupun siapa saja yang ada dunia adalah figuran. Hanya aku yang hidup, hanya aku yang bernafas dengan asmara muda muda ku, di dunia ini hanya ada aku. Lalu ketika aku mencintai Mu, ini untuk selamanya karena cinta ku bukan cinta yang terlarang untuk kau mengerti.

Tuesday, September 28, 2010

Teh jahe hangat...

Kuhirup udara pagi ini, ditemani secangkir teh jahe hangat. Setidaknya, tegukan itu mampu menetralkan tubuh yang kelihatannya agak terganggu dengan serak di tenggorokan. Hampir tiap hari saya selalu tidur diatas jam 11, bukan karena tidak bisa tidur tapi karena saya dituntut pekerjaan. Lupakanlah itu karena saya adalah laki-laki yang belum berumah tangga sehingga tak perlu dikhawatirkan kapan harus sampai dirumah.
Saya juga tak ingin membicarakan tentang berita-berita di media tentang Indonesia, karena terlalu sakit mendengarnya. Mengapa negeri ini begitu naïf, yang muda semakin bergaya dan yang tua begitu tak berdaya. Begitupula saya sendiri, semakin bingung harus berjalan kemana.
Keteguk sekali lagi teh jahe hangat itu, sambil sesekali melihat pemandangan disekitar. Untung ada Do’a, ada Dzikir, ada Sholat dan ada cara mendekatkan diri ke Maha Agung, sehingga bisa sejenak melupakan dunia dan kesalahan-kesalahan. Setidaknya walau saya tidak harus menari di awan dengan mendaki gunung, saya dapat terbang bersama Ruh menembus keganjilan.

Monday, September 27, 2010

Miracle...

It's taken much too long
To get it right
Would it be so wrong
To maybe find someone
A miracle

And all you really need
Is everything you could never be
And so you'd give it all
For a miracle

Is there a trace
Inside her face
Of a lonely miracle
And so you wait
And lie awake
For a lonely miracle

You never really know
What it is
Not until it goes
And if it comes again
It's a miracle

But what you miss is love
In everything below and up above
And could she bring it all
A miracle

All you wanted was a (miracle)
All you needed was a miracle
A miracle
And all you wanted was a (miracle)
All you needed was a miracle
A miracle

It's taken so long to get it right
Could it be so wrong
To maybe find someone
A miracle

... Vertical Horizone ...

Friday, September 24, 2010

Masa SMP, Masa Tawuran...

Apa yang dilakukan lelaki sejati di Jakarta pada masa kira-kira sebelum tahun 2000? Atau lebih dari sepuluh tahun yang lalu? Mari kita klise sedikit masa-masa itu. Sejak saya migrasi ke Jakarta tahun 1996, saya mengalami perubahan yang sangat besar. Selang satu tahun di Jakarta saya langsung terbawa gaya anak kampong Jakarta. Gaya bicara dan penampilan langsung berubah tanpa saya filter saat itu.

Bila orang yang membaca tulisan ini dan tahu tempat saya berada di Jakarta ini pasti paham apa yang saya maksud. Saya tinggal di Menteng Tenggulun Jakarta Pusat yang berbatasan dengan Manggarai Jakarta Selatan. Secara tidak langsung wilayah rumah saya termasuk dalam kawasan manggarai. Lagi-lagi saya berkata bahwa bila orang yang tahu bagaimana karakter di wilayah ini, pasti mengerti apa yang saya maksud.

Yaaaaa….. betul, kehidupan anak menteng khususnya disekitar manggarai memang begitu. Kalau gak nongkrong sambil mabok, ya nongkrong mau tawuran. SD kelas 6 aja saya sudah merokok dan sering berkelahi. Nah pas SMP lebih gila lagi, gara-gara gak mau dibilang banci, saya jarang absent bila ada tawuran. Penampilan saya selalu berambut gondrong (klo belum digunting ma guru, saya gak potong2), bercelana melebihi lutut (maka seringlah celana saya digunting ma guru), berkaos kaki sangat pendek (pas upacara kaos kaki itu dibakar di depan guru dan murid2), memakai ikat pinggang yang ujungnya keras (buat gebukin orang klo twuran, hahaha), memakai gelang, kalung dan rokok selalu ada di kantong celana (gileeeee gaul banget gw).

Yang saya lakukan saat di sekolah cukup unik, diantaranya : biasanya saya bawa kartu remi, gaple, dadu dan manggis buat tarohan (kelas uda kayak casino gitu dah), keluar masuk kelas sesuka hati aja (sering kabur ke kantin deh klo laper walau ada guru), klo hari Jum’at siang saya ngumpet supaya gak ketahuan kalau saya gak sholat Jum’at (kayaknya gw brutal abis ya), nah yang terakhir ini yang paling parah dan membuat gw beloon sampai saat ini, yaitu nangisin guru (hampir setahun gw gak boleh masuk pelajar English, makanya sampe sekarang gw bego english).

Tenang kawan, itu si belum seberapa. Temen-temen saya lebih parah lagi, ada yang ngempesin ban mobil atau motor guru yang konyol, bahkan ada yang nonjok guru. Kok ada si sekolah kayak gini? Pasti anda bertanya seperti itu, yup ada… itu kisah nyata yang saya alami saat saya masih SMP di salah satu SMP Negeri tak jauh dari kawasan Menteng Manggarai. Saat itu sampai saya tidak paham mengapa kehidupan kami begitu keras. Semua guru yang kasar, pernah memukul, menggampar atau menendang saya dan teman-teman dengan sepatu kerasnya. Wow… menakjubkan bukan?

Kami pernah di skors gak boleh masuk, pernah dipisahkan saat ujian (yg banyak kasus, diruangan tersendiri saat ujian agar tidak nyontek). Dan diakhir kelulusan kami pergi muter-muter mencari musuh tawuran, sampai akhirnya ada fotografer memoto kami yang sedang pawai dengan bus. Ternyata, keesokan harinya foto itu muncul di Koran Kompas, lalu kami pun dijemur di lapangan oleh kepala sekolah, dan dinyatakan TIDAK LULUS.

Wednesday, September 22, 2010

Haruskah asal-asalan dalam hidup ?

Seorang kakek yang baru saja bertemu kemarin memberi wejengan kepada saya. Katanya Malaikat Jibril pernah berkata kepada Rasullallah “Silahkan hidup sesuka-Mu, silahkan cari harta sebanyak-banyaknya, silahkan cari kekuasan, silahkan mencintai dengan sangat kepada yang Kau cintai… tapi ingat… itu tidak abadi dan akan mati”.

Seorang kakek mantan diplomat di 13 negara, dan lama menjadi asisten ketua KBRI di Ryadh Saudi Arabia itu dengan penampilan sangat sederhana layaknya Benyamin dalam film Si Doel Anak Sekolahan, dengan lembut mengajak saya dan beberapa teman di kantor yang tak sengaja sedang berkunjung ke Rumahnya agar kita sebagai manusia untuk tidak asal-asalan dalam hidup.

Beliau berpesan agar dalam bekerja, kita harus tuntas dan iklhas. Dengan kulitnya yang keriput dan sambil berkata bahwa dia sudah puas menjalani perjalanan hidupnya, lalu dia berpesan agar dalam memperoleh Rejeky “marilah pilih jalan kanan”. “Tidak perlu orang tahu kebaikan kita” katanya lagi, “soal Rezeky nanti ada dengan sendirinya”.

Tuesday, September 21, 2010

Suatu Maya yang tersembunyi...

foto : Seaworld, mei 2010.
Ku nikmati suatu maya
Dengan indah
Ku nikmati rasa melewati mestinya
Ku hirup wanginya tanpa jamah
Hanya aku saja yang sadar
Hanya aku saja yang senang
Bukan imajinasi terpenjara
Aku nikmati itu…
Daya pikat menggeliat di organ kecil ku
Bersemayam dengan indah
Owh… terima kasih…
Sebegitu pengecutnyakah aku…

Bahtera aku berlayar

foto : diambil dari sini

Ku biarkan bahtera ini berlayar
Mengikuti ombak tanpa ku paksa layar menuju utara
Karena karang itu terlalu besar untuk ku paksakan
Ku biarkan terus mengapung
Sampai berjumpa suatu pulau yang tak ku ketahui
Karena aku tak memiliki peta tentang wilayah di sana
Di wilayah yang otak ku tidak bisa lagi berfikir
Sambil mengikuti arus ini aku menuunggu
Sebuah pulau yang menerima bahtera ku ini
Menjadi tempat ku berbagi…
... ... ...

Monday, September 6, 2010

15 Mimpi dan Hayalan ku...

Kayaknya saya gak habis-habis ngomongin hidup, ngimongin yang gak penting-penting, ngomongin ngalur ngidur dengan tulisan yang ngalur pula. Kali ini saya ingin menulis mimpi-mimpi saya, dan kalau memang ini berat, saya harap ini menjadi hayalan yang indah untuk saya sendiri.
Berikut adalah 15 mimpi dan hayalan saya saat ini :
1.Kuliah S2 di Eropa tahun depan (Amien)
2.Jalan-jalan keliling Eropa sambil pacaran, ke kota-kota yang unik dengan melihat kehidupan baru
3.Bulan Madu dengan berkeliling eropa sebelum umur 28 tahun
4.Punya Isteri yang sederhana dalam berfikir, cantik dan membuat saya selalu terbang bila ada disampingnya
5.Punya anak kembar
6.Pergiin Haji orang tua
7.Menjadi penulis dan pengarang novel yang bisa membuat lagu-lagu sendiri
8.Trus hasil tulisannya dijadiin Film (Andrea Hirata banget nih, hahaa)
9.Bekerja di sebuah perusahaan yang anti korupsi
10.Trus punya anak lagi dari istri yang sama (jangan selingkuh)
11.Minimal setiap 2 bulan sekali, jalan-jalan bersama keluarga
12.Sering bersedekah, dan beramal tentang pendidikan
13.Membuat perpustakaan dan sekolahan gratis untuk orang gak mampu
14.Pergi Haji bersama sang Isteri, hahaaa….
15.Melihat anak-anak saya menikah dan hidup bahagia (Amien…)
Mendengar ceramah-ceramah tarawih bulan Ramadhan ini, saya seakan-akan terbawa dalam putaran kehidupan yang kecil. Yup, saya bukan apa-apa di dunia ini… dunia hanya jembatan menuju kehidupan selanjutnya lagi, yang katanya lebih luas dan bermakna… semoga kita semua tidak salah melangkah, dan selalu bangkit ketika ada masalah besar yang datang bertubi-tubi… ok, semangat…

Monday, August 30, 2010

Jauhkan saya dari rezeky yang tidak halal...

Saya benar-benar merasakan dan melihat bahwa gampang sekali melakukan kebohongan dalam mencari rezeky. Bahkan saya melihat dengan buasnya orang-orang berebut uang sebanyak-banyaknya tanpa perlu mereka bersusah payah mencarinya.
Suatu saat mungkin saya akan menghadapi seperti itu, namun saya berharap tidak melakukannya. Karena saya sadar, Rezeky yang tidak pantas saya miliki itu pasti sangat dibutuhkan oleh yang pantas mendapatkannya. Lalu bagaimana bila rezeky yang sedang diharapkan itu sangat dibutuhkan untuk kesejahteraan seseorang? bagaimana bila rezeky itu sangat ditunggu untuk mengurangi beban seseorang?
Saya kadang heran melihat orang dengan mudah melupakan hak dan kewajibannya, melupakan kepantasan dirinya dalam mendapatkan sesuatu.
Huh.. ya sudahlah... setidaknya saya harus ingat bahwa di dalam Al Qur'an ada ayat yang mengatakan bahwa "dijadikan indah pada pandangan manusia tentang harta dunia.." ada di dalam Surat Al Baqarah ayat nya saya lupa... tolong dicariin ya....



Thursday, August 19, 2010

Kelelahan... karena bekerja...

Dari hati yang terdalam, saya tidak bermaksud untuk menjelek-jelekan sesuatu, saya hanya mencoba mengungkapkan apa yang saya rasakan. Sejak sebulan yang lalu saya dipindahkan dari BPN ke PU untuk proyek webGIS yang konsultan saya jalani. Saya senang dengan keramahan orang-orang disini yang memberikan saya fasilitas dan terjaminnya makan yang enak-enak.

Namun ada satu hal yang paling membuat saya kesal tak karuan. Di sini saya seperti robot yang harus terus menerus bekerja, bahkan pekerjaan yang harusnya dikerjakan dalam 3 sampai 4 bulan, kini harus dikerjakan dalam 3 sampai 4 hari. Ini sangat menyiksa, hampir tiap hari saya lembur dan pulang malam, bahkan dalam dua minggu berturut-turut saya harus masuk di hari sabtu dan minggu walau sudah memasuki bulan puasa.

Kenapa bisa begini ? orang-orang di sini beralasan turunnya SK dari Mentri-nya untuk segera menyelesaikan proyek ini yang katanya akan dipresentasikan di Menteri dan Pak Presiden. Awalnya saya senang bukan main secara saya menjadi yang paling muda dalam pengerjaan ini. Dengan giat saya terus bekerja dan terus lembur.

Setelah 3 minggu tidak merasakan hari libur saya sampai puncak stress dan jenuh, keselamatan kerja tidak terpakai dan terlebih Bulan Ramadhan. Saya selalu ikut dalam rapat dan presentasi dengan para pejabat disini, bahkan beberapa perusahaan lain ikut datang dalam membantu pekerjaan ini. Saya ikut menyaksikan bahwa di dunia pemerintahan, jabatan yang lebih rendah selalu tunduk pada yang lebih tinggi. Sang pejabat tertinggi disinipun marah-marah karena pekerjaan yang kami kerjakan tidak sesuai apa yang diinginkannya.

Beragam ahli berkumpul dan terus berjuang menyelesaikan pekerjaan ini, anak geologi, IT, teknik Sipil dan Geografi terus bekerja sampai lembur-lembur. Di penghujung akhirnya manajer saya ikut membantu dan presentasi pada tanggal 16 desember dalam ruang tertutup hanya para pejabat disini saja. Wal hasil… kamipun tetap diomel-omelin yang katanya kurang menarik dan informative. Sayapun panas tidak karuan, ingin membalas ucapan raja itu. Manajer saya menjadi sasaran ocehan, anak buah raja seperti kerbau yang diikat tambang dihidungnya. Naïf… dibalik itu semua saya dapat kabar bahwa raja baru saja berkuasa disini selama 1 bulan dan sedang memperbesar sayap.

Selesai…

17 agustus pun saya libur dan 18 agustusnya izin untuk istirahat, sedangkan manajer saya jatuh sakit (hahaahaiii….)

Semua cerita itu seolah-olah apa yang saya kerjakan begitu hebatnya sampai berhubungan dengan raja-raja. Tapi sebenarnya yang saya kerjakan hanya sebatas itu saja, hanya WebGIS, ya mungkin untuk beberapa orang itu keren, tapi buat saya itu adalah biasa. WebGIS yang ada dalam Pemerintahan kita ini hanya sebatas database dan view Map. Proyek yang dananya tidak kecil itu berfungsi hanya sebatas itu di Negeri kita. Hmmm…. Memalukan. Ini tidak lain karena negeri ini memang kekurangan SDM. Pemerintah hanya diam saja dalam SDM-nya.

Dibalik itu semua, saya memerhatikan sesuatu yang mereka tak sadari mungkin. Saya memperhatikan gaya mereka, tampilan dan cara bicara mereka. Ada hal-hal yang unik, entah unik atau saya yang terlalu kuper dan miskin. Ketika rapat, Handphone mereka tidak ada yang jelek dan murahan, jam tangan yang keren dan mungkin mahal, yang serunya hampir semuanya menggunakan kendaraan Mobil dalam transportasi sehari-hari. Rapih, elegan dan terlihat wibawa yang mempesona.

Lalu saya perhatikan diri saya sendiri, Hp masih yang bekas, esia yang murah dan nokia yang sudah hampir punah menemani saya. Jam tangan yang tidak penuh hiasan, bercelana levis dan memakai gelang di tangan yang tidak berjam. Rambut uring-uringan tak pernah disisir, hehee….

Parkiran di kantor ini penuh dengan mobil, mewah abis cui… bekerja sebagai konsultan ada enaknya dan tidaknya, tidaknya ya seperti ini banyak kerjaan dalam waktu yang sedikit, enaknya saya bias terus belajar dan belajar...

Wednesday, August 11, 2010

Aku hanya tau tentang ini hanya dari orang lain

Dari kitab-kitab

Dari buku-buku

Dan dari orang tua ku

Katanya… hidup Cuma sekali

Katanya… perbuatan baik dan buruk menjadi penentuan di hari akhir

Katanya… jadilah anak yang baik…

Namun, aku tidak mengerti…

Mengapa yang ku lihat

Orang-orang berbondong-bondong mencari harta dengan kebohongan

Dengan kecurangan

Mengapa yang ku lihat

Orang saling memaki

Saling menjelekan

Saling berebut akan harta…

Aku… termasuk orang yang paling benci dengan kebohongan…

Apalagi kebohongan yang merugikan orang lain…

Atau memang sidang di hari kematian itu memang tidak ada…….

Hahhhh…. Ya sudahlah….

Biarkan aku menari di awan saja…

Tuesday, July 13, 2010

Berlari

Dari suara yang tak terdengar
Menggeliat bagaikan Dewa Zeus
Sebuah hempasan tak bernyawa
Selama Dia masih ada…

Rasa sakit ku
Ku tenggelamkan di dasar matahari
Demi para dewa

Lalu ku ingin berlari
Sekali lagi berlari
Sepuas ku berlari
Dan terus berlari…

Wednesday, July 7, 2010

Toy Story 3...


Kalau dipikir-pikir dan terus di kritisi tentang Negara ini memang menyakitkan. Mau dengerin musik Indonesia, semakin lama semakin banyak namun semakin lebay atau semakin tidak berkualitas, lagunya kebanyakan cinta yang cengeng. Tentang Piala Dunia tentunya Timnas Indonesia sangat tidak berdaya. Tentang kepemerintahan dan pekerjaanpun Indonesia seperti tak berdaya. Gembor-gemboran untuk menyemangati anak muda untuk berkarya namun rasanya tetap saja negeri ini tidak berubah. Kasihan…

Kali ini saya ingin berkomentar tentang Film animasi yang memang Indonesia juga tidak berdaya bersaing. Minggu lalu setelah pulang kerja saya mampir di Cineplex untuk menonton Toys Story 3 dengan layar 3 dimensi. Ya ampun, itu film walau ceritanya sederhana tapi sangat menakjubkan.

Kualitas gambar, suara dan instrument begitu sempurna. Di saat adegan lucu, semua tertawa dan ketika sedih semuanya pun diam, sambil melirik-lirik ke samping saya lihat ada yang nangis karena terharu. Sebuah cerita tentang kesetiaan antara mainan dengan pemiliknya yang dikemas dengan begitu indah, membuat saya terkesima. Bukan tentang seorang yang hebat, kuat dan pahlawan, tapi cuma kenangan. Kenangan antara pemilik dan mainannya. Ya ampun bagusnya…

Coba deh bayangin cara pembuatan film tersebut, pasti banyak yang bekerja didalamnya. Mulai dari pengetahuan teknologi, pembuat sampai pemasaran, mereka bekerja sama begitu baik. Pekerjaan yang mulia karena dapat meringankan beban para penonton. Bagusnya…

Tuesday, July 6, 2010

Mengkritisi Geografi Abis-abisan…

Saya masih ingat pertamakali saya masuk Departemen Geografi Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam di Universitas Indonesia, Depok. Sekitar 5 tahun yang lalu, awal semester saya digembleng oleh ilmu-ilmu dasar Geografi dan MIPA. Nilai-nilai saya memang tidak bagus saat kuliah, tapi bukan berarti saya tidak paham tentang geografi.

Kebanyakan mahasiswa di Geografi UI ini rata-rata adalah anak buangan, yaitu anak yang saat ujian masuk Universitas di pilihan kedua atau lebih. Maka tidak heranlah saya dan beberapa teman saya banyak yang bingung tentang masa depan kami setelah lulus nanti. Lebih bingung lagi mengapa geografi yang saya kami kenal di SMA ada di IPS, lalu sekarang ada di IPA.

Dar der dorrr… dengan cepat senior-senior dan alumni dari kami menggembor-gemborkan geografi. Mengangkat nama geografi begitu Indah di saat perkenalan awal kami dengan rumah baru kami yaitu Departemen Geografi. Berbagai organisasi dan komunitas seakan menarik-narik saya untuk masuk, dengan memamerkan aliran-alirannya. Di Geografi UI sendiri sangat terasa tarikan anak-anak GMC (Geographical Mountainering Club), dan tarikan anak-anak Mushola.

Sebenarnya tarikan-tarikan perkumpulan memang tidak penting dibicarakan dalam konteks ini namun itu juga akan mempengaruhi pikiran saya saat ini.

……… back to campus ………

Dalam awal-awal kuliah saya mulai mendengar Geografi dari dosen satu kedosen satu yang lain, setiap dosen memberikan arti tersendiri terhadap hal geografi. Di pertemuan awal itulah saya masuk dalam lingkungan. Seolah-olah saya melihat iklim, curah hujan, tanah, geomorphology, hidrology dan hal-hal yang berhubungan dengan fisik. Pertengahan kuliah atau di tingkat 2 dan 3 mulai mempraktekan GIS. Kehidupan saya sibuk dengan lingkungan, dan saya merasa hebat dengan pengetahuan yang saya miliki.

Tingkat 3 sampai 4 saya mulai merasakan romantisnya geografi dengan mempelajari hal-hal social seperti Geografi Perkotaan, Transportasi dan Pemasaran. Di sini saya mulai sadar bahwa Geografi sangat dibutuhkan sebagai analisis spasial untuk memecahkan masalah-masalah dalam suatu wilayah. Di tingkat 4 lah saya baru bisa memahami apa itu geografi, yang menyebabkan Skripsi saya mendapat nilai A.

… Pemikiran yang saya kagumi …

Setelah 4 tahun belajar disana, saya mengaggumi pemikiran dari beberapa dosen saya di sana. Diantaranya Pak Cholif, Mas Hafid, Mas Arko dan Bu Wid. Menurut saya 4 dosen ini adalah orang yang sangat penting dalam perkembangan geografi ke depan, 4 dosen ini mengajak saya melihat jauh kedepan, melihat masalah yang akan datang dan cara-cara menyelesaikannya.

Pak Cholif sebagai dosen Geografi Manusia yang mengajarkan pengantar geografi ini salah satu dosen tua yang berfikir muda. Sejak awal beliau langsung mengajak mahasiswa untuk belajar dan terus belajar. Beliau mengajak untuk memiliki softsklill yang tinggi, mengajarkan kejujuran dan menghargai segala yang ada di dunia. Beliau langsung menyatakan kepada mahasiswa geografi untuk tidak menjadi operator, tidak hanya bekerja sebagai GIS (geografi informasi system). Beliau mengajak mahasiswa untuk mampu berpikir spatial (keruangan), kata beliau hanya dengan berpikir secara spatiallah dimana lahan pekerjaan geografi tidak dicuri oleh jurusan-jurusan lain. Dan ini terbukti setelah saya masuk dunia kerja, dimana jurusan lain juga bisa menjadi GIS bahkan lebih hebat dari GIS yang ada di Geografi UI.

Mas Hafid, sosok dosen yang sangat kritis ini gayanya selalu tenang, dan pembawaan ngajarnya sangat berkobar-kobar. Terkadang melihat beliau mengajar, bulu kuduk saya merinding. Pure dosen, saya anggap beliau adalah kharisma yang dimiliki geografi. Bagaimana tidak, teori-teori ekonomi dan masalah-masalah modern di dunia selalu disajikan saat kami kuliah. Saya terasa kuliah dalam sejajar level internasional ketika beliau yang ngajar. Beliau sangat asik diajak diskusi, cara ia menjelaskan sesuatu seperti Raja Agung yang menjelaskan kepada anak kecil. Dia tidak akan menjawab langsung pertanyaan saya, dia akan menguraikan satu persatu mulai dari hal yang terkecil sampai akhirnya saya bisa menjawab pertanyaan saya sendiri tanpa beliau kasi tau. Logika perbandingan selalu beliau bawa dalam menyajikan permasalahan.

Mas Arko, anak solo ini bukan orang biasa. Jiwanya sangat muda dan pemberontak. Saya rasa beliau termasuk orang yang tidak suka diatur atur. Tapi jangan salah, mungkin dia dosen paling sukses dalam hal materi dibanding dosen lainnya. Selain mengajar geografi ekonomi dan pemasaran, beliau juga bekerja sebagai konsultan asing bersama orang-orang asing kini beliau mempunyai kantor di eropa. Bekerja dengan bayaran sangat mahal diluar namun tetap menjadi dosen dan berbagi kepada mahasiswa. Orang asing banyak yang belajar kepadanya. Setiap ngajar di geografi UI, ia selalu menceritakan pengalamannya bekerja, mulai dari pns, konsultan dan lain-lain, yang akhirnya memilih menjadi dosen. Sekarang beliau juga menjadi penasehat kebijakan Rektorat UI.

Bu Wid, atau bu cuplis ini orangnya sangat kritis. Pembawaan beliau selalu santai namun tidak suka bila ada yang melanggar perjanjiannya. Dosen geografi transportasi dan perkotaan ini memegang teguh prinsip kejujuran dan kedisiplinan. Beliau mengajak mahasiswa untuk kreatif dan kritis. Beliau sering menyajikan kekeliruan pemerintah dalam pembangunan wilayah, yang menyebabkan buruknya suatu wilayah. Beliau sering mengajak kami untuk melihat keadaan diluar, keadaan social dan fisik. Mengajak kami lebih mendalah suatu wilayah. Smart, gambaran dosen yang satu ini.

Selain 4 dosen ini sebenarnya banyak dosen-dosen hebat lainnya, hanya saja saya kurang mengaguminya karena dosen lain banyak yang sibuk dengan proyek lainnya sehingga kurang care dengan kualitas SDM mahasiswanya, atau ada dosen hebat tapi kurang bisa dalam mengajar.

Dari sini jelaslah bahwa saya memang tidak begitu menyukai GIS (geografi informasi system), saya selalu sependapat dengan dosen yang saya kagumi bahwa GIS adalah alat. Saya juga tidak menyukai pekerjaan yang tidak jelas alias banyak diamnya, tidak suka pula menjadi PNS. Tapi ternyata…

…setelah lulus kuliah…

Setelah ikut survey akhirnya kini saya bekerja di konsultan IT & GIS, pekerjaan saya jauh dari teori di kuliah. Dengan sangat terpaksa saya mempelajari software yang berhubungan dengan pekerjaan saya. Tak lama kemudian saya ditempatkan di Deputi 1 BPN (Badan Pertanahan Nasional) RI. Di sini saya memeggang aplikasi geodatabase, bekerja diruang server sendiri. ArcGIS Desktop, Server, SDE, dan oracle adalah makanan sehari-hari. Terkadang saya presentasi, atau menemani bos saya presentasi di depan para pejabat. Saya sendiri sering dimintai bantuan dari pegawai disini bahkan pernah ada yang datang dari kanwil Jatim. Lambat laun saya mulai memahami apa yang terjadi di Pertanahan Indonesia.

Beberapa kali saya merasa ingin berhenti dari kerjaan ini, kadang saya kesal dengan bos saya yang lamban membantu saya saat ada masalah, kadang kesal dengan pegawai di sini karena mereka meminta apa yang saya tidak bisa. Saat itu pikiran saya sering pusing dan terbebani, saya merasa bertanggung jawab dengan Negara dan uang rakyat. Tapi ini sudah selesai, sekarang saya merasa lebih kuat bila ada masalah dalam pekerjaan.

Saya pun mulai mengerti tentang karir anak geografi, saat ini memang mereka kebanyakan lari ke GIS karena tuntutan lowongan. Teman-teman saya pun bekerja sebagai GIS, selainnya sebagai surveyor dan guru. Kesal… satu kata untuk geografi, ada bebrapa lowongan sebgai CPNS diantaranya PU, BPN, DKP, Kehutanan, Bakosurtanal, Depbudpar, BPS dan lain-lain. Tapi dimanakah analisis spatial ini ?

Bukan saya meremehkan PNS, berhubung saya bekerja di tempat PNS maka saya bisa mengetahui sedikit apa yang akan saya kerjakan nanti setelah jadi PNS. Jujur saya melihat PNS dapat mematikan cara berfikir manusia, membuat manusia stak disitu-situ saja kecuali bila orang itu kreatif. Di perusahaan swasta sendiri geografi juga dikenal sebagai GIS yang akan mematikan juga cara berfikir manusia.

Menurut saya PNS dan GIS dapat menurunkan kualitas berfikir seorang geografi yang sudah banyak belajar tentang aspek-aspek keruangan. Geografi menjadi tidak indah dengan dua unsur tersebut, walau saya tahu semua ini adalah tuntutan hidup yang memerlukan nafkah. Dan dua hal ini justru melekat pada diri saya saat ini yang menyebabkan saya kini berada di fase yang rendah.

Mari kita flashback sejenak seperti apa geografi yang sebenarnya, ini bukan masalah uang, tapi masalah apa yang dirasa… Ingat, hidup cuma sekali…dan ingat untuk apa dosen-dosen hebat itu mengajarkan kita…

Friday, July 2, 2010

Kiss me...

foto : diambil 2 Juli 2010 dari sini

Kiss me out of the bearded barley Nightly
beside the green, green grass

Swing, swing,swing the spinning step
You wear those shoes and I will wear that dress
Oh, kiss me beneath the milky twilight
Lead me out on the moonlit floor

Lift your open hand

Strike up the band and make the fireflies dance

Silver moon's sparkling
S
o kiss me..

Kiss me down by the broken tree house

Swing me upon its hanging tire

Bring, bring, bring your flowered hat

We'll take the trail marked on your father's map

Oh, kiss me beneath the milky twilight

Lead me out on the moonlit floor
Lift your open hand
Strike up the band and make the fireflies dance

Silver moon's sparkling
So kiss me…

By Six Pence None The Richer

Sometimes I was felt so bad and so bored. It’s true, if I have walked alone at night, I was cold too. Actually, what did I do, I did know. I have never been know what would I like to live. I just try to surfive now, just love my self.

I will not desperate whatever of even. The all are challenge of life where I will be better from last day. So I could open my eyes and look outside that I’m not alone… and I wish you could kiss me…

Thursday, June 24, 2010

Menulis, bikin slow...

Foto : hasil menulis

Menulis, buat saya adalah hal yang menyenangkan. Nyawa saya seperti ada dua, bahkan lebih. Saya selalu berbagi dan menjawab sendiri hal-hal yang tak nyata, selalu enjoy walau terkadang orang lain tak mengerti apa yang saya tulis. Dan bukan tidak mungkin bila saya ingin membuat suatu tulisan yang kelak akan memberikan warna pada dunia.

Dengan menulis, sedikit bisa mengurangi suara mulut saya yang bawel. Boleh dibilang sebanarnya saya termasuk orang yang tidak suka diam, selalu ingin bergerak dan terus bergerak. Dengan menulis, segala umet-umet yang ada dipikiran bisa hilang begitu saja. Semacam obat saja, tapi begitulah adanya.

Tentang hidup, cinta, perjalanan dan mimpi adalah topik yang paling saya sukai. Sebenarnya sih saya ingin sekali menulis tentang penelitian, yap mungkin suatu saat nanti. Apa yang diteliti saja saya belum mengetahuinya.

Ada beberapa hal aneh yang mengalami diri saya, saya sering mengalami kejadian yang tidak saya sukai. Seperti dalam bekerja ini, sejak kuliah dulu saya sangat tidak suka dengan yang namanya GIS (Geografi Informasi Sistem), tapi kini malah bekerja dibidang sana. Untungnya saya masuk dalam divisi IT, bukan murni GIS. Saya juga tidak menyukai PNS, tapi kini malah dapat tugas di lingkungan PNS, huhhh….. ya wies gpp, nikmatin aja…

…. + . + …

Tapi itu semua membuat saya tahu banyak tentang sesuatu yang saya tidak sukai. Ternyata, memang tidak menyenangkan. Hahahaha…….

Lalu apa yang saya inginkan? Saat ini saya hanya ingin kemampuan English saya menjadi bagus, lalu saya membuat proposal penelitan tesis untuk mencari beasiswa. Hanya sampai itu yang saya inginkan, saya ingin merasakan hidup di negeri yang jauh, belajar di sana lalu mempraktikannya di Negeri yang saya cintai ini… mudah-mudahan bermanfaat…

Lalu bagaimana dengan nikah, nah ini ni yang penting…. Saya perhatikan kebanyakan orang-orang yang mengejar karir, ataupun jiwa petualang, rata-rata mereka menikahnya telat… huammmm… walau jiwa-jiwa itu ada di diri ini, saya berharap tentang ini jangan sampai lama-lama berlarut dalam ketidakjelasan…

Tak perlu takut, tak perlu ngeluh, tak perlu curang….
Tetap merasa kecil, tetap merasa bodoh, tetap mengalir apa adanya…
Seperti kata Jose Mourinho, “Karena Mimpi… tidak sama dengan Ambisi”.

Monday, June 21, 2010

Apakah Dia menginginkankan saya menjadi orang sukses?

foto : created by kabel, aplri 2010

Sambil mendengarkan lagu-lagu Paramore di album All we know is, di ruangan kerja saya yang selalu dingin, di jam kerja ini saya mencoba diam sejenak.

Saya amati satu persatu yang ada di sekeliling saya, lalu saya meloncat loncat dan menggeleng-gelengkan kepala di saat lagu sedang ngebit keras. Lalu saya bertanya-tanya untuk apa ini semua ? mengapa semuanya ada di keliling saya ? sayapun bingung tak bisa menjawabnya…

Gila ya, pertanyaan kayak gini aja gue gak bisa jawab. Ya wies… kita loncat-loncat aja sesuai irama di pagi hari senin ceria ini… sambil bicara sendiri gak jelas seperti ini :

Kalau ada orang yang bilang “apa si yang lu mau ?” gue akan jawab “uang yang buuuaaaaaaanyak…”.
Trus “cewe seperti apa si yang lu mau?”, gue pasti jawab “yang cuuuuaaaannntikk n keren…”
“Apa si hoby lu ?”, gue pasti jawab “ya jalan2 lah….. apalagi sama cewe, beuhhhh romantis abis gilaaaaa…..”
“klo ada kesempatan S2 lu mau dimana?...”, “ di eropa donkkkksssss….”
“nah lu, tar meridnya kapan?”, “jiahhhhh, nikah disana juga bisa….”
“emang bisa harta yang banyak membuat lu bahagia?”, gue jawab “ emang dengan harta yang dikit juga bisa bahagia?”
“emang cewe cantik bisa buat lu bahagia?”, “hohoooo…. Pasti donk, klo enggak ya dicerein aja si… hikhikhikkk”
“jalan-jalan terus kan ngabisin duit ? “, “biarin aja, yang penting santai…”
“lu gak mikirin orang miskin apa ya?”, “pale lu pitak gue gak mikirin, makanya gue pengen kaya biar bisa bagi2 rejeky… heheee”

Yap, begitulah kawan cara saya menilai kesuksesan yang sebanarnya saya tidak tahu seperti apa. Asal orang tua senang, asal adik-adik saya bahagia, asal orang-orang yang di sekeliling saya senang, asal sahabat-sahabat saya bisa hidup layak, asal mereka semua ada di sekeliling saya… saya bahagia… dan bisa kembali meloncat-loncat sambil mendengarkan musik…

Tuesday, June 15, 2010

Entrok...

foto : Book cover (http://madasari.blogspot.com/2010/03/entrok.html)

The finally, I’m success to read the book which I was buy more two month ago. Entrok is the novel which write by Okky Madasari. The novel tells a life of Javanese in 1950 until 1990, about buffethings a woman to life with her conviction. As novelist, she was success to published the first her novel in april 2010, with the title book is “entrok” which write in Indonesia language.

There are many moral value in this book. For example, we can see the true love of mother to child. Religi and culture are fascinating in this book. We can be imagination about attitude of government and public. Don’t hesitate, if you’re Javanese, you may have to read.

I know Okky madasari by her blog, she is journalist who can write a good novel now. I think we have to learn from her write.

Monday, June 14, 2010

Still like that...

foto : Gili Trawangan, agust 2009.

There was a time when I studied in college and lived in small room. I wanted to be writer who tell about life. I had wroted about my experience, now that book just still a save in my computer.

Not only writed the book, I had been a dream. Someday I wish I could be stay in Europe to study and traveling. But now, sometimes I feel I can’t to be like that, I don’t know why I like the one who confused to my self. Sometimes I feel bored, but sometimes I feel so enjoy.

When I was worked before, my life used to slow and free. I could be laugh so happy, nothing cared at all. Now, I’m into new life which very busy, life in Metropolitan. We can see how people could be voracious. So there are many poor and lie.

Now, are you still have dream? Are you still want to around the world ? my answer is yes, I’m still like that…


Thursday, June 10, 2010

Mengenang satu tahun Expedisi Lombok

foto : Pelabuhan Lembar, Lombok Agustus 2009

Jam 05.30 WIT dari kapal fery yang mengangkut kami dari Pelabuhan Padangbay menuju Pelabuhan Lembar dihantui bayangan bukit-bukit yang terlihat jelas berhamparan di Pulau Lombok. Di bagian utaranya berdirilah tegak sebuah gunung tercantik yang pernah ku dengar di Indonesia, Gunung Rinjani, sungguh menantang kami untuk menapakinya.

Sorot matahari terbit dari timur dengan warna kemerah-merahan dari langit yang sebelumnya gelap gulita, kini menjadi daya tarik bagi kami yang belum pernah melihatnya. Keindahan bentang alam Pulau Lombok sudah terlihat ketika kami masih di Selat Lombok. Para penumpang yang tadinya terlelap tidur kini berhamburan mendekati dek-dek luar melihat warna di sebelah timur sana.

foto : Kapal Ferry Pel. Lembar, Lombok Agustus 2009

Perjalanan menggunakan transportasi laut seperti kapal fery, membutuhkan waktu sekitar 4,5 jam dari Pelabuhan Padangbay (Bali) menuju Pelabuhan Lembar (Lombok). Keberangkatan kapal ini tersedia 24 jam yang siap angkut sekitar 15 sampai 30 menit sekali. Di Kapal ini terdapat kantin dengan harga rata-rata lebih mahal dari biasanya, namun terkadang terlihat pedagang asongan yang mondar-mandir menawarkan makanan ataupun oleh-oleh dengan harga yang sama seperti biasanya. Seperti Pop Mie, jika kita membeli di kantin kapal maka harga mencapai Rp 9.000 sedangkan di tukang asongan hanya Rp 5.000. kapal dengan tarif orang dewasa seharga Rp 31.000 ini juga menyediakan penyewaan kamar untuk tidur dengan harga sekitar Rp 25.000.

Pelabuhan Lembar merupakan pelabuhan yang dikelola oleh PT. Indonesia Ferry, sama seperti Pelabuhan Ketapang, Gilimanuk dan Padangbay. Dalam catatan PT. Indonesia Ferry yang merupakan Badan Usaha Milik Negara (BUMN), keuntungan yang didapat pada tahun 2008 mencapai lebih dari 200 juta. Kini Pelabuhan Lembar menjadi prioritas perbaikan PT. Indonesia Ferry.

Rasa senang berbaur bingung menyelimuti kami ketika kaki menginjak tanah Lombok, karena kami semua ini belum pernah ada yang ke Lombok. Kami memilih duduk di dekat WC umum yang bersebelahan dengan warung-warung di bagian utara pelabuhan. Tiba-tiba munculah seorang bapak-bapak dengan logat yang tak biasa kami dengar, ia menawarkan jasa transportasi.

Tujuan pertama kami sampai di Lombok yaitu Mataram, karena di sini kami dapat berbelanja logistik untuk pendakian yang rencananya akan kami jalani esok hari. Ada beberapa pilihan moda transportasi menuju Mataram. Dengan taksi yang dapat memuat empat penumpang, kita akan membayar tarif sekitar Rp 40.000 dan dengan angkutan umum sekitar Rp 10.000/orang. Kami sendiri menyewa mobil L200 di bapak-bapak yang datang tadi dengan harga Rp 10.000/orang, padahal harga pertama yang ia tawarkan sebesar Rp 30.000/orang.

Sekitar 45 menit sampailah di Mataram, tepatnya di Gebang Baru, di sini kami singgah di rumah teman yang asli penduduk Lombok untuk beristirahat sejenak, berbelanja dan mandi. Sudah dua hari dua malam kami tidak mandi karena jalur yang kami lalui adalah jalur darat dan laut. Tanpa pesawat terbang, hanya dengan kereta, kapal dan mobil, untungnya fisik kami masih sehat-sehat saja.

Perjalanan menuju Mataram dari Lembar terlihat banyak sawah dan jagung yang tersebar di sisi jalan utama yang kami lalui. Di angkot juga terdapat penumpang lain yang kebanyakan bapak-bapak dan Ibu-ibu dengan bawaan yang tidak sedikit, entah apa yang dibawa tapi sang Ibu yang sudah keriput dengan baju tradisional itu sepertinya membawa sayur-sayuran. Rumah-rumah terlihat sederhana diantara sawah dan jalan.

Belanjaan untuk pendakian ke Gunung Rinjani kami dapatkan di Mataram Mol. Rincian harga belanja yang kami buat (Manajemen makanan untuk pendakian), mengikuti harga standar di Jakarta, sehingga kami tidak khawatir harga akan meningkat bila harus beli di Mol. Di sini kami mendapatkan makanan yang biasa kami bawa ke gunung seperti Ikan Sarden, Bakso, Sayur, Bumbu dapur, Mie dan lain-lain. Untuk air minum ternyata di Lombok mempunyai sumber mata air yang dijadikan minuman botol air putih, yang bernama Narmada . Air minum ini dikelola oleh PT. Semoga Awet Muda yang diambil di Taman Nasional Narmada, di kaki Gunung Rinjani bagian selatan.

Siang hari terlihat sangat terang seolah-olah panas membakar, namun hawa yang kami rasakan selalu sejuk dengan angin yang sepoi. Setelah semua persiapan telah selesai di Mataram, jam 3 sore kami menuju Senaru (utara G.Rinjani) melalui jalur barat yang katanya dapat melihat keindahan Pantai Senggigi dan Gili-gili yang terkenal di dunia itu. Untuk menuju ke sana kami menyewa dua mobil angkot kecil dengan harga 450 rb.

foto : Pantai Sengigi Lombok, Agustus 2009

Awalnya keindahan ini hanya sebatas pemandangan pantai, ketika semakin ke utara ternyata kami harus menanjak, turun, nanjak lagi dan turun lagi. Semakin seru saja karena pemandangan semakin sangat memesona, terlebih ketika kami ada di atas bukit dengan lereng terjal langsung ke bibir pantai. Kami lalui bukit berbatu yang bersebelahan dengan pantai yang indah, dtiemani awan putih dan langit yang merah merona karena matahari akan tenggelam.

1,5 jam mobil angkot berjalan, Gili air, Gili Meno dan Gili Terawangan terlihat menggoda kami untuk sekedar bercanda dengan kecantikan alamnya. Di sisi jalan yang berbukit terdapat tempat peristirahatan dan warung-warung kecil, disitulah orang local dan turis menikmati alam sambil mendokumentasikannya.

Jam 7 malam sampailah kami di Rinjani Homestay. Rinjani Homestay merupakan salah satu penginapan yang tersedia di Senaru. Di Senaru kini terdapat 11 penginapan dengan harga Rp 60.000 – Rp 300.000 per kamar. Pada musim liburan seperti pada bulan agustus ini, kamar-kamar di setiap penginapan penuh diisi turis-turis asing. Di setiap penginapan biasanya tersedia rumah makan, seperti di Rinjani Homestay harga makanan berkisar Rp 15.000 – Rp 30.000. Setiap penginapan menyediakan Track Organistation yang akan membantu para turis untuk mendaki, yang menyediakan porter, gaet dan penyewaan alat-alat pendakian.

Di Senaru terdapat 15 Track Organitation Manajemen. Untuk turis-turis asing biasanya bisa kena Rp 1.000.000 untuk porter yang siap memasak dimanapun turis mau. Namun, karena kami merupakan anak pecinta alam yang memiliki manajemen perjalanan sendiri, maka makanan dan alat-alat pendakian sudah siap kami bawa sejak awal tanpa perlu bantuan Track organitation Manajemen. Setelah makan malam di kantin Rinjani Homestay, kami terlelap tidur. Empat kamar Rinjani Homestay yang menghadap barat kami isi penuh.

Jam 5 pagi, di kamar mandi Rinjani Homestay sangat menakjubkan. Sambil membasuh muka dengan air yang dingin kita dapat melihat matahari terbit, bintang-bintang sungguh membuat suasana menjadi sangat sejuk. Kami terasa mandi di alam yang bebas karena matahari memberi lekukan bayangan Rinjani dari sinar merahnya yang perlahan membuat bumi semakin cerah.

Satu persatu kami mandi, dan jam 8 pagi kami sarapan dengan nasi goreng. Ada satu hal yang sangat istimewa di Lombok, yaitu khas dengan sambal yang pedas. Kata teman kami yang berasal dari padang, di sini sambalnya lebih pedas dari Padang. Selesai makan, jam 9 kami menuju Entrance pendakian jalur Senaru.

Di Entrance Senaru kami bertemu dengan penjaganya yang memakai baju Dinas Pariwisata Lombok. Di kaca tertulis Entry Ticket Rp 200.000, mahal sekali. Ternyata itu sengaja ditempel untuk wisatawan mancanegara, sedangkan untuk wisatawan lokal hanya Rp 10.000. Di kantor ini kami melihat peta-peta besar yang menggambarkan titik-titik menarik jalur pendakian Gunung Rinjani seperti air terjun, mata air dan rumah suku sasak.

foto : Entrance Senaru Rinjani, Agustus 2009

Gunung Rinjani memiliki puncak ketinggian 3762 mdpl, gunung yang masih aktif ini mempunyai kawah besar yang kini membentuk danau. Di tengah-tengah Danau Sarakan Anak itu terdapat anak gunung yang sekarang sedang aktif dan dapat meletus sewaktu-waktu, nama anak gunung itu Barajuni. Ketika kami tiba di kantor Entrance Senaru, kami diminta untuk tidak turun ke danau karena lahar dan asapnya sangat berbahaya bagi para pendaki. Ini berarti pada kesempatan kali ini kami tidak akan sampai ke Puncak dan tidak turun ke danau yang dapat memancing. Namun kata penjaga tersebut, kami akan melihat lahar anak gunung di malam hari dengan sangat indah dan menakjubkan karena fenomena ini jarang terjadi, bisa 10 tahun sekali bahkan lebih.

Hari pertama pendakian kami berencana ngecamp di pos 3 yang merupakan batas vegetasi menuju pelawangan. Dari informasi yang kami dapatkan di internet maupun pusat track manajemen Rinjani, bahwa terdapat sumber air atau mata air di pos tiga. Karena itu sejak perjalanan dari entrance kami tidak banyak membawa air. Enam wanita membawa masing-masing 1 botol air 1,5 lt dan 7 laki-lakinya membawa 2 sampai 3 botol 1,5 lt air.
foto : Post 3 Senaru Rinjani, Agustus 2009

Perjalanan menuju pos 3 dipenuhi dengan pohon-pohon besar tropis yang basah dengan kemiringan lereng sekitar 45°. Dalam perjalanan ini kami bertemu dengan pendaki lain yang kebanyakan turis asing. Cantik-cantik dan ganteng-ganteng, dengan pakaian khas mereka yang serba minim membuat kami semangat. Mereka semua mendaki ditemani porter atau gaet, karena petugas tidak mengizinkan orang asing mendaki tanpa ditemani orang local. Oleh karena itu mereka mendaki tak lebih dari dua hari karena tidak membawa beban yang berat seperti kami.

Bermalam di post 3 yang banyak keranya cukup membuat kami tegang. Kera-kera itu lumayan besar dengan gigi bertaring dan berbulu lebat. Sering teriak dan berkelahi dengan kera yang lain. Mereka mengelilingi kami yang sedang asik masak pada pagi hari, meleng sedikit makanan kami dicuri. Lebih seram lagi ternyata persediaan air kami semakin menipis dan tak akan cukup untuk sampai pelawangan senaru.

Tiga anggota kami mencari sumber air dengan bertanya kepada porter yang lewat. Dari patahan di pinggir lembah yang menetes di tepi sungai musiman yang kering karena ini musim kemarau, terkumpul air di cekungan yang kecil. Walau kolam sumber air ini terlihat kecil dan kotor, kami mampu membawa 12 botol air 1,5 lt. ini merupakan cara surfival bagi kami, tak peduli walau di dalam air tersebut terdapat encu / cacing nyamuk.

foto : Pemandangan setelah post 3 Rinjani, Agustus 2009

Berjalan santai sekitar 5 jam dari pos 3 sampailah kami di puncak pelawangan Senaru pada sore hari. Di sini, tidak ada yang bisa kami ceritakan lagi selain keindahan alam yang rasanya tidak dapat ditemukan di tempat-tempat lain di seluruh dunia. Puncak Rinjani menantang kami untuk datang, begitu pula Danau Sarakananak yang hijau kebiru-biruan sedang menenangkan alam Rinjani. Di tengah danau berdirilah tegak gunung kecil yang aktif, yang mengeluarkan asap dan terlihat merah lahar turun ke danau yang menyebabkan sebagian danau berwarna kekuningan dan kemerahan.

Pemandangan menghadap timur dari camp senaru
foto : Puncak Rinjani, Barajuni dan Danau Sarakananak, Agustus 2009


Pemandangan menghadap barat dari camp senaru
foto : awan, sunset, laut dan Gunung Agung Bali terlihat, Agustus 2009

Pantaslah Gunung Rinjani banyak dikunjungi oleh wisatawan mancanegara dari berbagai santero dunia, bermacam-macam bahasa, budaya dan wajah. Di sinilah kesempurnaan alam terasa nyata, menjelang malam terlihat matahari terbenam di sebelah barat sehingga Gunung Agung di Pulau Bali ikut terlihat. Cantik, sungguh cantik karena awan-awan putih menyelimuti permukaan bumi dan kami ada di atas awan tersebut.
foto : Camp Senaru, Agustus 2009

Menghadap ke barat terlihat matahari terbenam dengan pemandangan awan-awan, sedangkan ke timur kami dihadiahkan pemandangan Puncak Rinjani, Danau Sarakananak, anak gunung yang berlahar dan terasa sempurna karena bulan purnama terbit bersama matahari tebenam. Semakin malam, semakin dingin terasa dan lahar merah Gunung Banranjuni semakin terlihat istimewa. Pemandangan yang entah kapan bisa kami lihat lagi. Beberapa pasangan wisatawan mancanegara terlihat saling berpelukan dan berciuman. Waww… menakjubkan.

foto : Camp Senaru, Agustus 2009

Masak apa saja dan makan apa saja, asal ditemani minuman hangat rasanya dunia ini milik kita kawan. Kami tidak tahu apakah ini di Indonesia, di Surga atau Afrika, tidak tahu ini ada dimana karena seluruh wajah dunia berkumpul di sini dan saling berbagi cerita. Hanya bisa bersyukur pada Tuhan, karena ternyata ciptaannya begitu indah.

foto : Tim GMC (Geography Mountainering Club) UI , Agustus 2009

Perjalan turun Rinjani dari Pelawangan Senaru cukup memakan waktu karena jalan yang berpasir ditambah batu-batuan dengan daerah terbuka yang jarang sekali vegetasinya. Untuk wanita, ini cukup berisiko jika berjalan cepat karena kaki mudah terkilir dan terjatuh. Kami lihat ada beberapa wisatawan mancanegara dengan rambut yang pirang terjatuh dan luka-luka di track ini. Kami meninggalkan pelawangan jam 10 pagi setelah menyanyikan lagu Indonesia Raya, kami sadar ini milik negeri kami, negeri yang sedang berjuang untuk maju.

foto : Pelawangan Senaru, Agustus 2009

Sebenarnya turun gunung di sini tidaklah sulit, bagi para laki-laki mungkin hanya 5 jam saja saja. Namun karena anggota kami terdapat wanita, diantaranya ada yang belum pernah mendaki gunung dan kini mengalami engkle sehingga perjalanan turun ini mencapai 7 jam atau sama dengan jam 5 sore sampai di entrance.

Malamnya kami kembali ke Rinjani Homestay untuk beristirahat sampai esok pagi. Keletihan saat mendaki terbayar di sini, sebagian teman kami ada yang sampai menyewa tukang pijit. Ketika mandi dan tersentuh air, rasanya sungguh nikmat, bau keringat hilang namun pengalaman menjadi abadi. Semuanya semakin sempurna ketika badan ini tergeletak di kasur sampai mata terlelap hingga esok pagi.

---- Menuju Gili Terawangan ---

foto : Gili Trawangan, Agustus 2009

Hari keempat di lombok, kami meninggalkan Rinjani Homestay di pagi hari, lalu pergi menuju sebuah pulau kecil di bagian barat laut Pulau Lombok. Gili Trawangan, sebuah pulau kecil dengan pantai pasir putih yang luasnya sekitar 6 km2 yang dihuni sekitar 800 penduduk. Terdapat banyak penginapan, café dan bar. Sebagian besar para wisatawan datang untuk berjemur, snorkeling dan diving. Gili Trawangan merupakan pulau yang paling ramai diantara dua pulau kecil lainnya yang berdekatan. Perairan bawah laut di sini merupakan salah satu spot dive terbaik di Indonesia yang terkenal di dunia.

foto : Kidomo, Gili Trawangan Agustus 2009

Secara ekonomi, datangnya turis membawa keuntungan yang sangat besar bagi penduduk, mereka bisa menjadi guide atau dapat menyewakan alat-alat olahraga seperti sepeda, snorkel dan kuda yang biasa disebut kidomo. Di musim liburan para penyewa kidomo bisa meraup untung 1 juta per hari, salah satu penyewa ada yang dapat menguliahkan adiknya di Inggris.

foto : Observasi Penyu di Gili Trawangan, Agustus 2009

Untuk menuju ke Gili Trawangan, kami menaiki perahu kecil yang paling murah dari labuhan Bangsal dengan harga 10 rb per orang. Perahu ini tersedia dari pagi sampai jam 3 sore. Kami datang ke Gili Terawangan di tepat perahu yang terakhir, dimana pada jam ini kami merasakan ombak yang sangat besar, yang membasahi kami di dalamnya. Perjalanan di perahu ini menjadi perjalanan yang sangat seru, yang membuat kami teriak ketakutan dan kesenangan.

foto : Perahu penyebrangan Gili Trawangan, Agustus 2009

Belum menyentuh pasir di Gili Trawangan, dari atas perahu kita dapat melihat indahnya alam laut. Ikan-ikan dan terumbu karang sangat jelas terlihat. pasir putih, lautan biru dan awan putih mengelilingi pulau kecil ini. Sangat menakjubkan, perahu-perahu tradisional dan modern terlihat berlayar membawa penumpang yang siap nyebur ke laut untuk melihat keunikan alamnya, sempurna.
foto : Suasana malam kami di Pantai Gili Trawangan, Agustus 2009

Bulan agustus ini harga penginapan rata-rata diatas 200 rb. Tempat makan biasanya membedakan harga turis local dengan turis asing, pastinya turis asing lebih mahal. Berhubung kami hanya membawa sedikit uang maka kami mencari penginapan gratis disini. Tepatnya di timur laut, di dekat gardu PLN, di sini lah kami mendirikan dua tenda.

foto : 2 malam tidur di Pantai Gili Trawangan, Agustus 2009

Dua hari dua malam kami habiskan di Gili Terawangan ini, kami tidur di pantai dengan alas matras dan berselimut sleeping bag. Kami habiskan waktu di sini dengan bermain dan bermain. Snorkeling, jalan-jalan dengan sepeda, bermain kano (perahu kecil yang muatannya untuk 2 orang), dan tidur-tiduran saja di pantai. Mandinya kami numpang di pos gardu PLN, makannya kami mencari yang paling murah di tempat terpencil dengan harga 5000 rb per bungkus. Oleh karena itu kami sangat irit dalam pengeluaran.

Setelah puas di Gili Terawangan, kami ke Mataram. Menginap di rumah teman kami yang asli orang lombok, satu rumah beramai-ramai. Malam di mataram kami pergi mencari oleh-oleh di sekitar mol mataram, setelah itu kami mencicipi makanan khas lombok yaitu ayam taliwang. Ayam Taliwang dicampur sambal yang sangat pedas banyak tersebar di sisi-sisi jalan di mataram. Habis sekitar 600 rb untuk makan ayam ini, cukup mahal ya?, untuk 15 orang. Tidak apalah, yang penting kami puas dalam perjalanan di Lombok ini.

Malam hari terakhir di Lombok sebagian kami ada yang pergi ke Pantai Senggigi. Dalam perjalanan ini kami melihat banyak bar dan café seperti di Kemang Jakarta, yang dipenuhi orang asing. Kami sendiri yang tak biasa dengan budaya asing memilih tempat yang lebih eksotis, yaitu warung kopi di pinggir jalan yang berbukit menghadap pantai. Sambil memandang pantai sengigi dari atas bukit, dan dengan Kopi, susu, ataupun rokok, semua menjadi tenang dan damai.

foto : Camp di Mataram bersama teman Lombok, Agustus 2009

Esoknya kami meninggalkan Lombok ditemani kedua teman kami yang asli Lombok. Kami sangat berterimakasih kepada Rosy dan Chairil, yang telah memberi tumpangan dan mencarikan penyewaan angkutan yang murah. Perjalanan ini tak mungkin terlupakan. Thanks guys…

Cerita dan informasi di Lombok tidak sebatas cerita ini saja, untuk daerah wisata pantai dan budaya telah di survey oleh anggota kami yang tidak ikut dalam pendakian. Mereka berhasil ke pantai Bangko-bangko, Maw’un, ke perkampungan sasak, melihat kebudayaan perang pedang, dan lain-lain. Kami menghabiskan waktu selama seminggu di Pulau Lombok ini.

---- Menuju Pulau Dewata ---

foto : Tanah Lot, Bali Agustus 2009

Selesai expedisi di Pulau Lombok kami tidak segera pulang, kami mampir di Pulau Dewata Bali selama dua hari dua malam. Di Bali kami menginap di penginapan milik tantenya teman kami sehingga dapat mengirit pengeluaran lagi. Di Bali kami menyewa motor dengan harga rata-rata 60 rb. Dengan motor kami bisa melihat sunsite di Tanah Lot, berputar-putar di Legian, melihat tugu bom bali, bermain di pantai Kuta dan lain-lain yang tak jauh dari Denpasar.

foto : Tugu Bom Bali, Agustus 2009


---- Menuju Jakarta melalui Banyuwangi dan Surabaya ---

foto : Stasiun Banyuwangi Baru, Agustus 2009

Gak kebayang kan enaknya kami ? Dua hari perjalanan menuju Lombok, seminggu di Lombok dan dua hari di Bali. Keseruan ini ternyata belum selesai, kereta ekonomi yang tersedia di stasiun Banyuwangi menuju Surabya hanya ada pada jam 6 pagi. Karena itu kami pergi ke Pelabuhan Gilimanuk (Bali bagian barat) dari Denpasar sekitar jam 7 malam, sampai di Gilimanuk jam 11 malam dan langsung menyebrang dengan kapal sekitar 20 menit menuju Pelabuhan ketapang.
foto : Stasiun Banyuwangi Baru, Agustus 2009

Dengan berjalan sekitar 5 menit sampailah di stasiun Banyuwangi dari pelabuahan Ketapang. Di sini kami tidur sambil menunggu kereta datang pada jam 6 pagi. Ada yang tidur di bangku tunggu dan ada yang menggelar materas tidur di ubin, angin membuat kami semakin menggigil kedinginan.

Seharusnya sampai di stasiun Surabaya jam 2 siang, lalu jam 4 sorenya kami naik kereta ekonomi menuju Jakarta. Tapi kenyataannya berubah, telah terjadi kecelakaan di jalur antara Banyuwangi menuju Surabaya, yang menyebabkan perjalanan kami semakin lambat. Jam 5 sore kami sampai di Surabaya, kereta ekonomi ke Jakarta sudah terlambat, yang ada hanya eksekutif jam 5.30. Anggaran kami tak mampu membeli kereta eksekutif atau Bisnis. Terpaksalah kami bermalam di Surabaya sehari.
foto : Stasiun Surabaya, Agustus 2009

Di Surabaya kami menginap di kosan teman. Kami diberi dua kamar, satu pria dan satunya lagi perempuan. Tomy, dia adalah orang yang membantu kami. Paginya sambil menunggu kereta ekonomi yang tersedia pada jam 4 sore, maka kami jalan-jalan lagi ke Jembatan Suramadu.

foto : Suramadu, Agustus 2009

Sampailah kami di Madura, di pulau kelima yang kami tapaki pada perjalanan ini. Pulau Madura ini tidak ada dalam rencana perjalanan kami, ini hanya kebetulan saja gara-gara ada kecelakaan kereta. Sudah 13 hari kami berada di perjalanan ini, satu hari lagi untuk perjalanan pulang ke Jakarta maka kami telah berkelanan selama dua minggu.

Dari awal keberangkatan kami, dari Stasiun Senen menuju Lombok pada tanggal 31 Juli 2009, kini kami tiba kembali tanggal 14 Agustus 2009. Dengan patungan 900 rb per orang Alhamdulillah perjalanan ini dapat terlaksana. Puji Syukur kami pada Tuhan yang mengizinkan kami berkelanan tanpa batas. Di stasiun Senen itu akhirnya kami berpisah untuk pulang ke rumah masing-masing.

Anggota perjalanan ini terdiri dari :
Geo 05 : Daydeh ( penulis ini), Haris, Ketu, RIngga, Bily, Wandi dan Arin.
Geo 06 : Wenas, Onot, Nala, Elgo dan Mia.
Geo 07 : Sandy dan Risma.
Geo 08 : Dwi, Mila, Vio dan Vasanty.