Tuesday, March 8, 2011

Emosi...


foto: Bagian barat P.Lombok, 5 feb 2011

Disini emosi…
Bergejolak sangat panas...
Disini emosi…
Disini tidak tahu menahannya..
Yang ada emosi…
Cuma emosi…
Disini hanya ada emosi….

Terkadang, suatu masalah membuat saya begitu emosi, entah masalah yang terlalu besar atau saya tak bisa menahannya atau memang saya yang lemah. Terkadang emosi membuat saya tidak peduli petuah-petuah bijak, walau saya tahu setiap waktu selalu ada masalah pada diri manusia. Jangan sekali-kali bercerita tentang kesabaran dari sumber2 yang ada di dunia. Karena saya tahu…
Oh emosi… kenapa kau begitu indah, merasuk seperti para dewa, menggetarkan suasana. Membuat segalanya menjadi tidak berarti, serasa dunia milik saya.
Oh emosi…kemarilah, kau tak perlu takut aku akan membunuhmu…. Karena hidup mu adalah hidup ku…
Wahai emosi… menarilah bersama ku… bersama kita ungkapkan segalanya dengan telanjang… tanpa ada kebohongan…
Hai emosi… sungguh tidak berartinya hidup ini tanpamu…

Monday, February 28, 2011

Titik Nol

Hampir semua orang pernah merasakan titik nol, titik dimana syaraf-syaraf otak dan perasaan tak bisa lagi bicara. Karena antara harapan dan keinginan begitu jauh berbeda, seolah-olah kita sebagai manusia sangat tidak berarti. Sebenarnya titik nol ini pernah saya rasakan ketika saya belum kuliah, tapi anehnya titik nol ini datang kembali. Lucunya datang setelah saya lulus kuliah, karena saya pikir setelah lulus kuliah saya akan selalu semangat dalam mengisi hari-hari, eh ternyata ternyata…. Rasa itu datang lagi.
Saya sendiri juga tidak tahu bagaimana keluar dari titik nol ini, sementara saya cuma belajar dari masa lalu, masa dimana titik nol itu datang pertama kali. Dan ternyata, titik nol ini membuat saya kelepek-kelepek, serba salah dalam melakukan hal apapun. Titik nol ini datang seolah-olah menegur jiwa saya yang mungkin memang kurang bersyukur, atau mungkin karena banyak waktu yang saya sia-siakan, atau terlalu banyak dosa. Saya rasa semua itu memang ada pada diri saya ini hingga titik nol itu datang lagi.
Titik dimana kepala saya seperti ada batu menyumbat. Ternyata saya sadar, betapa keinginan saya yang terkontrol membuat jiwa manusiawi saya begitu berbahaya. Bayangkan saja, dulu saya ingin seperti itu, lalu saya dapatkan, dan tiba-tiba kini ingin lebih dari itu. Betapa kurang bersyukurnya diri ini…. Saya harap titik nol ini datang benar-benar ingin kembali mengajarkan dan memberitahukan saya bahwa saya adalah manusia biasa.

Monday, February 21, 2011

Bila bermimpi...

Bila… di sekelilingku berubah menjadi sangkar yang menyeramkan
Bila… udara di sini terus memberi tekanan hingga sesak nafas
Bila… perubahan-perubahan membuat aku semakin gila
Aku mohon maaf… aku tak bisa yang ada dalam pikiranmu
Karena ini hidup aku yang merasakan

Bila… sekeranjang kebohongan terus ditutupi bagai emas berlian
Bila… ketidakpedulian sesama terus dipertahankan
Bila… sama sekali ketidakadaan terus dikatakan ada
Aku harus percaya pada siapa… aku tak mungkin berlarut-larut
Karena ini hidup dititipkan padaku

Selama… sinar matahari menyentuh kulitku yang mulai keriput
Selama… ada subuah harapan yang bernyanyi dalam hati
Selama… nyawaku terbang di laut yang sepi dan di langit sunyi
Aku tetap bermimpi… karena aku hanya punya mimpi
Mimpi yang indah…. Yang tidak ada kebohongan sedikitpun…
Tidak ada keserakahan dan tidak ada kecurangan…

Aku… bermimpi dari suara halus yang mungkin hanya Allah yang tahu
Aku… bermimpi dari air mata yang terus terusan ku tunggu
Aku… bermimpi dari lelahnya kebohongan…
Dari rasa takut manusia akan kekayaan yang tak bisa diraih…
Aku… percaya pada-Mu Allah Wahai Zat Yang Paling Indah Yang Menciptakan Seluruh Alam…

Thursday, February 10, 2011

Gunung Rinjani di tepi Danau Sarakan Anak

Cuma saya yang merasakan, bila saya sesak dalam awan-awan tipis dingin
Seperti siang itu…
Hanya saya yang kesakitan, ketika kaki terus melangkah
Dan terus melangkah….

foto : Pelawangan Senaru 11.00 4 Februari 2011

Saya melihat yang tentunya orang lain tak melihatnya
Begitu juga yang terdengar…
Saya senang dengan tiupan-tiupan enyah kesendirian
Senang dalam diam bodoh yang tak bersuara…
Seperti kata bunga eidelwes hijau…
Atau pasir berbutir kesat terhempas angin…
Mungkin juga cemara tinggi yang berkelompok menyerupai hutan…
Saya ukirkan di atas Gunung Rinjani
Di tenangnya Danau Sarakan Anak…
Bersama laut, awan putih dan langit biru di siang itu…

Monday, January 24, 2011

Saya membencinya tapi saya menghisapnya

Pertama kali saya hisap saat saya duuk di kelas 6 SD, lalu saya terus menghisapnya sampai kelas 3 SMP. Dengan merokok saya enjoy, tak peduli apa kata orang yang penting saya terus menjalani hidup. Namun ketika saya SMP, tidak hanya rokok yang menyerang saya dan teman-teman. Lintingan ganja dan narkotika lainnya terus menyerang dari segala arah ketika saya masih muda itu. Dalam waktu yang singkat itu, narkotika berhasil merebut nyawa beberapa teman saya.

Perubahan yang drastis, wanita yang cantik berubah menjadi kurus dan jelek. Beberapa teman mati tragis, ada yang jatuh ke sungai karena sakau, ada yang di WC umum dan ada pula yang di kamar. Saat itu, saya tidak tahu harus berbuat apa untuk keluar dari lingkaran tersebut. Teman-teman terus menawari saya untuk sekedar menghisap atau pun meminum pil haram.
Satu-satuya cara untuk menghindari itu semua, saya harus tidak merokok, ini kata tokoh masyarakat. Dengan lepas dari rokok maka kita tidak akan tergoda untuk melakukan maksiat lainnya yang dapat merusak tubuh.

Itu berhasil kawan, dari awal SMA sampai lulus kuliah saya tidak pernah merokok satu batangpun. Saya seperti terjaga dengan sesuatu yang tidak saya lihat. Namun, ketika saya lulus kuliah dan memasuki lingkungan kerja, tekanan yang tak biasa saya dapatkan kini datang begitu keras. Saya labil tak bisa mengontrol diri.

12 Desember 2009, yang harusnya saya syukuri sebagai hari lahir. Kini malah saya biarkan tubuh kembali kalah dengan rokok, dengan catatan saya tidak bisa berbagi rasa pahit kecuali dengan asap yang meracun. Segalanya bergeming menghisap memory lama yang begitu indah. Saat ini saya tidak tahu bagaimana bisa lepas lagi dari asap-asap keras yang mampu menemani kepahitan ini. Saya membencinya tapi saya menghisapnya.

Sunday, January 16, 2011

Kenduri Cinta

Malam rintik hujan turun sebentar, seperti menonton layar tancap ketika saya ikuti acara Kenduri Cinta di Taman Ismail Marzuki Jakarta. Seorang tua tunanetra bernama Gilang menyanyikan lagu mimpi dari Ebiet G, saya sejenak kagum melihatnya. Semakin larut malam itu, semakin sunyi dan semakin banyak orang berkumpul untuk melihat dan mendengar Cak Nun, seniman cinta, seniman sepiritual dan seniman hidup sederhana.

Rokok tak bisa saya lepaskan dari mulut kecil ini, karena semakin dingin dan ngantuk di mata. Terbelahak saya ketika Cak Nun bercerita tentang kehidupan seperti sufi-sufi, dengan berbagai logat memberi guyonan agar penonton tidak lelah akan hidup, tidak putus asa, dan selalu gembira karena mampu menikmati hidup.

Thursday, January 13, 2011

Mimpi ku Eropa...

Apa kabar mimpi ku… apa kabar cinta kita… masih setiakah kau menungguku. Wahai mimpi ku, ku ingin kita akan bersama nanti, tak ada yang mengganggu lagi. Wahai mimpi ku… nan jauh disana masihkah memikirkan ku. Aku selalu setia dan terus mengejar mu, aku pasti datang karena hanya kamu yang ku rindukan. Mimpi ku… tetaplah menunggu ku.
Mimpi ku Eropa, kebebasan melintasi indahnya kota. Tertawa memandang budaya yang berbeda, mencium segala hal yang tak terjamah. Mimpi ku eropa, tempat ku memikirkan dalam dingin dan gelap. Menangis karena kerinduanku padamu eropa. Aku mencintai mu eropa… mimpi terindah yang masih menyelinap walau ku tak tahu kapan bias bertemu dengan mu. Wahai mimpi ku eropa, tersenyumlah selalu walau terkadang aku sedikit lelah menyerah mengejar mu...

Untuk Adik Gaza

 Adik, kamu kuat di sana Rambutmu berdebu wangi surga Getaran jari tanganmu dan keringnya kulitmu adalah cinta dari Tuhan yang Maha Besar He...